
“Aku akan tetap mencintaimu... makhluk yang sudah ditakdirkan sebagai jodohku. Andai kata kita dipisahkan kembali... jawaban itupun akan tetap sama. Wakafa billahi syahida, cukuplah Allah sebagai saksi cinta itu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Garda pun tergoda, ada hasrat yang sudah lama dipendam nya dan saat ini ingin dilepaskan walaupun hanya sekedar melakukan kecupan di bibir.
“Brak...”
Saat adegan itu masih berlanjut tiba-tiba pintu ruangan telah dibuka. Hingga membuat Aletha, Keenan, Garda dan Laura terkejut bahkan gelagapan dengan posisi yang tidak bisa dibayangkan.
“Maaf, charger Larisa ketinggalan...” pekik Larisa saat tahu adegan yang masih setengah main.
Dengan terburu-buru Larisa segera meraih charger miliknya yang masih berada di atas meja ruangan itu, lalu Larisa segera keluar dan menetralkan detak jantungnya yang masih berdebar sangat kencang dan tidak berirama.
Keenan, Aletha, Garda dan Laura seketika tertawa, tidak menyangka jika yang masuk itu tak lain Larisa, anak remaja yang masih dalam pertumbuhan tentang hal cinta.
“Bagaimana, Neng? Bisa tidak jika Aa pulang saja? Bosan tiduran terus di sini, tidak leluasa.” Keenan pun merajuk.
Aletha menggeleng saja melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil, dan Aletha bagaikan mengurusi anak keduanya saja. Harus ekstra sabar dalam menghadapi keinginan Keenan. Dan hingga akhirnya hati Aletha luluh lantah juga dengan godaan terbesar dari Keenan.
“Kenapa kita kesini, Neng? Apa... Neng tinggal di sini selama Aa bertugas?”
“Emm... iya, Aa. Neng tinggal di sini tetapi Neng tidak sendiri. Di dalam ada Bu Laila, ibu dari... kak Fajar.” Aletha menundukkan pandangannya, ia merasa takut jika saja Keenan akan marah karena sudah menyebut nama Fajar di depannya.
“Jangan bersedih ataupun merasa takut seperti itu, Neng. Tidak apa lagi jika Neng akan menyebut seribu kalipun nama Fajar di depan Aa. Hati Aa sudah kebal setelah Neng menerima Aa di Port de Peche, Pirogue.” Keenan mengembangkan senyum setelah jari telunjuknya mengangkat dagu Aletha.
Pelukan seketika dilayangkan oleh Aletha. Dan Keenan membalas pelukan itu bahkan semakin mengeratkan pelukan di antara mereka. Rasanya enggan untuk melerai nya, keduanya sukses melepas rindu hingga mengikis jarak dan tidak tersisa lagi.
“Aa akan tetap mencintai Neng... makhluk Allah yang sudah ditakdirkan sebagai jodoh Aa. Andai kata kita dipisahkan kembali... jawaban itupun akan tetap sama. Wakafa billahi syahida, cukuplah Allah sebagai saksi cinta itu.” Keenan melerai pelukannya.
“Neng akan melakukan hal yang sama, ana uhibbuki fillah.”
__ADS_1
“Ahabbatalladzi ahbabtani lahu. Semoga Allah mencintaimu dan Dia lah yang membuat engkau mencintaiku, karenanya.”
Keenan merengkuh jemari Aletha dan membawa Aletha masuk ke dalam rumah, tak sabar rasanya jika Keenan tidak segera bertemu dengan pelita nya.
Sebelum masuk tidak lupa Keenan dan Aletha mengucapkan salam, tidak lama kemudian dari dalam ada sahutan tak lain adalah suara Bu Laila.
Bu Laila yang merasa yakin jika itu Aletha dan Keenan ia segera membuka pintu dengan menyambut hangat kedatangan mereka yang memang sudah di nanti.
“Nak Aletha, Nak...” Bu Laila membukatkan kedua bola matanya dan seakan mencoba mengingat nama Keenan dalam pikirnya.
“Keenan, Bu. Bu Laila bisa panggil saya dengan Keenan,” sambung Keenan.
Setelah Keenan dan Bu Laila saling mengobrol, Bu Laila meminta Aletha untuk segera mengantarkan Keenan ke kamar dan istirahat. Karena Bu Laila tahu jika Keenan baru saja di rawat di rumah sakit. Bahkan wajah Keenan oun masih terlihat pucat.
