Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 141 “Sabar Ini Ujian”


__ADS_3

“Hatiku berdebar saat berada di dekatnya. Mataku tiada hentinya menatap paras cantiknya yang mempesona. Oh Tuhan mungkinkah aku... jatuh cinta?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan menyerahkan kartu itu kepada Aletha sembari menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkannya. Karena hal itu begitu mudah, kedekatan Presiden Arab dengan Keenan yang sebagai Kapten pasukan berani mati.


“Waw, ternyata... Aa itu hebat! Selain pintar petak umpet sama Neng, pintar tarik ulur, pintar membuat Neng cemburu, pintar memikat hati Neng, tapi juga pintar memikat hati Presiden Arab.” Aletha berdecak kagum, tidak sangka jika Keenan memiliki banyak kelebihan.


“Tapi jawab dulu, jika iya... Aa akan mengatur jadwalnya. Jika tidak mau... Aa tidak akan menggunakan kartu itu dengan sembarangan lagi.”


Aletha membulatkan kedua matanya ke atas, seolah tengah memikirkan jawaban yang akan diberikannya kepada Keenan.


“Glegerrrr...”


Suara petir terdengar begitu keras, membuat para wanita yang belum tidur merasa takut, kecuali Aletha dan Rania. Kedua wanita itu memang diciptakan menjadi wanita yang tangguh dan kuat, memiliki jiwa pemberani.


“Neng, kok tak peluk Aa?”


“Kenapa harus peluk, Aa? Kan, tadi sudah peluk sekarang giliran peluk Alina, ada petir loh!”


“Justru ada petir kenapa Neng tak peluk Aa? Biasanya kalau ada petir seperti itu kebanyakan wanita akan peluk lelakinya. Tapi... kenapa Neng tidak?”


“Bwahaha... Aa itu ngelawak ya? Penjahat saja Neng tidak takut, apalagi petir. Takut itu sama Allah, Aa. Betul, kan?”


Keenan manggut-manggut, membenarkan apa yang diucapkan Aletha. Dan malam yang kian melarut membuat Aletha memutuskan untuk segera lekas tidur dan menemani Alina. Akan tetapi, Keenan mencegah Aletha saat ia ingin merebahkan tubuhnya di samping Alina.


Aletha mengerutkan alisnya, menatap Keenan dengan bingung. Sedangkan Keenan berharap jika Aletha peka dengan keinginannya itu. Tapi...


“Aa kenapa sih? Masa Neng mau tidur tidak dibolehin. Neng ngantuk Aa, atau... Aa masih mau jawaban soal tadi, ya?”


Keenan mengangguk sembari tersenyum tipis.


“Jawabannya... Neng mau, Aa. Aa atur saja jadwalnya.”


Setelah memberikan jawaban kepada Keenan Aletha segera merebahkan tubuhnya di samping Alina. Aletha tidur sambil memeluk Alina, membiarkan Keenan yang masih terjaga. Dan rasa harap Keenan telah musnah sudah, karena target sudah tertidur pulas bersama pelita hatinya.


‘Sabar Ke, pasti bisa di lain hari.’


Keenan meraba dadanya, ia ingin memperbesar rasa sabar saat menanti waktu yang diinginkannya tiba. Karena seorang suami harus bisa mengerti seorang istri.


Berhubung target sudah tertidur Keenan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Alina, karena posisi Alina berada di tengah. Sehingga pelita akan tetap terjaga.


“Aku bahagia Ya Allah, karena Engkau kembali mempersatukanku dengan istri dan anakku.” Keenan menatap lekat Aletha dan Alina yang berada di hadapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania masih terjaga, ia menyiapkan beberapa perlengkapan dan juga peralatan yang akan dibawa besok siang untuk bertugas ke Kalimantan Timur.


“Kok... kamu belum tidur? Sedangkan semuanya sudah tidur,” ucap Bian dengan amat lirih.


Rania yang memang menyiapkan alat tempur di ruang tengah membuat Bian merasa tertarik ingin menghampiri Rania. Dan itu adalah kesempatan bagi Bian untuk melakukan pe de ka te di saat semua sudah tertidur.


