Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 98 “Rumah Sakit Cinta”


__ADS_3

“Hatiku meluruh saat kau menghiasi hariku dengan kelembutanmu. Tiada hentinya ku ucapkan rasa syukur saat kurasakan jantung yang berdatak kembali... udara yang kuhirup dengan penuh kesegaran dan tatapan yang meneduhkan dari netramu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu Aletha sudah sadarkan diri, ia mengerjapkan kedua matanya sesekali saat kesadarannya belum sepenuhnya kembali dengan sempurna. Dan beberapa saat kemudian Aletha mampu melihat dengan jelas di mana ia berada saat ini setelah menatap langit-langit dan dinding yang berwarna putih, khas rumah sakit.


“A... aku... ada dimana ini?” ujar Aletha lirih.


Meskipun suara Aletha lirih tetapi Bagas Kara mampu mendengarnya dan seketika itu pula Bagas Kara mendekati Aletha.


“Sayang, Papa ada disini, Nak. Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar juga.” Ujar Bagas Kara dengan bahagia yang bisa dilihat begitu kentara.


“Pa... a... aku ada dimana? Bagaimana dengan Aa Keenan? Dan bayiku? Bagaimana dengan kehamilan ku?” tanya Aletha bertubi-tubi.


“Kamu tenang dulu ya, sayang. Papa akan menjelaskan semuanya.”


“Alhamdulillah, kalian selamat. Calon cucu Papa juga selamat, tetapi... Keenan belum sadar sampai saat ini.”


“Apa?


Air mata Aletha meluruh begitu saja dan matanya yang teduh serta berbinar, kini menjadi sendu. Penuh kepiluan saat bayangan Keenan yang menyelamatkannya melayang begitu saja dalam pelupuk matanya. Suara tangis Aletha semakin menjadi saat berada dalam dekapan Bagas Kara. Karena saat ini hanya bahu Bagas Kara yang mampu memikul beban kesedihan Aletha, putri kandungnya dan putri semata wayangnya.


“Kamu tenang ya, sayang. Keenan hanya butuh do'a kita. Semoga saja dengan kita terus mendo'akan kesembuhannya Keenan segera sadarkan diri.” Bagas Kara mengusap punggung Aletha dengan penuh kelembutan.


“Papa... antarkan Aletha sekarang juga ke ruangan Aa Keenan.”


“Tapi Aletha, kamu baru saja sadar. Tubuh kamu pun masih lemah. Lebih baik besok saja kita ke ruangan Keenan nya ya!”


Bagas Kara terus membujuk Aletha agar tidak memaksa untuk pergi ke ruangan Keenan saat itu juga. Karena terlihat dengan jelas tubuh Aletha masih lemah, membuat Bagas Kara merasa tidak tega. Namun, sekeras apa pun usaha Bagas Kara tidak bisa merubah kegigihan Aletha. Hingga akhirnya Bagas Kara mendorong Aletha dengan kursi roda untuk mengantarnya ke ruangan Keenan.


“Aa...” panggil Aletha lirih.


Mata yang memggenang akhirnya tumpah saat Aletha melihat Keenan yang begitu lemah di atas kasur brangker rumah sakit dengan jarum infus yang setia menempel di punggung tangan Keenan.


Bagas Kara mendorong kursi roda Aletha sampai di sisi samping tubuh Keenan. Dan setelah itu, Aletha mengusap pipi Keenan dengan lembut, mencium punggung tangannya dan berkata.


“Aa... Neng tidak akan pernah meninggalkan Aa sendirian. Cepatlah bangun Aa, Neng sudah berada di samping Aa bersama calon buah hati kita.” Aletha berceloteh panjang.


Perlahan jemari Keenan bergerak dengan sangat pelan. Dan Aletha menyadari akan hal itu, seketika ia menekan tombol yang disalurkan dalam panggilan. Tetapi dokter tidak kunjung datang ke ruangan Keenan. Sehingga Aletha mendorong rodanya untuk keluar dan memanggil dokter.


“Dokter...”


“Dokter...”


Teriak Aletha berulang kali untuk memanggil Dokter. Dan tidak lama kemudian seorang dokter yang menangani Keenan tadi kembali hadir untuk memeriksa bagaimana kondisi Keenan saat itu.


Perlahan netra Keenan yang terpejam dengan rapat kini telah terbuka. Dengan segera dokter menempelkan stetoskopnya ke dada Keenan dan memeriksa perkembangan kesehatan Keenan.