“Aa istirahat saja kalau begitu, Neng mau bertemu Alina dulu.”
“Ah tidak, Aa juga mau bertemu sama Alina. Kan sudah dibilang Aa mau bertemu sama pelita Aa yang tidak kalah terangnya sama lentera.”
Saat Aletha dan Keenan hendak mencari keberadaan Alina yang memang belum terlihat oleh mereka tiba-tiba saja Rania mengantar Alina ke kamar Aletha.
“Kak, nih Alina nya aku kembalikan. Pasti sudah rindu, kan?”
Aletha meraih Alina ke gendongannya. Tetapi di sana Aletha tidak segera membiarkan Rania pergi, karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan dengan Rania tentang keberadaan Rania yang berada di rumah dan tidak sedang berlatih.
“Papa sengaja memberi Rania libur satu hari, Kak. Dan Rania besok siang harus dipindah tugaskan di Kalimantan Timur.” Terang Rania.
“Kenapa harus dipindah tugaskan, Rania?”
“Kakak tahu betul Rania ini seperti apa, tidak akan merasa tertantang jika tidak dalam medan bahaya. Bukankah kita sama, kak Aletha?”
Aletha benar-benar tidak menyangka jika Rania memiliki jiwa pemberani. Dan dengan kehadiran Rania yang memiliki sifat dan sikap sama dengannya, Aletha merasa lega karena Bagas Kara tidak akan menyesal untuk mewujudkan mimpi memiliki putri seorang prajurit sejati.
__ADS_1
Bukan hanya Aletha yang terkejut dengan jawaban Rania, melainkan Keenan juga merasakan hal sama. Di dalam hati tiada hentinya Keenan berdecak kagum.
Memang body tubuh Rania yang seimbang antara berat badan dengan tingginya membuat Rania terlihat menarik, bahkan sangat pas jika menjadi angkatan.
“Hebat, berjiwa muda dan pemberani. Siap-siap jika posisiku akan tergesar oleh wanita sepertimu, Rania.”
“Tidak, kak Keenan. Kak Keenan akan tetap menjadi Kapten yang patut diidolakan dan di tiru dengan kecerdikan, ketajaman mata, ahli dalam membidik musuh dan juga... ahli dalam mengikat wanita seperti kak Aletha.”
Tawa riuh pun seketika terdengar dari ketiganya, membuat Bu Laila merasa sangat bahagia mendapati Aletha yang berbahagia dengan keluarga kecilnya dan mendapati Rania yang dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Setelah memandikan Alina Keenan menemani Alina di bermain di atas kereta dorong nya Sedangkan Aletha, Rania dan Bu Laila sedang disibukkan di dapur. Mereka memasak bersama untuk acara makan malam nanti.
Aletha membantu memotong beberapa bawang merah dan bawang putih yang dijadikan bumbu dalam memasak seblak ceker. Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi yang harus Aletha potong. Sedangkan tugas Rania memotong sayuran nya.
“Aa... mandi dulu gih, Neng sudah siapin air hangatnya.” Aletha meraih Alina ke dalam. gendongannya.
“Mandiin sajalah, Aa masih tidak bisa gerakin tangannya.” Keenan memperlihatkan tangannya yang memang terluka karena goresan pisau yang amat tajam saat di sekap.
“Baiklah kalau begitu, Neng akan membantu Aa untuk mandi.” Putus Aletha kemudian.
Aletha mengembalikan Alina di kereta dorong nya lagi. Dengan beberapa mainan yang bisa dijangkau oleh tangan Alina membuat Alina cukup tenang.
Aletha membantu Keenan untuk melepaskan kancing bajunya. Setelah terlepas semua Aletha mengusap pelan seluruh tubuh Keenan dengan amat lembut. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ritual Keenan di dalam sana, cukup setengah jam saja.
“Neng, jika Aa ajak Neng berlibur ke Jembatan Faidherbe, bagaimana? Apa Neng mau?”
Keenan memberikan tawaran kepada Aletha saat Aletha memberikan obat oles untuk mengeringkan luka lebam di wajah Keenan dan juga di lengan Keenan.
Bersambung...
Maaf jika belum puas sama ceritanya di bab ini... kurang maksimal euy.
__ADS_1