“Saya masih sibuk menyiapkan perlengkapan saya, karena besok siang saya akan dipindah tugas ke Kalimantan Timur. Anda sendiri kenapa belum tidur?” tanya Rania tanpa menoleh ke arah Bian.


“Emm... kebetulan saya belum mengantuk. Bolehkah jika kita sedikit mengobrol?” ajak Bian.


Ucapan Bian seketika membuat Rania menoleh ke arahnya. Dan tanpa sengaja tatapan antara Bian dan Rania bertemu, bahkan tatapan itu saling mengunci satu sama lain.


Deg...


‘Hatiku berdebar saat berada di dekatnya. Mataku tiada hentinya menatap paras cantiknya yang mempesona. Oh Tuhan mungkinkah aku... jatuh cinta?’ Bian bermonolog dalam hati.


“Eh maaf, saya sudah selesai sekarang. Dan... hari sudah malam, lebih baik kita istirahat saja agar besok bisa bangun pagi dan tidak telat sholat subuhnya.” Rania pergi meninggalkan Bian yang masih berdiri di ruang tengah.

__ADS_1


Bian tiada hentinya menatap punggung Rania yang kian tak terlihat lagi. Karena Raia sudah berbelok dan masuk ke kamarnya.


‘Baru juga masih mau pe de ka te, lah malah targetnya main pergi begitu saja. Haduh Bian, sabar... ini ujian.’


Bian mendesah, ia pun bernasib sama dengan Keenan. Harus ekstra sabar untuk meluluhkan hati wanita yang menjadi lentera dalam hidupnya.


Dan berhubung semua sudah tidur dan Bian merasa sepi karena sendirian akhirnya Bian memutuskan untuk menarik selimut setelah memposisikan dirinya di samping Bayu. Sedangkan Naina tidur bersama Larisa di kamar yang sudah disediakan oleh Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam sepertiga malam yang kedua di mana waktu memasuki pukul 00.00 sampai 01.00 dini hari Keenan terbangun dari tidurnya dan ia pun memutuskan untuk menunaikan sholat tahajud dua rakaat. Perlahan ia beringsut dari tempat tidurnya agar pergerakannya tidak membuat Aletha maupun Alina terbangun.


Setelah mengambil air wudhu Keenan mengenakan baju koko, sarung dan pecinya. Setelah dirasa sudah rapi sajadah pun ia bentangkan untuk segera menunaikan sholat tahajud.


Setelah itu tidak lupa Keenan membaca doa dan memohon ampunan kepada Sang Maha Agung, Allah SWT.


“Allaahumma laka aslamtu wa bika aamantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu, wa bika khaashamtu wa ilaika haakamtu faghfirlii maa qoddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a’lantu wa maa anta a’lamu bihiminnii. antal muqoddimu wa antal mu’akhkhiru laa ilaaha anta. wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”


“Ya Allah hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali (bertaubat), kepada-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku meminta keputusan, maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang kemudian serta apa yang kusembunyikan dan yang kulakukan dengan terang-terangan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku, Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau, dan tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada kekuatan (untuk melakukan ibadah) kecuali dengan pertolongan Allah.”


“Aamiin.” Aletha mengaminkan doa yang dilangitkan oleh Keenan.


Meskipun Aletha mengudarakan suaranya dengan lirih tetapi suara itu mampu di dengar oleh Keenan. Sehingga membuat Keenan merasa terkejut, seketika menoleh ke pusat suara.


“Kenapa Neng bangun?”


“Lalu... kenapa Aa tidak membangunkan Neng jika mau sholat tahajud?”


Aletha menghampiri Keenan yang masih duduk di lantai. Lalu Aletha menatap mata Keenan yang selalu memberikan keteduhan untuknya.


“Itu Aa lakukan karena Aa tidak mau mengganggu Neng saat tidurnya pulas begitu. Aa... tak tega.”


