Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 147 “Komandan VS Dokter”


__ADS_3

“Hidup itu sudah dipermudah, jadi jangan dipersulit lagi. Dan sebagai Komandan yang baik aku akan berbagi dengan kalian semua. Karena berbagi itu akan meringankan beban yang ada.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam malam yang menghangatkan membuat Keenan maupun Aketha tidak melepaskan pelukan keduanya. Bahkan mereka tidak beringsut sama sekali dan tetap berada di posisi awal. Dan malam itulah keduanya kembali merasa nyaman saat tidur setelah Keenan kembali pulang.


“Alhamdulillah... aku yakin jika itu adalah mimpi yang akan menjadi nyata. Tapi...”


Bian mendapatkan sebuah mimpi dalam tidurnya. setelah menunaikan sholat istikharah, sesuai saran dari Keenan.


Dan dengan rasa bahagianya Bian kembali menghubungi Keenan tanpa berpikir panjang.


“Tring... Tring...”


Ponsel Keenan berdering, membuat Keenan kembali terbangun. Begitu juga dengan Aletha, setelah mendengar suara adzan yang tidak terlalu jauh dari Hotel La Maison Rose.


“Siapa yang menelpon, Aa?” tanya Aletha.


“Entahlah! Mengapa begitu banyak yang mengantri untuk bicara sama Aa, mungkin Dia... fans nya Aa.” Keenan nyengir seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Coba sini handphonenya, Neng mau memastikan. Awas saja kalau wanita!” cetus Aletha.


Aletha yang masih mengenakan lingerie meraih ponsel Keenan dari nakas. Lalu Aletha mencari tahu siapa yang sudah menghubungi Keenan sepagi itu. Sedangkan Keenan hanya melihat bagaimana tubuh seksi Aletha yang kentara meskipun masih mengenakan pakaian tetapi tetap saja yang namanya pakaian lingerie sangatlah tipis. Dan Keenan sangat menikmati pemandangan di pagi hati.


‘Neng, tubuhmu... idaman sekali.’


Keenan menatap Aletha dengan binar mata bahagia. Bahkan saat menatap nya saja Keenan mulai berdesir kembali, darah itu mulai menjalar keseluruh tubuh Keenan. Akan tetapi hasrat yang kian menggebu segera ditepis oleh Keenan ketika Aletha beebalik menghadap ke arahnya.


“Dari Bian. Ada apa lagi sih dengannya? Apa... masih mau melanjutkan niatnya itu?”


“Aa rasa iya, tapi... entahlah! Aa sudah memberi saran kepadanya untuk melakukan tiga tahap yang harus dikejar. Dan sekarang... Aa tidak tahu mengapa Dia menghubungi Aa lagi.” Keenan mengendikkan kedua bahunya


“Tiga tahap? apa saja itu, Aa?” tanya Aletha seperti seorang detektif saja.


“Tiga tahap yang harus dikejar adalah Ilmu, Cintanya Allah dan ridha orang tua. Karena, kita sebagai manusia wajib untuk mencintai Allah terlebih dahulu sebelum mencintai makhluknya. Dan kita juga tidak perlu khawatir akan jodoh kita di masa depan, itu sudah dituliskan secara pasti dalam kita Lauhul Mahfudz.” Terang Keenan menjelaskan dengan panjang, tetapi mudah dimengerti oleh Aletha.


Aletha manggut-manggut, tanda mengerti apa yang sudah dijelaskan oleh Keenan. Setelah itu Aletha beranjak ke kamar mandi untuk mandi suci setelah melakukan hubungan intim dengan Keenan. Sedangkan Keenan ia menerima panggilan dari hian terlebih dahulu.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam Keenan.


“Wa’alaikumsalam, selamat pagi Komandan!” balas Bian dari seberang.


“Ada apa lagi kamu menelpon ku, Bian? Jangan bilang kalau ini tentang Rania lagi, bosan aku dengarnya.” Keenan mendesah, seolah merasa lelah mendengar cerita Bian tentang Rania.


“Sebenarnya iya, Komandan ku tersayang. Tapi lebih tepatnya... ini tentang mimpiku semalam. Aku mau menceritakan itu kepadamu, Ke.”


“Apa itu jawaban dari sholat istikharah mu, Bian?”


Kini Keenan ber antusias untuk mendengar cerita Bian tentang mimpi yang masuk ke dalam tidurnya semalam. Dan dengan bahagianya yang diserati semangat yang tinggi Bian pun mulai menceritakan tentang mimpinya itu.


Keenan hanya terkekeh geli mendengar cerita Bian, bahkan Keenan sampai dibuat terpingkal oleh Bian. Rasanya begitu aneh mimpi yang masuk ke dalam tidur Bian semalam.


“Jangan tertawa kau, Ke. Dan... bagaimana menurutmu? Apakah itu sudah menjadi pertanda jika Rania jodohku?”

