Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 152 “Sudah Aman”


__ADS_3

“Menunggumu kembali itu sangatlah berat. Membuatku semakin resah tidak ketulungan, karena rinduku akan semakin bertambah saja.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah membantu Keenan ke kamar mandi kini Aletha yang berganti masuk dan membersihkan wajahnya yang lembab.


‘Alhamdulillah, rasanya segar sekali. Sekarang sholat dulu, setelah itu baru mengobrol sama Bu Laila. Rasanya aku rindu sama Alina.’


Keenan tersenyum saat mendapati Aletha kelaur dari kamar mandi. Membuat Aletha mengerutkan keningnya, karena tatapan dari Keenan pun dirasa sangat aneh.


“Aa kenapa menatap Neng seperti itu? Apa wajah Neng belum bersih ya?” tanya Aletha.


Keenan menggeleng saja, tetapi senyumannya tidak pernah luntur.


Aletha abai saja dengan tingkah Keenan, karena mengingat waktu subuh yang hampir habis Aletha lebih memilih untuk mengutamakan sholatnya terlebih dahulu ketimbang meneladeni Keenan. Bukan bermaksud menjadi istri durhaka pula, tapi sholat itu penting di mata Allah SWT.


Dua rakaat sudah selesai dilakukan oleh Aletha, setelah itu ia segera melipat mukena yang membalut tubuhnya dan juga sajadah kecil yang selalu dibawa kemanapun pergi.


“Aa, kita telpon Bu Laila yuk! Neng kangen sama Alina, kira-kira Dia sedang apa ya?”


“Terserah Neng saja, Aa sebagai ayahnya jarang sekali memiliki waktu bersamanya.” Keenan menunduk, merasa jika dirinya adalah ayah yang terpuruk dan tidak seperti ayah umumnya.


“Aa... Aa melakukan semua ini karena tugas negara. Jika bukan karena perintah yang harus dijalankan mungkin kita bisa bersama. Tapi... Alina pasti mengerti akan hal itu, bahkan Alina dan Bunda nya merasa bangga dengan ayah seperti Aa.” Aletha merengkuh jemari Keenan, lalu menatap Keenan dengan tatapan penuh cinta.


Keenan mengulas senyum, merasa beruntung memiliki istri yang pengertian dan tidak banyak menuntut dengan harta ataupun waktu bersama yang terkadang hanya singkat saja.


Aletha mencoba menghubungi Bu Laila, tetapi tidak tersambung. Hingga ketiga kalian ya barulah Bu Laila menerima panggilan itu dan menyambut Aletha dengan senyuman merekah walaupun hanya melalui udara saja.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam Aletha.


“Wa'alaikumussalam,” balas Bu Laila.


“Bu, bagaimana kabar Ibu di rumah?”


“Alhamdulillah, Ibu baik. Kamu bagaimana di sana? Ibu dengar kamu dan nak Keenan terjebak kebakaran. Kalian baik-baik saja, kan?”


“Alhamdulillah, Aletha dan Aa Keenan baik-baik saja kok, Bu. Bu Laila tidak perlu khawatir. Oh iya, bagaimana Alina, anak Aletha yidak merepotkan Ibu di rumah, kan?”


“Alhamdulillah syukur kalau begitu. Tentang Alina, Ibu punya kabar bahagia untuk kamu dan nak Keenan sebagai orang tua Alina.” Bu Laila menggambarkan kebahagiaan di wajahnya, terlihat bagaimana mimik wajah yang diperlihatkan saat berada di depan layar kamera.


Aletha dan Keenan yang saat sedang bersisihan mereka saling pandang satu sama lain. Kedua alis mereka berkerut, rasa penasaran singgah dalam diri mereka tentang kabar bahagia yang hendak Bu Laila sampaikan.


Bu Laila pun menceritakan bagaimana Alina yang sudah mulai pandai berbicara. Dan nama yang pertama kali diucapkan Alina tak lain adalah panggilan kepada Keena, ayah.


“Apa itu benar, Bu?” tanya Keenan memastikan.


“Iya, nak Keenan.” Bu Laila mengangguk. “Lain waktu Ibu akan merekam suara Alina, itupun jika kalian belum kembali. Tapi... syukur alhamdulillah jika besok atau besok lusa kalian bisa kembali.”


“Baiklah, rasanya Keenan dan Aletha tidak sabar ingin segera kembali. Tapi di sini kami masih memiliki tanggung jawab, Bu. Mungkin... sebentar lagi,” ucap Keenan.


