
“Disaat kedua mataku sudah merekam semuanya, telingaku mendengar jeritan itu dan... pikiranku pun masih dengan kuat mengingatnya. Dan disaat itulah aku tidak bisa melakukan apapun, namun kamu datang bagaikan malaikat tak bersayap menyelamatkan mereka.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Hidup itu sudah dipermudah, jadi jangan dipersulit lagi. Dan sebagai Komandan yang baik aku akan berbagi dengan kalian semua. Karena berbagi itu akan meringankan beban yang ada.”
“Disini saya selalu Komandan akan memberikan pengarahan dan sedikit intruksi sebelum pasukan berani mati dan tim medis melakukan tugasnya di area nanti. Saya mohon kerjasama kalian,” ucap Keenan dengan tegas.
Keenan memberikan pengarahan sebelum pasukan berani mati dan tim medis masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan tidak lupa bagi Keenan untuk meminta semua pasukan berani mati dan tim medis menguatkan mental, fisik dan tenaga saat bertugas nanti.
Keenan memberikan alat komunikasi khusus militer kepada pasukannya dan juga tim medis satu persatu agar mempermudah berkomunikasi saat bertugas nanti. Karena saat bertugas tidak bisa langsung mengontrol keadaan di sana dengan merundingkan secara berhadapan langsung. Mereka akan berpencar menyeluruh setelah tiba di lokasi.
Semua masuk ke dalam mobil dan siap untuk menuju ke daerah Lebak, Provinsi Banten yang mengalami gempa dengan kekuatan 6,4 scala richter. Saat getaran tersebut terasa mengencang, orang-orang di markas Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Gambir, langsung melakukan evakuasi keluar dari gedung. Bahkan seketika itu pula ketua Bareskrim menghubungi pihak TNI untuk membantu mereka mengevakuasi luar gedung dan beberapa tempat lainnya yang memiliki bangunan gedung cukup tinggi.
“Aa...” Aletha memanggil Keenan dengan lirih.
Keenan yang sudah siap masuk ke dalam mobil seketika membalikkan tubuhnya dan menghadap ke Aletha yang masih berdiri di belakangnya.
“Ada apa Neng, hmm?”
“Neng... hanya ingin menghentikan waktu walaupun hanya sedetik, itupun jika Neng bisa. Karena Neng tidak mau berpisah sama Aa.” Aletha menunduk, ia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya agar tidak jatuh.
Keenan menghela nafas panjang, lalu ia mendekati Aletha dan kembali menggenggam tangannya.
“Neng, kita memang akan berpisah tapi tidak jauh. Kita masih bisa saling tatap, melihat satu sama lain dan kita masih bisa berjuang bersama. Kita... pasukan berseragam yang akan memberikan perlindungan untuk mereka semua.”
“Pakailah ini, anggap saja Aa bersama Neng dalam setiap langkah.” Keenan memberikan kalung tanda pengenal nya sebagai pasukan berani mati kepada Aletha.
“Neng akan menjaganya. Dan... bawalah selalu lampu lentera ini, Aa. Anggap saja jika Neng akan selalu memberikan cahaya saat Aa berada dalam kegelapan.” Aletha memberikan lampu lentera yang pernah diberikan Keenan kepadanya.
Aletha dan Keenan sejenak saling tatap, lalu kedua mengangguk dan siap melakukan tugas darurat itu demi melindungi dan menjaga para korban yang tertimbun reruntuhan gedung yang roboh.
__ADS_1
Keenan dan pasukan berani mati siap melakukan tugas dengan pakaian seragam mereka yang khas berwarna hijau dan loreng. Tidak lupa dengan helm pengaman saat melakukan tugas, helm khusu anggota TNI.
Begitu pula dengan anggota tim medis yang memakai rompi sebagai tanda pengenal mereka jika mereka adalah anggota palang merah yang siap menolong korban yang terluka berat atau tidak. Tidak lupa pula tim medis menggunakan helm yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Setiba di daerah Lebak, pasukan loreng itu dan juga anggota tim medis berpencar secara menyeluruh. Kedua pasukan itu selalu membawa peralatan yang memang diperlukan dalam bidangnya.
Keenan membawa tali, senter dan beberapa peralatan lainnya yang bisa digunakan untuk menolong korban yang tertimbun. Dan setelah menyelamatkan korban dari tertimbun nya runtuhan gedung Keenan memanggil tim medis untuk segera tiba di lokasi dan memberikan penyelamat dengan melakukan pemeriksaan kondisi tubuh.
“Lapor! Jalur satu ingin bicara, bagi tim kedia tolong kirimkan salah satu pasukan kalian untuk melakukan pemeriksaan pada tubuh korban di sisi kanan gedung.”
“Laporan saya terima, Komandan. Saya Dokter Aletha akan mengirimkan Dokter Khaira ke sana untuk memeriksa kondisi korban.”
“Baiklah! Saya tunggu, karena saya tidak bisa meninggalkan korban dengan kondisi yang cukup lemah. Tolong segera datang!” pinta Keenan.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh tetapi tidak bisa saling pandang Aletha dan Keenan masih memberikan intruksi satu sama lain.
