Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 128 “Tak Ingin Cinta Berakhir”


__ADS_3

“Jika hari ini ... detik ini... kamu belum bisa kembali maka aku akan setia... menunggu. Karena aku percaya mungkin entah esok, beberapa bulan atau justru beberapa tahun lagi kamu akan kembali. Karena ini adalah kekuatan cinta yang meyakini sebuah janji.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum meminta penjelasan dari Bagas Kara, Aletha mencari mushola dan memutuskan untuk menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu. Karena ia jiga ingin melahirkan doa dan terus melangitkan doa sampai Allah benar-benar memberikan jawaban kepadanya sebagai titik kejelasan keberadaan Keenan. Karena Aletha tidak mau menganggap benar bahwa Keenan telah gugur, mengingat saat Keenan dulu juga mengalami hal sama.


Memori ingatan Aletha itu tajam, mengingat Keenan pernah memalsukan kematiannya untuk sebuah misi dan juga menghindari Aletha tanpa tahu jika Aletha tangah hantu cinta kepadanya.


Dan itu adalah hal ternyesek bagi seorang Keenan, karena menyesal sudah membuat Aletha merindu sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mushola rumah sakit Aletha membentangkan sajadah dan membalut tubuhnya dengan mukena yang dijadikan sebagai pakaian tertutup saat menghadap Allah dalam memenuhi panggilannya.


“Usholli Fardlon dhuhri Arba'a Rok'aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta'aala.”


“Aku niat melakukan sholat fardu dhuhur 4 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala.”


“Allahu akbar...”


Empat rakaat telah dijalani Aletha dengan se_khusu' mungkin. Dan seperti biasa, Aletha lebih lama saat melakukan rukuk dan sujud, karena saat itulah semua dosa-dosa seorang hamba Allah telah berguguran dan diampuni.


Di saat sujud terakhir Aletha tidak lupa membaca tiga doa, memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh karena hanya Allah lah yang mampu membolak-balikan kehidupan seorang hamba-Nya.


“Ya Allah Ya Tuhanku... hanya kepada Engkau lah aku mengadu, mencurahkan segala isi hati atas rasa gelisah dan rasa ketidakberdayaan diri ini jika benar suami yang aku cintai telah tiada.”


”Dan jika kebenaran itu yang harus aku terima, maka... ampunilah segala dosa-dosa yang suami ku lakukan selama di dunia. Tetapi... jika suami ku masih hidup, maka lindungilah Dia dari segala mata bahaya. Karena hanya kepada-Mu lah aku meminta segalanya.”


”Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aaffiyah fid dun-yaa wal aakhirah. Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fi diini wa dunyaa-ya wa ahlii wa maalii. Allahummas-tur 'au-raatii wa aamin rau-'aatii,


Allahumma-fadz-nii min baini yadayya wa min khalfii wa 'an yamiinii wa 'wn syimaalii wa min fauqii. Wa a-'uudzu bi 'adzmatika an-ughtaala min tahtii.”


“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon ampunan-Mu dan bebaskanlah aku dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon ampunan kepada-Mu agar terhindar dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku.”


Aletha terus melangitkan doa untuk Keenan, karena hati nya pun masih merasa sangat yakin bahwa Keenan masih hidup. Dan tiada hentinya butiran air mata bergulir membasahi pipinya. Dalam sujudnya Aletha menangis, bahkan tubuhnya pun masih berbalut dengan mukena yang dipakai sholat tadi.


Setelah dirasa hatinya cukup tenang, Aletha bersiap untuk melangkah menuju ke tempat parkir. Mobil ferari miliknya siap untuk dilajukan dengan kecepatan sedang, karena ia juga tidak ingin gegabah dalam bertindak. Cukup menenangkan hatinya agar dipermudahkan saat di perjalanan dan juga terhindar dari pikiran buruk.


Saat masih di perjalanan bibir Aletha tiada hentinya melantinkan dzikir, mendamaikan hati dari rasa gelisah.


“Assalamu'alaikum, Papa dimana?” tanya Aletha yang memastikan keberadaan Bagas Kara.


“Wa'alaikumsalam, Papa... ada di batalyon.” Terdengar begitu singkat, datar dan tegas.


