
Dokter Erick masuk ke cafe yang ada diseberang rumah sakit, dia mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang menunggu kedatangannya. Senyum terlukis diwajah tampanya, saat dia menemukan gadis yang selama ini mengisi relung hatinya yang paling dalam.
"Maaf saya terlambat, sehingga kamu harus menunggu" sapanya begitu dia berdiri didekat Ayunda, setelah semalam mereka membuat janji untuk bertemu dicafe, hari ini.
"Dokter" balas Ayunda sapaan Dokter Erick. "Silakan duduk, saya belum lama, sekitar sepuluh menit" jawab Ayunda dengan senyumnya yang manis, membuat Erick tidak bisa memalingkan pandangannya dari Ayunda.
"Dok, apa ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Ayunda, menyadarkan Dokter Erick kalau dia terlalu lama menatap Ayunda.
"Maaf, kamu terlihat sangat cantik hari ini Tiara"
Ayunda terkekeh "Basi Dok" ucapnya. "Dokter apa tidak ada stok kata yang lain untuk mengombali saya" ledek Ayunda.
Dokter Erick ikut terkekeh "Saya tidak biasa ngengombal, jadi itu bukan gombalan, melainkan sebuah pujian" jawab Dokter Erick.
"Dokter harus belajar kalau gitu, soalnya perempuan itu suka kalau digombalin. Jadi nanti kalau ada perempuan yang Dokter suka, Dokter harus bisa bicara manis, membuat hati mereka berdebar dan meleleh" jelas Ayunda.
"Kalau begitu saya belajarnya sama kamu ya" balas Erick, keduanya tertawa lepas bersamaan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikannya dengan tatapan tidak nyaman. Tapi dia membiarkan kebahagiaan keduanya, dan pergi dari sana begitu saja.
Erick merasakan dadanya berdebar, hatinya tercubit, melihat Ayunda yang tertawa seperti ini, dihadapannya. "Semakin sulit untuk melepaskanmu Tiara. Apa aku salah mengharap kesempatan ketiga akan datang" batinnya.
"Dokter mau pesan minum apa?" tanya Ayunda, mengulang pertanyaan pelayan cafe, karena Erick tidak menjawabnya.
"Kopi hitam tanpa gula" jawab Dokter Erick begitu dia kembali tersadar dari pikirannya sendiri.
Pelayan pergi, setelah mencatat pesanan mereka. Suasana hening seketika, baik Ayunda dan Dokter Erick sama-sama diam.
"Dok" panggil Ayunda setelah beberapa menit dikeheningan mereka.
Dokter Erick menatap Ayunda yang masih setia dengan senyum manis diwajahnya. "Ini" Ayunda menyerahkan sesuatu yang cukup besar, yang sedari tadi dia sandarkan dimeja bagian bawah yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Dokter Erick saat melihat apa yang diserahkan Ayunda.
"Hem" Ayunda mengangguk.
"Saya lihat sekarang, boleh?" tana Dokter Erick.
"Saya sudah memberikannya pada Dokter, jadi itu hak Dokter untuk membukanya sekarang atau nanti" jawab Ayunda, walau sesungguhnya dia sangat ingin Dokter Erick membukanya sekarang dan memberi penilaian langsung dihadapannya.
"Untuk saya?" tanya Dokter Erick.
"Iya, untuk Dokter Erick. Terima kasih, untuk kanvas dan catnya. Saat melukis saya seperti masuk dalam dunia yang berbeda" lanjut Ayunda ucapannya.
Dokter Erick tersenyum lebar pada Ayunda, dia cukup penasaran dengan hasil lukisan Ayunda. "Saya buka sekarang ya" ucapnya.
Ayunda mengangguk tanda mengijinkan Dokter Erick untuk melakukannya, sesuai apa yang diinginkan olehnya.
Doktet Erick tampak termenung saat melihat hasil lukisan Ayunda. "Ini luar biasa" ucapnya.
"Dua dimensi" ucap Ayunda.
Dokter Erick menatap Ayunda. "Dua dimensi dengan tokoh utama wanitanya yang melalui perjalanan waktu, menemui banyak hal dalam kehidupan, kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kecurangan, cinta dan kebencian semua ada disana di dua dimensi yang berbeda untuk mendapatkan cahaya terang yang dilukiskan dengan lentera di ujung perjalanannya" Ayunda menggambarkan kisah yang ada dalam lukisannya.