__ADS_1


“Entahlah! Masa iya Rania jadi nenek. Dan jika Rania jadi nenek maka kamu... buyutnya. Bwahahaha...” Keenan kembali tertawa.


“Sial! Mana ada buyut seganteng dan sekeren aku, Ke. Jangan ngadi-ngadi deh.” Bian merajuk dan seketika ia mematikan ponselnya.


Meskipun sambungan telepon sudah terputus tetapi Keenan masih saja terpingkal membuat Aletha merasa aneh saat menatapnya seperti itu.


”Aa, mandi sana gih! Neng tunggu buat sholat subuh bersama.” Aletha memberikan handuk kepada Keenan.


Aletha menyiapkan baju koko, sarung dan juga peci untuk dipakai Keenan sholat subuh bersamanya. Sedangkan Aletha sudah menbalut tubuhnya dengan muken berwarna putih yang menjadi ciri khas bagi orang muslimah.


Dua sajadah panjang telah dibentangkan, Keenan pun menjadi imam dalam sholat subuh pagi itu sedangkan Aletha menjadi makmumnya. Dua rakaat telah ditunaikan dengan khusu', setelah itu tidak lupa dzikir dan berdoa kepada Allah SWT untuk memohon ampunan kepada-Nya.


Setelah membaca doa Keenan berbalik, Aletha segera meraih punggung tangan Keenan dan menciumnya. Setelah itu, Keenan memberikan kecupan di kening Aletha sebagai tanda kasih sayangnya terhadap istrinya.


“Neng mau sarapan dimana? Mau di restoran hotel La Maison Rose atau mau jalan- jalan dulu?”


“Terserah Aa, Neng ikut Aa saja.” Aletha mengembangkan senyumnya.


Keenan dan Aletha berjalan bersisihan menuju ke restoran yang ada di hotel La Maison Rose untuk mengisi perut yang memang memerlukan amunisi agar tidak pingsan saat berada di Jembatan Faidherbe nanti. Karena di sana jelas akan terasa panas setelah dua jam lagi.


Sesampai di restoran Keenan memesan makanan untuk dijadikan santapan pagi. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan tiba Keenan dan Aletha melihat pemandangan sekitar. Di mana Hotel La Maison Rose memiliki fasilitas peraturan dan juga ada beberapa lainnya. Fasilitas sangat menarik hati Aletha, karena sudah lama sekali ia tidak memanjakan tubuhnya setelah lulus SMU.


Seorang waiter tiba di sana dan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Sebelum menyantap sarapan pagi Keenan selalu melakukan kebiasaannya, membaca doa dengan mennegadahkan kedua tangannya dan selalu di aminkan oleh Aletha.


“Aa... nanti bagaimana kalau Neng ikut menikmati fasilitas peratu nya? Boleh tidak?”


“Boleh, kok. Apa sih yang tidak buat Neng, asalkan Neng bahagia Aa selalu mengijinkannya.” Keenan kembali menguapkan nasi ke dalam mulutnya.


Sarapan pun telah usai, pukul 08.30 pagi Keenan dan Aletha mulai menyusuri pemandangan di sekitar Jembatan Faidherbe.


“Aa, mau tidak jika Aa fotoin Neng di depan situ?” tunjuk Aletha pada sebuah lukisan yang indah.


“Ok, sini Aa fotoin.” Keenan meraih ponsel Aletha.


Acara berswafoto pun telah berlangsung, banyak foto terbidik saat berada di galeri seni. Bukan hanya Aletha saja yang berswafoto, tetapi Keenan pun juga melakukan hal yang sama. Bahkan pengunjung yang lainnya juga begitu.


‘Mungkin... aku adalah wanita yang sangat beruntung. Mendapatkan lelaki yang selalu mengutamakan kebahagiaan ku diatas segalanya. Terimakasih... hanya itu yang bisa aku ucapkan, karena tanpa kehadiranmu di masa lalu maupun di masa saat ini mungkin... aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagian seperti ini.’


Aletha tidak pernah melepas tatapannya dari Keenan. Ia merasakan kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah didapatkan olehnya dari seorang lelaki manapun selain Bagas Kara dan Kevin di kala dulu. Itupun Aletha rasakan saat masih berusia sepuluh tahun sebelum pindah ke Indonesia.


‘Sempat aku bermimpi akan kebahagian ini bersama kak Fajar, lelaki yang dulu singgah dihati ini. Namun Allah berkehendak lain, nyawa kak Fajar telah direnggut sebelum pernikahan terjadi. Akan tetapi... Allah kembali menghadirkan lelaki yang lebih mengenalku daripada diriku sendiri.’


‘Keenan Malik Mahendra, lelaki itulah yang saat ini menjadi suamiku. Pendamping hidupku sampai maut memisahkan kita.’


Aletha tersenyum, sehingga membuat dua ujung bibirnya membentuk lengkungan yang indah.


