Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 119 “Berdiskusi”


__ADS_3

“Mencari titik terang dalam masalah agar segera terselesaikan itu memang sulit. Tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba dengan dua cara, diskusi dan juga melalui jalur langit.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bahkan tubuhnya pun merosot ke bawah dan hal itu mengundang seluruh keluarga keluar dari rumah.


“Bapak, ada apa, Pak?” tanya seorang wanita paru baya yang diduga itu istri dari pak Sowa.


“Buk... Sega Buk...” Pak Sowa menggantungkan ucapannya ke udara.


“Iya, Pak. Sega kenapa? Ada apa dengan anak lelaki kita?”


“Sega... Sega kecelakaan dan meninggal buk.” Pak Sowa tertutup, air mata tidak mampu dibendung lagi oleh Pak Sowa.


Istri pak Sowa seketika terkejut dan jatuh pingsan. Karena kabar itu begitu mengejutkan bagi mereka sebagai orang tua Sega. Petir seakan menyambar keduanya ketika kabar duka telah mereka dengar, sedangkan baru saja mereka merekam senyum bahagia Sega yang tergambar di bibirnya. Namun senyuman itu seketika telah diubah oleh takdir.


Keenan dan Garda hendak mengantarkan Pak Sowa dan istrinya ke rumah sakit untuk melihat jenazah putra mereka dengan bantuan salah satu warga sekitar yang mengendarai mobilnya.


Setiba di rumah sakit Pak Sowa menunjukkan bukan tangis duka karena kehilangan putranya, Sega. Melainkan kemarahan yang begitu memuncak, bahkan kemarahan itu berujung dengan dendam terhadap para warga di sekitar jalan Dekai.


“Pak polisi, saya mau jenazah putra saya dibawa ke kantor polisi terlebih dahulu. Karena saya ingin mengusut kenapa putra saya bisa meninggal di sana. Pasti ada yang berbuat dibalik kecelakaan yang di alami Sega.” Pak Sowa berteriak dan bersikukuh ingin membawa jenazah Sega ke kantor polisi.


“Maaf, Pak! Kami memang polisi tapi kami tidak bisa membawa jenazah Sega ke kantor polisi. Dan apa yang terjadi terhadap Sega itu murni kecelakaan tunggal, tidak ada warga Dekai yang melakukan tindakan kriminal.”


Perdebatan kecil telah terjadi antara salah satu anggota polri dengan Pak Sowa. Dan pada akhirnya polisi telah menang dari perdebatan itu, mobil jenazah yang membawa jenazah Sega kini dilajukan dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman Pak Sowa dan istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Akhirnya, Dokter Luna dan juga Dokter Merina datang juga. Dan sebaiknya... kita segera berdiskusi untuk segera memberikan pertolongan kepada Dokter Maya.” Aletha bernafas lega setelah Luna dan Merina, dokter yang Aletha nanti dl sedati tadi tiba di ruang UGD.


Diskusi telah berlangsung, karena mereka takut jika menunda nya akan membuat kondisi janin yang ada dalam kandungan Maya serta nyawa Maya semakin bahaya.


Dan selama para dokter yang ahli dalam bidang mereka tengah melakukan diskusi suster tidak hentinya membersihkan dan membalut darah yang masih saja keluar dari kepala Maya. Sehingga kondisi Maya semakin kritis, jika tidak segera dilakukan tindakan dari tim medis maka nyawa keduanya akan melayang.


Kecelakaan yang tragis... miris melihat Maya.


“Tapi Dokter Aletha, bagaimana kita bisa mendapatkan tanda tangan dari wali Dokter Maya? Sedangkan Dokter Ilham suaminya masih bertugas.” Merina mendesah, kembali merasa bingung harus berbuat apa tanpa ada kuasa dari pihak keluarga Maya yang belum kunjung datang.


Sesekali ketiga nya melihat Maya dengan tatapan iba, meskipun mereka ingin memberikan pertolongan akan tetapi sulit untuk mereka lakukan tanpa persetujuan dari pihak keluarga. Jika mereka pun tetap melakukan, maka rumah sakit bisa saja dituntut karena melakukan tindakan tanpa persetujuan.