“Aletha akan kesana.”


Tuh kan, nada bicara pun sama. Sama-sama singkat, jelas, padat dan juga... tegas. Fix Aletha memang memiliki sifat yang sama dengan Bagas Kara daripada Mama nya.


“Tring... Tring...”


Suara ponsel Aletha kembali berdering, tertanda ada nama Laura di sana tengah melakukan panggilan.


‘Ada apa dengan Laura? Kenapa Dia menelpon ku? Apa Garda juga...’ Aletha bertanya dalam hati.


Untuk memastikan apa yang dipikirkannya Aletha menerima panggilan dari Laura.


“Halo, assalamu'alaikum, Ra. Ada apa?” tanya Aletha to the point.


“Wa'alaikumsalam, Al... hiks... hiks.. hiks...” Terdengar dari seberang bahwa Laura tengah menangis.


“Ra, kenapa kamu menangis? Di mana kamu sekarang?”


“Aku... Aku bersama Om Bagas Kara sekarang.”


Segera Aletha mempercepat laju mobilnya, karena ia ingin tahu keadaan Laura yang sebenarnya. Jika sudah menangis yang tidak bisa tertahan, maka memang telah terjadi sesuatu dengan Garda.


Lima belas menit kemudian Aletha sampai di batalyon. Setelah memarkirkan mobilnya Aletha menuju ke ruangan Bagas Kara untuk bertemu.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari Aletha.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Bagas Kara yang hampir bersamaan dengan Laura.


Aletha masuk ke ruangan itu dan menatap Laura yang sudah kacau. Bahkan matanya pun sudah sembab, karena terlalu banyak menangis. Setelah menatap Laura yang terus mengeluarkan derai air mata, Aletha beralih ke Bagas Kara dan meminta penjelasan kepada Papa nya itu.


“Pa... Aletha mohon jelaskan secara tegas layaknya seorang pemimpin.” Aletha menahan pedih di hatinya jika saja Keenan memang benar dinyatakan gugur saat bertugas.


Seketika Bagas Kara menatap Aletha dengan tatapan tajam. Bagas Kara juga ingin memastikan jika Aletha memang berusaha tegar dan tidak dalam pura-pura.


“Aletha, bukankah lampiran surat pernyataan dari Papa sudah kamu terima, buat apa lagi Papa harus menjelaskan semuanya.” Tegas Bagas Kara.


“Memang benar lampiran dari Papa sudah Aletha baca, tapi... surat dari Aa Keenan tidak akan pernah Aletha baca.”


“Papa harus ingat akan satu hal. Jika hari ini ... detik ini... Aa Keenan belum bisa kembali maka aku akan setia... menunggu. Karena aku percaya mungkin entah esok, beberapa bulan atau justru beberapa tahun lagi Aa Keenan akan kembali. Karena ini adalah kekuatan cinta yang meyakini sebuah janji.”


Aletha merobek lampiran pernyataan tentang gugurnya Keenan sampai surat itu menjadi hancur lebur tidak bisa disatukan lagi dan setelah itu Aletha menyebarkan kertas yang sudah hancur itu melayang ke udara.


”Aku tidak akan pernah mempercayai kabar ini tanpa adanya bukti yang pasti. Papa tahu betul bagaimana aku, kan? Dan Aa Keenan pun juga pernah memalsukan kematiannya.”


Aletha menatap tajam Bagas Kara, setelah itu beralih ke Laura dan mendorong kursi roda Laura keluar dari ruangan Bagas Kara menuju ke tempat yang lebih tenang dan nyaman untuk berbicara dengan Laura.


Di taman kecil Aletha menghentikan laju kursi roda Laura. Setelah itu, Aletha berjongkok menatap mata Laura yang sudah lembab dan sendu itu.


“Ra... apa kak Garda...” Aletha menggantungkan ucapannya ke udara.

__ADS_1


Hanya anggukan kecil yang dilakukan Laura untuk menjawab pertanyaan Aletha. Karena bibir Laura begitu terasa kaku untuk berbicara saat itu dan lidahnya pun juga begitu terasa kelu. Hanya isak tangis yang masih terdengar oleh Aletha.


“Ra, apa kamu yakin dengan kekuatan cinta?”


