Lentera Cinta

Lentera Cinta
49. Cerita Ibu


__ADS_3

"Orang seperti dia yang mau kamu maafkan?"


Pertanyaan Nathan dengan nada yang tinggi terus tergiang ditelinga Ayunda. "Apa aku salah?" gumamnya.


Saat ini Ayunda tinggal sendiri dikamar rawat inap Ibu Siska. Nathan dan Pak Robert ke perusahaan bertemu Dariel, entah apa yang akan mereka bahas dan yang akan mereka lakukan, Ayunda tidak mau peduli. Dia masih merasakan sesak, dadanya terasa sangat sakit saat Nathan membentaknya. Tanpa terasa air matanya mengalir, selama hidupnya, tidak ada yang pernah membentaknya, bahkan Papa Richad sekalipun.


"Jangan menangis" suara Ibu Siska menyadarkan Ayunda dari lamunannya.


"Ibu sudah bangun. Apa yang ibu rasakan?" tanya Ayunda, setelah menyeka air matanya.


"Ayunda ambilkan ibu minum ya, Ibu tunggu sebentar" ucap Ayunda, lalu mengambilkan Ibu Siska minum yang ada di atas nakas.


Ayunda membantu Ibu Siska untuk duduk, lalu memberikan minum yang tadi dibawanya. "Terima kasih" ucap Ibu Siska sambil kembali menyerahkan gelas pada Ayunda.


Ayunda duduk di samping tempat tidur Ibu Siska, dia meraih tangan Ibu Siska dan memijatnya.


"Tidak usah dipijat" tolak Ibu Siska. "Maafkan Nathan, dia selalu saja begitu kalau sedang kesal, tidak peduli pada siapapun lawan bicaranya, dia akan meninggikan suaranya. Nathan tidak bermaksud membentakmu, pasti sekarang dia menyesal setelah menyadarinya" jelas Ibu Siska, sifat Nathan sejak dulu.


"Ibu mendengarnya?" tanya Ayunda heran, yang dia tahu Ibu Siska dari tadi hanya tidur.


"Ibu dengar semuanya, Ibu tidak percaya Luna akan melakukan ini"


"Jangan terlalu Ibu pikirkan tentang Luna. Untuk apa yang diucapkan Mas Nathan, tidak apa-apa, Yunda mengerti. Yunda juga yang salah. Sebelum ini, Yunda Minta Mas Nathan memaafkan Luna" jawab Ayunda.


"Kamu memang anak yang baik, bahkan orang yang salahnya begitu besarpun kamu maafkan" Ibu Siska mengelus tangan Ayunda yang berada didekat tangannya.


"Tadinya Yunda pikir, karena Luna adalah sepupu Mas Nathan dan yang Yunda tahu, mereka cukup dekat"


"Iya, kamu tidak salah, mereka memang sangat dekat waktu kecil. Tapi sejak lima atau enam tahun yang lalu, Nathan dan Luna tidak saling berhubungan lagi. Ibu juga tidak tahu ada apa antara mereka, yang Ibu tahu Nathan sangat tidak ingin bertemu Luna" Ibu Siska mencoba menjelaskan pada Ayunda apa yang terjadi.


"Ibu sangat bersyukur kamu dekat dengan Nathan" Ibu Siska kini mengelus kepala Ayunda. "Apa kepalamu masih sakit dan sering pusing?" tanyanya.


"Setelah operasi sudah tidak pusing lagi Bu, tinggal bekas jahitannya saja yang masih terasa nyeri" jawab Ayunda apa adanya.


"Ibu sangat sedih waktu kamu tidak sadarkan diri selama satu tahun, mendengar kamu sadar sungguh berita yang sangat membahagiakan"

__ADS_1


"Terima kasih Bu" balas Ayunda tulus, dia banyak mendengar cerita dari Mama Mira kalau Ibu Siska sering mengunjunginya.


"Nathan sekarang kembali seperti Nathan yang Ibu kenal waktu remaja" ucap Ibu Siska kembali berbicara tentang Nathan.


"Hidupnya kembali berwarna, hari-hari yang dilaluinya sepertinya sangat bahagia, dan Ibu yakin itu karena kamu"


"Yunda tidak melakukan apa-apa Bu"


"Menurut kamu mungkin tidak, tapi kehadiranmu disamping Nathan yang membuatnya kembali bahagia"


"Dulu dia sempat memiliki kekasih, Ibu tidak tahu apa yang membuat mereka berpisah, tapi sepertinya kekasihnya yang menghianati Nathan. Sejak saat itu Nathan jadi berubah, dan semakin berubah setelah Nathan tidak berhubungan dengan Luna"


"Ibu sering melihat dia melamun, lalu tersenyum sendiri. Ibu sempat berpikir kalau Nathan sedikit tidak waras dan meminta El untuk membawa Nathan mengunjungi psikolog" kenang Ibu Siska, sementara Ayunda hanya diam dan menyimak apa yang diucapkan Ibu Siska.


