Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 19 Semangat Baru


__ADS_3

"Banguunnnn!!!" Arra berteriak keras ditelinga Aria sembari tertawa.


"Waaa!!! Arra!!! Apa yang kau lakukan?" Aria terbangun dengan raut wajah kesal.


"Pagi yang indah untuk memulai aktivitas. Ayo kita bangun pagi, kita lari pagii.. Hal baru menanti untuk kita telusuriiii.. Yey yeyy.." nada nyaring Arra membuat Aria semakin emosi.


"Haahh.. Ingin sekali marah tapi aku hargai sikap semangat mu. Tapi bisakah kau tidak berteriak keras ditelinga ku saat pagi hari?!!"


"Oh tentu saja tidak, kau harus bangun lebih awal seperti ku, Aria. Semangat menjelajahi dunia luar dan jadi diri sendiri itu perlu sebuah energi pagi. Jadi ayo bersiap siap lalu berangkat lebih awal! Ayo.. Ayo.. Ayooo"


"Baiklah... Terserah padamu"


Aria bangkit dari tempat tidur nya dan beranjak menuju kamar mandi. Selesai membereskan diri, Arra dan Aria pun turun kebawah untuk sarapan. Orang tuanya sudah menunggu Arra dan Aria untuk makan.


"Mana kakek dan nenek?" tanya Aria sambil melihat sekeliling nya.


"Beberapa hari ini kakek dan nenek kalian tidak akan ada dirumah. Mereka sedang melakukan suatu urusan. Mama dan Papa juga akan pulang terlambat, jadi kalian baik baik lah dirumah, mengerti?" jelas mama.


"Iya Ma" balas Arra dan Aria.


"Arra, Papa akan memberikan kartu kredit untukmu sendiri agar kau bisa membeli beberapa buku baru. Papa rasa kau perlu referensi buku buku terbaru saat ini. Ambilah.. Jangan sungkan untuk menggunakan nya" ucap Papa sambil menyodorkan sebuah kartu kepada Arra.


"Pa, aku rasa Arra tidak perlu" Aria menepis tangan Arra yang hendak mengambil kartu tersebut.


"Apa yang kau katakan, Aria?" balas Papa sembari memandang dingin.


"Arra tidak perlu buku buku baru, didalam kamarnya sudah penuh dengan buku! Arra harus bisa terlepas dari buku Pa, Arra tidak boleh hanya membaca dan berdiam diri dirumah!"


"Aria! Berani sekali kau membantah perkataan orang tuamu! Ini demi kebaikan Arra, sebaiknya kau tidak melarang dan melakukan hal hal diluar dugaan"


"Tapi Pa.."


"Aku ambil, ini bukan masalah besar kok Aria" Arra berusaha menghentikan perdebatan.


"Arra, tapi kau.."


"Tidak mengapa, lagipula Papa ingin aku membeli buku agar menambah wawasan"


"Bagus kalau begitu, selesaikan makanan kalian setelah itu pergilah ke sekolah"


"Baik Pa" Arra dan Aria melanjutkan sarapan nya lalu pergi berangkat sekolah.


"Arra apa yang kau lakukan tadi? Kemarin kan kau bilang kalau kau tidak akan menghabiskan waktu dengan buku buku lagi? Lalu mengapa kau masih ingin membeli buku buku baru lagi?" ucap Aria sambil memandang heran Arra.


"Tenanglah Aria.. Aku berkata seperti itu hanya ingin membuat perdebatan diantara kamu dan Papa berakhir. Aku terpaksa berbohong dan mengambil uang itu agar kalian tidak berdebat.." balas Arra.

__ADS_1


"Jadi begitu.. Maafkan aku, aku tidak tahu.."


"Tidak masalah"


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?"


"Kita kan bisa membeli sesuatu yang kita sukai dengan uang ini. Seperti baju, sepatu, tas dan.. dann.. Aha! Dan perlengkapan untuk Cacaa!! Yap benar, aku bisa membeli banyak persediaan makanan yang banyak untuk Caca nanti" balas Arra dengan riang.


"Yah bagus lah kalau begitu. Aku tidak ingin kau menjadi gadis kutu buku saja. Aku ingin kau menjadi lebih baik Arra.." tangan Aria mengusap lembut pundak Arra.


"Terimakasih Aria, aku tahu kok niat baik mu. Tapi kamu tidak perlu membela bela ku terus, kamu kan jadi dimarahi Papa sama Mama. Aku sudah besar sekarang, aku akan mengurus masalah ku sendiri. Aku tidak perlu dibawah perlindungan mu terus. Kali ini biarkan aku yang melindungi Aria. Aku akan menjagamu Aria!" tekad membara Arra berkobar dengan semangat.


"Melindungi ku? Kau yakin? Aku rasa kau lah yang perlu perlindungan ku"


"Ya ya aku tahu kalau aku tidak bisa bela diri. Tapi kan setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri"


"Ya aku tahu, mana ada gadis jenius tidak bisa melindungi dirinya sendiri"


Percakapan yang sangat langka bagi Arra dan Aria. Kesempatan seperti ini sangat sulit mereka dapatkan karena jarak dan perbedaan mengalahkan mereka. Berduaan, saling berbincang, melontarkan keluh kesah, hadapi masalah bersama dan tertawa bersama, sepertinya hal yang sangat sulit dilakukan. Waktu memisahkan kesempatan , jarak mengahalangi pertemuan, dan bakat menjadi dinding pemisah antar tali saudara.