“Jika kamu merasa yakin, Allah akan memberikan kekuatan untuk cinta kamu ke kak Garda. Kamu tidak ingin kan, cintamu berakhir sampai di sini?”


Laura yang menundukkan kepala seketika mengangkatnya dan sejenak menatap Aletha. Setelah itu Laura menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Aletha tadi.


Laura merasa sama dengan Aletha, tidak ingin cinta mereka berakhir tragis seperti itu. Tanpa ada kejelasan tentang kematian Keenan atau Garda. Karena sampai saat itu jasad Keenan maupun Garda masih belum ditemukan.


“Kalau kamu memang tidak mau cinta kamu berakhir, terus doakan saja kak Garda dari ancaman bahaya apapun. Karena hanya Allah yang selalu mempermudahkan segala urusan hamba-Nya. Dan Allah akan mengabulkan permintaan hamba-Nya jika meminta dengan kesungguhan di dalam hati.” Aletha mengangguk pelan.


“Jangan pikirkan hal ini, karena aku yakin mereka akan kembali. Dan jika benar apa adanya tentang kabar gugurnya mereka dalam medan pertempuran, maka kita yang seharusnya berbangga diri. Karena perjuangan mereka tidak akan sia-sia untuk melindungi Ibu Pertiwi.”


Kembali Aletha berusaha menenangkan hati Laura, mengingatkan akan hal yang sudah menjadi resiko seorang istri dari suami yang mengabdikan diri kepada negara Indonesia. Dan pada dasarnya kematian itu akan datang tanpa kita meminta, akan datang meskipun kita berlari sejauh mungkin dan akan datang kapan saja tanpa manusia ketahui.


“Ingat Ra, kalau kita sebagai wanita saja lemah... bagaimana jika kita harus menghadapi kenyataan hidup tanpa seorang pasangan. Dan kita sudah menjadi seorang ibu, bagaimana kita bisa menenangkan hati putra putri kita jika kita sendiri lemah, hmm?”


”Kamu benar, Al. Seharusnya aku juga tahu bahwa ini adalah resiko dari kita yang sudah terpilih menjadi istri pasukan loreng. Dan kamu juga benar kita harus bangga dengan perjuangan mereka yang tidak sia-sia. Demi kembalinya ketentraman Ibu Pertiwi, mereka sudah berkorban nyawa.” Sesekali Laura masih sesenggukan meskipun kini hatinya sudah jauh lebih merasa tenang.


Hati sudah hampir menjelang malam dan senja sudah mulai menghilang. Aletha memutuskan untuk mengantar Laura pulang ke rumah Bagas Kara. Dan setiba di sana Bagas Kara, Mama Nina, Luna, Juan, Larissa dan Ravva sudah menyambut kedatangan mereka.


“Bunda...” teriak Ravva saat melihat Laura masuk ke dalam rumah.


Seketika Ravva memeluk Laura, membuat Laura harus benar-benar menguatkan hati dan diri untuk tidak menangis di depan Ravva.


“Bunda dali mana saja sih? Ravva tadi nyaliin Bunda loh,” ucap Ravva yang membuat semua orang merasa gemas.


“Bunda tadi... keluar sama aunty Aletha. Maafkan Bunda ya sayang, jika Bunda tadi tidak bilang dulu sama Ravva. Dan sekarang Bunda sudah pulang.” Laura memberikan senyuman, lalu mengecup pipi tembem Ravva.


“Sekarang Ravva masuk kamar dulu ya, Oma mau bicara dulu sama Bunda dan aunty Aletha.” Mama Nina mendekati Ravva dan memintanya untuk pergi ke kamar bersama Larisa.


Dan setelah Ravva meninggalkan ruang tamu, barulah Bagas Kara mengawali obrolan di antara mereka semua.


“Kalian harus kuat, ini adalah...” terhenti.


“Resiko kami. Tapi kami tidak ingin jika cinta kami berakhir di sini dan kami juga yakin bahwa suami. kami masih hidup. Hanya kekuatan cinta yang mampu membuat kami bertahan,” ucap Aletha dengan tegas.


