
“Kata terima kasih mungkin tidak akan cukup untuk kuucapkan kepadamu. Karena kamu tetap bertahan meskipun kamu tahu bagaimana serpihan masa laluku. Dan ketulusan yang ada dalam hatimu mampu meneguhkan hati ini yang merapuh.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan mengaminkan doa yang ia panjatkan. Ia sudah berpasrah jika saja Allah akan merenggut nyawa Aletha saat itu juga. Namun, ia memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai bumi dalam kehidupan yang akan datang dan meminta Aletha agar dilahirkan sebagai hujan dalam kehidupan yang akan datang.
Setelah usai mendamaikan hati di mushola Keenan kembali bersiap untuk ke ruangan Aletha kembali. Dan saat menelusuri lorong rumah sakit Keenan dikejutkan dengan kehadiran Juan yang sedikit berlari ke arahnya.
“Deg...”
Hati Keenan seakan berhenti berdetak, ia tidak sanggup jika mendengar kabar buruk itu dari Juan. Namun, apapun yang terjadi ia harus mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan sepahit apapun. Dan ia harus bertahan demi Alina buah hatinya.
“Ternyata kamu di sini, kenapa lama sekali? Darimana kamu?”
“Apa... Aletha sudah benar-benar pergi?” tanya Keenan dengan suara tak berdaya.
“Maksud kamu? Jangan jadi suami gendeng deh. Aku mencari kamu cuma mau bilang ... Aletha sudah sadar.” Umpat Juan kesal, tetapi ia juga merasa iba dengan Keenan yang tak berdaya.
“Apa? Benarkah jika Aletha sudah sadar?”
Juan mengangguk, senyum pun terukir dari bibir Juan setelah melihat Keenan yang seketika itu juga bersujud syukur. Dan Keenan berlari dengan kencang saat menuju ke ruangan Aletha yang sudah dipindahkan di ruang rawat inap.
“Neng...”
Seketika Aletha menoleh ke arah Keenan yang masih berdiri di ambang pintu. Aletha tersenyum tipis, membuat Keenan merasa bahagia. Dan seketika Keenan memeluk Aletha dengan rengkuhan yang erat.
“Aww, sakit Aa.” Aletha meringis saat jahitan di perutnya merasa nyeri.
“Maaf Neng, Aa hanya terlalu senang saja.” Keenan melerai peluaknnya.
Aletha hanya bisa tersenyum, ia juga merasakan rindu yang tiada tara. Ingin rasanya membalas pelikan Keenan untuk dijadikan sebagai obat penawar rindu itu, tetapi tubuhnya masih lemah dan jahitan bekas operasi caesar masih belum mengering, sehingga rentan untuk Aletha menggerakkan tubuhnya.
“Aa...” panggil Aletha pelan.
__ADS_1
Keenan yang mendengar suara Aletha segera mendekat, ia mengulas senyum untuk Aletha. Senyum yanga hanya diperuntukkan keoada Aletha seorang. Meskipun dulu banyak sekali wanita yang mendekatinya tapi hanya satu nama yang tersemat di hatinya, Aletha. Nama itulah yang selalu diselipkan dalam setiap doa nya.
“Ada apa? Perlu seuatu?”
Aletha menggeleng pelan, tetapi binar matanya mengistirahatkan kesedihan. Perlahan ujung matanya mengeluarkan air bening yang membuat Keenan merasa takut, jika saja ia sudah melukai hati Aletha.
“Ada apa, hmm? Kenapa Neng menangis? Apa Aa sudah membuat hati Neng terluka?”
“Neng... maafkan Neng Aa.” Tangis Aletha semakin menjadi.
Keenan merengkuh Aletha dalam dekapannya. Keenan pun menyeka air mata yang berderai, bagaikan sungai yang mengalir deras. Dan Keenan tidak menyukai air mata kesedihan yang keluar dari mata Aletha.
“Jagan sedih, Aa tidak suka. Jika ingin diungkapkan... cerita saja. Aa akan mendengar setiap curahan hati Neng.” Keenan mengusap puncak kepala Aletha.
Aletha menghentikan tangisnya, tetapi sesekali masih terdengar sesenggukan bekas tangisnya. Perlahan Aletha mencurahkan kesedihan yang diraskan, di mana ia merasa tidak bisa menjaga buah hatinya dan meskipun selamat tetapi tetap saja buah hatinya terlahir prematur. Dan yang paling sulit adalah menceritakan pertemuan yang singkat dengan Fajar saat berada di dunia luar. Namun, Aletha tidak mau jika menyembunyikan hal itu dari Keenan.
“Terserah Aa jika mau pergi meninggalkan Neng. Neng siap jika Aa minta cerai.” Aletha menunduk.