"Ini kisahmu" ucap Dokter Erick.
Ayunda hanya tersenyum mendengarnya. "Siapa laki-laki satu lagi didunia terang?" tanya Dokter Erick yang megetahui Ayunda hanya berhubungan dengan Kevin dan Nathan.
"Dokter" jawab Ayunda.
"Saya" Dokter Erick terkejut, walau hatinya berteriak senang.
"Dokter sudah ada dalam cerita hidup saya sebelum Dokter merawat saya. Sejak beberapa tahun yang lalu, kita sering bertemu dalam beberapa kesempatan. Saya sering melihat Dokter ada disekitar saya, sayangnya tidak ada kesempatan untuk kita berkenalan saat itu. Mungkin memang belum saatnya"
__ADS_1
Ayunda sering melihat Erick dimasa lalu, bahkan dia sering memperhatikan Erick dari jauh. Ada sesuatu saat itu yang membuatnya memperhatikan pria yang tidak banyak bicara. Saat dia sadarkan diri dan melihat Dokter Erick yang ada di hadapannya, Ayunda kembali menginggat kisahnya yang senang mencuri pandang kehadiran Erick walau dari jauh.
"Kamu melihat saya?" tanya Dokter Erick penasaran.
"Iya, maaf ya Dok, saya dulu suka memperhatikan Dokter dari jauh. Seperti yang tadi saya katakan, sayangnya tidak ada kesempatan untuk berkenalan"
"Tiara" panggil Dokter Erick.
Ayunda menatap Dokter Erick yang juga menatapnya "Apakah kamu tahu..." Dokter Erick tidak melanjutkan ucapannya.
"Tahu apa Dok?" tanya Ayunda yang ingin mendengar kelanjutan ucapan Dokter Erick.
"Tidak ada" Dokter Erick hanya tersenyum.
"Tahu kalau dokter sangat menyayangi saya" ucap Ayunda yang melanjutkan sendiri ucapan Dokter Erick.
"Kamu..." Dokter Erick tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Saya merasakanya Dok. Terima kasih Dokter mau menyayangi saya. Terimalah lukisan ini sebagai bentuk balasan kasih sayang dan kebaikan Dokter untuk saya. Maaf saya tidak bisa membalasnya lebih. Saya harus memilih satu dari semuanya untuk mendapatkan sinar lentera yang ada diujung lorong"
"Tiara kamu tahu dan merasakanya, lalu?"
"Maaf Dok" ucapan Ayunda terhenti karena pelayan mebawakan kopi dan makanan ringan yang tadi dipesan Ayunda.
"Dulu di saat Papa tiada, Dokter dan Om Anggara selalu datang bersama tamu yang lain mengirim doa untuk Papa. Setiap malam saya melihat Dokter, setiap malam juga saya berharap Dokter akan datang menemui saya dan memberikan semangat. Tapi sampai hari ketujuh saya harus menerima kenyataan kalau memang tidak ada cerita untuk kita" Ayunda diam sesaat.
"Pertemuan kedua dengan Dokter, ceritanya tetap sama. saat itu, saya menghadiri acara teman Kak Kevin. Saya melihat Dokter, tapi hanya bisa melihat dari jauh. Saat itu saya kembali berharap ada kesempatan untuk kita berkenalan dan bicara. Tetapi saya kembali diingatkan kalau memang tidak akan ada cerita tentang kita"
"Maafkan saya Tiara, saya tidak punya keberanian mendekatimu. Sejujurnya, saat itu saya jatuh cinta padamu. Saya pikir, saat itu saya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi ternyata, saya jatuh cinta untuk keduakalinya pada orang yang sama. Melihatmu dengan Kevin membuat saya mundur saat itu, membiarkanmu bahagia bersama pilihanmu"
"Ayunda, saya bahagia mengetahui kalau kamu juga memiliki rasa yang sama sejak dulu. Walau terlambat, saya ingin meminta padamu, bisakah kamu memberikan kesempatan ketiga?"
__ADS_1
...*******...