
“Ku berikan separuh nafasku untukmu bernafas. Tetaplah berjuang demi terciptanya kembali sebuah pertemuan. Aku tahu... kamu mendengar suara hatiku.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
”Aku akan menjaganya sepenuh hatiku... sampai kamu kembali dengan keberhasilanmu. Rindu ini akan kupendam hingga tiba waktunya untuk bertemu. Akan aku tumpahkan dalam dekapanmu.”
Air mata kembali menggenang saat bayangan Keenan menari-nari dalam pelupuk mata. Dan Aletha terus mengusap bahagia perutnya yang masih begitu rata. Ia terus menikmati setiap detik kebersamaannya dengan sang buah hati yang masih begitu kecil di dalam rahimnya. Meskipun setiap pagi ia harus mengalami mual sampai muntah sekalipun, ia tetap menikmatinya.
“Sabar ya sayang, Bunda akan selalu menjagamu. Bunda tidak akan mengeluh sedikit pun. Asalkan kamu tetap kuat bersama Bunda.” Aletha megelus perutnya setelah setia berada di wastafel.
Aletha bersiap untuk kembali bekerja, menjalankan tugasnya yang kemaren terbengkalai karena tidak masuk satu hari.
Tepat pukul tujuh Aletha sudah siap dengan snelinya, dan mobil pun sudah siap untuk dilajukan. Dengan kecepatan sedang Aletha berangkat menuju ke rumah sakit.
“Tidak biasanya Aa' Keenan tidak menelpon saat pagi. Biasanya juga menelpon bahkan kemaren sudah tahu kalau Neng habis sakit, tapi kenapa pagi ini tak ada kabar.”
Perasaan Aletha berkecamuk, ada rasa khawatir yang tiba-tiba singgah di hatinya. Namun, segera ia tepiskan perasaan itu karena mengingat akan kehamilannya yang masih begitu muda dan rentan akan konsekuensinya jika terlalu berpikir, khawatir serta terlalu lelah.
Setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya sampai juga di rumah sakit Siloam Hospitals. Dan Aletha memarkirkan mobil sportnya di tempat parkir. Namun, saat ia turun dari mobil tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menjabak jilbab yang menutupi rambutnya.
“Aw! Sakit...”
Aletha merintih kesakitan saat jilbabnya ada yang menjambak sampai mengenai rambutnya. Dan terjadilah perkelahian antara Aletha dengan wanita itu di tempat parkir.
“Kamu itu siapa sih?” tanya Aletha sambil membalas wanita itu.
Aletha tidak mau kalah, ia pun ikut membalas menjambak rambut wanita itu yang tergerai. Hingga akhirnya Ilham dan Dimas datang, karena mereka baru saja tiba.
“Aletha,” pekik Ilham dan Dimas bersamaan.
Perkelahian itu semakin menjadi, saling jambak menjambak karena tidak ada yang mau kalah di antara keduanya. Dengan segera Ilham dan Dimas melerai perkelahian itu.
“Aletha, hentikan! Lepaskan rambutnya!” teriak Ilham sambil menarik tubuh Aletha.
“Tidak, kak. Aletha tidak mau menghentikan perkelahian ini. Dia yang mulai lebih dulu, jadi Aletha tidak mau kalah. Aletha mau membalas perbuatannya itu.”
Aletha bersikukuh untuk tetap membalas perbuatan wanita yang tidak dikenalnya itu. Begitu pula dengan wanita itu, tidak mau kalah juga. Sehingga perkelahian tetap berlanjut.
“Al, kak Ilham mohon sama kamu untuk menghentikan semua ini. Jangan sampai berita ini akan di dengar oleh pasien dan dokter lainnya. Apalagi jika berita ini sampai diketahui oleh Kapten Keenan bagaimana?” teriak Ilham.
“Plaakkk!” tamparan pun melayang ke pipi wanita itu dengan sangat keras.
“Siapa kamu? Aku tidak mau berdebat ataupun berkelahi dengan kamu. Cepat mengaku, atau... aku akan menembak mu.” Aletha memasukkan tangannya di dalam saku sneli yang ia pakai.
Aletha tidak mau mengalah begitu saja, ia langsung memainkan taktik untuk membuat wanita itu merasa takut. Aletha berpura-pura mengambil pistol dan merogoh saku snelinya. Sehingga wanita itu seketika tak bisa berkutik. Wajahnya memucat, ketika melihat ketajaman mata Aletha.
