
“Akan ku perlama dan perpanjang rukuk serta sujudku saat menghadap-Mu. Karena saat waktu yang lama Engkau mampu menggugurkan segala dosaku. Dan aku yakin Engkau pun akan mengabulkan do'aku.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
[Assalamu'alaikum, Neng nya Aa Keenan. Kembali Aa mengirimkan es krim yang ditabur dengan coklat batang untuk Neng Aletha. Dan dengan es krim yang datang, Aa mohon ijin kepada Neng kalau Aa harus bertugas. Aa tidak bisa mengabaikan tugas Aa begitu saja. Mohon diijinkan ya, Neng. Dan Neng tidak perlu khawatir, Aa akan jaga diri. Neng juga harus tahu saat Neng jauh dalam pandangan Aa, namun terasa dekat di hati. Meskipun beribu jarak telah memisahkan kita, tetapi jarak itu mampu terkikis saat kita melangitkan do'a bersama.]
Setelah membaca surat itu Aletha kembali menatap es krim yang begitu cantik dan menggoda saat di atas es krim sudah terpenuhi dengan taburan coklat batang.
“Aa... kenapa secara tiba-tiba begini Aa perginya? Dan Neng akan melangitkan do'a untuk keselamatan Aa.” Air mata pun menetes begitu saja.
Aletha tidak mampu membohongi rasa khawatir yang berkecamuk, meskipun begitu Aletha juga tahu betul bahwa hal semacam itu adalah resiko baginya menjadi istri abdi negara yang memiliki jiwa sekuat merah putih. Motto yang selalu diutamakan ketimbang keluarga dekatnya.
“Kak Aletha kenapa?”
“Tidak, saya tidak apa-apa. Saya hanya... sedang merasa khawatir dengan suami saya yang jauh dari saya saat ini.”
“Memangnya dimana suami kak Aletha?”
Aletha sejenak mengulas senyum, lalu ia menceritakan tentang kisahnya bersama Keenan. Penuh lika liku saat menuju perjumpaan yang berujung bahagia. Bahkan setelah menikah saja harus kembali menghadapi tekanan batin, untung saja keduanya kuat.
Obrolan yang sedari tadi menghiasi waktu sore, kini telah di akhiri. Aletha harus kembali pulang setelah jam kerjanya sudah berakhir. Dan kembali ia bersama Juan saat kembali pulang.
“Kenapa hanya diam saja? Biasanya...” ucapannya terhenti.
“Aletha sedang tidak ingin berceloteh panjang, Kak. Aletha... mengkhawatirkan keadaan Aa Keenan.”
“Jangan seperti itu, Al. Satu tujuan seorang abdi negara dan kamu pun juga tahu betul apa tujuan mereka. Jadi, kuncinya satu untuk menenangkan hati dan pikiran kamu, sholat.”
“Sudah ah, jangan sedih seperti itu. Bagaimana kalau Kakak traktir makan bakso? Kakak yakin kamu akan ketagihan.” Ajak Juan.
Aletha seketika menoleh ke arah Juan yang tengah fokus berkendara. Dan setelah menimang ajakan Juan, Aletha akhirnya mengiyakannya. Karena saat merasa khawatir sukses membuat perutnya merasa lapar.
Aletha meraba perutnya yang membuncit, ia merasakan detak jantung baby yang masih berada dalam kandungannya. Dan itu membuat Aletha sedikit merasa tenang.
__ADS_1
‘Maafkan Bunda ya sayang, bukan maksud Bunda membuatmu ikut merasa khawatir. Bunda janji akan selalu menjagamu di dalam perut Bunda.’
Tidak lama kemudian akhirnya Juan dan Aletha sampai di sebuah kedai bakso yah cukup ramai di kota Jakarta Barat. Pengunjung bakso mas kumis ini selalu banyak dan nilai tambahan dari pelayanan yang cepat membuat bakso mas kumis ini semakin melejit saja.
Juan dan Aletha mengambil duduk di paling ujung, selain merasakan udara secara langsung, mereka juga bisa melihat pemandangan sekitar. Dan cuaca kota Jakarta sore itu cukup baik, membuat suasana di sekitar kedai menjadi sangat ramai daripada biasanya.
“Bang, beli baksonya dua porsi.” Teriak Juan sembari mengangkat tangannya.
“Siap, Pak!”
Tidak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Dengan bakso yang dibuat full daging membuat pengunjung menikmatinya. Begitu juga dengan Aletha dan Juan, keduanya menikmati bakso itu.
Satu suap...
Dua suap...
“Enak, kak. Kenapa kok tidak pernah ajak aku kesini?”
