
“Tidak baik berlalut lama dalam kesedihan... sebab itu tak akan pernah abadi. Biarlah cerita dalam masa lalumu berjalan dan menjadi proses untuk berubah ke masa kini, masa yang lebih baik lagi.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak lupa Ilham melakukan tugasnya, menggendong bayi mungilnya yang memiliki berat badan hanya dua kilo tiga ons itu untuk melantunkan adzan di dekat telinga bayi itu. Setelah itu Ilham mencium pipi bayinya sebelum bayi itu di kembali masuk ke ruang inkubator untuk dihangatkan dengan cahaya lampu khusus.
Di saat Ilham merasa bahwa batinyansudah aman berada di dalam inkubator, Ilham kembali menunggu di depan ruang operasi. Pelupuk mata Ilham tidak dapat membendung air matanya lagi, hatinya begitu rapuh melihat belahan jiwanya tengah terkapar tak berdaya dengan mata yang terpejam rapat.
“Sayang, aku ada di sini. Maafkan aku karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Hiks... hiks... hiks...” Kembali tangis Ilham pecah, tergugu dengan tubuh yang lemah.
“Kak, yang sabar ya! Aku yakin, kak Maya akan sembuh.” Aletha menepuk pelan pundak Ilham yang merosot.
“Iya Al, semoga saja.” Begitu singkat, tetapi penuh dengan harapan yang besar.
“Oh iya, aku mau ke depan sebentar mau bertemu Sofia dan kak Ilham jangan merutuki kebodohan yang absurd. Karena ini murni takdir, yang tidak bisa kita ubah semau kita. Sabar, Allah sedang merindukan kak Ilham dan menegur dengan cara seperti ini.” Begitu menohok hati Ilham setiap kata yang diucapkan oleh Aletha.
Ilham merasa tertampar dengan ucapan Aletha, karena Ilham sadar selama ini ia pun juga jarang sekali mengerjakan sholat lima waktu dengan tepat waktu. Bahkan satu hari saja ia hanya menjalankan sholat dzuhur saja, itupun ketika jam istirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Al...” Sofia melambaikan tangannya saat melihat Aletha dari jarak sepuluh meter.
“Sofia...” Aletha ikut membalas lanbaian tangan Sofia, lalu Sofia berjalan dengan langkah yang gontai dan setelah berada di hadapan Aletha barulah Sofia memberikan paper bag yang berisi es krim.
“Ini apa, Sofia?” tanya Aletha penasaran, karena saat menenteng paper bag itu terasa begitu ringan.
“Emm... seperti biasa, Kapten Keenan yang memesannya dan memintaku untuk memberikannya kepadamu semalam ini, karena... takut meleleh. Untung saja kamu di rumah sakit jadi, aku bisa leluasa memberikannya kepadamu, Al.” Sofia meyunggingkan senyum.
“Terimakasih, karena kamu sudah mau membuatnya dan bahkan... rela memgantarkannya semalam ini.” Aletha terkekeh.
“Tidak masalah, kalian sahabatku yang baik. Dan aku tidak akan bisa memberikan apapun kepada kalian kecuali seperti ini. Ya sudah, aku harus kembali ke toko lagi, Al. Selamat malam,” ucap Sofia sebelum pergi dan meninggalkan rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha mengurungkan niat untuk masuk ke dalam ruangannya setelah melihat Alina, Mama Nina, Bu Laila dan Larisa tertidur dengan pulas di atas tikar yang sengaja mereka bawa.
Sungguh aneh lagi hal seperti itu dilakukan Mama Nina dan keluarga, tidak kasihan apa sama Alina yah masih kecil. Iya kan, pembaca?
“Tidak, aku harus tetap membangunkan Mama dan yang lainnya, karena aku juga harus menjaga kesehatan Alina. Tidak baik jika Dia berada di lingkungan rumah sakit.” Aletha membuka pintu rungannya, dengan derap kaki yang tidak bersuara Aletha membangunkan Mama Nina terlebih dahulu.
