Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 8 Arra dan Ben


__ADS_3

2 minggu telah berlalu, pembelajaran sudah mulai aktif dijalankan. Arra benar benar mempersiapkan segalanya kali ini, karena ia ingin berhasil lulus disekolah yang ia dambakan ini. Arra juga ingin membuat kenangan indah di Amerika selama sekolah juga selama tinggal disini.


Hari ini ada pengumuman mengenai organisasi sekolah baru untuk kelas bawah. Mendengar hal itu tentu saja Arra ingin ikut serta dalam anggota keorganisasian. Arra ingin mengajak Reiva dan Erika untuk bergabung juga dalam anggota organisasi sekolah. Namun mereka tidak tertarik akan hal itu. Jadi, Arra datang mencalonkan sendiri ke ruang organisasi.


Sesampai nya disana, Arra tercengang karena melihat begitu banyak nya siswa siswi yang datang untuk ikut serta dalam anggota organisasi sekolah. Arra merasa kebingungan karena ia hanya datang sendirian tanpa satu orang teman pun. Ia berusaha masuk melewati sekumpulan orang orang di depan nya. Namun Arra tetap saja tidak bisa melewati nya. Tiba tiba Arra terdorong dari belakang hingga ia terjatuh.


"Aww sakit...." Arra merasa kesakitan karena lututnya berdarah mengenai lantai.


Arra hampir saja ingin marah terhadap orang yang mendorongnya tadi, tapi ia tidak dapat menemukan orang di belakangnya.


"Ze?? Apa yang terjadi? Apa kau baik baik saja?" sontak Arra terkejut melihat Ben tiba tiba ada di depannya yang sedang mengkhawatirkan dirinya.


"Ben?.. Aku.. Aku baik baik saja.."


"Ze lutut mu terluka! Apa kau masih bilang baik baik saja?" Ben benar benar mencemaskan Arra.


"Ini.. Hanya sedikit berdarah kok, aku tidak apa apa.." Arra berusaha menyakinkan Ben, namun apalah daya ketika ia berusaha bangun ia hampir terjatuh. Namun Ben masih sempat menangkap Arra.


"Tuh kan.. Lebih baik kamu ke UKS sekarang! Aku akan membawamu kesana!" tanpa basa basi Ben langsung menggendong Arra menuju UKS. Arra memberontak berusaha agar Ben tidak menggendong nya, namun Ben benar benar keras kepala.


"Ben! Apa yang kamu lakukan? Ini... Aku masih bisa berjalan sendiri kok! Kamu tidak perlu menggendong ku seperti ini Ben!!" lagi lagi Ben tidak mendengarkan Arra berbicara. Ia tetap menggendong Arra menuju UKS.


"Sudah sampai.. Aku akan mengobati lukamu Ze" Ben mengambil beberapa obat luka dan mengoleskan nya ke lutut Arra yang berdarah.


"Aww sakit.. Ben aku.. Aku bisa mengoleskan nya sendiri.." muka Arra memerah karena Ben yang begitu khawatir dan peduli padanya.


"Tidak apa Ze, aku akan melakukannya untukmu. Aku tidak bisa membiarkan mu melakukannya sendiri" dengan lembut Ben mengoleskan obatnya ke lutut Arra.


"Apakah selama ini aku keterlaluan kepada Ben? Aku bersikap kasar kepadanya, namun ia malah bersikap lembut dan peduli terhadapku. Aduh.. Aku merasa bersalah dan tidak enak hati kepadanya.." Arra bergumam dalam hatinya sambil merasa bersalah.


Ben selesai mengoleskan obat luka ke Arra. Ia menyuruh Arra untuk disini sementara waktu sampai lukanya sembuh. Namun Arra menolak karena ia tidak bisa meninggalkan jam pelajaran hanya karena luka kecil, Arra tidak pernah bolos sekali pun saat jam pelajaran semasa ia bersekolah.


"Tidak ku sangka kamu ternyata benar benar siswi teladan Ze. Aku salut padamu" Ben menjawab sambil tersenyum kepada Arra. Tentu saja itu membuat wajah Arra memerah.


"Ngg.. Haruskah aku minta maaf kepada Ben? Haruskah aku minta maaf karena aku bersikap kasar padanya? Haruskah aku minta maaf sekarang? Argh aku harus bagaimana sekarang?? Ben sudah menolongku hari ini!! Apa yang aku lakukan?" Arra masih memikirkan hal itu dalam benak nya sampai membuat Ben bingung dengan Arra.

__ADS_1


"Ze? Ada apa? Apa kau merasa sakit lagi?"


"Ah tidak.. Aku hanya..." Arra benar benar gugup untuk meminta maaf kepada Ben.


"Kenapa?"


"..... Ben aku minta maaf" Arra terkejut dengan dirinya sendiri yang langsung berkata seperti itu.


"Eh? Minta maaf? Kenapa?"


"Ben.. Aku benar benar minta maaf kepada mu. Aku sudah bersikap kasar kepadamu sejak awal kita bertemu. Aku benar benar minta maaf Ben. Aku selalu bersikap kasar kepadamu namun kau malah bersikap lembut kepadaku. Aku benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana kepadamu Ben.." Arra menjelaskan secara terus terang kepada Ben.


Tentu saja hal itu membuat Ben terkejut. Ia senang akhirnya Arra tidak bersikap kasar lagi kepadanya. Ia benar benar senang karena usahanya berhasil membuat Arra tidak marah lagi ketika bertemu dengannya.


