Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 87 “Siap, Kapten!”


__ADS_3

“Jangan merutuki kebodohan yang akan membuatmu merasa menyesal. Cukup jalani saja skenario Tuhan dengan langkah pasti, tetapi tidak dengan kata menyerah dalam setiap juangmu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak perlu terlalu lama saat Aletha ingin menjelaskan kepada Keenan, karena ia tidak ingin. menciptakan kesalah pahaman antara dirinya dengan Keenan.


“Kenapa kamu memberitahuku, Al? Tidak mungkin jika aku akan cemburu hanya dengan satu lelaki yang pernah singgah dihatimu. Sedangkan aku sudah lebih dulu hadir dan namamu pun terpatri di dalam hatiku. Dan mulai saat ini... detik ini... bahkan sampai nanti kamu tetap milikku.


Kalimat itu tak pernah terpikirkan dalam kepala Aletha. Begitu bijak dan sikap dewasa Keenan mampu membuat Aletha semakin bangga dan jatuh hati kepadanya. Dan beruntungnya Aletha sudah mendapatkan lelaki seperti Keenan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Persiapan untuk operasi sudah kalian lakukan?” tanya Aletha kepada dokter junior.


“Belum, Dok. Karena kata Pak Dimas kita tidak boleh melakukan operasi ini, takutnya jika gagal.”


Aletha menghentikan aktivitas sejenak lalu menatap Karina sebagai dokter baru di rumah sakit itu. Ada dua lagi dokter baru dalam. keahlian mereka, ahli bedah jantung. Dia di antaranya ada Nina dan Inaya.


“Sekarang lakukan tugas kalian sebagai Dokter, tunjukkan kalau kalian bisa melakukan pembedahan tanpa adanya Dokter senior.”


“Baik, Dokter.”


Tim medis melakukan operasi darurat kepada pasien yang tak lain adalah Tara. Setelah sekitar empat jam berdiri di ruang operasi akhirnya tepat di pukul sebelas malam operasi itu telah usai. Namun, di depan ruang tunggu operasi maupun di ruang tunggu mana pun tak ada keluarga Tara yang menunggu di sana, bahkan mengantarnya datang ke rumah sakit saja tidak.


“Maaf, Dok. Kami bingung dengan siapa menagih bagian administrasi, karena tidak ada keluarga dari pasien yang mengantar.”


‘Aduh, bagaimana ini? Tidak mungkin jika aku yang membiayai semua itu. Pasti akan runyam jadinya jika keluarga akan tahu. Apalagi dengan Keenan nanti.’


Aletha hanya diam, karena tengah memikirkan jalan keluar untuk biaya operasi dan rawat inap Tara. Dan tidak tahu lagi kepada siapa ia akan meminta bantuan itu.


“Biar saya yang sebagai wali pasien atas nama Tara, suster. Dan saya yang akan membiayai rumah sakitnya.”


Keenan bagaikan malaikat malam itu, ia membantu mengurus biaya administrasi Tara. Dan hal itu membuat Aletha terkejut, karena hal sebesar itu jarang ada yang akan menghabiskan uangnya dengan percuma. Apalagi Keenan bukanlah saudara ataupun sahabat Tara.


“Ke...”


“Tunggu sebentar Al, aku akan urus dulu administrasi nya.”


Keenan mengekori suster bagian administrasi untuk membayar tagihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Mau lanjut pulang atau mau kemana, hmm?”


“Pulang saja, aku lihat kamu juga lelah. Dan aku juga tidak yakin, jika kamu sudah sehat benar.”


Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha, karena ia merasa gemas saat melihat wajah Aletha yang tengah mengkhawatirkan dirinya. Mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bagaimana bisa hati Kapten selembut dan sebaik itu. Jelas banget Tara itu mantan Aletha, kenapa biaya operasi dan rawat inap malah dibayarin cuma-cuma.”


“Mungkin... hati Kapten Keenan itu seperti malaikat. Dan Ayang... aku ngefans sama Kapten Keenan. Besok mintain tanda tangannya ya, Ayang!” Maya mengerdipkan kedua matanya dengan manja.


“Hah, kamu gila ya, Yang. Masa iya minta tanda tangan Kapten Keenan. Nggak ah, pasti Dia juga sibuk.” Kilah Ilham.