Aletha membangunkan Mama Nina dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya secara pelan. Dan tidak lama kemudian Mama Nina mengerjapkan mata untuk memulihkan pandangannya.
“Aletha, apa sudah selesai operasinya?” tanya Mama Nina memastikan.
__ADS_1
“Sudah kok, Ma. Sekarang lebih baik Mama dan yang lainnya pulang saja. Aletha harus bermalam di sini menjaga kak Maya. Karena setiap tiga jam sekali Aletha harus memeriksa keadaan kak Maya.”
“Bagaimana dengan Alina? Jika Dia merasa haus?”
“Aletha sudah siapkan kok, Ma. Sebentar lagi Papa akan menjemput kalian semua bersama Rania.” Terang Aletha setelah menelpon Bagas Kara untuk menjemput Mama dan anggota keluarga yang lainnya.
Aletha meletakkan paper bag di atas meja ruangan kerjanya. Setelah itu ia menggendong Alina sebelum Alina di bawa pulang oleh Mama Nina. Mencium pipi Alina itu sudah pasti Aletha lakukan, karena ia akan bermalam di rumah sakit. Meskipun begitu Aletha selalu menyayangi Alina, tetapi pekerjaan menuntutnya untuk selalu profesional.
Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang. Dan Aletha kembali ke ruangannya setelah mengantarkan Mama Nina dan yang lainnya ke area depan rumah sakit.
“Untung saja es krim yang dibuat Sofia melelehnya lama. Masih nyus begitu rasanya,” ucap Aletha membuka tutup es krim dalam wadah.
Satu suap es krim telah melumer ke dalam mulut Aletha. Bayangan Keenan pun seketika menari-nari di pelupuk matanya. Senyum telah mengembang saat Aletha mengingat memo kecil yang ditulis di sana.
...[Selamat malam Neng nya Aa Keenan. Maaf jika seharian ini Aa tidak bisa memberikan kabar apapun. Di sini banyak kejadian yang harus dilakukan patroli setiap malam, bahkan siang pun juga harus melaksanakan tugas. Jika Aa masih tidak menghubungi Neng makan Aa sedang patroli. Meskipun begitu, Aa tidak akan pernah berhenti mencintai dan menyebut nama Neng serta Alina dalam setiap doa Aa. Jaga diri kalian... Aa Keenan.]...
“Neng juga akan selalu mendoakan keselamatan Aa saat bertugas. Neng... rindu sama Aa.”
Aletha kembali menyuapkan es krim yang sudah hampir mencair ke dalam mulutnya. Dan masih begutu terasa melumer dengan lembut di mulut Aletha. Coklat yang dijadikan taburan es krim itu membuat Aletha sedikit terobati akan rasa rindu terhadap Keenan.
Sudah jam dua malam, Aletha merasa kantuk tengah menderanya. Tetapi ia tidak bisa tidur begitu saja dan mengabaikan tugasnya melakukan visite terhadap Maya yang masih dalam ruangan ICU.
“Aku doakan semoga saja kak Maya segera sadar dari koma ini. Kasihan sama ketiga anak kakak dan juga kak Ilham yang masih membutuhkan kakak di samping mereka.” Aletha menatap Maya yang terkulai lemah.
“Kenapa tidak tidur, hmm?” taya Aletha yang berhasil membuat Arga terkejut.
“Eh, kak Aletha. Sejak kapan ada di sini?”
“Emm... masih baru saja datang kok. Boleh duduk di sini?”
Arga mengangguk, menepuk bangku kursi di sampingnya yang kosong. Aletha duduk lalu kembali membuka obrolannya dengan Arga.
“Ada apa? Apa ada masalah?”
“Tidak kok, Kak. Arga hanya... rindu sama keluarga yang bisa saling menyayangi terutama sosok seorang... Ayah.”
“Arga... tidak tahu harus berbuat apa dalam menyikapi perbuatan Daddy. Karena seharusnya Daddy memang harus dimasukkan ke penjara.”