Dan di saat rasa senang menyelimuti Keenan dan Aletha tiba-tiba ponsel mereka berdering secara bersamaan. Tertera nama Bagas Kara di ponsel Keenan, sedangkan di ponsel Aletha tertera nama Tara di sana.


“Siapa, Aa?” tanya Aletha tanpa suara.


Keenan pun memberikan jawaban tanpa suara pula.


“Dan itu siapa yang menghubungi, Neng?” tanya Keenan.

__ADS_1


“Tara. Tapi Neng tidak tahu kenapa Dia menelpon.” Aletha mengendikkan bahu.


Daripada merasa penasaran keduanya menerima panggilan itu dengan segera. Dan sebelum menerima panggilan itu keduanya sedikit menjauh dari keramaian.


“Assalamu'alaikum, halo, Pa.” Keenan menyapa Bagas Kara dengan amat sopan.


“Wa’alaikumsalam. Maafkan Papa jika sudah mengganggu waktu libur kamu, Keenan. Tapi... ini darurat.”


“Ada apa, Pa?” tahya Keenan merasa khawatir.


“Kamu harus kembali ke Jakarta, ada tugas untukmu dan pasukan berani mati.” Bagas Kara mengatakan secara to the point.


“Baik, Pak. Saya Kapten Keenan siap melaksanakan tugas.”


“Baik, satu jam lagi helikopter militer akan menjemput kalian berdua. Bersiaplah!”


Keenan mengangguk, mengerti jika ia harus kembali ke Jakarta dengan segera. Sedangkan Aletha, ia juga mendapatkan tugas dari Tara secara langusng. Karena Tara adalah direktur di rumah sakit Siloam Hospitals tempatnya bekerja.


“Siap, aku akan segera kembali.”


Aletha dan Keenan segera kembali ke Hotel La Maison Rose untuk memasukkan beberapa barang mereka ke dalam koper, setelah itu Keenan melakukan check-out pukul 10.30 siang.


Aletha dan Keenan memutuskan untuk naik ke atas atap gedung dan menanti helikopter militer datang menjemput mereka.


“Neng, inilah saatnya Komandan dan Dokter kembali beraksi. Kita akan bertugas di tempat yang sama, tapi Aa mohon jaga diri Neng baik-baik di saat Aa tidak berada di samping Neng.” Keenan menggenggam tangan Aletha.


Di atas atap gedung Aletha dan Keenan saling tatap, mereka berusaha untuk menikmati waktu kebersamaan mereka sebelum berpisah dengan tugas masing-masing.


Tidak lama kemudian terdengar suara helikopter telah menderu dengan sangat keras. Keenan dan Aletha menatap ke arah langit melihat helikopter berwarna hijau khas TNI telah mendarat di depan mereka.


Keenan dan Aletah saling mengangguk, siap untuk masuk ke helikopter dan siap melakukan penerbangan kembali ke Jakarta.


“Dengarkan Aa baik-baik, Aa tidak akan melepaskan tangan Neng sebelum kita sampai di Jakarta. Dan hati kita akan selalu bersama meskipun kita terpisah. Mengerti!” ucap Keenan dengan tegas.


“Neng mengerti. Aa juga harus hati-hati, jaga diri baik-baik dalam keadaan apapun dan Neng akan siap membantu.” Aletha mengulas senyum.


Keenan semakin mengeratkan genggamannya, seakan tidak ingin melepaskan Aletha begitu saja. Namun, keadaan akan berbeda setelah helikopter sudah mengudara selama dua jam dan kini mendarat tepat di lapangan markas TNI Taruna.


“Siapkan pasukan, saya akan berganti pakaian terlebih dahulu!” perintah Keenan.


Setelah turun dari helikopter Keenan segera menghampiri pasukan berani mati yang lainnya dan mengintruksi untuk memberikan perintah.


Begitu juga dengan Aletha, kini sudah berada di depan dokter dan perawat yang lain untuk memberikan intruksi.


“Siapkan peralatan medis kalian, jangan sampai ada yang tertinggal obat, alkohol dan juga yang lainnya. Dan setelah siap kita bisa memasukkan peralatan kita ke dalam mobil.”


Ilham, Khaira, Hakim dan juga Safira mengangguk secara bersamaan. Setelah itu semua bergerak untuk memasukkan peralatan medis ke dalam mobil, begitu hal nya dengan pasukan berani mati yang ikut memasukkan peralatan dan senjata mereka ke dalam mobil TNI yah memiliki khas warna hijau.


“Hidup itu sudah dipermudah, jadi jangan dipersulit lagi. Dan sebagai Komandan yang baik aku akan berbagi dengan kalian semua. Karena berbagi itu akan meringankan beban yang ada.”


“Disini saya selalu Komandan akan memberikan pengarahan dan sedikit intruksi sebelum pasukan berani mati dan tim medis melakukan tugasnya di area nanti. Saya mohon kerjasama kalian,” ucap Keenan dengan tegas.


Keenan memberikan pengarahan sebelum pasukan berani mati dan tim medis masuk ke dalam mobil masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2