“Neng, jangan pernah berpikir hal seburuk itu. Pernikahan bukan sebuah benda yang bisa saja dibuang dan ditinggalkan begitu saja. Pernikahan itu sakral dan suci, yang menghubungkan dua insan yang siap menerima segala kekurangan dari setiap pasangannya.”
Aletha menyunggingkan senyum tipis, ia tidak merasa beruntung takdir menemukannya kembali dengan Keenan yang berhati tulus dalam menerima segala kekurangan yang ada dalam dirinya.
“Kata terima kasih mungkin tidak akan cukup untuk Neng ucapkan kepada Aa. Karena Aa tetap bertahan meskipun Aa tahu bagaimana serpihan masa lalu Neng. Dan ketulusan yang ada dalam hati Aa mampu meneguhkan hati Neng yang merapuh.”
“Neng, sedari dulu hanya nama Neng yang Aa selipkan dalam setiap doa Aa. Hingga takdir mempertemukan kembali kita di waktu yang tepat.” Keenan mengecup kening Aletha, lalu mengusap puncak kepala Aletha dengan lembut.
Cinta yang tulus memang akan berujung bahagia, menerima apa adanya pasangan itu adalah hal wajib setelah janji suci telah terucap. Dan inilah yang namanya cinta sejati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aku harus menemui aunty, karena akulah aunty mengalami hal buruk.” Larisa melangkah pelan menuju ke ruangan Aletha.
Ruangan Anggrek adalah ruangan yang dipilihkan Luna dan keluarga untuk Aletha selama menjalani rawat inap di rumah sakit. Dan Larisa megetuk pelan pintu itu hingga membuat kemesraan Aletha dengan Keenan terhenti.
__ADS_1
“Larisa.” Keenan membukakan pintu untuk Larisa.
Latisa melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Ada rasa takut jika saja Aletha akan marah keladanya. Tetapi Larisa salah prediksi.
”Duduklah, keponakan tante. Jangan belagak takut seperti itu sama aunty kamu ini. Biasanya juga bar-bar.” Aletha terkekeh.
“Maafkan Larisa ya, aunty. Karena Larisa aunty jadi...”
“Jangan bilang seperti itu. Aunty tidak apa-apa dan... anak aunty jiga selamat. Tapi... aunty belum tahu siapa namanya.” Aletha menatap Larisa dan Keenan secara bergantian.
“Tuh, tanya langsung sama Bapaknya.” Larisa menunjuk Keenan.
Keenan tersenyum, menunjukkan giginya yang gisul. Tetapi Keena tak kunjung mengatakan siapa nama anaknya, karena ia takut jika saja Aletha tidak menyukai nama yang diberikannya. Namun Aletha terus mendesak Keenan, hingga Keenan tidak bisa lagi mengelak atau membuat alasan untuk diberikan kepada Aletha.
“Aa... beri nama putri kita dengan Alina Daena Mahendra. Bagaimana?”
“Cantik, kok.” Aletha manggut-manggut. “Kapan Neng bisa bertemu dengan Alina?”
Tuh kan, sekarang bingung lagi Keenan nya. Gelisah eeuu.
“Tanya saja sama bunda, Sang Kapten mana tahu hal seperti itu, aunty.” Larisa terkekeh melihat wajah Keenan yang tengah dilanda bingung.
“Baiklah, kamu memang benar Sa. Yang diketahui Kapten itu hanya... cara menembak pada sasaran yang tepat.” Aletha dan Larisa terkekeh geli.
Keenan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia malu sendiri saat Aletha mengatakan hal itu tanpa ada gurat kemarahan atau cemburu. Karena Aletha tahu betul hati Keenan hanya akan diisi dengan namanya sebagai penghuni satu-satunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi Alina, memberikan ASI eksklusif saat usia Alina memang membutuhkan susu sang ibu. Dengan telaten Aletha selalu memberikan ASI nya itu pada jam tertentu atas ijin perawat yang menjaga di dalam ruang inkubator. Dan setelah diberi susu Alina harus kembali ke ruang inkubator agar terkena sinar cahaya lampu yang memeneikan kehangatan kepada bayi yang lahir secara prematur.
“Kapan bisa pulang, Kak? Aletha ingin berlama-lama dengan Alina.” Binar mata Aletha memperlihatkan binar kebahagiaan.
“Kamu boleh pulang besok pagi, tapi untuk Alina jadwalnya berbeda.”
__ADS_1
Aletha dan Keenan berusaha mengerti dengan yang dimaksud Luna, mengingat Alina memang terlahir secara prematur. Dan Aletha hanya menurut saja, menunggu dengan sabar untuk beberapa waktu menanti Alina pulang.
Bersambung...