Aletha merasa iba dengan keluarga Arga yang sudah mulai meretak semenjak Mr. Jastin masuk ke dunia mafia. Selalu bertindak kasar dalam. setiap pengucapan dan perbuatan Mr. Jastin ketika istri maupun anaknya menentang keinginan maupun perintahnya.
“Tidak baik berlalut lama dalam kesedihan... sebab itu tak akan pernah abadi. Biarlah cerita dalam masa lalumu berjalan dan menjadi proses untuk berubah ke masa kini, masa yang lebih baik lagi.”
“Bukankah kamu tahu jika Ayah dan suami Kakak adalah seorang abdi negara yang siap menjalankan tugas untuk memberantas mafia dan juga bandar narkoba, hmm? Tapi... Kakak tidak akan melaporkan semua tindakan Daddy kamu itu kepada mereka. Biarkan saja mereka mencari dan bisa memecahkan masalah ini.” Aletha menatap Arga, lalu menepuk pundaknya sebelum berpamitan dan kembali ke ruangannya.
__ADS_1
“Terimakasih Kak, karena kakak sudah mau memberikan nasehat kepada Keenan. Semoga saja kak Aletha selalu dalam lindungan Allah SWT.”
Aletha mengaminkan doa Arga, setelah itu Aletha kembali ke ruanganya untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur brankar rumah sakit yang seragam ada di dalam ruangannya.
Perlahan kedua bola mata Aletha terpejam rapat. Aletha sudah masukke alam dunia mimpi setelah lima belas menit kemudian tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum subuh Keenan dan Garda sudah terbangun dari dunia mimpi mereka masing-masing. Setelah itu mereka secara bergantian membersihkan tubuh mereka, karena pagi itu mereka harus ke kantor kombes untuk saling membahas hal tindak lanjutan pada pukul tujuh pagi.
“Tring... Tring...”
Ponsel Keenan tiba-tiba berdering, tertulis satu nama yang sangat Keenan kenal selama ini. Dengan semangat yang membuncah dada Keenan menerima panggilan dari Aletha.
“Assalamu'alaikum, Aa...” Dengan senyum sumringah Aletha berucap salam menyambut Keenan.
“Wa'alaikumsalam, Neng. Kok sudah bangun?”
Keenan mengerutkan keningnya saat menyadari Aletha tidak sedang berada di rumah. Dengan segala pertanyaan telah dilontarkan Keenan kepada Aletha, begitu juga dengan Alina yang terus Keenan pertanyakan.
“Neng, boleh tidak jika Neng fokus dulu sama perkembangan Alina? Kasihan Dia nya nanti kalau di tinggal terus sama Bundanya.” Keenan begitu pelan saat menyampaikan pendapatnya kepada Aletha.
“Maafkan Neng, Aa. Neng tidak bisa melakukan hal seperti itu seenaknya saja. Tugas Neng memang ahli bedah jantung, Neng tidak bisa meninggalkan tugas Neng begitu saja. Seperti Aa yang tidak bisa membatalkan tugas negara.”
“Baiklah kalau begitu, Aa merasa yakin jika Neng bisa mengatur waktu untuk bersama Alina.”
“Iya, Aa. Oh iya... Neng mengucapkan terimakasih kepada Aa karena sudah memberikan es krim seperti selera Neng.”
“Iya Neng, sama-sama.”
Keenan mencoba memahami bagaimana posisi Aletha saat itu, pasien begitu penting untuk segera diselamatkan.
Obrolan ringan akhirnya mampu mengobati rasa rindu meskipun hanya sebentar saja tanpa bertegur sapa secara bertatap muka. Hanya melalui udara itu Aletha merasa lega jika Keenan baik-baik saja. Dan panggilan pun telah diakhiri setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kode blue... kode blue...”
Tanda itu begitu memekik telingan bagi setiap dokter dan juga anggota keluarga pasien yang bersangkutan. Rasa was-was seketika singgah di dalam hati Ilham saat ruangan Maya membunyikan bel seperti itu.
“Kak Maya...”
Dengan segera Aletha pergi ke ruang ICU untuk memeriksa keadaan Maya.
__ADS_1
Bersambung...