Aletha manggut-manggut, ia tidak merasa marah dengan apa yang dilakukan Keenan. Tetapi direlung hatinya Aletha merasa penasaran dan ia juga menyimpan pertanyaan yang siap diajukan kepada Keenan.


“Boleh.” Keenan manggut-manggut.


“Apa Aa selalu melakukan sholat tahajud?”


Keenan tersenyum, ia tahu dengan pertanyaan yang diajukan Aletha Keenan akan berusaha untuk menjelaskan sedetail nya mengapa wajib baginya menjalankan sholat tahajud meskipun sebenarnya hukum dari sholat tahajud itu sendiri adalah sunah. Dan Keenan akan berusaha untuk menjadi suami yang membimbing Aletha sebagai istrinya ke jalan Allah, karena Keenan juga ingin Aletha akan menjadi bidadari di surga bersamanya nanti.


“Aa sering melakukannya, bahkan hampir seoeeyiha malam Aa bangun untuk menunaikan sholat tahajud. Meskipun sholat tahajud itu sendiri hukumnya sunah, tetapi bagi Aa itu wajib. Karena sholat tahajud banyak akan manfaatnya jika kita sebagai hamba Allah menjalankannya.”


“Memangnya manfaatnya apa saja, Aa?” tanya Aletha yang ber antusias untuk mendengarkan penjelasan Keenan.


“Sholat tahajud memiliki manfaat positif bagi kesehatan kita, Neng. Menjaga kesehatan pernapasan, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah gagal ginjal, mencegah penyakit jantung, kemoterapi tanpa adanya efek samping dan mencegah hipertensi serta hipotensi.” Keenan menjelaskan panjang lebar, tetapi begitu mudah untuk dipahami oleh Aletha.


Aletha manggut-manggut, rasa penasaran pun membuncah dada. Meskipun selama ini sudah pernah menjalankan sholat tahajud tetapi itu dilakukan hanya sepengetahuannya saja yang hukumnya sunah.


Setelah mendengarkan penjelasan Keenan Aletha pun beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan mengambil air wudhu hendak menjalankan sholat tahajud.


Selama Aletha masih menjalankan sholat tahajud Keenan dengan setia menunggu Aletha sembari tetap menjaga wudhu nya. Karena setelah itu Keenan ingin membacakan doa untuk Aletha.


‘Ya Allah, aku sudah menunaikan sholat sunah dalam sepertiga malam. Semoga Engkau selalu mengampuni dosa-dosa yang sudah kuperbuat selama di dunia ini. Dan semoga saja Engkau juga selalu mempermudah aku dalam segala urusanku.’ Aletha berdoa di dalam hatinya.


Setelah Aletha mengaminkan doa yang sudah dilangitkan nya, ia pun berbalik menghadap ke arah Keenan yang duduk di belakang menunggunya.


“Aa... salim dulu!” ucap Aletha.


Dengan sangat senang hati Keenan mengulurkan tangannya, lalu Aletha meraihnya dan mencium punggung tangan Keenan meskipun tangannya masih berbalut mukena. Setelah mencium tangan Keenan Aletha memiliki rasa tersendiri, ada rasa bahagia dan ada rasa yang membuatnya harus tetap mematuhi seorang suami.


“Ya sudah, Neng duduk dulu sini!”


Keenan meminta Aletha untuk duduk di hadapannya, lalu tangan Keenan ia letakkan di atas puncak kepala Aletha dan membacakan doa.

__ADS_1


“Bismillahirrahmanirrahim...”


“Wallazina yaqụlụna rabbana hab lana min azwajina wa żurriyyalatina qurrata a'yuniw waj'alna lil-muttaqina imama. Aamiin...”


“Doa apa yang Aa bacakan kali ini ke Neng?” tanya Aletha dengan rasa penasarannya.


“Doa untuk istri agar selalu bahagia. Doa ini pun tercantum dalam surat Al Furqan ayat 74 dan memiliki arti juga Neng,”


“Apa artinya, Aa? ”


“Artinya... Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”


“Aamiin...” Aletha seketika mengaminkan doa Keenan setelah tahu apa arti doa yang dibacakan Keenan tadi.


