Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 101 “Es Krim Yang Melumer”


__ADS_3

“Jauh dalam pandangan namun terasa dekat di hati. Meskipun beribu jarak telah memisahkan kita, tetapi jarak itu mampu terkikis saat kita melangitkan do'a bersama.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


[Assalamu'alaikum, Neng nya Aa Keenan. Sekotak es krim ini sebagai perwakilan rasa yang Aa miliki untuk Neng. Makanlah jika menyukainya, dapat dijamin akan melumer di hati Neng. Apalagi dengan perpaduan coklat batang di atasnya, mampu menciptakan rasa yang berbeda. Seperti saat pertama kali Aa dan Neng berjumpa. Ya sudah selamat makan ya, Neng.]


Aletha memasukkan kata-kata yang ditulis Ahtar di dalam tasnya. Lalu, ia menikmati sesendok es krim yang melumer. Dan sesekali tatapan keduanya bertemu bahkan saling mengunci. Membuat Aletha merasa tersipu malu saat tatapan Keenan begitu memiliki makna.


“Aku terhanyut dalam buaiannya, bahkan hatiku meleyot saat menatap netra elangnya yang tajam, seperti mau menerkam mangsanya dengan beringas saja. Tapi... aku menyukainya.”


Setelah menikmati es krim yang melumer di mulut, Aletha kembali melakukan visite terhadap pasien yang beberapa hari lalu menjalani operasi. Dan di saat perjalanan menuju ke ruangan anggrek nomor 234 Aletha tiba-tiba ditabrak oleh seseorang sampai-sampai hampir membuatnya jatuh, untung saja ada Keenan yang siap siaga berada di belakangnya.


“Hati-hati Neng jalannya.” Keenan menangkap tubuh Aletha.


“Neng sudah hati-hati Aa, tapi Dia saja yang jalannya pakai dengkul, bukan pakai mata.” Dengus Aletha merasa kesal.


“Maafkan saya, Mbak. Saya tidak sengaja menabrak Mbak, karena saya sedang terburu-buru mencari ruangan Dokter Aletha.” Terang gadis itu sembari menunduk.


Ketika namanya telah disebut seketika Aletha menatap gadis itu. Dan Aletha merasa penasaran mengapa gadis itu ingin mencari ruangannya tanpa tahu bagaimana wajah Aletha.


“Kamu... mencari saya?” tanya Aletha memastikan.


Naura pun seketika mendongakkan kepalanya setelah Aletha mengudarakan suaranya dengan lembut, tidak sekasar tadi saat Naura tanpa sengaja sudah menabraknya. Aletha perlahan mendekati Naura lalu mengulas senyum kepadanya.


“Aku Dokter Aletha, kenapa kamu mencariku? Apa kamu sedang membutuhkan bantuan ku?”


‘Ya Allah, alhamdulillah akhirnya aku bisa bertemu dengan Dokter Aletha.’


Naura mengangguk, lalu sedikit senyum telah terukir di bibirnya. Dan saat menatap Naura, Aletha melihat binar mata gadis itu yang mengisyaratkan kesedihan. Ada sesuatu yang dipendam gadis itu.


“Mari kita bicara di ruangan saya saja.” Aletha menarik lengan Naura dan mengajak ke ruangannya.


Sebelum masuk ke ruangannya Aletha meminta Keenan untuk menunggu di luar saja, karena Aletha tahu bagaimana saat seseorang ingin berkonsultasi secara pribadi. Begitu juga Kenenan yang mengangguk, ia mengerti maksud Aletha yang ingin bicara secara tertutup dengan pasiennya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


[Selamat pagi permisa! Di sini dengan saya Maulida ingin mengabarkan topik terkini. Di mana gempa berkekuatan magnitudo 5,6 telah mengguncang kota Cianjur, Jawa Barat. Di kabarkan ada korban jiwa dan juga korban yang mengalami luka-luka...]


Saat berada di luar ruangan Aletha, netra Keenan menatap tajam layar televisi yang menempel di dinding rumah sakit. Dan setelah mendengar kabar berita dengan sekilas, Keenan pun segera merogoh ponsel yang berada di dalam sakunya. Ia mencoba menghubungi atasannya dan pasukan berani mati.


“Halo, Pak! Di sini Kapten Keenan ijin ingin melapor.”


“Saya sudah tahu berita hari ini. Apa kamu sudah siap untuk bertugas?” tanya Bagas Kara.


“Siap, Pak! Saya selalu Kapten siap melakukan tugas!” ujar Keenan penuh kemantapan.