“Cepatlah datang ke lokasi Komandan Keenan. Biar saya yang menangani korban yang ini.” Aletha lebih memilih Khaira untuk menemui Kenaan.
Bagi Aletha tugas seorang dokter tidak bisa pandang bulu tentang bagaimana pasiennya. Apakah cantik atau tampan, apakah kumuh atau terawat dan yang lainnya. Apalagi dalam keadaan darurat seperti itu, Aletha tidak akan mengutamakan cinta dan honeymoon yang gagal.
“Dokter Aletha, apa tidak sebaiknya Dokter saja yang datang kesana?”
“Dokter Khaira, ini perintah dan tidak bisa dibantah. Cepat datang kesana karena nyawa seseorang bisa saja terancam jika seorang dokter akan datang terlambat untuk memberi pertolongan.” Aletha menatap tajam Khaira yang masih berdiri di depannya.
“Baiklah, Dok.” Khaira pun dengan berlari menuju ke lokasi Keenan berada.
Aletha memeriksa kondisi korban yang saat ini berada di hadapannya. Terlihat seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun tidak mengalami luka berat ataupun cedera, karena saat Aletha memeneikan pertolongan wanita itu dalam keadaan sadar.
Setelah memastikan bagaimana kondisi wanita itu Aletha berlanjut menyelusuri lokasi lainnya untuk memeriksa ada korban yang lain atau tidak.
“Syukurlah tidak ada korban yang lain di area ini. Sekarang waktunya pergi ke lokasi Dokter Khaira,” putus Aletha.
__ADS_1
Sedikit berlari Aletha mencari keberadaan Khaira, dan Aletha mengedarkan pandangannya secara menyeluruh. Dan akhirnya Aletha menemukan titik keberadaan Khaira yang tidak jauh dari sisi gedung yang masih kokoh untuk berdiri tegak.
“Bagaimana kondisi korban, Dokter Khaira?” tanya Aletha memastikan.
“Denyut nadinya lemah, jantungnya juga sama Dok. Diduga korban mengalami syok, hingga jantungnya mengalami sedikit masalah.” Khaira menjelaskan kepada Aletha tentang hasil pemeriksaannya.
“Berikan infus agar Dia memiliki tenaga. Suntikan obat untuk membantunya tenang.” Kembali Aletha meminta Khaira dengan nada yang tegas.
Khaira mengangguk, ia mengerti sebagaimana tugas dokter yang harus bisa bekerja dengan cepat tapi juga tepat.
Setelah malam semakin berlarut ada rasa letih dan lapar yang dialami pasukan anggota tim medis. Sedangkan pasukan berani mati tidak merasa selapar itu, karena mereka sudah terbiasa berada di medan tempur yang harus siap. menahan semua rasa itu.
Tepat pukul 21.30 anggota tim medis sejenak beristirahat untuk melepas rasa lelah mereka. Begitu juga dengan pasukan berani mati, melakukan hal sama untuk melepas rasa lelah. Lagipula semua korban sudah tidak ada lagi, dan daerah Lebak bisa dinyatakan aman untuk malam itu. Tetapi mereka harus tetap berwaspada jika saja ada gempa susulan yang akan mengguncang lebih kuat dari sebelumnya.
Dari bagian tim konsumsi siap membagikan makanan mereka ke Bapak, Ibu, anak-anak dan juga korban yang mengalami luka ringan pasca gempa. Bukan hanya korban saja yang mendapatkan konsumsi dengan nasi dan lauk seadanya.
‘Selamat makan, Aa.’ batin Aletha.
Aletha menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Begitu juga dengan yang lainnya, yang tidak akan pernah lelah mengucapkan rasa syukur dengan kenikmatan yang Allah SWT berikan.
Saat semua masih menikmati makanan mereka tiba-tiba saja salah satu rumah warga mengalami kebakaran hebat.
Si jago merah begitu mudah merambat dan hampir membakar seisi rumah. Dari luar terlihat jika di dalam rumah itu ada dua wanita yang menjerit histeris karena ketakutan. Dan ada juga seorang anak kecil yang ikut terjebak dalam kobaran api yang semakin meningkat.
“Bagaimana ini, Komandan? Kita tidak bisa menerobos masuk ke sana, sedangkan kita tahu apinya sangat besar.” Naina merasa ngeri sendiri melihat rumah yang ada di hadapannya hampir terbakar habis.
“Tapi jika kita menghubungi pihak tim pemadam kebakaran, mereka akan lama datangnya. Sedangkan di dalam rumah itu ada orang yang membutuhkan pertolongan dengan segera.”
Keenan berusaha memikirkan jalan keluar untuk menolong tiga orang yang terjebak di dalam kobaran api yang semakin lama hampir menyeluruh membakar seisi rumah.
“Disaat kedua mataku sudah merekam semuanya, telingaku mendengar jeritan itu dan... pikiranku pun masih dengan kuat mengingatnya. Dan disaat itulah aku tidak bisa melakukan apapun, namun kamu datang bagaikan malaikat tak bersayap menyelamatkan mereka.”
__ADS_1
Keenan terpaku melihat Aletha berlari melintas di hadapannya dan menerobos kobaran api untuk masuk ke dalam rumah itu.
Bersambung...