
Satu minggu sudah Ayunda pulang dari rumah sakit, kesehatannya semakin membaik, hanya penampilan pada rambutnya yang sedikit mengganggu, tapi bukan Ayunda namanya kalau tidak bisa menyempurnakan penampilannya.
"Ayo mas, kita berangkat sekarang" ajak Ayunda.
Hari ini jadwal Ayunda kontrol, Nathan sudah mengabarinya sejak malam, kalau hari ini dia sendiri yang akan mengantar Ayunda.
"Hari ini gadis kecilku benar-benar cantik" Nathan memandang Ayunda dari atas sampai bawah lalu mengedipkan matanya.
"Ih.. ngegombal terus" kesal Ayunda yang langsung berpaling dari hadapan Nathan.
"Yunda, ajak Mas Nathan sarapan dulu" suara Mama Mira terdengar dari meja makan.
"Ayo Mas, udah dipanggil Mama sarapan"
Selesai sarapan, tidak menunggu waktu lama, keduanya segera pamit dan langsung meluncur ke rumah sakit.
"Mas" Ayunda membuka suara, memecah keheningan dari keduanya.
Nathan hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan. "Ada apa?" tanyanya, karena Ayunda tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku bisa minta sesuatu?" Ayunda mengarahkan pandangannya pada Nathan.
"Minta apa sayang? Tas? Baju? Sepatu?" tanya Nathan dan hanya mendapat gelengan dari Ayunda.
"Aku bukan wanita seperti itu" jawab Ayunda kesal.
"Yes, I know"
"Mas tahu, kamu minta mas nikahin kamu secepatnya ya?" goda Nathan dengan senyum ditahan.
"Ishh..." kesal Ayunda langsung mengarahkan matanya keluar jendela.
"Apa yang kamu minta sayang?" tanya Nathan, dia melirik sebentar lalu kembali fokus pada jalanan.
"Aku mau minta, kasus Luna di tarik"
Nathan seketika menepikan kendarannya. "Kamu tidak salah?" tanyanya.
"Mas, bagaimanapun Luna adalah sepupu Mas, jadi lebih baik kita selesaikan secara kekeluargaan"
__ADS_1
"Dia bukan sepupuku, Luna hanya anak angkat"
"Biarpun begitu kalian pernah dekat. Aku tidak ingin ada penyesalan pada akhirnya"
Nathan menarik nafas panjang, mencoba menyegarkan otaknya. Dia kembali menyalakan mesin kendaraannya dan membawanya kembali melaju dijalan raya.
"Kita bicarakan lagi nanti" Ayunda hanya menggangguk, menjawab ucapan Nathan.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, langsung menuju ruangan Dokter Sam tanpa harus antri. Nathan sudah mengatur semuanya, dia sudah memerintahkan pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Ayunda tanpa sepengetahuan gadis kecilnya, mengantri terlebih dahulu.
Penjelasan Dokter Sam membuat Ayunda benar-benar bisa bernafas lega, "Semuanya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, nanti kontrolnya satu bulan sekali saja, sekalian saya resepkan obatnya juga untuk satu bulan. Kita lihat lagi nanti di bulan keenam, apakah terus konsumsi obat atau bisa dihentikan" jelas Dokter Sam.
"Baiklah Dok, terima kasih" balas Ayunda.
"Hem" Dokter Sam tersenyum lebar, "Sekarang Pak Nathan sudah bisa menyiapkan acara pernikahan, tanpa perlu khawatir lagi" goda Dokter Sam.
"Tentu saja Dok" balas Nathan cepat dengan wajah senangnya.
Keduanya sudah kembali didalam kendaraan, Nathan mengemudikan kendaraannya sedikit kencang.
"Mas, jangan ngebut" pinta Ayunda, yang belum pernah melihat Nathan membawa kendaraannya secepat ini.
Ayunda yang merasa takut hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Dia dapat bernafas lega setelah Nathan memakirkan mobilnya, namun ada pertanyaan lain yang muncul di pikiran Ayunda.
"Maaf sudah membuatmu takut" ucap Nathan, dia membantu membukakan seatbelt Ayunda, karena gadis itu hanya diam dengan wajah yang pucat.
"Kenapa kita ke rumah sakit ini Mas?" tanya Ayunda penasaran.
Nathan tidak menjawab, dia turun lalu berjalan begitu saja, Ayunda hanya diam melihat Nathan seolah tidak menghiraukannya. Dengan segera Ayunda turun dari mobil, dengan sedikit berlari dia bisa menyamakan langkah kakinya.
