
Nathan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang pribadi Dokter Erick. Belum sempat dia mengetuk pintu ruangan Dokter Erick, seorang perawat menyapanya.
"Dokter Erick tidak ada diruangannya Pak, dia sedang istirahat di cafe depan" jelas perawat itu.
"Baiklah, saya akan menemuinya disana. Terima kasih" jawab Nathan. Dia meninggalkan rumah sakit menuju cafe yang tadi disebutkan oleh perawat. Dia tahu persis dimana cafe itu, dia dan Ayunda pernah beberapa kali mengunjungi cafe itu.
Hari ini Nathan menemui Dokter Erick, karena dia sangat ingin metahui lebih banyak tentang penyakit Ayunda. Dia mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut cafe untuk mencari Dokter Erick, setelah dia masuk dan berdiri dipintu cafe. Dia menemukan sosok yang dicarinya, dia bisa melihat Dokter Erick, tapi dokter itu tidak duduk sendiri. Dokter Erick tertawa bahagia bersama Ayunda gadis kecilnya. Ada rasa kesal, cemburu dan marah jadi satu, ingin rasanya dia datang dan menghentikan tawa bahagia mereka. Namun dia mengurungkan niatnya, dia meninggalkan cafe dan membiarka Ayunda dan Dokter Erick meneruskan kebahagiaan mereka.
Nathan kembali ke Adhipramana Group, dia berdiri menatap langit dan gedung-gedung tinggi lainnya yang ada disekitar perusahaannya. Matanya melirik ke samping, menginggat Ayunda berdiri disisinya, dan dia menyatakan cintanya untuk pertama kali, mencium bibir tipis gadis kecilnya. Nathan merasakan denyut dijantungnya, saat kembali menginggat tawa bahagia Ayunda dan Dokter Erick.
Terdengar ketukan dipintu ruangangannya, "Masuk" jawab Nathan, hanya dua orang yang biasa mengetuk ruangannya, dua orang itu adalah Dariel dan Alisa, dan saat ini yang mengetuk pasti salah satu dari mereka.
"Bro" panggil Dariel begitu dia membuka pintu ruangan Nathan. "Ada Ayunda di bawah" dia memberitahu Nathan.
Tanpa menjawab ucapan Dariel, Nathan meninggalkan ruangannya menuju lift. Lantai bawah dimana Loby berada jadi tujuannya. Lift terbuka, Nathan bisa melihat gadis kecilnya sedang berbicara dengan karyawan resepsionis yang dia tidak tahu namanya. Dia berjalan mendekati meja resepsionis tanpa Ayunda ketahui.
Nathan menahan senyumnya, saat melihat Ayunda yang terkejut saat berbalik dan melihat Nathan. Dia menatap Ayunda gemas saat gadis kecilnya ragu-ragu memanggilnya mas dan kembali beralih jadi pak.
Tidak tahan dengan semua itu, Nathan mendekati Ayunda, menunjukkan kasih sayangnya dengan merapikan topi rajut yang dipakai Ayunda. Gadis kecilnya terlihat sangat cantik hari ini, wajahnya tampak cerah.
"Sepertinya dia sangat bahagia setelah ketemu dokter itu" batin Nathan, lalu meraih tangan gadis kecilnya, mengenggamnya erat mengajaknya menuju lift khusus pimpinan dan dewan direksi. "Mas" bisik Ayunda.
"Kenapa? malu?" tanya Nathan ikut berbisik, mendekatkan bibirnya ditelinga Ayunda.
Widya yang melihatnya terkejut, karena dilihat dari belakang dimana posisi Widya berada, Nathan seperti mencium Ayunda.
"Ini kantor" jawab Ayunda. Dia tidak mau jadi bahan gosip lagi.
__ADS_1
"Kalau kantor kenapa? Mau Mas cium disini" goda Nathan terkekeh. Ayunda mendelikkan matanya membuat Nathan melepaskan genggamannya. "Bawa apa itu?" menunjuk dengan dagunya yang dipegang Ayunda.
Makan siang buat kita dan Alisa" Ayunda menunjukkan bungkusannya. Nathan mengambil alih bungkusan yang dibawa Ayunda dengan tangan kananya, sedangkan tangan kirinya merangkul Ayunda, yang membuat gadis kecilnya kembali terkejut dengan apa yang Nathan lakukan. Kakak baiknya terlalu menunjukkan kalau ada hubungan istimewah diantara mereka.
Ayunda hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Nathan, bersiap-siap mendengarkan gosip tentang dia.
