Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 131 “Menenangkan Pikiran”


__ADS_3

“Tidak ada tempat lain selain Masjid yang bisa menenangkan pikiran kita. Dan tidak ada kalimat lain selain berdzikir untuk mendamaikan hati kita dikala merasa gundah.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seketika Aletha tertawa mendengar Cinta telah menyebutnya sebagai ratu sejagad. Bagi Cinta Aletha adalah wanita yang memiliki banyak skil, keahlian dalam bidang apapun.


“Baiklah, apa yang ingin kamu bahas malam ini?”


“Emm... bagaimana menjadi seorang dokter itu, Dokter cantik?”


“Menjadi seorang Dokter mungkin terlihat mudah, pekerjaan yang hanya memeriksa pasien dan mendapatkan gaji yang... besar. Tapi jika kita menjalaninya sendiri saat berada di ruang operasi, barulah kita mengerti... di sana mental dan adrenalin kita tengah diuji.”


“Dan hal memalukan, menyedihkan serta hal yang mampu menguras emosi tak lain adalah saat Dokter merasa gagal dalam mengoperasi pasien.”


Cinta manggut-manggut, di catatlah apa yang dikatakan Aletha dalam menjelaskan bagaimana menjadi seorang dokter.


Setelah mendapatkan pujian dari Cinta yang membuat Aletha merasa malu sendiri, kini obrolan itupun telah diakhiri karena malam yang kian melarut. Tidak baik juga jika Aletha meneladeni setiap ocehan Cinta, karena kesehatan Cinta lebih penting daripada apapun.


“Ya Allah, terimakasih karena Engkau sudah membuat diri ini berada di tengah-tengah orang-orang yang menyayangiku. Semoga saja mereka selalu Engkau berikan kesehatan.”


Aletha merebahkan tubuhnya di samping Alina yang sudah tertidur pulas sedari tadi. Dan perlahan Aletha memejamkan kedua matanya untuk beristirahat setelah pikiran dan tenaganya terkuras seharian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ting... Ting...”


Pesan masuk ke ponsel Bian. Namun nomor yang mengirim pesan tidak terdaftar dalam buku kontak di ponselnya, membuat Bian merasa enggan untuk membuka pesan itu. Akan tetapi membuat Bian juga merasa penasaran.


Gundah lagi si Bian. Hadeehh...


[Berjalan lurus ke arah Barat Sejauh tiga ratus meter lalu menyerong empat puluh lima derajat ke arah Timur Laut sejauh lima ratus meter.]


Bian membulatkan mata dengan sempurna, mencoba memikirkan apa maksud dari pesan yang sudah dikirim ke ponselnya itu. Namun, Bian tetap saja tidak mengerti.


“Ting... Ting...”


Pesan kedua telah dikirim lagi oleh nomor tersebut.


[Ini perintah dan tidak boleh dibantah. Lakukan sekarang bersama Naina dan Bayu. Aku menunggu kalian di sana, jika tidak tiba dalam satu jam maka... kita kalah dan hanya lelah yang kalian dapatkan dalam misi ini.]


Karena nama Bayu dan Naina disebutkan, Bian pun menunjukkan pesan tersebut kepada Bayu dan Naina.


“Apa maksudnya? Kenapa mengirim pesan tidak jelas seperti ini,” ucap Bayu sedikit acuh.


“Tunggu! Coba kamu baca lagi, Bian. Aku sedikit... mengerti pesan itu.” Naina ikut bicara dan meminta Bian membaca ulang pesan itu, karena Naina lebih tajam dalam pemikiran taktik.


Bian kembali membaca pesan itu, dan saat Bian membaca Naina mengambil Bayu kecil lalu memggambarnya seperti apa yang diucapkan Bian.


Garis sekitar empat sentimeter ke arah Barat lalu ditariknya pula garis menyerong lima sentimeter ke arah Timur Laut.


“Tidak. Ini... Kapten Keenan.”


“Ada apa dengan Kapten Keenan, Naina? Kita saja belum bisa menemukan titik keberadaan jasad Keenan dan Garda. Jangan kamu sebut namanya pula saat kita menjalankan misi besar tanpa meraka. Walaupun kita tahu... sulit tanoa mereka.” Bian mengoceh tidak jelas.


“Bukan itu maksudku, Biannnn...”

__ADS_1


Naina seketika memberikan tabokan ke lengan Bian yang berada di sampingnya. Hingga membuat Bian meringis kesakitan, tetapi selalu diabaikan oleh Bayu dan Naina. Naina kembali melanjutkan teka-teki tipuan belaka.


[Apa kalian belum melakukan perintah ku, hah? Cepat, jangan sampai kalian terlambat satu menit saja.]


Pesan telah dibaca oleh Bian.


“Kita harus berbuat apa coba? Kenal saja tidak main petintajmh saja,” umpat Bian kesal.