"Tapi El memberi tahu Ibu, kalau Nathan mengingat seorang gadis yang dia tidak tahu nama dan wajahnya dengan jelas, tapi Nathan merindukan gadis itu, dan terus menunggunya"


Ibu Siska menatap Ayunda dalam. "Apa kamu gadis itu Nda?" tanyanya.


Ayunda nengangguk pelan, membenarkan pertanyaan Ibu Siska, dan mendapatkan balasan senyuman bahagia dari wanita paruh baya itu.


Ayunda yang sangat kenal suara itu berbalik melihat, untuk meyakinkan kalau dia benar. Ayunda kembali melihat kearah Ibu Siska, setelah tahu yang datang adalah orang masa lalunya.


"Sudah lebih baik, apalagi ditemani calon menantu" jawab Ibu Siska.


Ayunda hanya diam tapi dia berusaha untuk tersenyum. Sementara Kevin, merasa telinganya panas dengan ucapan tantenya, tapi dia berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya.


"Saya tidak bisa menyangka kalau Luna bisa melakukan ini" ucap Kevin untuk menutupi perasaannya.


Ayunda berpindah ke sofa, tanpa pamit pads Kevin, dia memberi kesempatan untuk Kevin bicara dengan Ibu Siska.


Di sofa Ayunda mengecek gawainya, ternyata ada pesan dari Nathan dan Alisa. Pesan dari Nathan yang dibukanya terlebih dahulu. "Sayang, maaf, tadi bicara tinggi denganmu" tulis Nathan di pesan teksnya.


Ayunda tidak berniat membalas pesan dari Nathan, dia segera beralih pada pesan Alisa. baru saja akan membuka pesan Alisa, teleponnya Ayunda berbunyi, melihat nama pada layar teleponnya, Ayunda mau tidak mau mengangkatnya.


"Assalamualaikum" Sapa Ayunda.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Lagi apa? Mama sudah bangun?" tanya Nathan.


"Sudah. Lagi ada yang berkunjung" jawab Ayunda jujur, tapi dia lupa siapa yang sedang berkunjung dan bagaimana menjawabnya, bila Nathan bertanya.


"Siapa?" Ayunda diam tidak menjawab, baru saja dia pikirkan dan Nathan menanyakannya.


Nathan merubah panggilan suaranya menjadi video. Ayunda semakin binggung, tapi wajah binggungnya seketika berubah saat melihat Mama Mira masuk. Ayunda langsung menarik mamanya ke sofa.


"Mama Mas" jawab Ayunda setelah menerima panggilan video Nathan. Ayunda menunjukkan wajah Mama Mira pada Nathan.


"Mas udah dijalan, mau balik ke rumah sakit. Rara sayang mau dibawakan makanan apa?" tanya Nathan.


"Tidak usah Mas, Mama bawa banyak makanan nih" tunjuk Ayunda pada makanan yang dibawa Mama Mira, dengan mengarahkan kameranya. Tapi dia seketika ingat, disini ada Kevin. Ayunda harus mengulur waktu Nathan untuk sampai lebih lama lagi, tapi percuma saja, Nathan pasti akan tahu dari Ibu Siska. Akhirnya Ayunda menyerah, dia harus menghadapi kenyataan.


"Kenapa harus takut?" batinnya. Dia tidak berbuat salah, jadi tidak perlu takut.


"Tidak apa-apa kalau masih mau menginginkan sesuatu" tawar Nathan lagi.


Ayunda menggeleng, ini sudah banyak, nanti mubazir kalau tidak dimakan" balas Ayunda.


Nathan tersenyum lalu mengakhiri panggilannya. Ayunda dapat bernafas lega, kalau Nathan dan Kevin bertemu, biarkan saja. Bukan salah dia dan bukan masalah untuknya.


Mama Mira mengambilkan makananan untuk Ibu Siska, lalu mendekatinya. Melihat Mama Mira yang datang, Kevin menjauh dan berjalan ke sofa dimana Ayunda berada.


Melihat Kevin yang berjalan kearahnya, membuat Ayunda segera berdiri dan mengikuti Mama Mira yang mendekati Ibu Siska.


"Yunda suapin ya Bu" ucap Ayunda lalu meraih piring yang ada di tangan Mama Mira.


"Ibu bisa sendiri" ucap Ibu Siska yang tidak mau merepotkan Ayunda.


"Yunda yang mau Bu" ucap Ayunda.


Sementara Kevin hanya bisa melihat, tanpa bisa berbuat banyak. Ayunda tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2