
“Menahan rindu yang sudah bergemuruh itu tidak mudah, tetapi akan selalu ku coba dengan segala cara agar mereda. Seperti saat aku memperbesar rasa sabarku dikala jarak tengah memisahkan kita.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore pun telah tiba, waktunya Aletha kembali pulang setelah melakukan tugasnya sebagai dokter yang sudah selesai di jam sekian. Dan bagian sift malam akan digantikan oleh dokter Irham.
“Ya Allah, rasanya capek sekali. Nak, apa kamu di dalam sana juga merasa lelah seperti Bunda?”
Aletha mengelus perutnya dengan lembut dan sesekali sang buah hatinya bergerak dengan sangat aktif. Membuat Aletha merasa bahagia saat merasakan pergerakan bayinya. Dan hari yang panjang membuat Aletha malam itu terlelap lebih awal daripada biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu bulan telah berlalu begitu cepat, persiapan untuk acara tujuh bulanan sudah direncanakan dengan matang. Dan satu minggu lagi acara tujuh bulanan Aletha akan dilangsungkan. Akan tetapi selama itu Keenan dan pasukannya masih belum ada kabar ataupun tanda-tanda akan kembali ke Jakarta.
”Aa... apa Aa tahu bagaimana perasaan Neng sampai saat ini? Hanya rindu untuk Aa yang tersisa sampai detik ini juga. Apa Aa jiga merasakan rindu itu saat jauh dari Neng seperti ini?”
Aletha menatap layar ponselnya dan berharap jika saat itu juga Keenan akan memberikan kabar kepulangannya. Namun hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Aletha harapkan. Sampai saat itu juga Keenan masih sibuk bakan nomornya sangat sulit untuk dihubungi meskipun sudah seringkali Aletha mencoba menelponnya.
“Lampu lentera inilah yang bisa mengobati rasa rindu Neng ke Aa. Karena benda inilah yang menyatukan kita dalam ikatan cinta. Dan coklat batang ini juga Neng jadikan sebagai obat penawar rindu Neng ke Aa.” Aletha tersenyum kecut.
Aletha memakan satu gigitan coklat batang yang berada dalam genggaman tangannya. Setelah coklat itu melumer di mulutnya sampai habis kembali Aletha menggigit coklat itu sampai habis tak tersisa.
“Satu vitamin coklat sudah ku makan. Sekarang harus kembali bekerja dengan senagat juang yang tinggi. Semangat ya anak Bunda!” ucap Aletha dengan penuh semangat.
Aletha menuruni anak tangga dan bergabung dengan seluruh anggota keluarga yang lain.
“Selamat pagi semuanya!” sapa Aletha dengan menyunggingkan senyum.
“Pagi!” balas semuanya hampir serempak.
Aletha mengambil duduk di sebelah Laura. Dan sarapan pun telah digelar secara bersama-sama. Hanya saja Luna dan Juan tidak ikut sarapan bersama, karena pagi itu Juan merasa tidak enak badan sehingga Luna harus mengurus suaminya terlebih dahulu setelah yang pertama mengurus putra kecilnya.
“Aunty, Larisa nebeng ya ke rumah sakit. Soalnya ada tugas dari guru olahraga yang mewajibkan tes kesehatan jika ingin mengikuti lomba renangnya.” Larisa tersenyum dengan begitu manis.
Larisa sok manis tuh biar aunty nya ngebolehin ikut nebeng ke rumah sakit. Wkwkwk
“Emm... maksudnya kamu mau ikutan lomba renang begitu, Sa? Kok mau ikut tes segala.” Aletha mengerutkan keningnya.
“Iya, aunty.” Larisa mengangguk. “Ya ... sekali-kali Larisa pengen ikut, walaupun... nanti kalah.”
Larisa tertawa, karena sebenarnya ia bukanlah ahli dalam olahraga renang. Namun, sesekali ia kepengen ikut dalam lomba renang untuk mengisi kegiatan sekaligus mendapatkan sertifikat yang akan membantunya dalam mendaftar di sekolah menengah ke atas nanti.
“Apa tidak ada pelatihnya?”
