Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 83 “11-11-2022


__ADS_3

“Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku, berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Al, manusia itu tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Hanya saja... manusia telah diciptakan dengan akal yang sehat, hati yang mudah perasa dan nafas untuk menghirup udara. Bahkan masih ada banyak lagi yang patut kita syukuri sebagai manusia.”


“Jika kamu ingin menutup aurat, jangan memakai yang model pakaiannya seperti itu. Coba kalau dirubah sedikit, pasti akan lebih cantik. Kembali gih ke kamar dan rubah dulu pakaiannya. Kalau tidak punya gamis, pakai kemeja panjang dan rok itu. Hijab nya bisa pinjam Laura atau kakak kamu.”


Tak biasa Juan bertutur dengan lembut. Bahkan mengatakan kata-kata bijak yang membuat Luna berdecak kagum dengan sikap suaminya itu.


...----------------...


“Ra, bantu aku berpakaian ya!”


Aletha meletakkan beberapa kemeja panjang miliknya dan ia juga ingin meminjam hijab kepada Laura.


“Maksud kamu apa, Al? Bukannya kamu sudah biasa berpakaian ala kamu? Kenapa pakai rok, kemeja panjang dan hijab?”


Aletha menceritakan semua apa yang diinginkan Keenan. Dan dengan setia dan sabar Laura mendengar celoteh Aletha yang panjang. Dan setelah mengerti apa yang dimaksud Aletha, Laura pun mengatakan hal yang membuat Aletha cukup mengerti.


“Al, kamu tidak perlu mengubah diri secepat itu. Hijab bisa dipakai untuk sekarang, tapi kamu harus memakainya setiap hari. Memangnya kamu mau?”


“Aku akan mencobanya, Ra. Demi Keenan.”


“Kamu salah, Al. Kak Keenan mungkin menginginkan kamu memakai hijab dan menutup aurat. Tapi perubahan seperti itu ditujukan hanya kepada Allah, jika kamu siap untuk memakainya maka kamu harus menjaga istiqomah. Kamu pasti akan mengerti maksudku seperti apa.”


Laura memang seperti itu, memberikan tutur kata dengan lembut dan sedikit, tetapi mudah dimengerti bagi siapapun yang mendengarnya. Setelah cukup paham, Aletha kembali ke kamarnya dengan hatinya yang memantapkan untuk menjadi diri sendiri kecuali, jika sudah bersuami nanti. Aletha akan menuruti semua yang dipinta suami, karena suami adalah kepala rumah tangga yang wajib untuk dihormati.


...----------------...


Hari senin adalah awal Aletha menemani Keenan dalam sesi pengajuan. Mereka melangkah bersama dengan mengucapkan bismillah untuk mendapatkan kata hamdallah diakhirnya.


Keenan tidak melepas genggaman tangannya, ia terus meminta Aletha untuk berada di sisinya. Hal pertama mereka harus menemui Bagas Kara di ruangannya untuk mengajukan.


“Pasti diterima sama Papa. Bahkan bisa juga dipermudah untuk kamu pengajuannya.” Aletha mengulas senyum.


“Aku tahu jika atasan ku adalah Papa kamu, Al. Tapi yang namanya militer tidak akan memandang siapa yang melakukan pengajuan. Meskipun aku akan menjadi calon menantunya, tetap saja Brigadir Jenderal Bagas Kara akan melakukan tugasnya dengan sempurna.” Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha.


Mereka masuk ke ruangan Bagas Kara. Dan selama satu minggu mereka harus bolak balik ke markas untuk melakukan persyaratan saat masih melakukan pengajuan.


Satu minggu pun telah berlalu, dengan segala rasa yang membuat lelah Aletha dan Keenan kini menikmati hasilnya. Hanya tinggal menunggu tanggal yang antik yang sudah dipilihkan oleh tetua untuk melangsungkan pernikahan mereka.

__ADS_1


...----------------...


“Al, mau gaun kayak gimana modelnya? Yang itu... atau itu?” tanya Laura saat berada di sebuah butik.


“Yang simpel tapi tetap terlihat anggun. Bagaimana kalau yang ini saja untuk akad nikahnya?”


Aletha menunjukkan salah satu gaun pengantin yang modelnya minimalis full lace untuk hijabers. Bentuk gaun itupun lurus sederhana, namun pada permukaan gaun dilapisi dengan bahan lace yang cantik sehingga memberikan kesan gaun yang dramatis. Gaun ini memiliki warna krem yang dipadukan dengan hijab berwarna putih sehingga memberikan kesan yang minimalis namun elegan.


“Boleh, Mama suka dengan seleremu. Bagaimana kalau kamu, Laura?”


“Cantik, elegan dan tetap mempesona.” Laura mengancungkan jempolnya.


Setelah memilih gaun untuk akad nikah, sekarang saatnya memilih kembali gaun untuk acara pesta pedang pora. Karena pernikahan prajurit militer begitu identik dengan upacara pedang pora. Dan upacara tersebut memiliki makna yang penting bagi seorang prajurit militer yang tengah menyelenggarakan resepsi pernikahan.


Aletha memilih kembali gaun dan kini harus serasi dengan pakaian Keenan, yakni berwarna hijau, khas tentara.