“Ha... ha... ha...” Tawa Juan pun pecah.
“Jadi, sejak itulah kak Juan jatuh hati sama kak Luna?”
“Ah tidak, Al. Ceritanya masih sangat panjang, tapi tempat inilah yang sering kami kunjungi saat rasa lapar benar-benar mendera.”
“Tapi Aletha akui kak, bakso nya mantep. Bikin Aletha kenyang, tak terasa juga sudah dua mangkok bakso jumbo ludes.” Aletha nyengir.
Juan tertawa melihat Aletha yang ternyata begitu menyenangkan saat di ajak makan di luar bersama. Tidak terlihat begitu seram saat memegang pistol yang meluncurkan pelurunya dan juga saat pisau bedah menggores tubuh orang lain.
‘Ternyata, Luna tidak pernah salah jika selalu mengkhawatirkan kamu, Al. Tawa itu selalu kamu jaga, tidak sembarang orang bisa melihatnya.’
Juan mengajak Aletha segera pulang, karena hari sudah hampir menjelang maghrib. Takutnya orang rumah akan merasa khawatir jika tidak segera sampai di rumah, terutama Mama Nina yang tak ingin putrinya lecet sedikitpun di saat hamil.
“Terima kasih ya, Kak. Sudah traktir Aletha di bakso mas kumis itu. Bolehlah jika nanti kita makan bersama kak Luna di sana.”
__ADS_1
“Tentu. Sekarang bagaimana perasaanmu? Apa masih merasa khawatir?” tanya Juan memastikan.
“Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik kok kak.” Aletha mengulas senyum.
Sampailah mereka di kediaman Bagas Kara, dan kedatangan mereka telah di sambut oleh mama Nina. Dan Aletha segera menyalami tangan mama Nina setelah masuk ke dalam. Begitu halnya dengan Juan, lalu keduanya berjalan menuju ke kamar masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sudah hampir maghrib, apa Aletha sudah pulang?” ujar Keenan setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kesibukan Keenan membuatnya tidak bisa menghubungi Aletha walaupun hanya sekedar mengirim pesan singkat saja. Karena guncangan gempa itu membuat banyak korban yang harus kehilangan nyawa mereka. Dan ada juga yang banyak terluka, sehingga membuat warga Cianjur kehilangan nyawa hingga tercipta duka.
“Kapten, kita harus segera mencari warga yang tertindih di gedung minimarket itu. Karena pada saat banyak pengunjung gempa itu terjadi.”
“Baiklah, kita berpencar saja.” Keenan bersiap dengan tali besarnya.
“Jangan pergi! Punggungmu masih belum pulih dengan sempurna, tetaplah berjaga di sini dan informasi kan kepada kami jika ada pergerakan yang di duga gempa susulan.” Garda menghentikan langkah Keenan.
“Iya, Kapten. Biarkan kami yang berpencar.” Brian mengangguk membenarkan ucapan Garda.
Keenan mengangguk, mengiyakan permintaan sahabatnya. Dan setelah itu pasukan berani mati kembali melakukan tugasnya. Sedangkan Keenan memantau setiap pergerakan yang ada di layar monitor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha mengambil wudhu untuk sholat isya', lalu ia membalut tubuhnya dengan mukena. Setelah itu ia bentangkan sajadah panjang untuk segera menunaikan ibadah nya.
“Akan ku perlama dan perpanjang rukuk serta sujudku saat menghadap-Mu. Karena saat waktu yang lama Engkau mampu menggugurkan segala dosaku. Dan aku yakin Engkau pun akan mengabulkan do'aku.” Aletha berdiri dan bersiap untuk melantunkan takbir.
Empat rakaat telah dijalankan oleh Aletha sekusu' mungkin. Setelah itu Aletha merebahkan tubuhnya untuk sekedar meregangkan otot yang dirasakan begitu kaku. Dan Aletha tidak ingin tidur cepat malam itu, karena ia harus kembali meneliti data pasien yang harus menjalankan pemeriksaan esok hari.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, rasa kantuk pun sudah mendera Aletha sedari tadi. Dan apa boleh buat, Aletha harus meninggalkan beberapa lembar data pasien yang belum sempat dilihatnya.
“Selamat malam Aa Keenan nya Neng Aletha. Ana uhibbuki fillah.” Sejenak bayangan Keenan yang tengah tersenyum berlayar di pelupuk mata Aletha.
__ADS_1
Mata Aletha pun terpejam saking beratnya. Dan ia pun tidak lagi memikirkan Keenan dengan rasa khawatir yang berlebihan. Semua sudah Aletha serahkan kepada Tuhan sang Pencipta alam.
Bersambung....