
Selesai mendaftarkan jadwal operasi, Ayunda dan Alisa kembali kekantor sementara Erick menemui Mama Mira di toko kuenya sepulang pratek.
Mira menangis setelah Erick menjelaskan kondisi putrinya, sungguh berat perjuangan putrinya dalam menjalani kehidupan ini. Tapi dia sadar kalau dia harus kuat dan memberikan semangat pada Ayunda.
"Kita doakan semoga semua baik-baik saja bu" ucap Erick menenangkan Mira.
"Terimakasih dok, dokter sudah sangat baik dengan keluarga kami" jawab Mira yang benar-benar bersyukur, kalau saja bisa dia sangat ingin Ayunda bejodoh dengan orang baik seperti Erick.
Dua hari berlalu, Ayunda tetap bekerja walau sudah diminta Mama Mira untuk istirahat saja dirumah.
"Ijin cuitinya baru bisa keluar besok ma" jelas Ayunda mengapa hari ini dia masih bersiapa-siap akan ke kantor.
Sejak tahu mata Ayunda bermasalah, Alisa setiap hari rela menjadi sopir untuk Ayunda, dia akan menjemput Ayunda setiap pagi dan berangkat bersama kekantor.
"Untung saja kantor kita sama Nda, jadi aku tidak terlihat benar-benar seperti sopir buat kamu" cakap Alisa ditengah perjalanan mereka kekantor sambil terkekeh.
"Terima kasih Lis" hanya itu yang Ayunda bisa ucapkan, sahabatnya sudah banyak membantunya selama ini walau yang di ucapkan Alisa adalah kata-kata untuk menghiburnya.
Mereka sudah sampai di perusahaan dan duduk dimeja kerja mereka masing-masing. Ayunda sedang menyelesaikan pekerjaannya, dia harus menyiapkan semua jadwal Nathan setelah dia kembali dari kunjungannya, hari ini juga harus selesai sebelum dia ijin cuti besok.
dreett.. dreett... telpon genggam Ayunda bergetar menadakan sebuah pesan masuk. Nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan pada Ayunda.
"Aku tunggu kamu makan siang di restoran depan perusahaan. Luna" pesan dari Luna.
"Ada keperluan apa? saya sibuk" jawab Ayunda.
"Tidak perlu banyak tanya datang saja, atau aku akan melakukan sesuatu padamu" Luna sedikit mengancam.
"Baiklah" balas Ayunda, bukan karena ancaman dari Luna, tapi dia sudah lama tidak makan siang disana, tidak ada salahnya menerima ajakan Luna.
Waktu makan siang tiba, saatnya Ayunda menemui Luna. Tidak lupa Ayunda mengirimkan pesan pada Alisa kalau dia tidak bisa makan siang bersamanya, untung saja Alisa sedang ada pekerjaan diluar kantor.
"Sepertinya ini benar-benar sudah terencana dengan baik" gumam Ayunda setelaha Alisa mengabarinya.
__ADS_1
"Ibu Ayunda mau makan siang diluar?" tanya seorang satpam yang cukup akrab dengan Ayunda.
"Iya pak, ada teman saya di restoran seberang sedang menunggu" jawabnya.
"Baiklah hati-hati bu" ucap satpam itu, dia merasa sesuatu akan terjadi pada Ayunda.
Ayunda menggangguk sambil menuruni dua anak tangga yang ada diluar loby perusahaan Adhipramana Group, dia sudah berada dipinggir jalan dan tepat di depan Zebra cross. Matahari cukup bersahabat dengannya, sinarnya tidak terlalu terik membuat Ayunda nyaman berdiri disana.
Namun kenyamanannya terganggu saat dia merasa pandanganya memudar, kepalanya tidak sakit tapi pandanganya tiba-tiba saja gelap, merasakan sesuatu menabraknya dan mebuatnya membentur sebuah tiang. Ayunda dapat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidung dan mulutnya, lalu mendengar suara orang-orang ramai berteriak satu yang sangat jelas orang itu memanggilnya Rara.
"Papa..." panggil Ayunda saat dia mengenali sosok Papa Richad berdiri di hadapannya "Papa mau jemput Rara ya pa" Papa Richad hanya tersenyum lalu pergi meninggalkannya.
"Ra.... Rara... Rara sayang buka matamu" suara Nathan yang memanggilnya terdengar sangat jelas.
Nathan tidak dapat tenang saat mendengar kabar Ayunda ditabrak seseotang, dia segera membatalkan kunjungannya kekantor cabang dan langsung kembali ke Jakarta.
"Nathan duduklah" Ibu Siska meminta Nathan untuk duduk, sejak sampai di Jakarta dua hari lalu sampai hari ini Nathan seperti orang yang hilang kendali melihat Ayunda dipenuhi alat-alat medis.
