
”Ketika kamu menerima khitbah ku maka aku akan menjawab Ahabbatalladzi ahbabtani lahu. Wakafa billahi syahida.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan tidak percaya dengan jawaban Aletha. Sehingga meminta Aletha untuk kembali mengatakan hal itu.
”Kapten budek.” Cicit Garda.
Dan Aletha pun melakukan apa yang Keenan minta. Seketika itu juga rasa bahagia telah hadir berlipat ganda dalam keluarga Bagas Kara. Setelah perjumpaan dengan Aletha dan Keenan, lalu dilanjut dengan hadirnya Ravva dan malam itu dilanjut lagi khitbah Keenan yang diterima oleh Aletha.
“Terima kasih... karena kamu telah membuktikan cinta itu kepadaku. Cinta yang kamu pendam sedari dulu kini kamu ungkapkan dengan berbeda. Pertemuan yang kamu impikan ... detik ini... telah menjadi nyata. Yang membuatku terpukau dan jatuh hati kepadamu saat itu juga. Dan hanya satu yang perlu kamu tahu... Ana uhibbuka fillah...”
Kedua kalinya Aletha kembali mengungkapkan perasaannya untuk memberikan jawaban kepada Keenan.
”Ketika kamu menerima khitbah ku maka aku akan menjawab Ahabbatalladzi ahbabtani lahu. Wakafa billahi syahida.”
Rasa bahagia begitu membuncah dada Bagas Kara dan semua yang hadir di sana. Mereka terharu saat dua pasangan muda itu akan segera melangsungkan pernikahan setelah Keenan usai pengajuan. Rasa syukur pun tak hentinya di ucapkan oleh Bagas Kara meskipun hanya di dalam hatinya. Dan Bagas Kara begitu bahagia jika Keenan lah yang akan menjadi menantunya.
“Saya senang kamu telah menjatuhkan hatimu kepada Aletha, anak saya. Saya ... benar-benar berterima kasih kepadamu, Kapten Keenan. Karena kamu mampu meluluhkan hati Aletha dan juga membuka lembaran baru untuk menjalin asmara setelah Dia mengalami semua itu.”
“Bapak tidak perlu berterima kasih kepada saya. Karena cinta saya tulus dan murni dari hati. Cinta saya sudah lama kepada Aletha, tujuh belas tahun saya menyimpan perasaan ini. Tapi takdir yang indah baru memihak keinginan saya hari ini.”
”Pertemuan kembali terjadi saat Aletha kehilangan cinta pertama, dan pertemuan kedua saat Aletha merasakan rapuh karena kehilangan calon suaminya. Dan saya saat itu tidak berani mengatakan siapa saya sebenarnya kepada Aletha, karena saya tahu tidak mudah untuk membuka hati karena kehilangan cinta.”
Bagas Kara yang mendengar akan kisah cinta dua insan itu pun merasa sesak sendiri. Nafasnya begitu sesak dan perih kembali dirasakan saat mengingat cinta pertamanya telah dihianati oleh istrinya sendiri. Karena Jessica lebih memilih pergi dengan lelaki lain daripada dengannya dan dua anak kandungnya.
‘Andai saja kamu tidak memilih pergi, pasti kamu akan tetap merasakan kebahagiaan di tengah-tengah kita. Karena kebodohan dan keegoisan mu, kamu pun dijadikan korban oleh Alexander.’
‘Kevin, semoga kamu juga ikut bahagia dengan berita baik hari ini. Papa merindukanmu, Kapten.’
Air mata menggenang dalam pelupuk mata Bagas Kara. Dan perlahan Bagas Kara tak bisa membendung nya, hingga menetes dan membasahi pipinya.
Meskipun Bagas Kara diluar sana terlihat akan sikap tegas dan kegagahannya, tetapi hatinya merasa rapuh saat mengingat Kapten Kevin gugur saat menjalankan misi. Dan saat merasakan kerapuhan dan kehancuran, datanglah Mama Nina yang mampu membalut luka Bagas Kara. Hingga kini pernikahan sakral mengingat pasangan tetua itu.
“Oek... Oek... Oek...”
Suara Ravva telah memecahkan keheningan malam yang sunyi. Ravva yang berbeda ruangan dengan Laura tengah menangis, terlihat Ravva merasa lapar saat sesekali membuka mulutnya, dan hal itu mampu dilihat dari dalam rekaman CCTV yang dipasang secara khusus oleh Keenan di ruangan bayi yang dihubungkan ke ruangan Laura.
“Kak Garda, bangun!” pekik Laura.
__ADS_1
Garda yang tertidur dengan kepala disandarkan ke brangker seketika menggeliatkan kedua matanya, berusaha menyadarkan diri dengan sepenuhnya.
“Ada apa, Laura? Kenapa kamu tidak tidur?” tanya Garda saat menyadari mata Laura yang bersinar terang. Tak ada tanda-tanda kantuk di sana.
“Itu loh, Ravva menangis. Mana kenceng lagi nangisnya, takutnya Dia lapar.”
“Sudah ya, Laura. Kamu tidur saja, ada kak Keenan yang jaga di sana.”
“Kok kak Keenan sih, kenapa tidak kak Garda saja yang menunggu di luar.”
“Ra, aku dan kak Keenan membagi tugas. Aku disini menjaga kamu, sedangkan Keenan menjaga Ravva di sana. Tolong mengertilah!”
Seketika Laura terdiam, ia memikirkan apa yang dikatakan Garda.
‘Mungkin aku harus pandai bersyukur, Ya Allah. Dan mungkin saja ... suamiku saat ini merasa lelah, tapi aku tidak bisa melipur rasa lelahnya itu.’ batin Laura.
