
“Wanita itu memang mudah peka dan terluka. Karena hati seorang wanita itu tercipta dengan sejuta kelembutan. Mudah merasakan yang namanya sakit hati, tapi... berbeda dengan wanita yang kuat iman. Karena mereka adalah para wanita yang akan bisa menahan rasa itu untuk memperkuat imannya agar tidak goyah.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Peperangan itu tak lain adalah dari suku Yali dengan suku Ngalik. Dan pusat permasalahan peperangan itu hanya karena rasa tidak terima dari pak Sowa atas meninggalnya Sega putranya. Sehingga banyak warga yang membela pak Sowa dan terjadilah peperangan itu yang mengakibatkan warga meninggal dunia.
“Arghhh...”
Kembali korban kedua yaitu salah satu warga dan seketika meninggal dunia di tempat itu. Anggota polri, Garda dan Keenan merasa kewalahan untuk menghadapi peperangan yang cukup sengit itu.
“Bagaimana pun caranya kita harus melerai peperangan ini, Garda. Siapkan tembakmu yang sudah diisi peluru karet.” Keenan selalu berwaspada, kedua matanya selalu siap siaga.
Keenan dan Garda mulai beraksi menembaki kaki para warga, agar kesulitan untuk berdiri. Karena bagi mereka kaki adalah sasaran yang tepat untuk saat itu.
“Dorr... Dorr... Dorr...”
“Arghhh...”
“Brukk...”
“Kapten!” pekik Garda.
Tiga tembakan sekaligus mengenai tubuh Keenan, tetapi tidak bisa memastikan di mana peluru itu masuk ke tubuhnya. Namun yang pasti seketika Keenan ambruk di hadapan Garda. Karena saat itu keduanya bersiap untuk mengakhiri dengan segera peperangan antar suku itu.
Garda merasa ketir-ketir saat tidak sengaja melihat beberapa anak muda yang berada di balik sebuah pohon tengah mengintai. Dan saat Keenan maju satu langkah maka terjadilah baku tembak dari arah pemuda itu.
“Kapten bertahanlah! Semua akan baik-baik saja, aku mohon!”
Keenan masih sempat tersenyum saat Garda merasakan ketar-ketir tentang nyawanya.
“Garda... langit hari ini begitu cerah. Aku ingin... Aletha juga terlihat cerah seperti ini jika saja... aku gugur dan tidak lagi di sampingnya...”
“Berhenti, Ke! Jangan bilang seperti itu, aku yakin kamu pasti bisa bertahan.” Air mata meluruh begitu saja dan membasahi pipi Garda.
Peperangan antar suku masih terjadi dan akibatnya begutu fatal, dua warga telah dinyatakan meninggal dunia di tempat, enam orang terluka di antaranya satu anggota polri dan juga Keenan. Karena situasi yang ricuh telah dimanfaatkan oleh pemuda di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Astaghfirullah hal azim,” ucap Aletha terperangah.
__ADS_1
Pisau yang sudah digunakan Aletha untuk melakukan pembedahan tiba-tiba saja terjatuh dan sejenak membuat keheningan di dalam ruangan yang mencekam itu.
‘Ya Allah, hilangkan kegusaran di hatiku. Ayo Aletha, fokus!’ ucap Aletha dalam hati.
“Fokus kembali, Dokter anestesi Anda harus tetap menjaga dan mengontrol. Dan Dokter Safira, Anda harus membantu saya dengan memfokuskan mata Anda. Tolong kerjasama kalian!” ucap Aletha tegas.
Aletha melanjutkan jalannya operasi, karena baginya nyawa pasiennya adalah yang utama. Meskipun hatinya sendiri tengah merasa gelisah, tetapi tidak tahu apa yang membuat hatinya merasa seperti itu.
Setelah tiga jam menjalani operasi yang bisa dibilang cukup besar itu, akhirnya kini telah usai. Dengan ijin Allah Aletha dan tim nya berhasil dalam operasi hari itu, sehingga mereka semua bisa bernafas lega setelah beberapa menit lalu ada insiden kecil yang membuat jalannya operasi sedikit tertunda.
“Kak Aletha, ada apa? Apa ada masalah?” tanya Safira lembut.
“Aku tidak tahu pasti itu apa, Safira. Tiba-tiba saja... hatiku merasa gelisah.” Aletha mencurahkan sedikit rasa yang membuatnya tidak tenang.
“Wanita itu memang mudah peka dan terluka. Karena hati seorang wanita itu tercipta dengan sejuta kelembutan. Mudah merasakan yang namanya sakit hati, tapi... berbeda dengan wanita yang kuat iman. Karena mereka adalah para wanita yang akan bisa menahan rasa itu untuk memperkuat imannya agar tidak goyah.”
“Akan lebih baik kak Aletha pergi ke mushola, InsyaAllah... hati kak Aletha akan merasa tenang jika berdzikir.” Safira mengangguk, meyakinkan Aletha yang tengah merasa gelisah dengan perasaan tidak menentu.
“Kamu benar Safira, ya sudah kalau begitu aku mau ke mushola dulu! Dan pasien yang harus melakukan visite hari ini aku serahkan ke kamu, tolong handle semuanya.”
Safira mengangguk, Aletha pun melangkah dan menuju ke ruang ganti terlebih dahulu setelah itu menuju ke mushola.
“Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Tapi... kenapa aku terus kepkiran sama Aa Keenan? Apa terjadi sesuatu di sana?” tanya Aletha dalam hati.
Semenjak suasana hatinya berubah Aletha menjadi tidak nafsu makan dan bahkan makanan yang sudah di pesannya di kantin rumah sakit hanya di aduk-aduk saja olehnya. Membuat Arga merasa aneh saat melihat Aletha yang tidak seperti biasanya.