“Tidak apa, yang terpenting kalian harus jaga diri baik-baik. Ibu tidak mau kehilangan kalian setelah Ibu kehilangan Fajar.” Terlihat air mata Bu Laila menggenang di pelupuk mata.


Aletha dan Keenan merasa tak enak hati dengan Bu Laila, karena mereka tanpa sengaja sudah membuat hati seorang Ibu yang sangat baik hatinya terluka.


Aletha berusaha menenangkan hati Bu Laila walupun hanya melalui udara, setelah di rasa hati Bu Laila cukup tenang obrolan di antara mereka telah di akhiri.


“Kasihan Bu Laila,” ucap Keenan.


“Inilah takdir yang nyata, yang tidak bisa ditolak ataupun diundur oleh manusia itu sendiri.” Aletha mengulas senyum tipis.


Keenan merengkuh jemari Aletha, Keenan merasa yakin jika saat itu Aletha tengah bersedih. Namun, saat ingatan Aletha tentang Fajar masih melekat, Keenan tidak pernah merasakan cemburu yang bergemuruh dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, salah seorang perawat masuk dan membawakan makanan untuk Keenan sarapan. Dengan senyum ramah Aletha dan Keenan menyambut kedatangan perawat itu.


“Anda... Kapten Keenan, kan?”


“Iya, ada apa ya, Sus?”


”Boleh saya minta foto dengan Anda? Saya cukup dengar tentang Anda yang sangat familiar, Kapten. Anda... patut diacungi jempol sebagai Kapten.” Suster itupun menatap Keenan tanpa berkedip.

__ADS_1


Ada hati yang merasakan apanas seketika itu juga saat menatap suster itu bertingkah kegenitan. Aletha mengepalkan erat tangannya dan ingin sekali meminta suster itu segera enyah dari pandangannya. Tapi ia harus menjaga attitude sebagai seorang dokter dan istri dari komandan. Maka dibiarkan nya suster itu berswafoto dengan Keenan.


“Sudah aman. Sekarang, sini makan sama Neng. Setelah ini Neng mau ke daerah Lebak lagi, memastikan kondisi di sana.” Terlihat jelas jika Aletha merajuk.


Keenan hanya tersenyum melihat bagaimana rasa cemburu menguasai hati Aletha. Tidak ada pembicaraan lain di antara Aletha dengan Keenan, Keenan hanya menurut saja saat Aletha menguapkan bubur dari rumah sakit.


Tiada hentinya Keenan menatap Aletha yang masih merajuk, mengerucutkan bibirnya tanda jika sedang marah. Namun, Keenan menyukai hal itu karena ia merasa jika Aletha sangat mencintai dan menyayanginya.


“Neng, terimakasih!” ucap Keenan.


Setelah makanan itu sudah habis Keenan seketika mengudarakan suaranya.


“Untuk apa kok berterimakasih segala?” tanya Aletha tanpa menatap.


“Karena cemburu yang ada dalam diri Neng tanda jika Neng takut kehilangan Aa. Dan Itu juga tanda jika... Neng sangat mencintai dan menyayangi Aa.” Keenan mengecup punggung tangan Aletha.


Aletha tersipu malu, bahkan pipinya memerah seketika. Hatinya yang dikuasai rasa cemburu perlahan meluruh begutu saja setelah mendengar bualan Keenan yang sederhana.


Begitulah cinta yang amat sederhana, hati bisa meleyot dengan sebuah perhatian kecil dari setiap pasangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak, bagaimana kondisi di daerah Lebak? Apa di sana sudah aman?” tanya Aletha.


Aletha bertemu dengan Garda ketika berada di lobi rumah sakit.


“Kakak mendapat informasi dari Bian, katanya di sana... sudah aman. Dan yang tidak aman itu...” Garda menggantungkan ucapannya.


“Apa, Kak?” tanya Aletha antusias.


“Hati Bian. Bian merasa tidak aman jika jauh dengan Rania. Bahkan Rania akan menjawab lamarannya setelah satu tahun lagi.” Garda menggelengkan kepalanya, merasa kasihan saja dengan kisah yang dialami Bian... nyesek.


Aletha hanya tertawa saja mendengar ucapan Garda. Aketha pun merasa iba dengan nasib Bian yang harus menunggu jawaban Rania satu tahun lagi.


Karena dinyatakan sudah aman Aletha mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke daerah Lebak, lalu ia kembali ke ruangan Keenan. Dan saat masuk ke ruangan Keenan, Aletha bertepatan dengan dokter yang hendak masuk ke ruangan Keenan.


