Lentera Cinta

Lentera Cinta
46. Sahabat


__ADS_3

Ayunda sudah dipindahkan kekamar rawat inap, saat Nathan mengunjunginya sepulang kerja. Pintu kamar sedikit terbuka, ternyata didalam ada tiga orang teman satu divisi dengan Ayunda, sebelum jadi sekertaris Nathan, datang membesuknya.


Semua mata kini tertuju pada Nathan yang saat ini berdiri di pintu, tidak heran bagi mereka melihat Nathan mengunjungi Ayunda, bukan karena Ayunda sekertaris bos, tapi mereka tahu, ada hubungan lain antara keduanya.


Kejadian Nathan yang tiba-tiba memeluk Ayunda tidak dapat diabaikan begitu saja bagi mereka, walau asisten bos mereka Dariel, memerintahkan untuk berhenti membicarakan tentang kejadian itu.


Mereka tidak berani menatap Nathan lebih lama lagi, dan tidak ada satupun juga yang berani menengur Nathan, auranya yang selama ini dingin dan acuh membuat para karyawan memilih untuk diam dan menunduk.


Suasana yang tadinya ramai, seketika sunyi. "Kenapa jadi diam?" tanya Nathan pada semuanya, "Ini bukan di kantor, jadi bersikap biasa saja" seperti sudah terlatih semua menjawab "Iya pak" bersamaan, kompak seperti paduan suara.


Nathan tersenyum lalu berjalan mendekati Mama Mira, seperti biasa dia meraih tangan wanita yang di hormatinya itu, lalu menciumnya.


"Tante pulang saja, istirahat dirumah" ucapnya setelah mencium tangan Mama Mira.


"Sopir sudah saya suruh tunggu untuk mengantar tante"


Mama Mira mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Nathan, semua yang ada disana melihat dan mempehatikan interaksi keduanya. Sesuatu yang berbeda dari seorang Nathan saat di kantor dan diluar kantor, baru kali ini mereka berinteraksi dengan Nathan di luar jam kerja.


Seperti biasa Nathan mengantar Mama Mira sampai keparkiran rumah sakit. Melihat Nathan yang keluar teman-teman Ayunda bisa menarik nafas lega. Teman-teman Ayunda menceritakan kejadian apa saja dikantor, sesekali hening, sesekali tawa mereka terdengar sampai keluar kamar.


"Nda, gimana rasanya dekat sama manusia dingin kayak Pak Nathan?" tanya Wini penasaran ditengah-tengah perbincangan mereka yang membahas seputar kelucuan teman-teman mereka di kantor.


"Hush" Riska menepuk lengan Wini. "Dijaga mulutnya" Riska menginggatkan Wini, takut tiba-tiba saja bos mereka masuk dan mendengar ucapan Wini.


Ayunda tersenyum melihat kedua temannya, Wini dan Riska yang selalu membuat ramai suasana di ruangan mereka. Sering ribut, tapi saling menyayangi.


"Nda... jawab dong" renggek Wini setelah melihat Ayunda hanya tersenyum.


"Apa yang ingin kamu ketahui, Win?" tanya Ayunda menggoda Wini.


"Semuanya" Wini menjawab cepat.


"Sebenarnya orangnya hangat dan baik kalau kita sudah kenal. Seperti yang tadi kalian lihat" jawab Ayunda jujur.

__ADS_1


"Ya, itu karena dia suka sama kamu" Wini menjawab sambil mengerucutkan mulutnya.


"Tapi Nda, kalian kayak udah kenal lama, kalau aku lihat" sekarang Riska yang berucap.


"Kalau itu emang iya, kami sudah kenal dan bersahabat sejak masih kecil" jawab Ayunda.


"Sahabat? kalian bersahabat?" ulang Wini ucapan Ayunda.


"Pantas aja udah keliatan akrab, sampe main peluk-peluk, ternyata kalian sejak kecil udah sama-sama" ucap Riska sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi kayaknya pak bos itu sayang banget Nda, sama kamu" Wini mencoba mengatakan apa yang dilihatnya.


"Pasti sayang dong Win, orang dari kecil sampe sekarang temenan, gimana nggak sayang"


"Maksudku cinta.... Riska. Kok susah nyambungnya ya sekarang, kelamaan jombloh sih."


"Udah sore, pulang yok" ajak Doni yang sudah jengah dengan obrolan para wanita.


Baru saja Wini selesai bicara, Nathan terlihat masuk kembali, sambil membawa beberapa bungkusan makanan dan minuman lalu memberikannya pada Doni.