Tuh kan, siapa suruh menyerang Aletha tanpa sebab. Sekarang kena mental taktik Aletha. Wkwkwk...
“Aku Kayla, calon tunangan nya mas Dimas. Aku tidak mau kamu mendekati mas Dimas dan menggodanya.” Terang Kayla yang menatap Dimas.
“Oh...”
Aletha hanya oh berkepanjangan saja. Berhubung sudah tahu siapa wanita itu, Aletha seketika acuh. Ia memilih pergi dan tidak mau meladeni lagi wanita yang bernama Kayla sekaligus Dimas yang masih berdiri seraya menundukkan kepalanya.
Mungkin Dimas malu mempunyai calon istri seperti Kayla, main labrak saja. Penulis jadi bikes...
“Al, syukurlah kalau kamu mau mengalah dan menghentikan perkelahian itu.” Ujar Ilham yang berjalan bersisihan dengan Aletha.
“Untung saja kak Ilham mengingatkan aku. Coba kalau tidak, amit-amit jabang bayi deh bisa mengenal wanita yang tidak berpendidikan seperti itu... sama saja seperti Dimas, direktur gendeng itu.” Umpat Aletha kesal.
Ilham mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa Aletha bisa semarah itu dengan Dimas. Tapi Ilham abai saja, ia tidak mau mempertanyakan apa yang menjadi alasan Aletha. Namun, kedua ujung bibir Ilham melengkung dengan sempurna saat ia menatap Aletha dari ujung rambut sampai kaki, karena Ilham menyukai penampilan Aletha yang baru. Lebih feminim dan terlihat lebih lembut.
__ADS_1
“Al, Mama mohon sama kamu untuk pindah ke rumah ya! Biarkan Mama merawat kamu saat hamil seperti ini...”
Mama Nina membujuk rayu Aletha melalui udara, agar Aletha mau merubah pikirannya dan berpindah ke rumah Bagas Kara.
“Ma, Aletha tahu Mama merasa khawatir dengan keadaan Aletha. Tapi... Aletha mau hidup mandiri, Aletha tidak mau merepotkan Mama ataupun Papa.”
Hening...
“Ya sudah, Ma, Aletha harus kembali bekerja. Aletha mau melakukan visit terhadap pasien. Assalamu'alaikum.”
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan mama Nina, Aletha melingkarkan stetoskop nya ke leher. Dan setelah itu ia melakukan visit yang ditemani asistennya.
“Assalamu'alaikum, Pak! Selamat pagi, bagaimana keadaan Bapak pagi ini? Apa sudah membaik?” tanya Aletha yang tidak mengurangi rasa sopannya.
Aletha selalu memiliki prinsip untuk menciptakan senyum, sopan dan kenyamanan kepada pasien di rumah sakit Siloam Hospitals yang melakukan pemeriksaan ataupun pasien yang menjalani rawat inap pasca operasi. Dan prinsip itu berhasil membuat kebanyakan pasien yang ditanganinya merasakan kenyamanan.
“Wa'alaikumsalam, Dokter cantik. Alhamdulillah, Bapak sudah jauh lebih baik lagi, itupun berkat Dokter cantik seperti Anda.”
“Wah Bapak, jangan memuji saya seperti itu. Ini memang kewajiban saya sebagai Dokter yang memberikan penanganan semampu saya.” Aletha menebar senyum.
Satu pasien sudah dilakukan visit, lalu berlanjut ke pasien yang lainnya hingga selesai. Dan setelah melakukan visit Aletha kembali ke ruangannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang ingin berobat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sayang, aku perhatikan... Aletha sedikit berubah.” Ujar Maya saat makan siang di kantin. Dan secara kebetulan Aletha ikut makan siang di sana.
“Kamu benar, andai saja jika berita tadi pagi akan cepat menyebar... entah apa yang akan terjadi. Tapi nih ya sayang, aku lihat penampilan Aletha berubah dengan cepat setelah satu bulan menikah dengan Kapten Keenan.”
“Kamu benar, sayang. Aletha... berhijab.”
Segera mereka mengakhiri perbincangan mereka itu ketika Aletha melangkahkan kakinya menuju ke arah meja mereka. Bukan maksud mereka menggunjing di belakang Aletha, tapi mereka ingin memberikan rasa nyaman kepada Aletha sebelum banyak lontaran pertanyaan yang akan ditujukan kepada Aletha.