“Dokter Aletha, selamat pagi!” sapa dokter Indri.


Dokter Indri masuk dan memeriksa kondisi Keenan pasca mengalami luka bakar yang mengakibatkan Keenan sampai jatuh pingsan. Dan dokter Indri kembali memaparkan jika Keenan sudh baik-baik saja, hanya saja luka bakar itu belum mengering. Sehingga harus terus menerus diolesi salep sebagai obat pengering.


“Dokter Indri jangan khawatir, saya akan mengoleskan salep ini ke luka bakarnya.” Aletha lebih luwes dalam berucap saat dokter Indri yang ingin mengoleskan salep itu ke luka bakar Keenan.


“Baiklah! Kalau begitu saya permisi, Dokter Aletha.” Dokter Indri pun pergi meninggalkan ruangan Keenan.


Kedua bola mata Aletha seketika melotot, bahkan siap untuk mencelos begitu saja. Dan hal itu membuat Keenan merasa beku, tidak bisa berkutik saat tatapan itu semakin menajam hingga ke dasar sanubari.


“Aduh, Neng pelan-pelan saja ngolesin salepnya!” rintih Keenan.


“Biarin saja, habisnya dari tadi kok kegenitan. Apa Aa tidak lihat hati Neng sudah panas saat suster tadi foto-foto begitu, terus ini malah Dokternya juga ikut genit. Apa mereka tidak lihat di sini ada pawangnya, hah?”


Keenan dan Garda yang mendengar ocehan Aletha hanya terkekeh saja. Karena baru kali itu mereka melihat Aletha ganas saat cemburu buta.


”Ting... Ting...” Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Keenan.


[Assalamu'alaikum, Ke. Bagaimana keadaanmu? Aku merasa... galau. Jika kamu sudah membaca pesanku ini, coba kamu beritahukan kepada Aletha jika aku... butuh bantuannya.]


Dan pembaca pasti tahu pesan dari siapa itu. Si tukang galau karena rindu, siapa lagi kalau bukan Bian. Wkwkwk


Keenan menautkan alisnya, merasa penasaran dengan ucapan Bian yang meminta bantuan dari Aletha.


‘Bantuan apa yang dimaksud Bian?’


Aletha menatap tajam Keenan yang masih melotot dengan ponselnya. Bahkan Aletha menjadi wanita yang agresif, tiba-tiba rasa cemburu kembali hadir.


“Segitunya banget menatap ponselnya!” cecar Aletha.


Keenan yang mendengar suara Aletha seketika lamunannya terbuyarkan. Dan ia hanya bisa tepok jidad, jika Aletha masih di penuhi dengan rasa cemburu.


“Neng, jangan begitu dong! Jangan marah lagi ya!” rayu Keenan.

__ADS_1


“Hufftt! Aa itu seharusnya tahu kalau Neng itu... CEM... BU... RU. Masa iya harus dijelaskan begitu saja, dasar lelaki tidak peka.”


Keenan meraba dadanya, harus ekstra sabar saat Aletha merasakan cemburu buta. Dan selanjutnya Keenan harus berusaha berhati-hati untuk menjaga suasana hati Aletha agar tidak merasa cemburu. Karena saat cemburu seperti itu Aletha bisa lebih ganas daripada saat meluncurkan peluru.


“Neng, coba sini duduk! Aa jelaskan siapa yang sudah membuat Aa menatap ponsel.” Keenan menepuk sisi brankar.


Garda hahya terkekeh geli melihat tingkah satu pasangan ini. Di sisi lain Keenan adalah kakak iparnya dan di sisi lain Aletha sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, membuat Garda bingung sendiri harus bertingkah bagaimana. Hingga Garda memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan mencari tempat sedikit sepi agar bisa menelpon Laura, wanita yang dirindukan nya setiap waktu. Dan tidak lupa pula dengan putranya, Ravva.


“Memangnya Bian mau minta bantuan dari Neng apa ya, Aa?” tanya Aletha.


”Aa juga tidak tahu.” Keenan hanya mengendikkan bahunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


”Kenapa Keenan lama sekali membalas pesanku, sih? Padahal juga sudah dibaca,” umpat Bian merasa kesal.


“Menunggumu kembali itu sangatlah berat. Membuatku semakin resah tidak ketulungan, karena rinduku akan semakin bertambah saja.”


Bian hanya mondar-mandir saja menanti balasan dari Keenan yang tak kunjung ia terima. Dan sesekali Bian menatap foto Rania yang tersenyum begitu manis saat berada di pantai Carita dua minggu yang lalu.


