Lentera Cinta

Lentera Cinta
44. Operasi


__ADS_3

Pintu ruang operasi terbuka, seorang perawat keluar dari ruangan tersebut sambil membawa sebuah kertas dan cooler box "Keluarga ibu Ayunda" panggilnya.


Nathan yang mendengar langsung berdiri dan berjalan menghampiri. "Iya suster, saya keluarganya, bagaimana keadaannya?" setelah dia berdiri didekat suster.


"Pak, ibu Ayunda mengalami pendarahan, stok darah yang tadi disiapkan sudah habis semua, sekarang kalau bisa bapak ke PMI, cari stok darah lagi. Ini box dan surat pengantar dari rumah sakit. Kalau bisa secepatnya ya pak"


Nathan seketika pucat, ketika kata pendarahan disebutkan, apa lagi ditengah-tengah operasi penting seperti saat ini.


"Suster, Ayundanya bagaimana keadaannya?" tanya Nathan saat perawat itu akan kembali keruang operasi.


"Masih operasi, pak. Yang sabar, ditunggu saja"


"Kristis?" tanyanya lagi, perawat itu mengangguk, "Masih pendarahan, makanya bapak diminta ke PMI, segera ya pak"


"Terima kasih suster." ucap Nathan sebelum perawat itu kembali masuk keruang operasi.


"Ayunda kenapa?" tanya Mama Mira dengan suara yang bergetar.


"Pendarahan tante, ini saya diminta ke PMI untuk mencari tambahan, karena empat kantong yang disiapkan pagi tadi sudah habis semua. Semoga masih ada"


"Darah tante dan Ayunda sama, kalau kurang, bisa ambil darah tante."


"Saya coba cari dulu" Nathan pamit pada kedua wanita paruh baya yang sama khawatirnya saat ini dengan kondisi Ayunda.


Tepat jam sebelas siang dokter Sam keluar dari ruang operasi, sebelumnya Nathan, Mama Mira dan Ibu Siska melihat lampu tanda operasi selesai dimatikan.


"Dokter, bagaimana operasi anak saya?" Mama Mira berdiri lebih dulu dan mendekati dokter Sam.

__ADS_1


"Operasi sudah selesai, tadi ada sedikit masalah, karena itu waktu yang diperlukan lumayan lama. Alhamdulillah, semua bisa diatasi. Tumornya sudah diangkat semua, nanti akan dibawa ke laboraturium buat dicek, apakah bahaya atau tidak, sehingga kita bisa menentukan tindakan selanjutnya, akan di radiotherapy atau kemotherapy bila seandainya tumornya ternyata kanker. Semoga tidak bahaya, jadi hanya melakukan pemulihan saja"


Seorang perawat datang membawa segumpalan daging dalam toples "Ini tumornya, ukurannya tidak terlalu besar, untung saja cepat diketahui"


Semua melihat gumpalan daging dalam toples yang ditunjukkan perawat. Mama Mira bersyukur, seperti yang perawat katakan, penyakit Ayunda cepat diketahui sehingga cepat diangkat, walau dia masih khawatir dengan keadaan putrinya saat ini. Merasa dejavu, takut Ayunda akan koma dengan waktu yang lama seperti sebelumnya.


Mengingat itu Mama Mira segera bertanya pada dokter Sam. "Kapan Ayunda akan sadar, Dok?"


"Kita tunggu saja, karena sekarang anak ibu masih dalam pengaruh obat bius. Doakan saja yang terbaik. Saya pamit dulu"


Mama Mira mengucapkan terima kasih pada Dokter Sam sebelum dia meninggalkan mereka bertiga.


Nathan bisa menarik nafas lega operasinya berjalan lancar, namun tetap merasa khawatir, Ayunda belum juga sadarkan diri dan terpaksa di pindahkan keruang ICU bukan kembali kekamar rawat inapnya. Nathan tinggal sendiri saat ini, Mama Mira dan Ibu Siska sudah kembali kerumah mereka masing-masing setelah diminta Nathan untuk istirahat.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Nathan kembali melihat Ayunda dari balik kaca, sudah kesekian kalinya dia berdiri disana, berharap gadis kecil yang membuatnya selalu ingin bertemu sadar dari tidurnya.


Ayunda merasa ada yang menguncang-ngucang tubuhnya, tapi matanya terasa berat untuk dibuka, entah kenapa dia tidak merasa seperti biasanya "Yunda bangun...." suara Kevin yang dia panggil kakak memaksanya untuk bangun.