Sementara Widya berdiri diam tanpa berpaling menatap perlakuan bosnya pada Ayunda, "Apa yang aku lihat? Manusia dingin bisa hangat seperti itu" batinnya.
"Akhh ini berita terbaik untuk membatah gosip yang beredar. Siapa bilang Ayunda dipecat Pak Nathan. Berita yang benar adalah kalau Ayunda memenangkan hati Pak Nathan" batinnya.
Widya senyum-senyum sendiri, merasa jadi orang pertama yang tahu kebenarannya. Senyumnya terhenti saat seseorang menegurnya. "Jangan memikirkan akan membuat gosip baru" tegur orang itu yang ternyata Dariel.
"Eh.. Pak El. Tenang saja Pak, saya hanya ingin membalas orang yang membicarakan hal buruk tentang Ayunda. Saya dipihak Ayunda Pak El" jawab Widya sambil cengar cengir.
"Jangan sampai Pak Nathan marah dan memecatmu" ancam Dariel lalu meninggalkan Widya.
Nathan dan Ayunda sudah berada di ruangan Nathan. Mereka duduk disofa, Nathan bersikap manja hari ini, dia tidur dipangkuan Anyunda.
"Kenapa tidak mengabari kalau akan datang?" tanya Nathan sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Ayunda yang mengusap-usap kepalanya.
"Kalau kasih kabar bukan kejutan namanya Mas" Ayunda terkekeh. "Rara tadi habis bertemu Dokter Erick" jelas Ayunda.
"Apa waktunya kontrol? Kenapa tidak mengajak Mas ke rumah sakit?" Nathan membuka matanya menatap Ayunda.
"Bukan di rumah sakit, Rara bertemu Dokter Erick di cafe depan. Bukan untuk kontrol, hanya ingin memberikan bingkisan ucapan terima kasih. Maskan rapat tadi pagi, makanya Rara pergi sendiri" jawab Ayunda.
"Dokter Erick bukan hanya merawat Rara saat sakit, tapi dia juga memberi dukungan pada saat papa pergi meninggalkan Mama dan Rara. Setiap malam dia datang berdua Om Anggara, ikut mengirim doa untuk Papa. Karena itu Rara ingin mengucapkan terima kasih padanya" jelas Ayunda.
__ADS_1
"Maaf, Mas tidak ada disisimu saat Om Richad pergi" sesal Nathan, dia terlambat menemukan Ayunda.
"Memang belum waktunya kita bertemu" Ayunda sangat menyadarinya, semua terjadi seeuai cerita yang tertulis digaris hidupnya.
"Jangan marah ya Mas, Rara menemui Dokter Erick sendiri" pinta Ayunda, dia dapat melihat wajah tidak suka Nathan, saat dia memberitahu bertemu Dokter Erick.
Nathan bagun dari pangkuan Ayunda, jujur dia cemburu tadi. Namun saat melihat Ayunda yang jujur kalau dia bertemu Dokter Erick untuk hal lain dia melupakan marah dan pikiran buruknya tentang Ayunda dan Dokter Erick.
"Mas tidak marah" jawab Nathan.
"Tapi cemburu" balas Ayunda.
"Bukankan itu wajar. Itu tandanya Mas takut kehilangan gadis kecil Mas yang mengemaskan ini" Nathan mencubit hidung Ayunda.
"Tapi jagan berlebihan. Rara tidak suka. Rara sudah memilih Mas Nathan untuk berada disisi Rara" jelas Ayunda.
"Mas tahu, terima kasih untuk itu" Nathan menatap wajah gadis kecilnya, ada kebahagian disudut hatinya yang paling dalam saat Ayunda mengatakan kalau dia telah memilih dirinya untuk berada disisinya. Dia memenangkan hati gadis kecilnya, tapi itu belum bisa membuatnya menghilangkan rasa takut kehilangan gadis kecilnya. Dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
Nathan membelai wajah Ayunda yang tersenyum padanya, dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir tipis Ayunda. Dengan menciumnya dia bisa menenangkan hatinya dari rasa takut kehilangan.
"Mas" ucap Ayunda setelah Nathan melepaskan ciumannya.
"Ra, sepertinya kita harus segera menikah" ucap Nathan. "Kamu maukan?" Nathan mengusap lembut bibir Ayunda yang basah dengan ibu jarinya.
"Ayunda Tiara, apa kamu bersedia jadi istri Nathan Adhipramana?"
...*******...
__ADS_1