__ADS_1


”Mencari titik terang dalam masalah agar segera terselesaikan itu memang sulit. Tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba dengan dua cara, diskusi dan juga melalui jalur langit.”


“Dan kita sudah melakukan diskusi, itupun sudah mentok. Jika tidak segera dilakukan tindakan sesuai diskusi kita... maka satu cara lagi yang bisa kita lakukan saat ini yaitu... jalur langit. Kita berdoa semoga nyawa Dokter Maya bisa bertahan sampai Dokter Ilham datang.”


Aletha menatap Luna dan Merina dengan tatapan penuh keyakinan. Berusaha memang tidak ada salahnya dengan berbagai cara apapun, tetapi itupun wajib diselingi dengan doa yang dipanjatkan kepada Allah. Karena tanpa kehendak dan kuasa Sang Pencipta manusia tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah mereka.


“Al, ini sebagai Kakak. Tapi bagaimana bisa kita menghubungi Dokter Ilham dan mengatakan duka ini kepadanya? Tidak mungkin juga tugasnya bisa dialihkan dilain hari, karena di sana membutuhkan tim medis.” Luna merasa ragu jika harus memberitahukan kabar duka itu kepada Ilham, pasti Ilham akan merasakan hancur mendengar kabar Maya kecelakaan dengan luka cukup parah.


“Aku yang akan bicara dengan kak Ilham, Kak. Jika kita bicara secara langsung dan dengan pelan, aku yakin kak Ilham akan mengerti.”


“Lalu, bagaimana Dokter Aletha menemui Dokter Ilham? Cukup jauh jika menempuhnya dengan mobil ataupun motor.” Merina ikut nimbrung.


“Helikopter. Aku akan menghubungi Papa, meminta bantuan Paa untuk mengirimkan aku helikopter agar cepat sampai di desa Cempaka Putih.” Aletha menatap Luna dan Merina secara bergantian.


Aletha bergerak dengan cepat mencoba menghubungi Bagas Kara untuk mengirimkan helikopter pribadi milik keluarga Bagas Kara. Saluran telepon pun telah terhubung, Bagas Kara menyetujui permintaan Aletha dan hal itu membuat Aletha sedikit merasa lega.


“Dokter Luna... segera lakukan pemeriksaan kandungan Dokter Maya. Jika mengalami hal yang berbahaya, maka lakukan sesuatu. Terus pantau, karena saya akan selalu mendengar suara Anda melalui sadap suara.”


“Dan Dokter Merina, begitu juga Anda. Lakukan pemeriksaan pada saraf Dokter Maya. Saya juga akan mendengarkan suara Anda melalui alat sadap suara.”


Aletha memberikan dua bolpoin kepada Luna dan Merina. Bolpoin itupun bukan bolpoin biasa, melainkan sebuah alat yang digunakan sebagai sadap suara, hanya beberapa orang saja yang mengerti bakan fungsinya. Penjahat kelas kakap, maupun seorang tentara akan mengenal banyak manfaat benda itu. Namun saat ini alat yang begitu canggih bisa digunakan di mana pun berada sebagai alat pendengar yang tersembunyi.


Setelah mendapatkan alat penyadap suara Luna dan Merina mengangguk dengan penuh keyakinan. Dan selang beberapa menit kemudian helikopter yang akan membawa Aletha ke desa Cempaka Putih telah tiba, mengudara di atas atap gedung rumah sakit.


“Kenapa ada helikopter di atas rumah sakit?” tanya Dimas dalam hati.


“Lihat di atas atap gedung rumah sakit ini! Itu... Dokter Aletha, bukan?”


“Iya, benar! Wah... tidak disangka jika Dokter Aletha benar-benar wanita yang sangat hebat.”


Beberapa dokter yang mengenal Aletha berdecak kagum melihat Aletha naik ke helikopter yang masih mengudara. Akan tetapi mereka tidak tahu apa tujuan Aletha menaiki helikopter itu di atas atap gedung rumah sakit tempat mereka bekerja. Sehingga mengundang pertanyaan karena merasa penasaran.


“Dokter Hakim, saya yakin Anda bisa menggantikan Dokter Ilham saat bertugas. Saya serahkan kepada Anda.” Aletha menatap Hakim dengan tatapan penuh harap.