"Kau tahu Ze? Aku tidak pernah marah saat kau bersikap kasar kepadaku. Aku hanya ingin hubungan masa kecil kita masih dapat berlanjut Ze. Kau tidak berhutang maaf kepadaku.." senyum Ben membuat muka Arra semakin memerah dan malu. Ia tidak menyangka bahwa teman masa kecilnya ternyata begitu baik dan peduli padanya.


Selesai berbincang bincang di dalam UKS, Ben dan Arra pun segera menuju ke kelas. Jam pelajaran selanjutnya hampir tiba. Tiba tiba saja Arra ingat bahwa dirinya harus segera ikut mendaftar ke ruang organisasi. Namun karena tadi ada sedikit kecelakaan, Arra belum mendaftarkan diri disana.


"Ah gawatt!!! Apa yang aku lakukan? Pendaftaran terakhir adalah hari ini!!" Arra berhenti berjalan sambil mengacak acak rambutnya.


"Ze? Kau kenapa?" tanya Ben yang kebingungan melihat Arra seperti gelisah.


"Maksudmu pendaftaran anggota baru organisasi sekolah? Jangan khawatir, aku sudah mendaftarkan dirimu disana." Arra benar benar terkejut dengan apa yang Ben katakan.


Ben sudah mendaftarkan Arra ke dalam organisasi sekolah yang ia dambakan. Padahal Arra sama sekali tidak pernah memberitahu Ben bahwa ia ingin bergabung dalam organisasi.


"Ba bagaimana kamu tahu aku ingin mendaftar ke organisasian sekolah?" Arra masih benar benar tidak percaya.


"Itu... Karena aku memperhatikan mu selama ini. Lalu aku mendengar bahwa kau ingin ikut serta dalam organisasi sekolah, namun teman teman mu tidak ada yang minat. Jadi aku langsung bergegas ke ruang organisasi untuk mendaftarkan dirimu disana" Arra masih tidak menyangka bahwa Ben telah melakukan semuanya.


"Kau.. Memperhatikan ku setiap hari?"


"Ee.. Iya. Maaf kan aku Ze, aku hanya ingin mengetahui tentangmu lagi"


Ben sudah membantu dan bersikap baik padaku, bagaimana mungkin aku akan marah terhadap nya. Tak ku sangka ternyata Ben memiliki sifat yang begitu lembut.

__ADS_1


"Ben.. Terimakasih, kamu telah banyak membantuku hari ini. Aku benar benar tidak tahu harus membalasmu dengan apa"


"Tidak masalah, aku hanya punya 1 syarat jika kamu ingin membalas kebaikan ku"


"Syarat? Syarat apa?"


"Jadilah pacarku Ze"


"Apaaa???"


"Haha tidak, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin kita berteman seperti dulu lagi Ze. Kamu bersedia?"


"Mm yah aku bersedia. Kamu sudah membantu ku, bagaimana mungkin aku tidak mau menjadi teman mu" Arra dan Ben tersenyum saling bertatapan. Mereka akhirnya bisa berdamai. Tapi, benarkah Ben teman masa kecil Arra? Namun, Arra juga mengingat bahwa ia pernah berteman dengan seorang laki laki dalam ingatannya. Mungkin saja itu Ben.


"Tadi.. Ben bilang ia ingin aku menjadi pacarnya tapi ia bilang ia hanya bercanda. Namun kenapa aku merasa ada yang aneh. Apakah mungkin yang dikatakan Aria benar bahwa Ben menyukai ku? Argh kenapa aku memikirkan hal ini.." pikiran Arra menjadi kacau setelah Ben mengatakan hal bercandaan nya kepada Arra.


*********


Semua pelajaran akhirnya selesai, tiba saatnya untuk pulang. Selama pembelajaran berlangsung, Arra sedikit tidak fokus karena apa yang telah Ben lakukan padanya hari ini. Reiva dan Erika sangat terkejut ketika melihat Arra dan Ben masuk kelas secara bersamaan.


"Hey Arra, tadi kau masuk kelas bersamaan dengan Ben loh. Apakah ada yang terjadi denganmu dan Ben? Hehe ayo ceritakan kepadaku" Reiva menggoda Arra karena ia merasa Arra paling mudah dijahili tentang laki laki.


"Reivaa!! Tidak ada yang terjadi dengan ku juga Ben!" jawab Arra dengan kesal dan malu.


"Eh Arra.. Apa yang terjadi dengan lutut mu? Apa kau baru saja terluka?" tanya Erika sambil melihat ke arah lutut Arra.


"Ah ini... Tadi sewaktu pergi ke RO (Ruang Organisasi) aku merasa seperti ada orang yang mendorongku, lalu aku terjatuh hingga lutut ku berdarah. Tapi aku sudah tidak apa apa kok" balas Arra sambil menyakinkan teman temannya agar tidak khawatir.


"Benarkah? Syukurlah kalau tidak apa apa" balas Erika.


"Lalu kenapa kau dan Ben bisa kembali ke kelas bersama? Pasti sda sesuatu yang menarik sudah terjadi, hehe..." Reiva masih saja curiga.


"Mmm sebenarnya, Ben yang membantuku mengobati luka ku. Dia menggendong ku sampai ke UKS lalu mengambil obat dan mengoleskan nya untuk ku"


"Apaa? Ben menggendong mu??" Reiva dan Erika terkejut.

__ADS_1


"Wah aku tidak menyangka ternyata Ben begitu baik" balas Reiva.


"Awalnya aku tidak menyangka namun jika dilihat lihat, Ben adalah orang yang berhati baik dan lembut. Aku kira dia adalah orang yang berkepribadian buruk. Mungkin sekarang waktunya aku untuk percaya padanya" pikiran Arra kini dipenuhi oleh Ben. Entah apa yang Arra akan lakukan setelahnya dengan Ben.


__ADS_2