“Bodoh sekali kamu Bian, ini adalah tipuan Kapten Keenan yang diberikan kepada kita. Ternyata... mereka masih hidup.” Naina menatap Bian dan Bayu dengan binar mata bahagia.


“Apa maksud mu, Naina?”


“Coba kalian lihat gambar itu! Bukankah itu menunjukkan teori Phytagoras.” Naina menunjuk gambaran hasil tangannya di tanah.


Sejenak Bayu dan Bian terdiam, mulai memikirkan kebenaran seperti apa yang diucapkan Naina. Dan mereka meneliti secara ketajaman mata gambar itu, karena hanya Keenan lah yang mampu memberikan tipuan belaka bagi musuh.


“Benar. Ini... tipuan. Dan kita harus bergerak dengan cepat jika waktu terus berjalan. Ambil arah Barat, kita berlari mulai sekarang.” Bayu meminta Bian dan Naina untuk menyiapkan senjata sebelum mereka berlari dengan sekencang mungkin untuk menuju ke tempat yang sudah ditunjukkan melalui pesan itu.


Hutan di malam hari sangatlah gelap, membuat mereka harus berhati-hati saat berlari. Dan dalam genggaman tangan mereka sudah ada pisau lipat yang bisa saja mereka perlukan jika saja ada ular berbisa yang mereka temukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada pukul setengah satu malam Aletha terbangun, kedua matanya membulat saat mendayoati Alina yang membuka lebar kedua matanya.


“Alina... sudah bangun mulai jam berapa, Nak? Alina haus ya!” ucap Aletha.


Aletha memberikan asi kepada Alina, dengan begitu keras Alina menyeduh asi itu. Sampai-sampai Alina tertidur kembali setelah minum asi selama setengah jam.


Aletha perlahan beringsut dari tidurnya, dan setelah terlepas dari Alina, Aletha beranjak untuk mengambil air wudhu.


Setelah melakukan dzikir Aletha berlanjut membaca mushaf, meskipun tidak terlalu lancar Keenan selalu meminta kepada Aletha untuk terus membacanya.


Setelah itu dilanjut lagi Aletha membacakan doa untuk suami tercinta.


[Allahumma inni a'udzu bika minal Hammi wal hasan wa a'udzu bika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a'udzu bika minal ghalabatid dain wa qahrir rija.]


Aletha mengaminkan doa nya itu, meminta kepada Allah agar Keenan selalu dalam perlindungan Tuhan dimana pun berada, entah di dunia fana ataupun sudah berada di akhirat. Karena meskipun sudah di panggil oleh Allah SWT di akhirat tetap saja harus didoakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha memasak di dapur dengan bahan seadanya saja, karena ia belum sempat belanja lagi untuk kebutuhan sehari-hari.


“Ada jagung, udang dan juga sayur... asam.” Aletha mengeluarkan apa yang ia temukan di dalam kulkas.


Setelah itu Aletha segera mengupas bumbu untuk bahan masaknya. Udang di goreng dengan balutan tepung, lalu memotong jagung dan juga sayuran nya. Setelah itu Aletha merebus jagung dengan sayur yang dijadikan satu. Satu persatu bumbu yang sudah disiapkan segera dimasukkan, ditambah pula dengan kaldu bubuk agar masakan yang dihasilkan bisa lezat dan memiliki aroma yang menggiurkan.


“Akhirnya sudah. Dan sekarang tinggal di tata saja di atas meja makan.”


Aletha menata hasil masakannya itu di atas meja makan, lalu menutupinya dengan tutup saji. Karena ia tidak mau langsung melakukan sarapan, sedangkan Alina saja belum mandi begitu pula dengannya. Bahkan Bu Laila juga belum terlihat keluar dari kamarnya.


‘Bu Laila tidak seperti biasanya, kenapa belum bangun ya? Apa... beliau sedang kurang enak badan?’ tanya Aletha dalam hati.


Aletha tidak menunggu waktu yang lama lagi, ia segera memeriksa Bu Laila yang tak kunjung keluar kamar. Membuat hatinya merasa gelisah.


“Tok... Tok...” Aletha mencoba mengetuk pintu kamar Bu Laila secara pelan.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari dalam sana, membuat Aletha semakin penasaran saja. Dan tidak ada pilihan lain selain membuka pintu kamar Bu Laila meskipun tanpa ijin.


Aletha tidak mendapatkan keberadaan Bu Laila di dalam kamar itu, lalu Aletha berjalan pelan menuju kamar mandi yang sudah disediakan dalam kamar, tetapi tetap saja. Bu Laila tidak ada di dalam kamar maupun di dalam toilet.


‘Kemana sebenarnya Bu Laila? Kenapa tidak ada di kamarnya?’


Aletha berusaha mencari keberadaan Bu Laila di seluruh isi rumah, tetap saja hasilnya pun nihil. Tidak ada Bu Laila di dalam rumah itu dan juga halaman samping. Membuat Aletha merasa gelisah karena Bu Laila pergi tanpa pamit.