“Al, kamu tidak sedang salah menu, kan?”
“Al, kamu tidak sedang bermimpi atau sakit begitu, kan?”
Aletha tetap menikmati makan siangnya seraya menggelengkan kepala. Dan hal itu semakin membuat Ilham sekaligus Maya semakin merasa aneh. Ada yang berbeda.
“Kalian kenapa menatap aku seperti itu sih? Jangan heran jika aku lagi makan makanan ini, mungkin saja... ini yang namanya nyidam di usia kehamilan satu bulan lebih dua minggu.” Aletha nyengir.
Ilham dan Maya seketika mangap, mereka tidak menyangka akan mendapatkan berita tentang kehamilan Aletha.
“Kamu serius, Al? Dan... apa Kapten Keenan juga tahu tentang kehamilan kamu ini?” tanya Maya yang seketika menghentikan kunyahan nya.
“Aku serius.” Aletha manggut-manggut. “Tapi... aku tidak memberitahukan berita ini kepada Aa Keenan. Dia... belum ada kabar lagi.”
Mendengar penjelasan Aletha seketika Maya dan Ilham menoleh ke arahnya. Terlihat jelas wajah Aletha yang nampak sedih, jelas ada rasa yang berbeda saat orang yang dirindukan tak kunjung memberikan kabar apapun.
‘Entah kenapa aku ingin pulang ke rumah Mama malam ini. Pengen dipeluk saja sama Mama begitu.’ batin Aletha saat melajukan mobilnya.
Aletha akhirnya melajukan mobilnya ke arah jalan menuju rumah Bagas Kara. Dan selang beberapa menit kemudian Aletha pun sampai di halaman depan rumah Bagas Kara. Dan rasanya tidak mungkin jika Aletha akan berjalan kaki menuju rumah utama, sedangkan jarak gerbang ke rumah itu sangatlah jauh. Harap maklum saja, yang namanya orang kaya jelas berbeda.
“Assalamu'alaikum,”
“Wa'alaikumsalam,” balas Mama Nina bersamaan dengan Laura.
Aletha langsung meraih tangan Mama Nina untuk salim. Dan sedangkan kepada Laura, Aletha lebih memeluknya meskipun tubuh Aletha harus sedikit menundukkan.
“Alhamdulillah ... akhirnya kamu mau kesini juga, Al. Mama kangen sama kamu dan Mama selalu mengkhawatirkan kandungan kamu itu.” Ujar Mama Nina yang jelas merasa khawatir.
“Iya, Al. Lebih baik kamu tinggal disini saja, akan lebih nyaman dan terawat nantinya. Sekaligus... menemani kami saat waktu renggang, tidak mungkin juga jika kamu akan terus berada di ruang operasi dengan perutmu yang semakin kentara nantinya. Iya, kan.”
__ADS_1
“Baiklah, aku akan tinggal disini. Tapi... kalau kandungan aku sudah lima bulan. Kan, sudah pasti sedikit membuncit.”
“Hmm... sama saja itu, Al.”
Aletha tertawa saat melihat wajah Laura yang nampak kesal. Tapi bagi Aletha itu adalah pilihan yang terbaik untuk menanti Keenan kembali setelah tiga bulan beradu nyawa saat menjalankan misinya.
Aletha sejenak merebahkan tubuhnya yang merasa lelah di atas ranjang kamarnya. Dan ia mengedarkan pandangannya ke arah foto berbingkai di atas mejanya. Di mana gambar di dalam foto itu ada Keenan yang mau melakukan donor darah.
‘Andai saja jika waktu itu kita tidak bertemu kembali, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku. Mungkinkah aku sudah menikah dan merajut cinta yang murni... atau akan terus menjadi perawan tua seumur hidup. Yang akan memegang terus prinsip mengadopsi anak.’
Entah di jam berapa Aletha sudah terpejam dan masuk ke dunia mimpi. Malam itu Aletha memutuskan untuk bermalam di rumah Bagas Kara, karena ia merasa kesepian di kala malam. Namun, hal itu hanya dilakukan semalam saja, sebagai pelipur hati saat rindu tidak bisa terobati dengan pertemuan.
“Dreettt... Dreettt...”
Handphone Aletha bergetar, panggilan masuk dari rumah sakit Siloam hospitals. Dengan segera Aletha menerima panggilan itu, karena rumah sakit diyakini membutuhkan bantuan darurat.