“Ada, tapi Larisa males aunty. Pelatihnya itu galak dan sok keren padahal jadul parah orangnya. Tampangnya juga pas-pasan,” ucap Larisa.
“Anak kecil juga mau lihat tampang yang bagus. Belajar yang bener dulu, awas saja kalau bertingkah yang aneh-aneh.” Aletha menatap tajam Larisa.
“Aunty... Larisa itu sudah kelas sebelas SMP. masih masa remaja...” Larisa memggantungkan kaliamtnya ke udara.
Aletha mengangkat tangannya mengudara dan siap untuk menabok punggung Larisa. Sehingga membuat Larisa berlari dan menggantungkan kalimatnya itu mengudara.
“Jangan terlalu keras dengan keponakan sendiri, Al. Kita itu harus belajar SA... BAR...” Laura mengulas senyum.
Aletha selalu mengingat apa yang dikatakan Laura, harus sabar. Sehingga Aletha membiarkan Larisa menghidupkan musik dengan keras dengan alunan musik bak di diskotik. Walaupun sebenarnya Aletha sudah merasa geram dengan tingkah keponakannya itu, tetapi ia jiga harus sadar diri bahwa masa lalunya lebih dari Larisa.
__ADS_1
“Sa... aunty boleh ngomong sesuatu?”
“Silahkan, aunty.” Larisa menyunggingkan senyuman.
“Aunty cuma mau bilang jangan sampai kamu terjerumus dalam pergaulan yang tidak pantas. Jaga diri dengan baik, lebih baik kamu menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif.”
Seketika Larisa menoleh ke arah Aletha yang sedang fokus mengendarai mobil nya. Larisa menatap lekat wajah Aletha yang kini berbeda. Lebih sabar, kalem dan murah senyum.
“Aunty tenang saja, Larisa akan menjaga diri dengan baik. Tapi... kegiatan yang posisi itu apa saja jika di sekolah?”
“Banyak, ikut ekstrakurikuler PMR, Pramuka, kegiatan olahraga yang memang menonjol di sekolah kamu dan satu lagi, kajian islami. Bukannya dulu kamu suka mendengarkan hal seperti itu, kamu tidak lupa kan perjuangan Ayah dan Bunda mu yang berusaha mendidikmu dengan benar.” Aletha menggerakkan tangannya untuk mengganti channel lagu ala anak remaja diskotik dengan kajian islami di pagi hari.
‘Terima kasih aunty, karena aunty selaku mengingat Larisa dengan pergaulan bebas.’ Larisa bermonolog dalam hati.
Tiba-tiba Aletha menginjak pedal rem setelah melihat Arga tengah berjalan di pertigaan jalan dekat rumah sakit Siloam Hospitals. Dan setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan Aletha menurunkan sedikit kaca mobilnya.
“Arga... masuk gih!” pinta Aletha setengah berteriak.
‘Arga? Siapa Dia?’
“Iya, Kak. Ada apa?” tanya Arga kemudian.
“Masuk di kursi belakang gih, Kakak akan antar kamu ke sekolah. Lagipula masih pagi juga, jadi tak apa jika Kakak mengantarmu sebentar.” Aletha melengkungkan bibirnya dengan sempurna.
Tidak ada pilihan lain bagi Arga selain mengiyakan permintaan Aletha setelah Aletha memaksanya. Dan Aletha melakukan mobilnya kembali menuju SMP Bakti Mukti yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.
‘Arga? Wajahnya tampan, seperti anak sholeh. Siapa Dia sebenarnya? Kenapa aunty bisa mengenalnya?’ tanya Larisa dalam hati.
”Terima kasih, Kak. Semoga Kak Aletha selalu dalam lindungan Allah SWT.” Arga turun dari mobil Aletha lalu melangkah menuju ke sekolah.
“Selamat pagi, Dok!” sapa Hakim, Safira, Khaira dan Naura.
“Pagi juga kalian. Oh iya, bagaimana dengan hari ini? Siap menjalankan tugas, kan? Ingat, setengah bulan lagi kalian akan melangsungkan sumpah dokter yang sesungguhnya.” Ke empatnya mengangguk pasti.