“Assalamu'alaikum, kak Aletha.” Arga menyapa Aletha setelah berada di dekat Aletha.
‘Kak Aletha kenapa sih? Kenapa melamun seperti itu, padahal sebelumnya tidak pernah. Bahkan salamku saja tidak dijawab. Aneh, perlu untuk ditanyakan.’
“Kak Aletha, assalamu'alaikum.” Kembali Arga mengucapkan salam untuk yang kesekian, kali ini Arga menepuk pelan punggung tangan Aletha.
“Ah iya, a... Arga, ada apa?”
Aletha terperanjat, seketika lamunannya telah buyar dalam sekejap. Dan kehadiran Arga yang sudah terlanjur kepo tidak mau jika pergi tanpa tahu apa yang terjadi kepada Aletha.
Dan Aletha mengakui rasa gelisah nya tetapi sudah sedikit tenang suasana hatinya setelah berdzikir. Dan saat obrolan ringan masih berlanjut dengan Arga tiba-tiba ponsel Aletha berdering.
“Assalamu'alaikum, Bu Laila. Ada apa Bu Laila menelpon saya?”
__ADS_1
“Wa'alaikumsalam, nak Aletha. Maaf jika Ibu sudah mengganggu kesibukan kamu, tapi Ibu hanya mau bilang saja jika Alina terus menangis. Ibu merasa bingung harus bagaimana.”
“Apa? Ya sudah kalau begitu, Bu. Saya akan segera pulang, tapi saya harus meminta dokter lain untuk menggantikan saya nanti. Bu Laila tunggu sebentar ya!”
Aletha berpamitan kepada Arga karena tidak bisa melanjutkan obrolan di antara mereka. Dan Arga cukup mengerti Aletha yang sudah menjadi seorang ibu muda yang masih terlihat begutu cantik.
Dengan laju cepat Aletha mengendarai mobil nya agar segera sampai di rumah. Namun, siang itu tiba-tiba saja macet, sehingga membuat Aletha terjebak di dalamnya. Dan tidak ada pilihan lain selain menunggu.
Setelah dua puluh menit melakukan perjalanan akhirnya sampai juga. Aletha segera mencuci tangannya lalu meraih Alina dalam gendongannya dan tidak lupa memberikan ASI untuk Alina agar tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Alina masih saja menangis, tetapi sudah jauh lebih membaik. Tangisnya perlahan mereda setelah merasakan kehadiran sosok ibunya yang tangguh. Namun tingkah Alina tidak seperti biasanya, kali ini Dia tetap terbangun dan kedua matanya masih terjaga dengan begitu terang.
“Alina sayang, kenapa sih Nak kok tidak tidur lagi? Biasanya sudah tidur kalau habis mandi sore lalu minum susu.” Kembali rasa gelisah masuk ke dalam jiwa Aletha.
Aletha terus menggendong Alina dan membacakan sholawat kepada Alina agar tertidur lagi. Namun, kedua mata Alina masih saja terjaga dengan lebar.
‘Ya Allah, sebenarnya ada apa dengan Alina? Dan kenapa juga hatiku merasakan kesedihan yang tidak menentu?’
“Alina sayang, ya sudah kalau tidak mau tidur. Kalau begitu Alina sekarang ikut Nenek Laila ya! Bunda mau sholat maghrib terlebih dahulu.” Aletha berusaha tersenyum lalu mengecup pipi Alina yang sudah tembem dengan berat badan tujuh kilo.
Aletha mengambil air wudhu yang bisa menyegarkan bagi setiap orang yang mampu memanfaatkan air yang mengalir dengan penuh kesucian. Setelah itu Aletha membentang sajadah panjang untuk melakukan sholat fardhu lima waktu.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Aletha pada atakhiat akhir.
“Ya Allah Ya Tuhan Kami, lagi maha penyayang dan maha dari segala maha. Dan hanya Engkaulah yang bisa mengobati rasa gelisah yang singgah di dalam hati ini. Aku memohon kepadamu sebagai seorang anak, lindungilah kedua orang tuaku dalam setiap waktu.”
“Ya Allah Ya Tuhanku... berikanlah perlindunganmu kepada suami ku yang tengah bertugas. Jika memang perasaan khawatir ini Engkau tunjukan karenanya... maka sembuhkanlah untuknya.”
Aletha selalu mengaminkan setiap doa yang dilangitkan olehnya. Mungkin selama ini Aletha bukanlah wanita yang sholeh, tetapi setidaknya ia mengerti apa yang harus dilakukan jika tiba waktunya menghadap Allah dan memenuhi panggilannya melalui seruan adzan yang merdu.
Setelah melakukan sholat maghrib Aletha menuruni anak tangga lalu menuju ke dapur dan menyiapkan masakan yang dibeli tadi di atas piring.
“Selamat makan, Bu!” ucap Aletha ramah.
Bu Laila hanya mengangguk, setelah itu acara makan malam pun tengah dilangsungkan dengan rasa khidmat yang tiada tara. Karena seorang manusia itu wajib mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah kepadanya. Karena manusia tidak harus muluk-muluk karena ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dan lebih.
Aletha menidurkan Alina setelah usai melakukan makan malam bersama dengan bu Laila. Dan tidak lama kemudian akhirnya Alina tertidur dengan begitu pulas. Kembali bayangan Keenan menari-nari di pelupuk matanya.
Bersambung...
__ADS_1
maaf kan saya, matanya sudah lengket banget mau lanjut. Mohon maklum saja ya!