“Halo, assalamu'alaikum, Sus...”
“Wa'alaikumsalam, Dok. Saya ingin memberitahukan bahwa ada pasien pindahan dari rumah sakit lain. Dan pasien atas nama pak Bayu harus segera di operasi, jika tidak maka jantungnya tidak bisa berfungi dengan normal.” Terang suster itu melalui udara.
“Baiklah kalau begitu, saya akan segera datang ke rumah sakit.”
Aletha mengakhiri obrolan itu. Segera mungkin Aletha harus sampai di rumah sakit sebelum pukul sebelas malam. Dan Aletha tidak mungkin jika meminta ijin kepada Mama Nina atau yang lainnya, jika ingin terlebih dahulu maka dapat dipastikan mereka tidak akan memgijinkan. Sedangkan Aletha bisa dibilang dokter utama yang bisa menangani pasien dengan baik, itupun di atas kuasa Tuhan.
“Ada-ada saja, orang masih ngantuk dan rasanya... malas sekali aku ke rumah sakit. Tapi apalah dayaku, ini adalah tugas yang harus aku jalani sesuai sumpah yang kuucapkan dulu. Apalagi aku sudah mendapatkan pengalaman saat menjadi dokter relawan.”
Aletha segera menuju ke ruangnya, karena data pasien yang bernama pak Bayu sudah berada di atas meja ruangannya. Dan Aletha perlu meneliti kembali data serta kondisi jantung pak Bayu tersebut.
“Bagaimana, Dok. Apa kita perlu melakukan tindakan operasi malam ini juga?” tanya suster memastikan.
“Kamu benar, Sus. Kita memang harus melakukan tindakan operasi, jika tidak maka jantung pak Bayu akan rusak dan berhenti bedetak saat itu juga.”
Suster itupun mengangguk, mengerti apa yang dikatakan Aletha. Dan seketika suster itu bergerak untuk menyiapkan ruang operasi beserta peralatan yang memang diperlukan untuk menjalani operasi.
“Bismillahirrahmanirrahim...” Aletha memejamkan mata sejenak lalu berdo'a sebelum memulai pembedahan.
Setelah usai melangitkan do'a Aletha meminta suster untuk memberikan pisau bedah dan melakukan sayatan di bagian dada pasien. Dengan ketajaman mata dan penuh konsentrasi Aletha menangani kasus kanker jantung. Meskipun di operasi jantung itu tidak akan bisa bertahan lama untuk tetap berdetak, hanya sekitar lima tahun bisa bertahan hidup, kecuali di atas kehendak Tuhan.
“Alhamdulillah, kerja yang bagus untuk malam ini. Dan kalian bisa melanjutkan sisanya. Aku mau... ke toilet sebentar.”
Aletha segera mencuci tangannya dengan sabun agar tangannya bisa bersih, setelah itu mengganti pakaian di ruang ganti. Karena terlalu darurat Aletha sampai tidak memperhatikan penampilannya. Di mana ia hanya memakai baju tidur dengan lengan dan celana panjang lalu hijab persegi empat dengan merk bella squer menempel di atas kepalanya.
‘Astaghfirullah hal azim... kebodohan apa ini, Al?’ batin Aletha.
Aletha menepuk jidat nya karena telah melakukan kesalahan yang membuatnya malu. Karena sedari tadi ada setiap mata yang memandanginya. Namun, ia tidak memperdulikan akan hal itu.
“Aku begitu mengantuk rasanya. Aku pulang saja kalau begitu.”
Aletha memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Bagas Kara. Karena ia takut jika Mama Nina akan mengkhawatirkan dirinya jika saja Mama Nina membuka pintu kamarnya untuk memastikan keberadaanku. Dan hal itu sudah sering dilakukan Mama Nina.
“Hah, ada orang kecelakaan itu?”
Aletha menghentikan mobilnya saat melihat ada seorang perempuan yang tergeletak tepat di depan mobilnya. Dan malam itu jalan dalam keadaan sepi, sehingga begitu mudah untuk para komplotan penjahat menyerang Aletha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ku berikan separuh nafasku untukmu bernafas. Tetaplah berjuang demi terciptanya kembali sebuah pertemuan. Aku tahu... kamu mendengar suara hatiku.”
“Tes...”
“Tes...”
__ADS_1
Air mata meluruh begitu saja saat pelupuk mata tidak mampu membendung nya lagi.
Bersambung...