Aletha melakukan visite ke beberapa pasien. Setelah itu ia menuju ke ruangan Dimas untuk memebeikan surat ijin cuti dalam acara tujuh bulannya yang sudah dekat. Tidak mungkin juga kan jika Aletha akan bekerja terus saat acara tujuh bulanan itu ditujukan kepadanya.
“Baiklah Aletha, saya menyetujui surat cuti kamu itu. Tetaplah jaga kesehatan kamu dan bayimu.” Datar dan biasa saja, Dimas juga tidak berani menatap Aletha.
“Terima kasih, Pak. Dan jangan lupa Pak Dimas ikut hadir juga ya dalam acara tujuh bulanan saya nanti, sekaligus ajak juga Bu Cinta.” Aletha menyodorkan undangan kepada Dimas.
Dimas mengangguk, setelah itu Aletha kembali ke ruangannya. Jadwal pagi itu cukup longgar, Aletha tidak melakukan operasi, hanya melakukan visite di pagi hari, bertemu dengan ke empat dokter koas di siang hari dan sorenya Aletha sudah jadwalnya pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya matahari sudah meninggi dan sejak tadi subuh Mama Nina sudah disibukkan di dapur untuk menyiapkan beberapa keperluan yang akan digunakan dalam acara tujuh bulanan Aletha nanti malam yang dibantu oleh beberapa tetangga yang sudah sepuh. Karena hanya orang sepuh lah yang biasa mengerti kelengkapan untuk acara adat istiadat semacam itu.
“Perlu sedikit ambeng dan yang lainnya, Neng. Tapi biar Mbah saja yang buat nanti, sekarang kamu siapkan pakaian yang akan dipakai putri dan putramu nanti.” Tutur mbah Sekar, warga sesepuh yang tinggal di dekat rumah Bagas Kara.
“Baik, Mbah. Kalau begitu saya tinggal dulu sebentar.” Mama Nina menuju ke kamar Aletha.
Di kamar Aletha sedang sibuk dengan data pasiennya yang memang harus dicek bagaimana kondisi kesehatan jantung dengan keluhan masing-masing. Tetapi seketika Aletha meletakkan data-data itu di atas meja kerjanya saat Mama Nina masuk ke kamarnya.
“Ada apa, Ma?”
“Mama cuma mau kasih jarik ini ke kamu. Karena jarik ini yang akan menutupi sebagian tubuhmu nanti, Nak. Oh iya, bagaimana dengan Keenan? Apa sudah ada kabar?”
__ADS_1
Aletha hanya mengendikkan bahunya, karena ia memang tidak tahu dengan Keenan. Jika saja Keenan tidak bisa pulang hari itu entahlah bagaimana acara tujuh bulanan mereka.
“Sabar, siapa tahu nanti Dia pulang bersama Garda dan Papa kamu. Kita tunggu sampai nanti sore. Jika tidak ada kabar apapun, kita hanya bisa melakukan pembacaan surat yusuf saja.” Mama Nina mengusap punggung Aletha.
Aletha mengangguk, kedua ujung bibirnya melengkung dengan sempurna. Dan Aletha hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
Sore pun telah tiba, Aletha menyiapkan jarik pemberian Mama Nina yang diletakkan di sebuah nampan. Dan sesekali ia menatap pinselnya yang tergeletak di atas kasur, berharap Keenan akan menghubunginya. Tetapi tidak ada panggilan telepon dari Keenan, hanya Ilham dan Hakim yang sering menelpon Aletha.
Semua sudah berkumpul untuk mengikuti acara tujuh bulanan Aletha, termasuk Hakim, Khaira, Safira dan Naura yang ikut menghadiri acara tersebut. Dan Ilham dengan Mata juga tidak mau ketinggalan pastinya. Pasangan itu yang sekali membuat kehebohan, bagaimana tidak. Ilham menggandeng putra pertama mereka, anak kedua dalam gendongan Ilham dan anak ketiga masih di dalam perut Maya.
“Aa... apa benar Aa tidak pulang?”
Aletha menatap ponselnya kembali. Dan semua pesannya telah dibaca oleh Keenan, membuat Aletha menyunggingkan senyum yang merekah. Sepercik harapan kembalinya Keenan membuat Aletha merasa senang.