“Baiklah! Lakukan tugasmu sebagai Kapten.”


Sambungan telepon pun terputus, lalu Keenan berganti menghubungi Garda. Dan sesuai tugas Kapten, ia pun memerintahkan Garda dan pasukan berani mati lainnya untuk segera bersiap melakukan tugas


Terjun ke lapangan untuk melakukan misi penyelamatan.


“Iya, Mbak. Saya Keenan, saya ingin pesan satu kotak es krim sejuta cinta dan sisanya nanti saya akan kirimkan kepada mbak Kamila.”


“Oh iya, Pak. Nanti saya akan buatkan pesanan Anda seperti biasa. Dan sisanya saya tunggu, Pak.”


Panggilan yang melalui udara pun telah di akhiri dan Keenan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada penjaga es krim sejuta cinta. Dan Kamila yang sudah hafal bagaimana es krim yang sering di pesan Keenan dengan segera ia membuatnya.


“Maaf pak Keenan, bukannya saya mau lancang. Tapi ... bukannya tadi sudah pesan es krim ya? Memangnya tidak takut flu kalau kebanyakan makan es krim?”


Kamila mengirimkan pesan singkat kepada Keenan.


Tawa Keenan pun pecah saat membaca pesan dari Kamila. Akan tetapi, Keenan tetap memesan es krim itu, karena hanya itu yang bisa dilakukannya sebelum melakukan tugas di Cianjur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Emm... Dokter bisa kan, bantu saya?”

__ADS_1


“Jangan panggil saya dengan embel-embel Dokter, cukup panggil saya dengan kak Aletha. Biar kita bisa lebih akrab.” Aletha mengulas senyum ramah.


“Tapi... saya merasa tidak enak. Karena saya cukup tahu siapa Anda, Dokter Aletha.”


“Itu hanyalah pengetahuan kamu di luar sana, tetapi tidak saat berhadapan langsung dengan saya. Jika kamu tidak mau memanggil saya dengan Kak, maka saya juga tidak akan membantu kamu masuk ke rumah sakit ini dengan bidang yang sama denganku. Bagaimana?”


Naura terkekeh setelah mendengar ancaman Aletha yang pada akhirnya membuat Naura bisa memanggil Aletha dengan Kak dan tidak ada embel-embel dokter di depannya. Dan gekak tawa di antara keduanya telah memecahkan kesunyian saat sore hari.


“Tok... tok... tok...” Suara pintu diketuk pelan.


“Siapa?” tanya Aletha memastikan.


“Saya Dok, suster Alina.”


Setelah mendengar namanya Aletha segera meminta Alina untuk masuk, siapa tahu saja ada pasien yang mendesak dan harus menjalani operasi.


“Maaf Dok sudah mengganggu waktu Anda, tapi saya ingin memberikan pesanan Anda.” Alina meletakkan sekotak es krim di atas meja ruangan Aletha.


Aletha membulatkan mata dengan sempurna saat es krim itu sudah ada di atas meja ruangannya. Dan es krim itu membuat Aletha merasa penasaran, ia berpikir panjang dan menerawang siapa yang sudah mengirimkan es krim itu kepadanya. Sedangkan Keenan, Aletha rasa tidak mungkin.


“Ya sudah, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu!”


Alina pergi meninggalkan ruangan Aletha.


“Naura, sebentar ya! Saya buka dulu es krimnya.” Aletha nyengir.


Naura mengangguk dan Aletha membuka pelan bingkisan itu. Dan dilihatnya ada selembar kertas di samping kotak es krim itu. Dengan antusias yang tinggi Aletha segera mengambilnya.


[Assalamu'alaikum, Neng nya Aa Keenan. Kembali Aa mengirimkan es krim yang ditabur dengan coklat batang untuk Neng Aletha. Dan dengan es krim yang datang, Aa mohon ijin kepada Neng kalau Aa harus bertugas. Aa tidak bisa mengabaikan tugas Aa begitu saja. Mohon diijinkan ya, Neng. Dan Neng tidak perlu khawatir, Aa akan jaga diri. Neng juga harus tahu saat Neng jauh dalam pandangan Aa, namun terasa dekat di hati. Meskipun beribu jarak telah memisahkan kita, tetapi jarak itu mampu terkikis saat kita melangitkan do'a bersama.]


Setelah membaca surat itu Aletha kembali menatap es krim yang begitu cantik dan menggoda saat di atas es krim sudah terpenuhi dengan taburan coklat batang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2