Kehamilan seorang wanita mungkin akan membawa perubahan tentang mood maupun sesuatu hal yang diinginkan secara tiba-tiba. Seperti Maya yang tengah hamil anak keduanya, kini ngefans sama Keenan. Sedangkan waktu hamil anak pertama ngefans nya sama Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara adzan subuh terdengar menderu, dikumandangkan dengan lantang dan merdu. Membuat kedua mata Keenan harus segera terbuka sebelum sang fajar mulai menyingsing. Dan ketika kesadarannya sudah penuh, ia tidak mendapati Aletha di sampingnya.


‘Kemana Aletha? Mungkinkah Dia sudah bangun?’ batin Keenan.


Karena merasa penasaran dimana keberadaan Aletha, dengan segera Keenan beranjak untuk mencarinya. Namun, tidak ada di kamar dan juga toilet.


“Lebih baik aku sholat subuh dulu. Daripada telat, ingat dosa, Ke.”


Keenan membentangkan sajadah nya setelah memakai baju koko berwarna putih, sarung dan juga peci. Lalu dua rakaat telah Keenan jalankan dengan sebaik dan se khusu' mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Semoga saja Keenan suka dengan masakan ini. Dan bukan Keenan saja, tapi ... kejutan untuk semuanya.”

__ADS_1


Aletha berkutat di dapur dari sebelum subuh. Dan tepat setelah adzan dikumandangkan semua masakan telah diselesaikan dengan tepat waktu. Sehingga ia bisa menjalankan tugas sebagai hamba Allah.


‘Dia... mengagumkan. Aku beruntung... dan terima kasihku kepada-Mu Ya Allah, karena Engkau telah menciptakan kebahagiaan untukku setelah kegagalan dan kehancuran aku alami.’


Aletha berdecak kagum saat melihat Keenan tengah melantunkan do'a setelah dua rakaat dijalankan. Dan selain rasa kagum ada rasa yang lebih megeruak jiwanya. Hasrat ingin itu tiba-tiba hadir dan membuncah dada. Namun tertahan, ketika rasa malu tengah singgah.


“Al, kenapa hanya berdiri di situ saja? Sini gih, duduk dulu.” Keenan menepuk pelan bibir kasur.


“Ada apa? Kenapa kamu memintaku untuk duduk?”


“Ya... daripada hanya berdiri bikin kaki pegal, lebih baik duduk, kan.”


Aletha pun melangkah dan mengenyatkan pantatnya di dekat Keenan. Setelah itu, Keenan meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Aletha, lalu membacakan doa untuk istri tercinta. Entah do'a apa yang dipanjatkan Keenan saat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua keluarga Bagas Kara sudah bersiaga untuk segera melaksanakan sarapan bersama. Keenan selalu mengangkat kedua tangannya dan menengadah untuk membaca do'a sebelum makan. Dan entah kenapa Aletha pun ikut menggerakkan tangannya untuk menengadah lalu mengaminkan do'a Keenan.


‘Aku suka dengan caramu seperti ini. Aku... tak akan mengecewakan mu, Ke.’ batin Aletha.


“Al, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit. Nanti seperti biasa, telepon aku dan aku akan segera meluncur. Okay.”


“Baiklah! Siap, Kapten!”


“Emmm... kamu mau tidak jika kita memiliki panggilan spesial?”


“Apa?” mata Aletha membulat sempurna.


“Terserah kamu.”


Aletha diam, ia menatap awan dan seolah tengah memikirkan nama panggilan seperti yang diinginkan Keenan. Dan ketika sampai di rumah sakit, barulah Aletha menemukan nama yang pas seperti pasangan yang lain.


“Aku tahu panggilan yang pas untuk kita. Bagaimana kalau ... honey dan Bee, saja?”


“Emm... aku kan, seorang Kapten. Masa iya panggilan nya honey, terlalu manja kesannya.” Keenan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Terus apa, dong?”


“Bagaimana kalau Aa' dan Neng? Lebih berkesan untuk Kapten sepertiku.” Keenan terkekeh.


Keenan segera menghentikan Aletha yang hendak melangkah. Dengan cekatan Keenan mencekal tangan Aletha, sehingga langkah itupun terhenti sebelum jauh.


Aletha membalikkan tubuhnya dan menatap kembali Keenan yang tengah tersenyum dengan lengkungan bibir yang sempurna.


“Ada apa lagi? Bukannya bertugas sana malah Kapten yang ngebucin.” Aletha mencebik.