”Assalamu'alaikum,” ucap salam dari luar.
“Wa'alaikumsalam,” balas dari dalam dengan serempak.
Keenan dan Garad menyalami seluruh anggota keluarga mereka. Dan barisan yang terakhir Keenan berdiri di hadapan Aletha bahkan menatap lekat netra yang mengembun. Karena tidak tahan lagi Keenan merengkuh tubuh Aletha ke dalam pelukannya.
“Jangan bersedih, Aa sidah ada di sini.” Keenan menyeka air mata yang sudah tumpah.
“Sudah, melepas rindunya nanti saja. Sekarang Keenan harus berganti pakaian seperti Aletha, memakai kemben. Karena acaranya sebentar lagi akan dimulai.” Mama Nina menuntun Keenan ke kamar untuk berganti pakaian dengan jarik.
Dalam acara tujuh bulan memerlukan tiga tahap, pertama tahlilan dengan membaca surat yusuf di dalam ruangan, mandi air kembang tujuh macam di kamar mandi dan ngirang di kamar tidur.
Semua acara itupun sudah digelar dengan kelancaran yang diberikan Allah malam itu. Dan Aletha diminta untuk segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang kering. Begitu halnya dengan Keenan.
“Aa... Neng sempat khawatir jika saja Aa tidak pulang tadi. Apalagi Aa tidak memberi kabar apapun selama tugas di sana.” Aletha mengerucutkan bibirnya.
”Sebelumnya Aa minta maaf, tapi Aa memang sengaja tidak membaca satu pesanpun dari Neng. Karena Aa ingin menguji se sabar apa hati Neng menunggu Aa pulang saat Aa bertugas.” Keenan mengusap puncak kepala Aletha, tidak lupa pula mengecup keningnya.
“Menahan rindu yang sudah bergemuruh itu tidak mudah, tetapi akan selalu ku coba dengan segala cara agar mereda. Seperti saat aku memperbesar rasa sabarku dikala jarak tengah memisahkan kita.” Aletha menenggelamkan kepalanya di dalam pelukan Keenan yang menghangatkan.
“Dan ini adalah kejutan yang Aa berikan di waktu yang menegangkan bagi Neng.”
“Ya sudah, ganti baju dulu gih. Masa pelukan masih pakai kemben yang basah. Atau... Neng mau ngasih jatah Aa ya?”
Seketika kedua mata Aletha terbelalak, ia tidak menyangak jika saja suaminya itu memiliki otak yang mesum. Dan mesumnya Keenan membuat Aletha mendengus kesal, tetapi tetap saja Aletha melayani Keenan dengan senang hati. Dan pertempuran di ranjang pun terjadi malam itu.
SENSOR... SENSOR... SENSOR...
Cahaya lampu lentera seakan memancatkan cahayanya dengan sangat terang, cinta yang berjarak kini jarak itupun mampu dikikis dengan sempurna. Bahkan tidak ada lagi yang membuat pelukan Keenan merenggang di atas ranjang. Dan setelah merasa amat lelah Aletha tertidur dalam dekapan Keenan. Begitu juga dengan Keenan, ia ikut membangun cinta di alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Perlombaan akan segera dimulai dan dimohon untuk para peserta segera berkumpul di area renang dan bersiap mengikuti pertandingan dalam putaran pertama.” Pembawa acara telah memberitahukan kepada seluruh peserta dengan mikrofon nya.
Larisa yang mendengar suara itu segera berkumpul ke area perlombaan. Ia berusaha menghilangkan rasa nervous nya agar tidak gugup saat mengikuti lomba dalam putaran pertama. Sesekali ia menoleh ke arah Aletha yang duduk di kursi penonton, sengaja Aletha mengikuti Larisa dan memberikan dukungan untuk keponakannya yang paling gedhe.
“Semangat, Larisa” teriak Aletha.
Aletha mengangkat tangannya memberi semangat untuk Larisa. Dan saat Larisa melihat Aletha yang memberikan semangat untuknya seketika rasa nervous nya hilang. Kini Larisa bersiap untuk segera melompat ke air setelah hitungan ketiga.
Bersambung...
__ADS_1