Terkadang mereka bertanya tanya, bagaimana jadinya jika mereka terlahir dari keluarga yang sederhana namun bahagia? Keluarga yang tidak mementingkan urusan pribadi, harmonis dan selalu ada waktu untuk keluarganya berkumpul. Seharusnya itu hal yang mudah didapatkan bagi semua orang, tapi bagi Arra dan Aria berkumpul saat makan saja sudah lebih dari cukup. Setidaknya mereka bisa merasakan kehangatan saat bersama walau sebentar.


"Nona Arra kita sudah sampai" ucap sopir sambil menghentikan mobil.


"Ya, Aria aku pergi dulu.. hati hati dijalan" tangan kanan Arra melambai tanda selamat tinggal. Ia masih memandangi mobil Aria yang bergerak laju menuju sekolah Aria.


"Levy!!! Kau selalu saja membuat jantung ku hampir lepas" sahut Arra sembari mengusap dadanya.


"Selalu? Aku baru kali ini mengagetkan mu" jawab Levy dengan santai.


"Oh iya kah? Ah sudahlah yang penting kamu jangan mengagetkan ku lagi! Lain kali sapa lah lebih lembut tak perlu membuat ku senam jantung lagi"


"Ya terserah.." Levy berjalan pergi mendahului Arra.


"Eh Levy tunggu!" Arra pun segera menyusul Levy yang sudah berjalan didepannya.


Kelas berjalan lancar seperti biasanya, dulu waktu kelas VII Arra sekelas dengan Ben, Reiva, Erika dan Seila, namun kini ia sekelas dengan Levy. Dan teman temannya berada di kelas yang berbeda. Reiva berada di kelas A, Erika berada di kelas B, Ben dan Dea berada di kelas C, lalu Seila berada dikelas D dan Arra masih saja berada dikelas E.


Tapi suasana kelas nya begitu berubah, dulu kelas E penuh dengan murid murid yang ceria dan gaduh kini kelas E penuh dengan murid yang serius dan semangat dalam belajar. Mungkin karena semakin bertambah nya pengetahuan dan semakin dewasa maka sikap ke kanak-kanakan pun perlu dihilangkan.


"Levy kita istirahat ke kantin bersama yang lain yuk!" ucap Arra ketika tanda Bel istirahat berbunyi.


"Tentu" Levy dan Arra beranjak pergi dari kelas menuju kantin.


Sepanjang perjalanan menuju kantin Arra terus terusan menceritakan pengalaman terindahnya pada Levy. Padahal belum tentu Levy ingin mengetahuinya, namun karena Arra yang begitu semangat dalam bercerita membuat Levy tidak tega untuk tidak mendengarkan nya.

__ADS_1


"Iya benar, Caca begitu senang saat aku bawa ke kebun binatang bersama Aria waktu itu. Mungkin karena bertemu dengan sesama hewan disana. Dan yang lebih menyenangkan disana adalah aku..." saat bercerita Arra tidak memperhatikan depan dan menabrak seseorang.


"Aduh maaf aku.... tidak.. sengaja.." Arra ternganga karena orang yang ia tabrak adalah Ben.


"Arra? Haha tidak apa apa kok, lagipula aku.... Eh.." belum selesai Ben bicara, Arra malah bersembunyi dibelakang Levy.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Levy dengan pandangan heran.


"Mm.. Ya... Tidak ada apa apa.. He-he.. A-aku rasa.. Kita harus cepat jalan" Arra menarik paksa tangan Levy dan berlari meninggalkan Ben sendirian.


Ben hanya tersenyum melihat tingkah konyol Arra. Akhir akhir ini ia bisa melihat sifat Arra yang belum pernah ia ketahui.


"Cepat lari Vy!!" Arra terus berlari sembari menggandeng erat tangan Levy.


"Berhenti Ra, kau ini kenapa?" Levy menarik kembali tangan nya lalu berhenti.


"Hosh hosh.. Aku.. Hosh.. Aku hanya.. Tidak apa.." balas Arra dengan nafas yang terengah-engah.


"Kau ada sesuatu dengan Ben?"


"Hah? Se-sesuatu? Ma-mana ada"


"Lalu kenapa sembunyi dan lari saat melihat Ben? Kau ini!!"


"Ee.. Mm.. Ha-ha itu..." belum selesai Arra bicara tiba-tiba seseorang menepuk pundak Arra.


"Hei aku sudah menunggu kalian dari tadi. Tapi kenapa belum juga datang?" ucap Reiva dengan raut wajah kesal.


"Reiva? I-iya kami akan segera ke kantin kok" balas Arra sambil memutar badannya menghadap ke Reiva.


"Tadi kami bertemu dengan Ben, lalu Arra malah bersembunyi dan lari saat melihatnya" sahut Levy.


"Hah? Levy!!! Apa yang kau katakan?!" ucap Arra dengan kesal.


"Wah! Benarkah? Arra apakah kau dan Ben.." ucap Dea dengan senyum penuh arti.


"Tidak! Itu tidak benar! Aku.. Aku tadi hanya.." jawab Arra dengan gugup.


"Sudahlah ayo kita ke kantin, aku sudah lapar lah.." sahut Reiva sembari menarik tangan Dea.


"Hei Reiva jangan menarik ku seperti itu!" rengek Dea.


"Kita juga harus jalan Ra" Levy berjalan mendahului Arra.


"Baik.."

__ADS_1


Arra berjalan menyusul teman teman nya yang sudah didepan. Perasaan gugup dan malu Arra ketika bertemu Ben tidak bisa ia bendung lagi. Arra benar benar tidak dapat mengontrol perasaan dan hatinya. Ia kurang yakin dengan perasaan nya pada Ben.


__ADS_2