Keenan terkekeh geli, lalu ia menarik pinggang Aletha hingga jarak pun terkikis. Hanya deru nafas keduanya yang bisa dirasakan dan netra pun saling mengunci satu sama lain. Dan setelah itu, Keenan kembali mengangkat tangannya lalu ia letakkan di atas ubun-ubun Aletha.


“Sudah.”


“Apanya yang sudah?”


“Do'a nya dong. Seorang suami itu harus banyak-banyak mendo'akan istri. Begitu pula dengan istri, jadi... kita harus saling mendo'akan. Supaya awet hubungan kita, Neng Aletha yang cantik dan ngegemesin.” Keenan terkekeh.


“Seperti tadi pagi? Terus do'a nya sama juga?” tanya Aletha yang kepo.


Keenan menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang indah.


“Setiap do'a yang dilantunkan itu berbeda. Tadi pagi dan saat ini juga berbeda. Kalau mau tau yang lebih banyak lagi ... nanti di kamar ya, Neng.” bisik Keenan.


Seketika Aletha memberikan cubitan di perut Keenan, sehingga Keenan meringis kesakitan. Dan Aletha hanya tertawa puas setelah memberikan pembalasan kepada Keenan yang sudah berusaha mesum di pagi hari.


Pasti pembaca juga kepo kan, dengan bacaan doa yang dipanjatkan Keenan untuk Aletha. Wkwkwk...


Saat kedua tangan saling melambai tiba-tiba saja Maya dan Ilham menghampiri Aletha dan Keenan.


“Tunggu, Kapten Keenan! Kami perlu bicara dengan Anda.” teriak Ilham.


Keenan menatap Aletha dan Aletha hanya menghendikan bahunya. Karena Aletha juga tidak tahu ada keperluan apa Ilham dan Maya menegur sapa Keenan dengan buru-buru. Bahkan Ilham mendekati Keenan dengan membawa sebuah kaos longgar berwarna putih.


“Kapten Keenan, kita... e...” terhenti.


Maya terus mendorong Ilham sampai-sampai Ilham hampir tersungkur ke tanah.

__ADS_1


“Ada apa Dokter Ilham? Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Begini Kapten Keenan. Maya kan, lagi hamil lagi ... terus Dia minta ... tanda tangan Anda.” Ilham nyengir.


Aletha dan Keenan seketika terkekeh. Ternyata hanya ingin meminta tanda tangan karena Maya yang meminta. Dan daripada anak mereka nanti akan ileran, maka Keenan pun memberikan tanda tangannya di kaos longgar berwarna putih yang dibawa Ilham tadi.


“Ehem... ternyata ada yang jadi artis dadakan.” Aletha kembali terkekeh.


“Tak apa, Al. Kan, memang Kapten Keenan itu ... gagah barani, tampan dan pokoknya perfect di mata semua wanita.” Maya tersenyum.


“Awas Al, nanti kalau Kapten Keenan ada yang deketin baru tahu rasanya cemburu buta.”


“Itu tidak mungkin terjadi.” Aletha mencebik.


Saat obrolan ringan masih bergulir di lobi, tiba-tiba seorang suster menghampiri mereka dengan separuh berlari. Lalu suster itu pun berkata jika Tara sudah sadarkan diri dan ingin bertemu dengan Aletha sekaligus Keenan.


“Ada apa?” tanya Keenan kepada Aletha tanpa suara.


Dan Aletha hanya menghendikan bahunya, karena ia benar-benar tidak tahu hal apa yang ingin dibicarakan Tara. Berhubung Aletha yang menangani operasi Tara, jadi ia lah yang harus melakukan visit atas kondisi Tara pascabayar operasi.


Keenan mengerdipkan matanya dengan pelan, memberikan kode kepada Aletha jika ia siap untuk bertemu Tara. Lalu keduanya masuk dengan menebar senyum untuk menyapa Tara yang terlihat lemas. Bahkan wajahnya yang pucat saja masih begitu kentara.


“Hai... sobat. Bagaimana keadaanmu?” tanya Keenan.


“Beginilah, seperti yang kamu lihat. Dan aku ... ingin bicara dengan kalian berdua. Bolehkan, aku meminta waktu kalian sebentar?”


Aletha dan Keenan saling menatap satu sama lain. Lalu mereka saling mengangguk, yang mengiyakan permintaan Tara.


Aletha sedikit merasa canggung dengan keberadaan nya yang berada di tengah dua lekaki yang dikenalnya, antara mantan dan suami yang saat ini berada di depan pandangan matanya.