"Mas" panggil Ayunda.
"Mama tidak sadarkan diri dan dilarikan kesini" ucapan Nathan sontak membuat Ayunda terkejut. Pantas saja Nathan melakukan semua, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena dia ingin segera melihat kondisi Ibu Siska. Batin Ayunda yang ikut berjalan cepat, agar tetap berjalan disisi Nathan.
Mereka dapat melihat Pak Robert yang tampak gelisah, dia berdiri didepan pintu ruang tindakan. "Apa yang terjadi Pa? Kenapa Mama bisa tidak sadarkan diri?" tanya Nathan langsung begitu berdiri dihadapan Pak Robert.
"Papa juga tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Seseorang mengirim makanan kesukaan mamamu, melihat makanan kesukaannya mama langsung makan tanpa rasa curiga. Baru beberapa suap, mama merasa sakit kepala dan sesak, dia bantuk lalu memuntahlan makanannya, setelah itu mama langsung tidak sadarkan diri" Pak Robert menjelaskan apa yang terjadi.
Mendengar itu Ayunda bergumam, "Keracunan" ucapnya, walau pelan tapi dapat didengar Nathan dan Pak Robert.
__ADS_1
"Sepertinya begitu" sahut Pak Robert.
"Siapa yang mengirim makanan itu?" tanya Nathan.
"Papa sudah menyuruh El untuk menyelidikinya" jawab Pak Robert.
Suara ringtone dari ponsel Pak Robert berbunyi, bersamaan dengan milik Ayunda yang langsung berjalan sedikit menjauh dari Nathan dan Pak Robert.
Melihat panggilan dari Dariel, Pak Robert segera menggeser tombol hijau. "Bagaimana?" tanya Pak Robert begitu menggangkat panggilannya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Pak Robert, dia hanya menyimak penjelasan dari Dariel, sampai panggilannya selesai.
"Apa yang ditemukan El pa?" tanya Nathan.
Belum sempat Pak Robert menjawab, pintu ruang tindakan terbuka, Dokter dan seorang perawat keluar dari sana. "Bagaimana Siska?" tanya Pak Robert langsung pada Dokter Anggara, yang merupakan sahabatnya.
"Dia akan baik-baik saja. Untung saja Siska sempat memuntahkan makanannya, jadi tidak banyak racun yang masuk. Sudah saya bersihkan racun yang tersisa. Tunggu dia sadar baru nanti dipindahkan kekamar rawat inap" Jelas Dokter Anggara.
"Jadi mama keracunan Om?" tanya Nathan untuk meyakinkan lagi.
"Iya, jenis racunya masih diperiksa, nanti saya kabari. Tidak perlu khawatir" jawab Dokter Anggara yang kini menatap Ayunda yang baru mendekat. "Kamu pintar cari calon istri Nath, dia sangat cantik" Dokter Anggara mengatakannya sambil menepuk-nepuk bahu Nathan.
"Iya Om, ini Ayunda" Nathan memperkenalkan Ayunda pada Dokter Anggara.
"Seperti sering mendengar namanya disebutkan seseorang" ucap Dokter Anggara, yang kini menyelidik Ayunda dari atas sampai bawah.
"Tentu saja, dia putri sahabat kita almarhum Richard" jawab Pak Robert.
"Ah... pantas saja seperti tidak asing melihatnya, kamu tumbuh dengan baik dan sangat cantik" puji Dokter Anggara tulus. "Saya terlambat ya... padahal saya ingin menjodohkan kamu dengan putra saya Erick. Dia juga dokter" jelas Dokter Anggara sambil tersenyum menggoda Nathan.
"Tidak perlu takut Nath, Erick menolak tawaran Om, katanya dia sudah punya seseorang yang dia suka, dan itu pasiennya sendiri" Tanpa disadari Dokter Anggara, ucapannya membuat Nathan semakin cemburu, karena dia tahu siapa pasien Erick yang dimaksud Dokter Anggara.
"Tapi tidak ada salahnya kalau kalian saling kenal. Bukan begitu Nath?" Dokter Anggara kembali menepuk bahu Nathan.
"Iya Om, mungkin itu akan lebih baik, bukan hanya orang tua yang bersahabat, tapi anak-anaknya juga" jawab Nathan asal.
Sementara Ayunda hanya diam menyimak, dia tahu Dokter Erick yang dimaksud Dokter Anggara adalah Dokter Erick yang merawatnya. Untuk pasien yang disukai Erick, Ayunda tidak berani menebaknya, sekalipun itu pada dirinya sendiri.
...*****...
__ADS_1