"Buat kalian, dimakan dulu nanti baru pulang" ucap Nathan, membuat Doni terbengong tidak percaya dengan yang di dengarnya, diikuti Riska dan Wini.


"Terima kasih pak" jawab Doni setelah menyadari keterkejutannya. Nathan yang tidak suka banyak bicara, terlebih lagi dengan karyawan, kini bicara dengan ramah padanya.


Nathan tersenyum membalas ucapan terimakasih Doni, dia berjalan mendekati Ayunda membawa satu plastik makanan. "Kesukaanmu" dia mengangkatnya menunjukkan pada Ayunda.


Ayunda hanya tersenyum membalas ucapan Nathan. "Mau makan sekarang? aku suapin ya" tanpa menunggu jawaban Ayunda Nathan langsung membuka cream soup kesukaan Ayunda.


"Apa yang kamu rasakan sekarang? pusing?" tanya Nathan sambil menyuapi Ayunda.


"Pusing sedikit"


Nathan membersihkan mulut Ayunda yang belepotan dengan jempolnya. "Kebanyakan ya aku nyuapinya" ucapnya sambil terkekeh. Semua yang dilakukan Nathan mendapat perhatian dari Wini dan Riska yang duduk di sofa sambil menikmati jajanan yang dibelikan Nathan.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Ayunda sudah tertidur setengah jam yang lalu. Nathan duduk di sofa setelah membenarkan selimut Ayunda dan mengecup kening gadis kecilnya.


Berbincang dengan karyawannya tadi sore cukup menghibur Nathan, terlebih lagi melihat Ayunda yang bisa tertawa lepas saat Wini menceritakan ke sialan teman mereka. Nathan juga ikut tertawa disamping Ayunda, dia bersikap layaknya teman bukan atasan dengan karyawannya, membuat suasana canggung seketika hilang berganti senda gurau.


Nathan tersenyum, ingat ucapan Wini saat tadi pamit pulang. "Pak, Bapak dan Ayunda akan terlihat lebih serasi jadi sepasang kekasih dari pada sepasang sahabat"


Nathan tadi sempat mendengar percakapan Ayunda saat mengatakan hanya bersahabat dengannya. Kapan kamu bisa menerimaku Ra? batin Nathan, dia mengusap wajahnya, lalu meraih telepon genggamnya.


...◇◇◇...


Ayunda terbangun menjelang subuh, tapi dia tidak melihat siapapun ada dikamar bersamanya. Ada rasa kecewa saat dia tidak menemukan Nathan seperti biasanya.


Ini sudah hari ke enam setelah operasi, setiap malam Nathan selalu menemaninya. Perhatian dan sayang yang ditunjukkan Nathan membuat Ayunda meyakinkan dirinya untuk menerima kakak yang baik hati menemani hari-harinya. Terlebih lagi dia sudah mendapatkan restu dari Papa Richad, orang yang sangat tahu apa yang terbaik untuk seorang Ayunda.


Wajah Ayunda seketika berubah ceria, saat melihat orang yang dicarinya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah tampak segar.


"Hai, kamu sudah bangun" sapa Nathan mendekati Ayunda yang tersenyum padanya.


"Terima kasih" ucap Ayunda.


Kini Nathan yang membalas Ayunda dengan senyuman, "Aku melakukan semua karena sayang sama kamu Ra"


"Aku tinggal sebentar ya" Nathan keluar dari kamar rawat inap Ayunda.


dua puluh menit kemudian Nathan kembali, tapi dia tidak menemukan Ayunda di tempat tidur. "Ra, sayang..." Nathan mencoba memanggil di depan pintu kamar mandi, tapi tidak ada sahutan dari dalam dan tidak ada suara apapun didalam.


Dengan rasa penasaran Nathan berlahan membuka pintu kamar mandi, begitu terkejutnya karena Nathan tidak dapat menemukan Ayunda didalam. "Kemana dia" batin Nathan yang mulai cemas.


Nathan menuju meja jaga perawat yang ada didepan pintu masuk VVIP, baru saja dia akan bertanya perawat yang ada disana sudah terlebih dahulu memberitahumya. "Ibu Ayunda sedang dibawa keruang tindakan pak, kondisi Ibu Ayunda sudah jauh lebih baik, tapi untuk lebih memastikannya sebelum mengijinkan pulang kami akan melakukan general check up"


Nathan bisa bernafas lega mendengar penjelasan perawat. "Terima kasih sus" ucap Nathan lalu menyusul Ayunda.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2