Aletha akan tetap menjadi wanita nyang tegar, di hadapan siapapun. Karena Dia pun sudah pernah mengalami bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya. Pesawat itu hancur lebur dan membawa Fajar tenggelam bersama kepingan pesawat.


“Maaf Pa-Ma, Aletha harus segera pulang. Alina pasti sudah merasa haus.” Aletha memberi alasan yang masuk di akal, meskipun dirinya hanya ingin menghindari Bagas Kara yang selalu memintanya untuk melepas Keenan atas kepergian Keenan.


Dengan mengucap salam Aletha meninggalkan kediaman Bagas Kara. Dan mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang.


“Aku tidak akan membuka surat itu. Dan jika benar hasilnya, aku akan tetap melakukan hal sama. Tidak akan membaca bahkan membukanya saja tidak. Bukan aku takut akan pesan terakhir darimu, Aa. Tapi... aku tidak ingin cintamu ikut terkubur bersama tubuhmu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita tidak bisa memecahkan misi ini tanpa Kapten Keenan. Karena hanya Kapten Keenan lah yang selalu memiliki taktik, strategi dan keberanian yang hakiki.”


Sudah satu bulan pula mereka ditugaskan di Yahukimo, tetapi hasilnya masih sangat sedikit keberhasilan yang mereka lakukan. Hanya beberapa anggota rendah saja yang dijadikan pekerja, bahkan mereka pun menjalankan tugas hanya melalui jalur telekomunikasi saja, setelahnya ketua mereka selalu mekinta untuk menghapus pesan terakhir mereka untuk meninggalkan jejak.


“Tapi kita tahu benar, bom itu terus meledak di sana. Mana mungkin Kapten Keenan dan Lettu Garda masih hidup?” ucap Naina.


“Apa yang dikatakan Naina itu... benar. Dan kita... sudah kehilangan Kapten dan Lettu serta sahabat kita, Bian.”


Ketegaran yang ditanamkan dalam diri Bian, Naina dan Bayu luluh lantah dengan seiringnya waktu. Hari-hari begitu terasa sulit tanpa kehadiran Keenan dan Garda di tengah-tengah mereka. Apalagi saat menjalankan misi besar seperti itu, sungguh membuat ketiganya sering mendesah dan mengeluh. Seperti tidak ada rasa semangat untuk menangkap penjahat lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Alina sayang, sekarang tidur dulu yuk! Bunda mau kerja lagi.” Aletha merebahkan tubuh Alina di atas kasur.


Sebentar Aletha ikut merebahkan tubuhnya, lalu membacakan sholawat kepada Alina agar Alina tertidur sendiri tanpa ditimang-timang terlebih dahulu. Aletha hanya ingin mengajarkan Alina untuk tidak tumbuh dengan manja, selalu dituriti apa maunya, keinginannya tanpa Alina tahu harus berbuat apa untuk menciptakan rasa nikmat jika tidak ada rasa syukur di dalamnya.


Sepuluh menit kemudian akhirnya Aletha bisa bernafas lega, karena Alina sudah tertidur setelah mendengar Aletha mendendangkan sholawat untuknya sampai beberapa kali.


Dan setelah Alina tertidur Aletha kembali meneliti data pasien yang hendak menjalankan operasi esok hari.


‘Neng rindu sama Aa, jangan sampai lampu lentera ini akan memijarkan cahaya nya dengan sendirinya. Dan jangan biarkan Neng makan coklatnya sendiri, jadi tidak asik tahu.”


Aletha terus berusaha menyeka air matanya yang hampir tumpah.


Hening...


“Tidak boleh bersedih, cukup kehilangan satu kali saja Ya Allah. Dan hadirkanlah kembali Aa Keenan dalam hidupku.”


Aletha mengaminkan doa yang dilangitkannya.


Untuk melupakan sejenak rasa kesedihan di hatinya Aletha memutuskan untuk memakan sebatang coklat agar kesedihan itu dapat terkiskis dengan sendirinya sampai waktu yang dinanti telah kembali.


Satu gigitan... telah melumer didalam mulut Aletha.


Dan kembali gigitan kedua membuat Aletha sedikit merasa tenang. Lalu dilanjut gigitan ketiga sampai coklat batang itu tidak lagi tersisa.


