Lentera Cinta

Lentera Cinta
45. Terlambat


__ADS_3

Nathan baru saja kembali dari mushola, saat seorang perawat mendekatinya. "Ada apa sus?"


"Ibu Ayunda sudah sadar. Sekarang sedang diperiksa semua tanda vitalnya, jadi belum bisa dipindahkan. Kalau sudah kuat, bapak boleh masuk"


Sebuah senyum mengembang diwajah Nathan, membuat wajah tampan itu kembali bersinar. Perawat dihadapannya mendapatkan rezeki yang tidak terduga, seorang Nathan yang dia cukup tahu tidak mudah tersenyum pada siapapun, kini tersenyum padanya.


"Terima kasih" Nathan mejawab singkat.


"Iya, pak. Sama-sama. Saya permisi dulu." ucap perawat itu lalu meninggalkan Nathan.


Nathan kembali berdiri dan melihat Ayunda dari balik kaca, yang kini di dekati beberapa orang yang memeriksanya.


"Bagaimana keadaan Ayunda" suara Dariel memalingkan pandanganya yang terus memperhatikan Ayunda.


"Sudah sadar, masih diperiksa" jawab Nathan singkat sambil menyuruh Dariel melihat sendiri keadaan Ayunda menunjuk dengan dagunya.


"Aku dan Lisa membawakanmu makanan. Ini sudah waktunya makan malam. "Dariel mengajak Nathan untuk duduk di bangku dimana sudah ada Alisa yang menyiapkan makan malam mereka.


Nathan mengikuti Dariel, cacing diperutnya memang sudah menagih untuk diisi.


"Bagaimana kasus Luna? Apa tetap tidak ada bukti kalau dia otak dari kecelakaan yang dialami Ayunda?" tanya Nathan setelah dia menghabiskan makanannya.


"Kami memiliki bukti, tapi bukan kasus kecelakaan, melainkan percobaan pembunuhan dengan menyuntikkan racun" jawab Dariel yang sontak membuat Nathan terkejut.


"Malam saat Luna datang kerumah sakit, dia membawa suntikan yang berisi racun. Untung saja Pak Nathan cepat kembali kekamar saat itu" kini Alisa yang menjelaskan.


"Ayunda yang melihat suntikan itu ada dilantai, mungkin terjatuh saat Pak Nathan mengagetkannya. Ayunda meminta saya menyimpanya, mungkin saja itu diperlukan, ternyata Ayunda benar, bukti ini sangat dibutuhkan."

__ADS_1


"Tapi saya tidak melihat Luna memegang suntikan" jawab Nathan setelah mencoba menginggat kejadian kemarin malam.


"Mungkin saja dilempar Luna, saat dia mendengar pintu terbuka" Alisa mengucapkan apa yang dia pikirkan. Dia menghembuskan nafas kasar, kembali mengingat kejadian semalam saat Ayunda merasa banyak orang yang benci padanya dan menginginkannya mati.


"Ada apa?" Nathan yang bertanya, dia menyadari pasti ada sesuatu yang dia lewatkan, dengan melihat wajah Alisa yang berubah seketika setelah membahas Luna.


"Ayunda semalam depresi" jawaban Alisa kali ini benar-benar tidak dapat dipercaya Nathan. Saat meninggalkan Ayunda dia melihat gadis kecilnya itu terlihat baik-baik saja.


"Apa yang terjadi?"


Alisa akhirnya menceritakan kembali, apa yang terjadi dengan Ayunda sampai dia meminta Dokter Erick untuk datang memeriksa Ayunda.


"Kenapa kamu tidak mengabari saya atau El?" wajah Nathan kini tampak tidak senang mendengar Alisa menyebut nama Erick.


"Maaf pak, saya tidak mau mengganggu pekerjaan Bapak dan Pak El. Soal Dokter Erick, karena dia dokter yang selama ini merawat Ayunda" jawab Alisa gugup. Bagaimana dia tidak gugup, wajah Nathan benar-benar tidak bersahabat.


"Bagaimana keadaan Ayunda?"


Perawat yang tadi menemui Nathan kembali mendekat. "Bapak atau Ibu ada yang mau bertemu Ibu Ayunda? Boleh masuk sebentar. Tapi ibu Ayundanya masih belum bisa bicara."


Nathan mempersilakan Mama Mira yang terlebih dulu masuk, bagaimanapun wanita itu lebih behak dari pada dirinya, walau sebenarnya dia ingin sekali segera betemu dan bicara pada Ayunda. Terlebih lagi setelah mendengar cerita Alisa.