“Maaf Pak Keenan, coba lihat jati saya. Jika Bapak bisa mendengar dan melihatnya, maka gerakkan mata Anda.”


Keenan menggerakkan bola matanya sesuai apa yang di intruksi kan oleh dokter itu. Dan setelah melihat bagaimana cara Keenan merespon, senyum pun telah mengembang di bibir dokter itu.


“Alhamdulillah, pak Keenan sudah jauh lebih baik. Hanya perlu mengobati luka bakarnya saja.”

__ADS_1


“Baik, Dok. Terima kasih atas bantuan dan kerja keras Anda.”


“Alhamdulillah, itu sudah menjadi tugas kami. Jika tidak sesuai, maka itu sudah kehendak Tuhan.”


Bagas Kara manggut-manggut membenarkan perkataan dokter itu. Setelah itu dokter pun pergi bersama perawat yang menjadi asistennya. Dan Bagas Kara yang melihat senyum Aletha, ia pun merasa sedikit lega.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari Laura.


Garda dan Laura datang seusai mengurus keperluan Luna yang tidak sempat dibawa oleh mereka. Karena prediksi kelahiran buah hati Luna dan Juan yang kedua diperkirakan satu minggu lagi. Tetapi ini malah maju dalam minggu pertama.


“Wa'alaikumsalam.” Jawab Aletha dan Bagas Kara serempak.


Keenan yang belum sadar dengan sepenuhnya dan tubuhnya pun masih sangat lemah, sehingga ia hanya bisa membalas salam kedua adiknya itu dalam hati. Hanya saja ia mampu mengulas senyum tipis untuk menyapa kedatangan Laura dan Garda.


“Alhamdulillah, ternyata kau dan kak Keena sudah juga. Aku senang, saat melihat kalian seperti ini.” Ungkap Laura.


“Alhamdulillah, Ra. Ini juga berkat do'a kalian semua. Tapi... kenapa kalian bawa barang sebanyak itu?” tanya Aletha saat melihat Garda menenteng tas besar.


“E...” Laura menggantungkan ucapannya ke udara.


“Sayang, kak Luna mau melahirkan. Sekarang sedang berada di ruang persalinan.” Sambung Bagas Kara.


Seketika Aletha terkejut, berita itu adalah berita yang amat besar. Aletha merasa bahagia setelah Allah memberikan kesempatan untuknya dan Keenan yang kedua kalinya dalam menghirup udara segar serta merasakan indahnya dunia bahkan merasakan bahagia saat berkumpul bersama.


“Alhamdulillah...” pekik Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Oek... oek... oek...”


Setelah bayi itu dibersihkan, Juan mengadzankan bayi laki-laki nya yang diberi nama Atalaric Baihaqi Gunadhaya. Di mana nama itu di ambil dari keluarga Gunadhaya, seperti nama Juan. Juan Gunadhaya, pewaris tunggal perusahaan ternama dari keluarga Gunadhaya, tetapi Juan lebih memilih menjadi seorang dokter anak daripada mewarisi darah seorang CEO besar.


Setelah Atalaric sudah di adzan kan, bayi mungil itu siap untuk diberikan susu ASI ekslusif dari seorang ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah beberapa hari menjalani perawatan, Aletha sudah baik-baik saja. Bahkan kini ia kembali bertugas sebagai dokter, ahli bedah jantung. Sedangkan keadaan Keenan masih belum pulih dengan sempurna. Karena ledakan yang ditimbulkan granat itu membuat punggung Keenan mengalami luka bakar yang cukup parah.


“Terima kasih Neng, karena Neng sudah mau mengurus luka Aa yang menjijikkan ini.” Ujar Keenan yang tidak mengalihkan pandangannya ke depan.


“Itu sudah menjadi tanggungjawab Neng sebagai istri Aa. Meskipun luka itu sangat menjijikkan sekalipun, Neng akan tetap melakukannya. Mengobati sampai luka itu mengering.” Aletha masih fokus mengolesi salep ke punggung Keenan.


“Hatiku meluruh saat kau menghiasi hariku dengan kelembutanmu. Tiada hentinya ku ucapkan rasa syukur saat kurasakan jantung yang berdatak kembali... udara yang kuhirup dengan penuh kesegaran dan tatapan yang meneduhkan dari netramu.”


“Aa bersyukur dan sangat bersyukur, Allah sudah memberikan kesempatan untuk Aa bisa melihat, menemani dan menjaga Neng serta buah hati kita.”


Aletha mengulas senyum yang merekah, hal sama seperti apa yang dirasakan Keenan dulu pernah dirasakan oleh Aletha.