"Cepat bangun, nanti terlambat" Kevin terus mengoyang-goyangkan tubuh adiknya yang hari ini sangat pemalas.


Dengan susah payah akhirnya Ayunda membuka matanya "Terlambat kemana kak?" tanyanya sambil menggumpulkan setengah nyawanya yang masih berusaha untuk mengingat kembali.


"Ini hari peringatan kematian papa" mendengar penjelasan kakaknya, Ayunda langsung turun dari tempat tidur dan berlari kekamar mandi.


Semua keluarga sudah berkumpul untuk ziarah ke makam Tuan Richad saat Ayunda turun dari kamarnya, dia meneteskan air matanya terharu, Ini adalah kali ketiga dia mengunjungi mahkam Papa Richad, namun baru tahun ini dia bisa mengunjunginya bersama keluarga yang lain terutama kakeknya.


Ayunda duduk sendiri di pusara papanya sambil mengirimkan doa, sementara anggota keluarga yang lain sudah kembali kekediaman mereka, tersisa Kevin sang kakak yang masih setia menemani duduk disisinya.

__ADS_1


Kristal bening kembali mengalir membasahi wajah Ayunda, matahari yang terik tidak menyurutkan dia untuk tinggal lebih lama disana. Ayunda terus bicara menceritakan semua yang terjadi pada papanya, seperti dulu saat almarhum masih berada disisinya.


Seketika dalam pandangannya semua terlihat putih, seputih awan yang ada dilangit biru. "Papa...." panggil Ayunda saat melihat sosok papa Richad yang tersenyum dihadapanya.


Laki-laki gagah itu terlihat sangat tampan seperti biasanya dan merentangkan tangan untuk putri cantiknya, Ayunda berlari masuk dalam dada bidang laki-laki cinta pertamanya. "Rara kangen papa" lirihnya.


"Papa juga kangen sama Rara" tanganya mengelus rambut halus putrinya. "Tapi papa tidak bisa lama-lama menemanimu sayang" sambil terus mengelus rambut putri kesayangannya.


"Sayang, Ini bukan tempatmu Nak, kembalilah ketempat yang seharusnya kamu berada, tinggalkan semua ini. Kembali dimana mamamu menunggumu" bisik Papa Richad ditelinga Ayunda.


Papa Richad mengurai pelukannya, mengecup kening Ayunda cukup lama, menyalurkan kasih sayang yang sudah lama tidak bisa dia berikan.


"Papa datang untuk memintamu kembali dan ingin merestui hubungan kamu dengan Nathan, dia pria yang baik, bahkan dia pernah meminta langsung sama papa untuk menikahimu" ucapan Papa Richad menyadarkan Ayunda ada sosok Nathan yang beberapa bulan ini terus menunggu jawaban darinya.


"Pulanglah.... banyak yang menunggu kamu sekarang, bukan hanya mama tapi juga ada Nathan dan yang lainya. Jangan sedih lagi, berbahagialah, dan papa juga akan bahagia disini." Papa Richad melangkah mundur menjauhi Ayunda.


Pa... jangan pergi... jangan tinggali Rara" Ayunda terisak saat menyadari langkah papanya semakin menjauh. Laki-laki itu tersenyum lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Ayunda yang berdiri kaku.


"Yunda...., dimana kamu? mama disini nak" suara Mama Mira terdengar samar-samar dengan isakan tangis yang membuat Ayunda merasakan pilu.


"Mama..." hanya itu yang bisa Ayunda ucapkan, pandangannya seketika gelap. Ayunda takut dengan kegelapan, ingatannya kembali pada ucapan Dokter Sami yang mengatakan kemungkinan dia akan buta.


Berlahan tapi pasti Ayunda mencoba memaksa membuka matanya, berharap dapat melihat seberkas cahaya. Ada sinar terang, tapi dia tidak dapat melihatnya dengan jelas, beberapa kali dia mengedip-ngedipkan matanya berharap bisa melihat dengan sempurna.


Matanya mungkin kabur dan masih menyesuaikan sinar yang masuk, tapi pendengarannya sangat jelas, Ayunda dapat mendengar suara alat-alat monitor rumah sakit dan hidungnya bisa mencium bau disinfektan, ya, Ayunda ingat kalau dia menjalani operasi pengangkatan tumor. Papa Richad sudah membawa Ayunda kembali ke dunia yang seharusnya dia ada.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2