"Segera selesaikan urusan Luna, aku tidak ingin dia masih bisa berkeliaran ketika Ayunda sehat. Kita tidak tahu apalagi yang akan dilakukannya nanti" Nathan bicara dengan Dariel. Mereka hanya duduk berdua. Alisa berdiri di depan kaca melihat Ayunda dan mamanya yang sedang berbicara, tepatnya hanya mamanya yang bicara, karena Ayunda masih memakai alat bantu pernapasan.


Kekesalan Nathan tentang Erick yang dihubungi Alisa tidak beralasan, dia tahu itu. Alisa tidak salah, karena kehadiran Erick sebagai dokter sangat membantu kesehatan Ayunda. Hanya saja rasa cemburu yang membuatnya tidak suka dengan kehadiran Erick, terlebih lagi sampai saat ini Ayunda belum menerima pernyataan cintanya.


Bukan Erick yang harus Nathan waspadai, tapi sepupunya, Kevinlah yang seharusnya dia awasi, bisa saja Kevin menginginkan kembali pada Ayunda. Apalagi dia memutuskanya karena paksaan dan sampai saat ini masih mencintai Ayunda. Itu yang dikatakan Ibu Siska, mamanya sendiri.

__ADS_1


Mungkin saja Ayunda juga masih mencintai Kevin, karena itu sampai saat ini Ayunda belum bisa menerimanya. Memikirkan itu membuat Nathan menghembuskan nafas kasar. "Sepertinya harus berjuang lebih keras lagi" batin Nathan sambil menggelengkan kepalanya.


"Nathan sebaiknya pulang dan istirahat dirumah, biar tante saja malam ini yang jaga" ucap Mama Mira yang duduk mendekati Nathan yang tampak kusut.


Mama Mira merasa kasihan pada putra sahabat suaminya ini. "Besok kamu harus bekerja, jadi sebaiknya malam ini istirahat"


Nathan menuruti permintaan Mama Mira setelah meyakinkan Mama Mira akan baik-baik saja sendiri menjaga Ayunda. Sebenarnya dia ingin bekeras untuk tetap menjaga Ayunda, tapi Dariel mengingatkan kalau besok pagi ada pertemuan penting yang tidak boleh dia lewatkan atau diwakilkan oleh siapapun.


Dengan berat hati Nathan meninggalkan rumah sakit, setelah dia pamit pada Ayunda. Sebelumya, dia sedikit meminta pada perawat untuk mengijinkannya bicara walau hanya satu kata pada gadis kecilnya. Karena tidak sembarang orang diijinkan untuk masuk menemui pasien. Bukan hanya satu kata yang diucapkannya, tapi dia mengucapkan banyak kata.


"Ra, malam ini mama yang jaga, tidak apa-apakan?" tanyanya, yang dijawab Ayunda dengan mengedipkan mata kalau dia mengijinkan.


"Sebenarnya, Mama mu yang memaksa aku pulang. Mama memintaku istirahat malam ini." adunya pada Ayunda, agar gadis kecilnya mengerti, kalau sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Ayunda.


"Besok aku datang lagi, kamu jangan memikirkan yang lain, cukup pikirkan aku saja" Nathan terkekeh dengan ucapannya sendiri, sementara Ayunda tetap diam tanpa mengedipkan matanya tanda dia setuju dengan ucapan Nathan.


Nathan pamit dengan mengecup kening Ayunda "Jangan lupa, mimpikan aku" bisik Nathan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Semua akan baik-baik saja" Nathan yang melamun memalingkan wajahnya menatap Dariel, sahabatnya yang selalu setia yang saat ini rela jadi supir pribadinya juga.


"Semoga" jawab Nathan singkat.


Dapat menemukan kembali gadis kecilnya membuat Nathan bahagia, namun menghadapi sikap Ayunda yang masih ragu menerimanya cukup membuatnya terluka. "Menurutmu Kevin itu seperti apa?"


"Maksudnya?" tanya Dariel kembali, karena tidak mengerti pertanyan Nathan.


"Pribadinya" jelas Nathan.

__ADS_1


"Apa karena Ayunda pernah mencintai Kevin?" tanya Dariel lagi. Nathan hanya diam. Memikirkannya hanya membuatnya semakin kesal. Kesal terlambat mengambil hati Ayunda terlibih dahulu. Padahal dia sudah diberi kesempatan dipertemuan pertama mereka. Sikap egoisnya yang membuat Ayunda lepas saat itu.


...*******...


__ADS_2