“Aku... bukan tidak mau menengokmu Aa, tapi di sini juga harus menjaga Alina.” Aletha menatap wajah teduh dan lucu Alina yang masih begitu polos.


Kantuk telah mendera Aletha, memikirkan berita gugurnya Keenan tidak akan pernah ada habisnya, karena jasad pun masih belum ditemukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti pagi sebelumnya, Aletha menyiapkan kelengkapan peralatan mandi Alina. Pagi itu Alina terus memberikan senyuman kepada Aletha, membuat Aletha merasa gemas sendiri sama bibir Alina yang mirip dengan bibir Keenan.


Dengan seiringnya waktu Aletha membiasakan diri tanpa memikirkan Keenan, tetapi hatinya masih merasa yakin jika Keenan akan kembali mengisi hari-harinya yang sendu menjadi lebih berwarna.

__ADS_1


“Aletha harus berangkat pagi hari ini, Bu. Bu Laila bisa kan, menjaga Alina sendiri?” tata Aletha memastikan Bu Laila saat mengingat Alina sudah berusia tujuh bulan saja.


“Iya, tidak apa-apa kok, Nak. Kamu hati-hati di jalan!” balas Bulu Laila setelah Aletha mengucap salam kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dokter Aletha,” teriak Arga setelah melihat Aletha hendak masuk ke rumah sakit.


Aletha seketika menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Arga yang nampak berbeda.


“Arga, kamu...” Aletha menggantungkan ucapannya.


“Iya, kak, Arga mau mendaftarkan diri di sekolah AKMIL, siapa tahu saja Arga bisa seperti kak Aletha dan sekeluarga.” Arga pun tertawa.


Dan tawa Arga menular dengan sendirinya, Aletha merasa memiliki kebanggaan tersendiri sudah membuat Arga memiliki motivasi untuk hidup dengan kejujuran, tanpa masuk ke dalam dunia bisnis nantinya. Dan sedangkan bisnis itupun tidak halal, karena harus menimbulkan kejahatan terlebih dahulu.


“Syukurlah kalau kamu memiliki motivasi yang amat tinggi. Semoga saja kamu berhasil, semangat!” ucap Aletha.


“Tentu Arga harus semangat, karena membasmi kejahatan dan melindungi ibu pertiwi adalah salah satu tujuan Arga. Semoga saja... perjuangan Arga selalu dimudahkan oleh Allah SWT.”


“Aamiin...” Aletha mengaminkan doa Arga.


Dan setelah meminta dukungan dari Aletha, Arga siap berangkat ke sekolah AKMIL dengan busana yang amat rapi, tidak lupa pula dengan sepatu pantofel yang melekat di kakinya. Membuat Arga semakin mempesona dan berkarisma.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ting... Ting...”


Ada pesan masuk ke ponsel Aletha. Dan dengan segera Aletha melihat pesan dari Cinta.


[Assalamu'alaikum, kak Aletha. Maaf jika Cinta mengganggu Kakak yang pastinya sedang sibuk. Tapi... Cinta mau berterimakasih banyak sama kak Cinta, karena Cinta sudah berhasil di titik awal. Cinta... menang lomba menulis nya, Kak.]


Aletha tersenyum, ikut senang rasanya saat Cinta memiliki semangat baru setelah beberapa bulan lalu diminta untuk sering beristirahat dan membuatnya merasa sangat bosan hanya di rumah saja. Dan setelah mengikuti saran Aletha, Cinta terjun ke dunia kepenulisan yakni membuat novel.


[Wa'alaikumsalam Cinta, alhamdulillah jika kamu sudah mendapatkan kesuksesan di titik awal, semoga saja sampai titik akhir nanti kamu semakin sukses.]


Aletha membalas pesan dari Cinta. Setelah itu ia kembali fokus dengan data pasien yang harus dilakukan visite ulang pagi itu.


“Permisi Dokter Aletha, ada surat untuk Anda.” Asisten Aletha menyodorkan sebuah surat.


“Iya terimakasih, Sus. Oh iya, sekalian siapkan data pasien berikutnya. Sekarang suster ikut saya ke ruangan Pak Dani.” Aletha bersiap untuk melakukan visite setelah snelinya melekat di tubuhnya.


