Lentera Cinta

Lentera Cinta
41. Gagal


__ADS_3

Ayunda hanya memejamkan mata saat Luna datang dan menanyakan keadaannya, dia memilih untuk pura-pura tidur terlebih lagi saat mendengar Nathan melarang Luna untuk mendekatinya.


Sepuluh menit berlalu hanya ada keheningan, tidak ada satupun dari Nathan dan Luna memulai percakapan. Sementara Ayunda hanya bisa menunggu, apa yang akan dibicarakan kedua saudara sepupu itu bila bersama.


Suara dering ponsel Nathan memecah kehenigan. Nathan langsung berdiri saat tahu siapa yang menghubunginya, dia keluar kamar, tidak ingin percakapannya terdengar terutama oleh Luna.


"Dewi fortuna sedang memihak padaku" gumam Luna setelah Nathan pergi dan hilang dibalik pintu.


Luna berjalan mendekati Ayunda "Sepertinya kamu punya banyak cadangan nyawa Ayunda" ucapnya sambil tersenyum mengejek menatap Ayunda.


Ayunda tidak mengerti apa yang dikatakan Luna, tapi dia yakin ini bukan sesuatu yang baik. Menginggat pertemuan pertama mereka, Luna sangat angkuh dan tidak ingin menerima uluran tangannya dipertemuan kedua mereka, lalu permintaan Luna yang tiba-tiba ingin makan siang bersamanya dan berakhir dengan kecelakaan yang dialaminya.


"Ok, tidak masalah kamu bisa selamat dari kecelakaan kemarin, setidaknya aku mendapat tontonan yang menarik saat kamu terlempar dan berlumuran darah"


"Tapi tidak untuk kali ini Ayunda, aku akan benar-benar mengakhiri hidupmu, pergilah dengan tenang. Karena kepergianmu akan membuat Nathan kembali padaku"


"Tidak ada yang mengira kalau aku menyuntikkan sesuatu padamu dan hidupmu yang malang ini akan berakhir ditanganku" Luna tertawa sambil bersiap menyuntikkan sesuatu di cairan infus yang mengalir ke tubuh Ayunda.


"Luna" suara Nathan mengejutkan Luna dan melemparkan jarum suntik yang dipegangnya begitu saja.


"Apa yang ingin kamu lakukan pada Ayunda?" tanya Nathan menyelidik.


"Tidak ada, tadi selang infusnya tertarik saat Ayunda bergerak, jadi aku....."


"Luna ingin membunuhku" Ayunda memotong ucapan Luna yang seketika membulatkan matanya.


"Apa yang kau bicarakan Ayunda" teriak Luna mencoba membela dirinya walau dia terkejut saat tahu Ayunda tidak tidur.


"Aku hanya memberi tahu Nanthan apa yang akan kamu lakukan padaku Luna"


"Kau gila, untuk apa aku membunuh orang yang sebentar lagi juga akan mati"


Kata-kata Luna membuat Ayunda tidak bisa berbuat apa-apa, dia memang akan mati walau Luna tidak membunuhnya, lalu apa bedanya sekarang dan nanti, dia tetap akan berakhir pada kematian.


Ucapan dokter Sam memenuhi kepala Ayunda, kemungkinan besar setelah operasi dia akan buta, dan itu sama saja dia sudah mati, karena dia tidak dapat melihat dunia ini lagi dengan matanya, hanya kegelapan yang akan memenuhi hari-harinya.

__ADS_1


"Luna" suara Nathan yang membentak Luna menyadarkan Ayunda,


"Pulanglah, dan jangan pernah datang lagi" kali ini Nathan mengucapkannya dengan pelan. Semarah apapun dia dengan Luna dia tidak dapat menyangkal kalau dia menyayangi adik kecilnya itu.


Mereka tumbuh bersama, melalui banyak waktu bersama, tertawa bersama, menangis bersama dan terkadang melakukan hal gila bersama. Sayangnya tulus, sayang seorang kakak pada adiknya. Perasaan Luna yang mencitainya sebagai seorang pria yang membuatnya menjauhi Luna, walaupun begitu dia tetap menyuruh orang untuk mengawasi Luna.


Orang suruhannya yang mengawasi Luna yang tadi menghubunginya, karena itu dia keluar dari kamar rawat inap Ayunda. Berita yang dibawa orang suruhnnya membuatnya kembali masuk ke kamar Ayunda, dia tidak bisa meninggalkan Ayuda bersama Luna.


Nathan melihat dengan matanya sendiri, Luna akan melakukan sesuatu di botol infus Ayunda. Tapi dia melepaskan gadis itu begitu saja, walau dia tahu Luna juga yang menyebabkan Ayunda kecelakaan.