Laura melihat mata Garda yang menghitam dengan sedikit lengkungan di sana. Yang menandakan Garda kurang tidur dan istirahat, karena jika pagi sampai sore harus bertugas, sedangkan malamnya harus menjaga Laura. Dan baru malam itu Garda tertidur.
”Kak, maafkan aku!” Laura menundukkan kepalanya.
“Kenapa minta maaf? Kamu kan, tidak salah. Kakak yang seharusnya minta maaf, karena tidak seharusnya kakak mengucapkan kata-kata kasar itu kepadamu.” Garda mengulas senyum dan menggenggam jemari Laura.
Bukan pasangan pasutri itu saja yang tengah bucin, tetapi Aletha dan Keenan pun juga ikut bucin. Meskipun tengah malam Keenan dan Aletha masih setia bertukar pesan. Sedangkan jarak mereka hanya satu meter.
“Tidurlah, malam sudah dalam peraduan. Apa kamu mau mendengar raungan ku karena menginginkan mangsa?”
“Jangan gila, Kapten. Aku tahu kamu mampu menerkam mangsamu dengan tembakan tajammu itu. Tapi tidak dengan sembarang wanita, okay.”
”Dan ... aku akan tidur jika malam benar-benar gelap, hanya ada lampu lentera yang dipenuhi cinta sebagai cahaya penerang nya. Bagaimana?”
Keenan tak membalas lagi pesan Aletha, hanya tatapan teduh dari kedua matanya yang ia perlihatkan saat tatapan mereka bertemu. Aletha melengkungkan bibirnya sehingga tercipta lah senyuman yang begitu sempurna.
Malam kian melarut, cahaya rembulan kembali dalam peraduan malam. Aletha memutuskan untuk pergi ke ruangan Laura dan menggantikan Garda yang sudah cukup tidurnya. Kini Aletha melepas rasa lelah dengan merebahkan tubuh di atas sofa, karena ia memilih tidak kembali pulang ke rumah Bagas Kara maupun rumahnya sendiri.
...----------------...
“Oek... Oek... Oek...”
Suara tangis Ravva terdengar menggema di kediaman Bagas Kara. Setelah kurang lebih empat hati berada di rumah sakit, Laura dan Ravva sudah diperbolehkan untuk pulang. Dan Bagas Kara meminta Laura untuk tinggal di rumahnya, karena akan repot jika tinggal sendiri di rumah dinas. Sedangkan Garda harus bertugas setiap pagi sampai sore, belum nanti jika ditugaskan di luar kota.
__ADS_1
“Aletha, terima kasih ... karena kamu sudah membantuku selama ini.”
“Ra, ini sudah wajib untukku memenuhi janji yang pernah aku ucapkan kepadamu. Sekarang kamu harus ingat, kita saudara.”
“Emm ... iya, calon saudara ipar.” Laura terkekeh geli.
Aletha ikut tertawa, ia tidak sadar jika sebentar lagi akan menjadi kakak ipar untuk Laura.
“Aku bersyukur dan sangat mensyukuri berita baik yang Allah sampaikan kepadaku, Al. Meskipun aku kehilangan kedua orang tuaku, tapi Allah mendatangkan orang tua yang tak kalah baik serta memberikan kasih sayang mereka kepadaku tanpa pilih kasih.”
“Bukan hanya itu saja, dunia itu juga begitu sempit. Tanpa aku ketahui kisah kak Keenan dulu, kini aku tahu cinta pertama kakakku hanya untuk kamu. Dan sedangkan kamu adalah sahabat terbaikku.”
Keduanya saling memberikan senyum, dan mereka tidak pernah membayangkan jika hal itu akan terjadi. Begitu juga dengan Aletha, tak pernah terbayangkan jika ia akan di khitbah oleh lelaki remaja yang dulu pernah diselamatkan olehnya.
......................
“Besok adalah hari pernihakan Dokter Edbert dengan Dokter Catrina. Apa ... kamu juga diundang oleh mereka?”
“Iya, tapi aku tidak tahu bisa hadir atau tidak.”
“Kenapa? Bukankah kita sudah mengenal mereka dengan baik?” tanya Aletha penasaran.
“Karena aku ... tak punya kendaraan. Dan jika naik pesawat akan membutuhkan biaya yang mahal. Sedangkan uangku untuk modal pernikahan kita.” Keenan nyengir.
Aletha seketika tertawa, ia tahu betul gaji seorang kapten. Meskipun memiliki tingkatan yang disebut kapten, tapi gaji belum tentu banyak sampai berjuta-juta. Dapat diperkirakan hanya sekitar satu juta. Dan Aletha mengerti apa yang diprioritaskan Keenan saat ini, pernikahan yang tidak mewah dan juga tidak sederhana. Bisa dibilang sedang, tetapi bisa membuat Aletha dan pembaca bahagia dengan acara pesta itu.
“Aku punya tiket dari Presiden Ameer.” Aletha menunjukkan kartu cip miliknya yang diberikan oleh Presiden Arab.
“Kartu ini bisa ditukar dengan apapun. Bagaimana jika kita menukarkan nya dengan helikopter. Lumayan, bisa dijadikan kendaraan untuk terbang ke sana.”
‘Aku sebenrnya juga punya, Al. Tapi ... aku ingin memanfaatkan kartu cip itu untuk satu hal lain.’ batin Keenan saat melihat kartu cip yang dikeluarkan Aletha dari saku snelinya.
“Apa tidak sayang jika ditukar dengan helikopter. Sedangkan Pak Bagas Kara memiliki helikopter pribadi.”
Aletha menggelengkan kepala. Dengan senyum yang merekah Aletha mengatakan kepada Keenan bahwa ia ingin pergi dengan helikopter bernuansa berbeda.
Memangnya ada perbedaan apa? Entahlah... hanya Aletha yang tahu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1