Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 94 “Ular Bakar Yang Lezat”


__ADS_3

“Lepaskan tanganku dan pergilah menjauh. Jangan tangisi aku jika aku tiada nanti. Cukup kenanglah aku yang pernah mengisi ruang hidupmu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ikat tangannya kembali! Jangan sampai Kapten ini membodohi kita.”


“Dorr...”


Saat anak buah Yohan bergerak dan hampir mengikat kembali tangan Keenan, tiba-tiba saja suara tembak yang mengudara telah terdengar. Dan anak buah Yohan pergi dari tempat itu untuk memastikan siapa yang berada di luar sana.


“Ceklek.” Suara pintu dibuka secara kasar.


“Hei... siapa di sana?” Teriak salah satu anak buah Yohan.


“Ini saya, Pak. Maafkan saya jika suara tembak saya ini sudah mengganggu Bapak. Saya hanya ingin menangkap ular ini, Pak.” Ular pun di tenteng.


“Siapa kamu? Kenapa bisa ada disini?”


“Yaelah, Pak... ini itu hutan belantara yang amat luas. Dan saya itu warga sini untuk berburu, masa iya harus laporan sama Anda, Pak.”


“Oh iya, ngomong-ngomong saya boleh pinjam pisau Anda, Pak? Saya mau memotong ular hasil berburu saya ini, saya merasa lapar.” Bian nyengir.


Bian melakukan penyamaran untuk mengelabui anak buah Yohan dengan berpakaian ala pemburu yang memiliki wajah sedikit tua, yang usianya sekitar lima puluh tiga. Dengan wajah yang memelas bak tidak makan seminggu, akhirnya anak buah Yohan mengantar Bian ke dapur untuk meminjamkan pisau, peralatan memasak dan yang pasti kompor.


“Cepat-cepat.” Ujar Bian tanpa suara.


Dengan segera Garda menyusup dan berlari masuk ke dalam sebuah ruangan. Garda menjalankan perintah Keenan yang ditulis melalui sampah bungkus coklat batang yang dibuang di sisi samping. Langkah kedua Garda menemukan lagi sampah yang sama, tetapi perintah yang ditulis dengan berbeda.


“Aku yakin kalian sudah berada di sini. Dan langkah kedua, Garda harus menyelamatkan Aletha yang disandera saat aku mengelabui Yohan. Bian tetap melakukan tugas yang sama, mengelabui anak buah Yohan. Naina tetap berjaga di luar jika saja anak buah Yohan datang lebih banyak, segera melapor.”

__ADS_1


“Dalam setiap sampah bungkus coklat batang ada kode lain. Laporkan kode itu ke Komandan.”


Taktik untuk menjinakkan lawan masih tetap dilakukan dengan sangat hati-hati. Dan Garda segera memberitahukan Naina seperti apa yang diperintahkan Keenan.


“Sekarang aku harus pergi ke arah selatan, di mana Aletha disandera.” Uajr Garda dengan yakin.


Garda kembali mengendap-endap ke arah selatan, sisi ruang yang dijadikan tempat penyekapan Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Siapa yang sudah menembakkan peluru di luar?” tanya Yohan saat anak buahnya sudah kembali ke ruangan itu.


“Hanya warga di sekitar sini yang sedang berburu, Bos. Saya merasa kasihan kepadanya, jadi ... saya biarkan Dia memasak ular hasil tangkapan nya di dapur, Bisa.”


“Apa kamu yakin Dia hanya warga sekitar?” Yohan menatap tajam anak buahnya.


“Iya, Bos.” Anak buah Yohan mengangguk.


“Sekarang kamu ikat lagi tangan Kapten ini.”


“Jangan terburu-buru untuk memutuskan hal bodoh. Jika kamu mengikat tanganku lagi, bisa-bisa kalian akan merasakan capek sendiri. Karena aku sekarang... mau BAB.” Keenan nyengir.


Lelucon itu mampu membuat Aletha merasa terhibur walaupun sedikit, karena rasa khawatir benar-benar menyelimuti hatinya jika saja taktik Keenan diketahui oleh musuh maka nyawa mereka akan terancam.


Anak buah Yohan mendesah ketika menunggu Keenan saat bolak-balik ke kamar mandi dengan alasan diare. Sungguh, hal itu membuat penulis ikut ngakak. Dan penulis juga yakin pembaca pun ikut ngakak juga.


‘Ke... aku yakin kali ini akan berhasil mencabut sampai akarnya.’ batin Aletha dengan melukiskan senyum tipis di bibirnya.


“Bruakkk...”

__ADS_1


Pintu di dobrak secara paksa oleh anak buah Yohan saat Keenan tak kunjung keluar dari dalam toilet.


“Heh, kamu mau apa? Aku masih mau mengejan ini. Jadi orang kok tidak sabaran banget. Orang mau mengeluarkan tinja kok malah diganggu.” Umpat Keenan dengan nada kesal.


Sengaja Keenan berjongkok di sana untuk memaksimalkan aktingnya. Sedangkan di luar jendela kamar mandi sudah ada Neina yang siap untuk melakukan tugas ke tiga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


‘Aa kenapa tidak kembali? Apa... Aa sudah berhasil kabur?’


Aletha menanti kehadiran Keenan kembali di sisinya, karena rasa rindu masih memenuhi hatinya. Dan tidak lama kemudian Keenan pun datang dengan membawa sepiring nasi putih dan lauk ular yang sudah dimasak dengan kelezatan yang maksimal.


‘Harumnya bau masakan ini. Tapi aneh dengan bentuknya.’


“Kenapa Yohan? Apa kamu mau dengan ular bakar ini, hmm? Aku yakin, kamu pasti belum pernah makan makanan selezat ini bukan? Tadi... aku minta sama juru masak di dapur.” Ujar Keenan menyodorkan makanan yang dibawanya.


Aletha menatap Keenan yang melahap nasi putih dengan lauk ular bakar. Dan saat melihat masakan itu membuat Aletha ingin ikut memakannya. Perutnya berbunyi, tanda ia merasa lapar. Sehingga ia meminta Keenan untuk menyuapinya.


“Aa... mau makan itu juga.” tunjuk Aletha ke arah piring Keenan.


Permintaan Aletha sungguh membuat Keenan membulatkan kedua netra elanya dengan sempurna. Keenan bergidik ngeri saat melihat Aletha benar-benar menginginkan ular bakar itu.


Aletha segera mengunyah makanan itu saat masuk ke dalam mulutnya setelah mendapatkan ijin dari Yohan. Dan beberapa kali Aletha masih menikmati setiap kunyahan dari ular bakar yang lezat, lauk yang dijadikan pelengkap dari nasi putih yang masih hangat.


‘Neng sedang nyidam atau memang doyan.’ batin Keenan.


Setelah usai makan nasi dengan lauk ular bakar sampai habis, sekarang Keenan memberikan sebatang coklat sebagai pencuci mulut untuk Aletha. Dengan begitu pelan Aletha membuka bungkus coklat batang itu. Dan Yohan hanya menatap keromantisan keduanya.


“Lepaskan tanganku dan pergilah menjauh. Jangan tangisi aku jika aku tiada nanti. Cukup kenanglah aku yang pernah mengisi ruang hidupmu.”

__ADS_1


Aletha terus merekam setiap gerakan Keenan, terutama saat Keenan mengatakan hal itu kepadanya.


__ADS_2