"Aku hanya berbohong tentang Luna" ucap Ayunda menyadarkan lamunan Nathan.


"Hemm" hanya itu yang diucapkan Nathan lalu duduk disofa memejamkam matanya.


Ayunda hanya memandang heran pada bosnya itu, baru kali ini dia melihat Nathan seperti orang yang kelelahan. Selama dua bulan ini dia melihat sosok Nathan yang energik, gagah dan berwibawa walau terkadang seperti orang yang manja bila bersamanya, tapi belum pernah melihat Nathan seperti ini, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?


Tiga puluh menit berlalu dari kejadian itu, tidak ada yang bersuara dari keduanya. Nathan dan Ayunda sama-sama tidak bisa tidur dan sama-sama mengunci mulut mereka untuk memulai percakapan.


Ayunda membalikkan badanya memunggungi Nathan, mencoba untuk mengistirahatkan pikirannya, tapi matanya seketika tertuju pada jarum suntik yang tergeletak begitu saja.


"Luna sengaja melakukan ini. Kenapa?" lagi-lagi Ayunda tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri.


Dariel dan Alisa datang memecah kebisuan antara Nathan dan Ayunda. Dariel langsung duduk dihadapan Nathan dan Alisa mendekati Ayunda.


"Kamu belum tidurkan Nda?" tanya Alisa sambil memajukan tubuhnya untuk melihat wajah Ayunda.


Ayunda berbalik menghadap Alisa "Ini sudah malam, kenapa kamu datang kesini?" tanyanya.


"Aku akan menjagamu malam ini sayangku" jawab Alisa dengan senyumnya yang lebar.


Ayunda melirik Nathan "Mereka ada kerjaan yang harus diselesaikan" bisik Alisa mengetahui arti lirikan Ayunda.


Nathan berdiri mendekati Ayunda "Ra, malam ini Alisa yang menjagamu ya. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan" Ayunda mengangguk mengerti lalu mendapatkan bibir lembut Nathan mengecup keningnya.


"Ada yang ingin kamu ceritakan ke aku Lis?" tanya Ayunda setelah Nathan dan Dariel hilang dibalik pintu.

__ADS_1


Alisa hanya menatap Ayunda dalam diam. "Ayolah Lis, aku tahu yang dikerjakan Nathan dan Pak El kali ini bukan urusan kantor" Ayunda mendesah, lama menunggu reaksi Alisa tapi sahabatnya itu tetap membisu.


"Luna tadi kesini" Ayunda memecah kebisuan mereka. "Kau tahu apa yang dilakukannya?" Alisa menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaa Ayunda.


"Ambilkan tissue kering Lis" pinta Ayunda dan Alisa langsung menuruti permintaan Ayunda.


"Berjalanlah ke kiriku" Ayunda kembali meminta Alisa melakukan apa yang diperintahnya.


Ayunda memiringkan badanya menghadap Alisa. "Lihatlah kebawah" tunjuknya pada jarum suntik yang tergeletak.


"Simpan itu baik-baik, jangan sampai tanganmu menyentuhnya" Alisa kembali menuruti permintaan Ayunda tanpa membantah dan bertanya apapun. Dia memasukkan jarum itu kedalam plastik lalu menyimpanya didalam tas sesuai permintaan Ayunda.


"Tadi Luna akan menyuntikkan itu padaku, sayangnya Nathan menghentikannya" ucapan Ayunda membuat Alisa heran.


"Sayangnya?" tanya Alisa.


Ayunda terkekeh "Luna mengatakan kalau aku sepertinya punya banyak cadangan nyawa"


"Walaupun dia menyuntikkan itu padaku masih ada cadangan nyawa yang lain yang akan membuatku tetap bertahan hidup. Bukan begitu?"


"Ayunda, kamu pasti akan baik-baik saja. Banyak orang yang menyayangimu. Ada aku, mama, Nathan, Kevin, dokter Erick dan yang lain. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami Ayunda" Kini Alisa menaggis, dia tahu maksud perkataan Ayunda yang putus asa.


"Apa aku bisa melewati operasi ini Lis?" tanya Ayunda lirih.


"Kamu pasti bisa Nda, aku mohon jangan kembali lagi kedunia lainmu"


"Kamu pasti akan lebih bahagia disini bersma kami dari pada bersama orang-orang yang tidak nyata"


"Tapi aku menyukai mereka Lis, Kakakku Kevin, kekasih gelapku Kak Erick dan calon suamiku Nathan" Ayunda mengatakannya sambil tertawa kecil dan Alisa tidak menyukai itu.


"Akhhh kenapa nama mereka harus sama" geram Ayunda.


"Ayunda...."


...*******...

__ADS_1


__ADS_2