Ketika suster sedang menyiapkan data untuk berkunjung ke setiap ruangan dan melakukan visite, Aletha sejenak membaca surat yang entah dari siapa.


[Assalamu'alaikum, Aletha. Bagaimana kabar kamu? Mungkin... benar aku tidak lah pantas di mata kamu meskipun hanya sekedar menjadi teman saja. Sehingga malam itu kamu tidak datang, mengabaikan aku yang menunggumu di bandara. Tetapi... aku akan selalu mengucapkan terimakasih kepadamu, karena aku menyadari perbuatan ku yang terlalu menyombongkan diri membuat orang lain tidak suka. Terimakasih, Al.]


Pembaca pasti tahu siapa penulis surat itu, yang jelas itu adalah Dimas. Saat di Amerika Dimas meminta bantuan mbak penulis untuk menuliskan surat yang akan diberikan kepada Aletha. Dan pembaca pasti akan mentertawakan Dimas, karena di masa kini masih saja tulis surat menyurat. Namun, itu dilakukan Dimas bukan berarti tidak memiliki kuota melainkan sejak itu Dimas berjanji tidak akan mengingat lagi Aletha.


“Astaghfirullah hal azim, kenapa aku bisa lupa malam itu.” Aletha menepuk jidatnya pelan. “Tapi ya sudahlah, mungkin ini cara Allah untuk menjauhkan aku dari Dimas. Agar Dia juga bisa melupakan aku dan mencintai wanita lain, tak lain lagi istrinya sendiri.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha menelusuri lorong rumah sakit yang diikuti asistennya dari belakang. Setelah itu masuk ke ruangannya kembali setelah melakukan visite terhadap lima pasien di pagi itu sampai siang pun tiba.


“Enaknya makan siang saja sama...”


“Tring... Tring...”


Ponsel Aletha berdering dan Aletha segera menerima panggilan itu.


“Assalamu'alaikum, Al.”


“Wa'alaikumsalam, Wilona...” teriak Aletha heroik.


“Iya Al, ini aku. Kamu dimana? Bisa tidak siang ini kita bertemu? Mumpung aku masih di Indonesia,” ajak Catrina.


Pembaca tidak lupa kan, dengan Wilona?


“Emm... Boleh, di mana kita bisa bertemu? Aku akan segera kesana, kamu kirim saja alamatnya ke nomorku.” Aletha pun ber antusias ingin berjumpa dengan sahabatnya yang dulu pernah satu tugas dengannya saat ikut di Mercy Ships.


Tempat dan alamat pun sudah dikirim Winona ke ponsel Aletha, dengan segera Aletha melajukan mobilnya, karena ia tidak sabar bertemu dengan Wilona. Karena sudah lama sekali mereka tidak saling tukar kabar satu sama lain, jelas dengan kesibukan masing-masing. Sehingga saat di Wilona berkunjung ke Indonesia ia pun mengajak Aletha untuk bertemu dan salingmelepas rindu satu sama lain.


“Aletha, bagaimana kabar kamu? Aku dengar...”


“Seperti yang kamu lihat, aku baik saat ini..


detik ini. Dan apa yang kamu dengar... aku juga tidak tahu pasti. Karena aku akan selalu menganggap bahwa Aa Keenan masih hidup.”


“Tapi... kamu tidak lagi melakukan hal seperti dulu, kan?” tanya Aletha menyelidik.


“Ha... Ha... Ha... Itu dulu, Al. Tapi saat ini aku tidak tahu apapun tentang hal itu. Aku pun bertanya sama Papa ku, tapi nihil. Papa tidak tahu jika Keenan ditugaskan ke Yahukimo.”


Hening...


“Setelah ini... kamu mau kemana?” tanya Wilona memecahkan keheningan.


“Aku... akan pergi ke suatu tempat. Karena aku tidak mau cintaku berakhir begitu saja.”


“Sepertinya aku harus pergi sekarang... besok kita harus berjumpa lagi. Itupun jika kamu masih berada di Indonesia, jika sudah kembali ke Amerika jangan lupa kabari aku.”


“Al, apa kamu tidak ingin ikut menjadi anggota Mercy Ships lagi?”


“Emm...”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2