“Ya sudah, mumpung masih jam tiga Neng tidur lagi gih! Ingat besok waktunya sekeluarga liburan, tak enak juga jika kita terus-terusan berada di dalam kamar.”


“Kalau besok kita liburan Aa tidak akan keberatan, kan? Soalnya... kita tidak bisa memiliki quality time berdua.”


“Tidak dong, Neng. Anggap saja ini ujian dan kita sebagai hamba Allah harus bersabar, pasti ada waktu untuk kita bisa quality time berdua.”


Keduanya kembali merebahkan tubuh di samping Alina yang masih tertidur pulas. Namun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi Alina sudah terbangun dengan binar mata bahagia yang terpencar dari kedua bola mata bulatnya.


“Ini nih ujian lagi dari Allah, ketika mata masih mengantuk tetapi harus tetap bangun kalau sangat pelita sudah terbangun.” Keenan memeluk Alina dan menciumi pipi bakpaonya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Nanti maunya makan apa buat acara di pantainya?” tanya Aletha kepada Mama Nina, Luna, Bu Laila, Naina dan Rania.


“Masak seblak ceker, ayam panggang dan sate maranggi. Bagaimana dengan menu itu?”


“Boleh juga itu, Naina. Kalau begitu ada yang harus pergi ke pasar dulu untuk membeli bahannya. Soalnya... di kulkas sudah habis.” Aletha nyengir saja saat mengingat isi kulkasnya tidak terpenuhi semua bumbu yang diperlukan.


“Aku saja tidak apa-apa kak, sekalian aku juga mau beli seuatu dulu sebelum nanti berangkat.” Rania menawarkan diri.


Saat Rania menawarkan diri untuk pergi ke pasar ada telinga yang mendengar, tak lain itu adalah Bian. Dan saat itulah Bian kembli melakukan aksi pe de ka te nya dengan Rania.


“Hai, mau kemana kok bawa tas segala? Mau ke pasar ya?” tanya Bian basa-basi.


“Ini kak, Rania memang mau ke pasar. Memangnya kenapa, kak?” Rania berbalik bertanya.


“Tidak apa-apa. Boleh kak Bian antar, seolanya mau membeli sesuatu juga di pasar.” Bian memberikan jawaban alibinya saja.


Mengingat akan waktu yang terus berjalan Rania pun mengangguk, mengiyakan tawaran dari Bian. Dan Rania mengambil duduk di bagian jok belakang dengan motor Bian. Karena Rania takut jika memegang Bian, tas yang dibawanya tadi ia letakkan di bagian tengah untuk dijadikan sebagai pembatas.


Hiks...


‘Yah, gagal juga harapanku di peluk sama ayang. Tolong peka lah sedikit Rania, aku itu... jatuh cinta.’ Bian bermonolog dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Awal pagi yang cerah membuat kaum remaja banyak yang ber antusias ingin melihat senja pagi. Banyak pasangan muda dan mudi yang menghabiskan waktu berdua di pantai itu.


Pantai Carita juga bisa dikunjungi jika mencari pantai dekat Jakarta. Pantai ini berada di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Sesampainya di sana, pengunjung akan disambut oleh pasir putih kecokelatan yang lembut dan hamparan laut yang memesona. Bahkan pengunjung juga bisa menginap dan bersantai di pinggiran pantai. Bukan hanya itu saja, sebagai hiburan yang membuat pengunjung puas menikmati suasana pantai pengunjung juga bisa melakukan berbagai aktivitas olahraga air, di antaranya snorkeling, banana boat, surfing dan


ber-jet ski.


“Neng mau bermain yang mana? Banana boat, snorkeling atau... yang lainnya?”


“Emm... Neng mau duduk di sini sajalah, Aa. Kasihan Alina kalau ditinggal nanti.”


Ketika Keenan hendak mengambil duduk di samping Aletha, karena ingin menemani Aletha dan Alina tiba-tiba saja Bagas Kara memanggilnya...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2