“Selamat ya, atas pernikahan kalian. Maaf jika aku terlambat mengucapkannya.” Tara mengulas senyum tipis.


“Tak apa, aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberi ucapan selamat kepada kami, kawan. Apa ... ada hal lain lagi yang ingin kamu bicarakan kepadaku? Soalnya... aku harus kembali bertugas.”


“Aku... hanya ingin berterima kasih karena kamu sudah membiayai semuanya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengganti uangmu, Kapten. Aku menyesal... kenapa semua ini terjadi kepadaku. Aku kehilangan segalanya yang aku punyai, mungkin... inilah pembalasan yang setimpal karena dulu aku sudah menyakiti Aletha.” Tara memperlihatkan mata sendunya.


“Mungkin aku tidak mengenalmu terlalu dalam. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan untuk mengganti semua yang kulakukan kepadamu. Jangan merutuki kebodohan yang akan membuatmu merasa menyesal. Cukup jalani saja skenario Tuhan dengan langkah pasti, tetapi tidak dengan kata menyerah dalam setiap juangmu.” Keenan menepuk pelan punggung tangan Tara.


“Siap, Kapten!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melakukan visit terhadap pasien pasca operasi Aletha kini memutuskan untuk mencari makan di luar rumah sakit. Akan tetapi saat bertemu Maya dan Ilham, Aletha harus menghentikan tujuannya itu. Karena aroma seblak ceker yang dibawa Maya begitu menyengat hidung. Ingin rasanya Aletha ikut mneyantap sebagai makan siangnya.


“Kita makan siang bersama. Ini... kami berikan sebagai tanda terima kasih karena sudah mengijinkan Kapten Keenan untuk memberikan tanda tangannya kepada kami.”


“Ya ampun, segitunya banget kalian sama aku ya!” Aletha terkekeh.


Makan siang pun telah berlangsung dengan kelezatan seblak ceker yang dibeli Ilham. Karena lagi-lagi Maya nyidam yang rumit dan aneh. Untung saja seblak ceker banyak yang jual, sehingga mudah bagi Ilham untuk membelinya dengan cepat.


Aletha menerima panggilan dari Dimas. Di mana ia diminta untuk datang ke ruangannya. Hal itupun kembali membuat Aletha merasa kesal. Belum juga bertemu l, tapi kobar api kemarahan sudah memenuhi ubun-ubunnya.


“Tok... tok... tok...”


Aletha pun diminta masuk ke dalam ruangannya setelah mengetuk pelan pintu yang ditutup rapat.


“Ada apa Pak Dimas meminta saya untuk bertemu? Apa ada sesuatu hal yang harus dibicarakan dengan saya?” tanya Aletha dengan sesopan mungkin.


“Duduk.“ Begitu singkat.


Tatapan Dimas menajam saat melihat kebersamaan Aletha dengan Keenan yang beberapa video mereka telah tersimpan di laptopnya. Kedua tangan Dimas tiba-tiba saja menggebrak meja dengan begitu keras, sehingga membuat Aletha terhenyak dari duduknya karena merasa terkejut.


‘Kenapa sih nih direktur. Gendeng kali ya!’ umpat Aletha dalam hati.


“Siapa lelaki yang bersama kamu di depan tadi pagi?” tanya Dimas tanpa menatap Aletha.


“Oh... maksud nya Kapten Keenan, Pak?”


Memang saat pernikahan Aletha dengan Keenan dilangsungkan Dimas tidak ada di Indonesia. Sehingga tidak tahu jika lelaki yang bersama Aletha tak lain adalah suaminya.


“Kenapa dekat-dekat seperti itu? Aku tidak ingin nama rumah sakitku tercemar dengan hubungan kalian yang tidak pasti.”


Ingin sekali Aletha tertawa saat itu juga. Akan tetapi ia masih memiliki rasa hormat terhadap atasan daripada ia dipecat saat itu juga dan lebih baik mengalah saja.

__ADS_1


”Pak, saya jamin nama rumah sakit Anda tidak akan tercemar cuma gara-gara saya dengan Kapten Keenan. Kapten Keenan itu baik hati, gagah berani, tatapannya itu menajam tapi ada cinta di dalamnya dan juga... banyak dikagumi sama kaum wanita, Pak. Contohnya seperti saya.” Aletha nyengir.


__ADS_2