“Saya siap melakukan tugas ini, Dokter Aletha. Terimakasih karena Dokter Aletha sudah memilih dan mempercayai saya.”


Para pembaca masih ingat kan, sama dokter Hakim? Dokter koas yang pernah belajar dengan Aletha, dan kini dokter Hakim memiliki tanggungjawab yang amat besar untuk menjalankan tugas menggantikan dokter Ilham di desa Cempaka Putih.


Helikopter mengudara dengan ketinggian yang sudah tidak mampu terlihat oleh sepasang mata lagi. Hanya cahaya lampu yang tertangkap dalam pandangan saja.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimas malam itu mengumpulkan samua dokter yang bekerja pada sift malam. Karena rasa penasaran yang membuncah membuat Dimas tidak bisa menahan rasa keingintahuan nya itu.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan kepada saya tentang apa yang tidak saya ketahui. Kenapa Dokter Aletha dan juga Dokter magang yang bernama Hakim ikut dengan Dokter Aletha naik helikopter itu?”


“Maaf, Pak Dimas. Saya hanya mendengar sekilas saja, Dokter Maya mengalami kecelakaan dan Dokter Aletha meminta Dokter Hakim menggantikan Dokter Ilham bertugas di desa Cempaka Putih.” Salah satu dokter tengah memaparkan apa yang terjadi dan kondisi Maya saat itu.


“Tapi kenapa Dokter Aletha tidak memberitahukan kepada saya terlebih dahulu? Dia anggap apa aku?”


Dimas seketika membubarkan para dokter yang berkumpul di ruangannya, lalu ia mencoba menghubungi Aletha dengan kemarahan yang tersimpan untuk meminta kejelasan. Karena bagaimana pun juga Dimas merasa berhak untuk memutuskan dalam setiap kejadian.


“Tidak terhubung? Apa ini, Al?”


Di balik rasa kemarahan yang tersimpan, ada rasa khawatir dalam diri Dimas. Dimas merasa takut jika terjadi sesuatu kepada Aletha saat mengingat Aletha baru saja melahirkan beberapa minggu lalu.


“Kamu terlalu gegabah, Al. Dan keberanianmu di luar nalarku. Aku akui kehebatan dan kecerdikan mu sudah melebihi batas.” Dimas kembali mengingat apa yang terjadi tadi sore, yang menghebohkan seisi rumah sakit.


Karena tidak bisa menghubungi Aletha, Dimas hanya bisa menunggu kabar di ruang UGD.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan, Garda dan kelima anggota polri yang ikut berpatroli malam itu menghentikan tugas mereka untuk menjalankan tugas yang lain, mengantarkan jenazah Sega di kediaman Pak Sowa.


Setiba di rumah jenazah Sega segera disholatkan karena akan di makam kan malam itu juga, sesuai dengan permintaan keluarga korban. Dan Keenan, Garda serta kelima polri itupun ikut mengantar jenazah Sega ke pemakaman.


“Selamat jalan, Nak. Hiks... hiks... hiks...” Istri pak Sowa menangis tergugu.


“Sabar, Buk! Kita pulang sekarang, ya.” Pak Sowa mengusap punggung istrinya untuk menguatkan istrinya dari suka dan luka yang baru saja mereka hadapi.


Keenan, Garda dan kelima polri kembali ke tempat istirahat mereka. Karena hari yang sudah malam membuat mereka harus menghentikan patroli dan akan melanjutkannya besok malam. Karena anggota KKB dan anggota Egianus Kagoya akan bergerak pada saat malam hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Cukup melelahkan untuk malam ini.” Keenan menghempaskan nafas beratnya.


Karena hari yang melelahkan membuat Keenan merebahkan tubuhnya di atas kasur, begitu halnya dengan Garda. Meskipun tubuh mereka merasa lelah tetapi pelupuk mereka dibenuhi akan bayang-bayang istri dan anak tercinta. Rasa rindu pun tidak dapat dibohongi.


“Apa kamu akan menghubungi Aletha?” tanya Garda memastikan.

__ADS_1


“Tidak, tapi aku...”


Bersambung...


__ADS_2