"Ma... sudah dua hari Ayunda tidak sadarkan diri" jawabnya sambil mengikuti perintah Ibu Siska.
Perasaannya semakin kacau setelah mendengar penjelasan Mama Mira dan Alisa tentang tumor otak yang diderita Ayunda.
"Keluarga pasien Ibu Ayunda" perawat memanggil.
Nathan langsung berdiri menghampiri perawat, karena saat ini hanya dia dan Ibu Siska yang menjaga Ayunda, sementara Mama Mira di minta Nathan pulang kerumah untuk istirahat.
"Saya sus" jawab Nathan setelah berjalan mendekati perawat tersebut.
"Ibu Ayunda sudah sadar kalau bapak ingin melihatnya" berita yang dibawa perawat itu membuat rasa lega dihati Nathan dan seketika terlukis senyum diwajahnya.
Nathan masuk setelah dia diseterilkan dan menggunakan pakaian lengkap untuk masuk keruang ICU.
"Hai... kamu sudah sadar Ra, aku mencemaskanmu, jangan seperti ini lagi" ucapnya sambil menahan bulir-bulir kristal yang sudah penuh dimatanya.
__ADS_1
"Jangan pernah menutupi apapun lagi dariku, aku akan selalu ada bersamamu" pinta Nathan sambil mengenggam tangan Ayunda.
"Aku tidak bisa lama-lama didalam sini, tapi aku selalu menunggumu diluar" jelas Nathan pamit pada Ayunda sambil mengecup keningnya. "I love you" bisiknya lalu berjalan keluar ruangan.
Dua hari berlalu, Ayunda sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap. Mama Mira saat ini yang menjaga Ayunda, dia berjalan membukakan pintu setelah mendengar ada seseorang yang mengetuknya.
"Kevin" ucapnya terkejut saat menyadari siapa yang datang.
"Apa boleh saya menjengguknya Ma" pinta Kevin.
"Tentu saja, masuklah" Mama Mira memundurkan langkahnya memberi jalan pada Kevin untuk masuk.
"Nda... Maaf baru bisa menjengukmu hari ini" Kevin menyerahkan bunga mawar putih yang dibawanya pada Ayunda, dia sangat tahu bunga yang sangat disukai Ayunda.
"Terimakasih Kev, kau masih ingat bunga kesukaanku" Ayunda mencium bunga itu seperti yang biasa dia lakukan.
"Aku selalu ingat segala tentangmu, maaf kan aku" Kevin meremas jemari Ayunda memohon maaf padanya.
"Aku sudah memaafkan mu Kev, aku sudah tahu mengapa kamu melakukan itu semua" Ayunda tersenyum, dia kembali ingat saat bertemu dengan wanita yang disewa Kevin untuk berpura-pura jadi kekasihnya dan menjelaskan kalau semua direncanakan Kevin.
"Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu" Ayunda tulus mengatakannya.
Kevin melakukan semua karena tidak ingin Ayunda celaka, ayah Kevin mengancam akan menghabisi nyawa Ayunda bila Kevin tetap berhubungan dengan Ayunda.
Ayunda pernah akan ditabrak seseorang atas perintah ayah Kevin, untung saja saat itu Kevin dengan cepat menyelamatkan Ayunda. Kevin tahu itu perbuatan Ayahnya, karena itu saat ayahnya mengancam akan menghabisi Ayunda dia harus mengikuti keinginan ayahnya, tidak ingin sesuatu yang berbahaya terjadi lagi pada Ayunda.
Sayangnya apa yang dia lakukan membuat Ayunda kecelakaan dan tidur panjang, masuk ke dunia lain bertemu dengan orang-orang baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sekarang gadis yang dicintainya terkena tumor dan tidak dapat diketahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Yunda... aku selalu mencintaimu. Ijinkan aku menebus kesalahanku dengan tetap berada disampingmu, menjaga dan merawatmu" pinta Kevin.
"Aku senang mendengar kamu masih mencintaiku Kev, walau aku marah cintaku untukmu tidak pernah hilang. Tapi jangan sia-siakan waktumu untuk terus bersamaku, turuti keinginan ayahmu" Ayunda membalikkan badanya, dia tidak ingin Kevin melihatnya menangis.
Lima tahun kebersamaan mereka bukanlah waktu yang sedikit, tidak pernah ada kata ribut atau bertengkar dalam hubungan mereka, semua indah dan sulit untuk dilupakan.
__ADS_1
"Aku pulang, aku doakan opersainya berjalan lancar dan kamu bisa kembali bahagia" Kevin pamit, dia tahu Ayunda sudah tidak ingin lagi bicara dengannya.
...*****...