“Ma, Ra... bagaimana kalau pas acara resepsi pernikahannya yang ini?”


Aletha menunjukkan gaun pengantin yang berwarna hijau dengan bentuk dress yang panjang, terlihat indah dengan effortless. Dan Mama Nina kembali mengiyakan, karena selera Aletha memang tidak salah. Laura pun ikut mengangguk, ia tertarik dan cocok dengan kedua gaun yang dipilih Aletha sendiri.


“Ma, Ra... bagaimana kalau kita mampir ke kafe dulu? Aletha ... merasa lapar.” ajak Aletha.


“Siap, Mama muda...”


Ketiga perempuan itu memesan menu sederhana sebagai pengganjal perut sebelum tiba di rumah. Karena sesampai di rumah mereka akan lanjut makan siang bersama keluarga. Bahkan siang itu Keenan ikut diundang dalam acara makan bersama.


“Bagaimana hasil kalian bertiga keluar tadi? Sudah mendapatkan yang pas, Al?” tanya Bagas Kara.


“Sudah kok, Pa. Hasilnya memuaskan, iya kan, Ra... Ma...”


Laura dan Mama Nina hanya manggut-manggut membenarkan perkataan Aletha. Dan kembali Bagas Kara melontarkan pertanyaan.


“Apa rencana kalian setelah menikah nanti? Apa kalian akan tetap tinggal di rumah ini atau... di rumah dinas?”


“Tidak, Pa. Aletha tidak mau tinggal di kedua rumah yang Papa ajukan. Aletha mau kembali ke rumah Aletha.”


“Apa kamu sudah merundingkan semua keputusan itu dengan Keenan? Karena yang menempati rumah itu bukan hanya kamu saja, Keenan akan ikut sebagai kepala rumah tangga.”


Aletha terdiam, sejenak tatapannya tertuju ke arah Keenan yang tengah menikmati makanan hasil masakan mama Nina. Aletha menyadari akan sesuatu hal, di mana tempat tinggalnya yang dulu masih ada beberapa foto Fajar yang terpajang di kolase.


“Belum. Maafkan, Aletha.”

__ADS_1


“Al, tidak apa-apa lagi. Jika itu mau mu, kita akan tinggal sesuai kemauan mu itu. Aku tidak masalah jika kita tinggal di sana.” Keenan tersenyum.


Aletha mengangguk, ia tahu Keenan tidak akan pernah memaksanya dan Keenan juga mengerti tentang dirinya.


Setelah usai makan siang, Aletha menemani Keenan pergi ke Markas Taruna. Dan disepanjang jalan obrolan ringan telah menemani mereka untuk menghilangkan rasa sunyi.


“Ke, apa kamu tidak marah jika kita akan tinggal di rumah milikku itu?”


“Tidaklah, untuk apa aku marah?”


“Tapi disana masih...”


“Ada foto Fajar.” Keenan menatap sejenak Aletha. “Tidak apa-apa, Al. Karena aku tahu... cinta itu sudah untukku.”


Keenan kembali fokus dengan jalanan yang cukup ramai siang itu. Dan ketika melintasi sebuah masjid saat masih perjalanan, Keenan menghentikan laju mobilnya. Lalu ia mengajak Aletha untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.


Aletha memasuki wilayah khusus untuk perempuan menjalankan sholat. Dengan khusu' Aletha menjalankan empat rakaat di siang itu. Dan setelah usai melakukan sholat Keenan kembali melajukan mobilnya.


...----------------...


Tanggal yang pas dan antik telah datang hati itu, di mana tanggal yang dimaksud adalah 11-11-2022. Acara akad nikah dan pesta pedang pora akan diselenggarakan pada tanggal itu juga. Pagi untuk acara akad nikah dan setelah itu langsung acara pesta pedang pora. sampai selesai.


“Subhanallah, Al ... kamu cantik banget! Kamu terlihat anggun.” ungkap Luna.


“Larisa juga tidak kalah cantik kan, Bunda sama aunty Aletha.”


“Ya ... masih cantik kan aunty Aletha dong, kan aunty Aletha mau menikah sama Om Keenan.” Jawab Juan.


Aletha hanya tersenyum saat sangat ipar memujinya dengan nada lembut dan terdengar tulus. Semua anggota keluarga tak lupa juga ikut hadir dengan acara pernikahan itu.


Brigjen Carlos, Juan, Edbert, Bayu, Garda dan beberapa lelaki yang lainnya telah menjadi saksi saat Keenan menjalankan akad nikah. Dan kini Keenan harus menghadapi Bagas Kara bukan sebagai atasannya, melainkan sebagai calon mertuanya. Sehingga membuat Keenan merasa gugup, bahkan keringat segede jagung telah membasahi punggungnya.


“SAH...” Pekik semua orang.


Setelah itu penghulu membacakan do'a untuk kedua pengantin, lalu dilanjutkan Aletha mencium punggung tangan Keenan. Dan Keenan membalasnya dengan mengusap ubun-ubun Aletha serta tak lupa membacakan do'a untuk istri.


“Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”


Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku, berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka.”


Tangis haru pun menyelimuti mereka semua. Akhirnya pernikahan mampu digelar dengan megah, Aletha mampu menemukan lelaki sebagai tempat untuk melabuhkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2