“Sudah cukup, sekarang Aa bisa duduk atau rebahan dengan miring.”


“Terima kasih, Neng.” Keenan mengangguk.


Saat Aletha masih ingin bersama dengan Keenan, tiba-tiba saja rasa muka menderanya. Bahkan Aletha tidak bisa menahan rasa ingin muntah, sehingga ia pun segera menuju ke toilet.

__ADS_1


“Uwek... uwek... uwek...”


Berulangkali Aletha memuntahkan sarapan yang ia makan tadi pagi bersama keluarganya. Keenan yang mendengar suara Aletha rasanya jantungnya terhunus belati tajam. Keenan merasa tak tega dengan kondisi Aletha yang hampir setiap pagi merasa mual sampai muntah. Bahkan saat penculikan itu Aletha juga mengalami hal yang sama.


“Sabar ya... Neng. Aa yakin, Neng kuat.” Keenan memijat tengkuk Aletha.


“Aa kenapa turun dari kasur? Aa harusnya duduk saja, tidak boleh turun dulu.”


“Aa... hanya tidak tega melihat Neng seperti itu terus.”


“Aa... Neng tidak apa-apa kok, palingan sebentar lagi juga hilang. Sekarang Neng antar Aa lagi ke ranjang.”


Aletha mengantarkan Keenan ke ranjangnya lagi. Dan setelah itu, Bagas Kara dan yang lainnya tiba bersama-sama. Membuat ruangan Keenan seketika ramai saat obrolan bergulir menemani mereka.


“Neng, boleh cium tak?” bisik Keenan.


Aletha seketika melotot, ingin rasanya ia menarik punggung Keenan keras-keras tetapi, ia tahu Keenan masih lemah dan terluka. Sehingga niat itu ia urungkan.


“Aa, tidak lihat apa banyak orang. Malu tahu, lagian punya suami kok mesum di pagi hari.” umpat Aletha.


“Itu buka mesum Neng, Aa hanya minta Ci... um. Siapa tahu Aa sekarang ngidam begitu.”


Keenan selain pandai dalam taktik memikat hati Aletha ternyata ia juga pandai mengeles saat ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan.


“Ayolah Neng, masa tega liat anaknya nanti ileran.” Keenan nyengir.


Aletha tidak bisa berbuat apapun selain mengiyakan permintaan Keenan, karena Keenan sudah menyangkut pautkan ileran pada anaknya. Duh gusti, ada saja Keenan itu ya! Wkwkwk...


Dan saat Aletha mencium Keenan, tanpa sengaja Garda melihat aksi itu.


“Woi... kapten... ini masih pagi, woi!” teriak Garda.


Aletha segera menunduk, ia malu saat Garda menggodanya dan yang lain pun ikut menertawakannya.


“Dasar, kapten mesum.” umpat Naina.


“Biarin. Bilang saja kalau kamu ingin seperti ini kan, Naina. Jangan iri!” Keenan mencebik.


Gelak tawa seketika memekik telinga di ruangan itu. Dan Naina yang memang masih belum memiliki pasangan, ia pun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kapten Keenan sungguh membuatnya malu, harga dirinya anjlok seketika. Akan tetapi, Naina tidak mempermasalahkan hal itu. Karena hidupnya terlalu santai dalam memikirkan jodoh.


Semua telah kembali pada aktifitas masing-masing. Dan pada jam makan siang Aletha kembali ke ruangan Keenan untuk menyuapinya.


“Neng, biar Aa makan sendiri saja. Kalau begitu Neng kan tidak akan merasa capek.”


“Aa... memangnya ada apa Neng capek. Terus Neng ngeluh begitu, malahan Neng suka tahu melakukan hal ini. Dan Neng sudah memberi nama rumah sakit ini dengan rumah sakit cinta.”


“Rumah sakit cinta?” Keenan mengerutkan keningnya.


Aletha mengangguk, lalu ia berkata, ”Iya Aa, di rumah sakit ini Neng bisa merasakan cinta dan mendapatkan cinta dari Aa. Terus... dengan kehadiran Atalaric, keluarga kita penuh dengan cinta. Bukan seperti itu?”


Keenan hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Aletha saja. Meskipun ia sebenernya tidak mengerti tingkah absurd istrinya itu. Bagi Keenan melihat tawa Aletha saja sudah menular di bibirnya. Merasakan senang yang tersendiri bagi Keenan.


Dan kebersamaan mereka membuat hati seseorang merasa panas saat netra elangnya menatap tajam ke arah mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2