“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu, Naina? Apa kau suka jika aku resah seperti ini karena cinta?”


”Siapa juga yang senang lihat kamu hanya mondar-mandir saja, seperti orang yang tidak penting saja. Lihat tuh! Banyak orang yang lihat tingkah aneh kamu sebagai tentara.” Naina meninggalkan Bian yang berdiri dan menahan rasa malu.


Tanpa Bian sadari selama ia hanya mondar-mandir di depan posko dan sesekali duduk sambil mengetuk meja, lalu tersenyum sendiri saat melihat senyuman Rania yang membuat hantinya semakin meleyot, bahkan sesekali juga Bian berbicara sendiri seperti orang gila saja, ada banyak mata dari warga yang menatapnya dengan tatapan nanar.


Hiks...


Bian meraba dadanya, merutuki kebodohan yang sudah dilakukannya sendiri. Dan untuk menahan rasa malu seketika ia masuk ke dalam posko, setelah berada di dalam akhirnya Bian melepas rasa lega.


Bian semakin tidak tenang saja mwngingat pesannya tidak ada balasan satupun dari Keenan. Hingga akhirnya...


”Bayu dan Naina, aku mau ke rumah sakit tempat Keenan dirawat. Aku hanya mau menjenguk Keenan dan ingin tahu tentang kondisi ketiga korban kebakaran semalam.” Bian memberikan alasan alibinya agar bisa bertemu dengan Keenan dan Aletha secara langsung.


“Kami bagaimana?” tanya Naina.


“Ya... kalian tunggu saja di sini. Toh, keadaan dapat dipastikan sudah aman, tidak ada gempa susulan yang akan mengguncang daerah Lebak ini.”


“Terserah kau saja, Bian. Akan lebih aman buat kita tanpa adanya kamu, bikin malu saja.” Bayu mencebik.


Senyum Bian seketika mengembang melihat Bayu dan Naina tidak ingin ikut dengannya ke rumah sakit. Bian pun merasa lebih aman jika ia bisa mengobrol secara inti dengan Keenan dan Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bukan maksud Keenan ataupun Aletha tidak ingin memberi balasan kepada Bian atas pesan itu. Tetapi mereka teralihkan saat melihat video lucu Alina yang sudah tumbuh semakin besar tanpa mereka sadari sebagai orang tua yang selalu ada disisi Alina. Akan tetapi meskipun begitu, kasih dan sayang tidak pernah luntur diberikan untuk Alina.


“Ya yah... Ya yah...”


Berulangkali Aletha dan Keenan memutar video lucu Alina. Rasanya tidak pernah bosan menatao sang pelita yang akan selalu memancarkan pijar lampu, layaknya lentera yang memberikan cahaya cintanya.


Saat mereka masih menikmati tontonan lucu di layar ponsel Aletha, tanpa sengaja Aletha memberikan tabokan di punggung Keenan karena merasa gemas dengan tingkah Alina.


“Aw!” rintih Keenan.


“Aa, maafkan Neng! Neng tidak sengaja tadi,” ucap Aletha.


”Tidak apa Neng, Aa bisa menahan sakitnya kok. Yang tidak bisa Aa tahan itu... rindu. Rindu yang membuat hati Aa kelu dan merana saat kita berjauhan Neng.” Gombalan receh kembali Keenan ucapkan untuk merayu Aletha.


Kembali Aletha tertunduk, karena sukses dibuat malu oleh Keenan. Dan kembali Keenan dibuat bahagia, selain rasa cemburu yang dirasakan Aletha kini rasa malu yang tersimpan membuktikan bahwa Aletha menyukai setiap perlakuan Keenan untuknya.


“Ana uhibbuka fillah,” ucap Aletha.


Saat dagu Aletha terangkat oleh jari Keenan, ungkapan cinta telah diucapkan oleh Aletha. Membuat Keenan merasa mendapatkan surprise saja.


‘Wah, ternyata mereka enak-enakan berduaan ketimbang membalas pesanku? Apa mereka tidak tahu jika aku tengah risau dan merana, hah?’ Bian bermonolog dalam hati.


Bian melihat kebersamaan dan kemesraan Keenan dengan Aletha, hal itu membuat Bian semakin ingin memiliki Rania seutuhnya dan menikmati waktu berdua saja dengan Rania.


Sungguh nyesek sekali nasib percintaan mu, Bian.

__ADS_1


Penulis pun ikut nelangsa.


Bersambung...


__ADS_2