“Krekk...”


Terdengar suara pintu utama tengah dibuka. Membuat Aletha harus berhati-hati saat menuju ke ruang depan untuk memastikan siapa yang berada di sana.


“Siapa di sana?” teriak Aletha.


Karena ruang tamu masih gelap dan lampu belum dinyalakan, membuat Aletha tidak bisa melihat secara pasti siapa di sana. Untung saja Aletha jago bela diri, jika tidak pasti wanita makan akan merasa ketakutan dan... pipis dicelana. Wkwkwk


Aletha berjalan secara perlahan, bahkan derap langkah kakinya nyaris tidak terdengar untuk menangkap siapa di sana. Karena Aletha takut jika saja itu maling.


“Kenapa tidak ada jawaban, ya? Ah, Jangan-jangan itu... maling.”


Haduh Aletha ngadi-ngadi saja, masa iya maling beraksi di kala adzan subuh sudah berlalu. Yang ada malah ketangkap tuh maling. Wkwkw...


“Ceklek...”


Tiba-tiba lampu menyala dengan sangat terang. Membuat Aletha merasa silau saat cahaya lampu mengenai kedua matanya. Dan hal itu membuat Bu Laila terkejut saat mendekati Aletha membawa sapu yang siap untuk memukul seseorang.


“Nak, Aletha.” Pekik Bu Laila.


“Bu Laila. Bu Laila darimana saja? Tadi Aletha mencari kemana-mana tidak ada.” Aletha segera menurunkan gagang sapu yang diangkat olehnya.


“Tadi Ibu pergi ke Masjid. Sudah lama Ibu tidak sholat berjamaah untuk menenangkan pikiran serta hati Ibu di sana.” Bu Laila menyunggingkan senyum.


“Di sini agak jauh loh Bu Masjid nya, kenapa tidak sholat saja di rumah dan bangunin Aletha. Kan, bisa sholat bareng sama Aletha.”


“Nak, tidak ada tempat lain selain Masjid yang bisa menenangkan pikiran kita. Dan tidak ada kalimat lain selain berdzikir untuk mendamaikan hati kita dikala merasa gundah.”


“Biarpun agak jauh tetapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kan? Lagipula... ketika kita melangkahkan kaki menuju Masjid satu jengkal saja, kita itu sudah mendapatkan pahala. Coba bayangkan jika kita melangkah lebih jauh lagi saat menuju Masjid, pasti akan berlipat pula pahala yang kita dapatkan.”


Dengan begitu pelan Bu Laila menjelaskan kepada Aletha tentang pahala yang bisa didapatkan dengan cara sederhana. Bahkan bukan hanya pahala yang bisa didapatkan, kesehatan tubuh juga bisa terjaga. Jantung, pernapasan, dan organ tubuh lainnya akan tetap sehat saat kita melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki.


“Terimakasih Bu, karena Bu Laila sudah menjelaskan semua itu kepada Aletha. Aletha... benar-benar tidak tahu akan hal itu. Aletha sangat minim agama, bahkan retorika tentang sopan dan santun saja Aletha sangat minim.” Aletha menundukkan kepalanya karena merasa malu, tidak pantas berada di lingkungan Bu Laila yang selalu mengutamakan Ibadah.


Bu Laila tifak mau jika Aletha terjerumus dalam jalan yang salah. Jika Aletha tidak mengerti Bu Laila siap memberikan tuntunan keoad Aletha. Seperti hati itu, Bu Laila tidak ingin air mata Aletha jatuh karena merasa sangat berdosa.


“Nak Aletha, dengarkan Ibu baik-baik. Setiap manusia itu punya salah dan tak luput dari dosa. Tapi Allah SWT selalu mengampuni perbuatan mereka yang mau bertaubat secara bersungguh-sungguh. Dan sekarang jangan bersedih dan memikirkan hal seperti ini, kita akan belajar bersama.”


Aletha mengangguk, kembali melanjutkan aktivitas yang semula ingin ia lakukan. Ritual pertama adalah memandikan Alina yang sudah bau asem karena keringat. Tapi bau bayi itu sangat khas ya pembaca, biarpun asem tapi kebanyakan orang tua menyukai bau itu. Wkwkwk


Setelah mendapatkan sedikit ilmu dari Bu Laila, jarang sekali Aletha menenangkan pikiran di pantai, sebisa mungkin ia menenangkan pikiran dan hati dengan pergi ke masjid terdekat dari rumah sakit. Tidak lupa pula dengan mengucapkan dzikir dan sholawat untuk mendamaikan hatinya.


“Nomor siapa ini?”


Aletha mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.


[Percayalah, tak akan kubiarkan lampu lentera itu padam untuk selamanya. Aku akan kembali.]

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2