Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 110 “Cemburu”


__ADS_3

“Syakartum la adzidannakum, apabila kamu bersyukur maka akan aku tambah nikmat untukmu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa yang sedang kamu terawang dengan teropong itu, Kapten? Ingat, matanya jangan jelalatan.” Brian menautkan kedua alisnya.


“Apa yang kamu ketahui dltentang hutan ini, Brian? Hapuslah pikiran kotormu itu, jangan sampai nular kesemua orang.” Keenan tetap fokus dengan teropong nya.


“Siapa juga yang memiliki pikiran kotor.” Brian mencebik.


Keenan tetap fokus dan saat meneropong dibelakang Brian, Keenan melihat hal yang mengejutkan. Penampakan yang membuat merinding saja.


“Awass... Brian...” Keenan mendorong Brian.


”Ssssttt...” Suara ular berdesis.


Tubuh Yulian seketika limbung setelah ular berbisa menggigit lengannya. Bahkan lama kelamaan Keenan kehilangan pandangannya, semua terlihat gelap dan akhirnya Keenan pun jatuh pingsan.


“Kapten!”


Garda segera menghentikan racun ular yang sudah menggigit Keenan dengan melakukan tindakan pembidaian layaknya pertolongan pertama pada patah tulang di tangan Keenan dengan kain. Setelah itu semua pasukan yang lain menghentikan latihan mereka di hutan belantara untuk segera kembali ke markas. Dan Keenan pun digotong dengan tandu yang sengaja mereka bawa saat latihan.


“Ada-ada saja. Kenapa harus Kapten juga yang menolongku? Kapten gegabah.” Umpat Brian yang merasa kesal.


Brian selain marah ia juga merasa sesal karena tidak ia saja yang mendapatkan gigitan dari ular itu, justru Keenan yang menyelamatkan dirinya.


Pasukan loreng lainnya sudah sampai di batalion, sedangkan Pasukan berani setia mengantarkan Keenan sampai ke rumah sakit. Agar Keenan segera mendapatkan penanganan penawar racun.


“Ada pasien darurat, dinyatakan tengah mengalami gigitan ular berbisa. Jadi siapkan ruangannya segera dan obat yang diperlukan untuk memawar racunnya.” Dokter ahli Toksinologi meminta perawat untuk segera bersiap menyambut kedatangan Keenan dan pasukan.


Tidak lama kemudian mobil TNI yang membawa Garda, Brian, Bayu, dan Naina serta Keenan telah tiba di rumah sakit Siloam Hospitals. Dengan cekatan perawat yang bertugas pun segera memindahkan Keenan di atas brankar rumah sakit. Lalu di dorong sampai memasuki ruang UGD sebagai ruang gawat darurat.


Setelah setengah jam sudah berlalu akhirnya dokter ahli Toksinologi yang bernama dokter Fahri itupun sudah usai melakukan tindakan utama terhadap orang yang mengalami gigitan ular seperti, Keenan.


“Alhamdulillah, racun ular itu sudah kami bersihkan. Hanya menunggu pak Keenan sadar saja.” Dokter Fahri memberikan penuturan kepada Bayu, Garda, Brian dan Naina.


“Baiklah, Dok. Terimakasih atas bantuan Anda.”


“Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu!” ucap dokter Fahri.


Garda, Batu, Brian dan Naina manggut-manggut, mereka mengiyakan permohonan ijin dokter Fahri dan setelah kepergian dokter Fahri ke empat pasukan itu masuk untuk melihat kondisi Keenan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena merasa jenuh hanya berbaring saja di ranjang, Aletha mencoba untuk menghubungi Keenan. Dan panggilannya pun terhubung, lalu panggilan Aletha pun teejawab dari seberang.


“Assalamu'alaikum, Aa. Kapan Aa pulangnya?” tanya Aletha tanpa jeda.


“Waalaikumsalam, maaf ini dengan siapa ya?”


Mendengar suara seorang wanita yang menerima panggilannya seketika hati Aletha memanas, api cemburu telah berkobar dan bergemuruh di dalam jiwa. Ingin rasanya ia mencabik pemilik bibir entah siapa di seberang sana.


”Kamu siapa? Dimana Kapten Keenan?” ketus Aletha.

__ADS_1


‘Aneh sekali nih orang, ditanya malah ganti nanya. Nggak normal kali nih orang ya,’ batin wanita dari seberang.


Wanita itu justru menutup sambungan telepon dari Aletha. Sungguh membuat Aletha semakin merasa kesal, prasangka buruk tentang Keenan pun bermunculan di dalam pikiran Aletha. Ingin rasanya Aletha menghampiri Keenan ke batalion saja untuk memastikan, tapi sayang Aletha belum diperbolehkan untuk keluar rumah sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedua mata Keenan perlahan mulai terbuka, ia mengerjapkan matanya sesekali hingga terbuka dengan sempurna. Dan yang pertama kali dilihatnya ruangan yang bernuansa putih, lalu Keenan menyadari jika ia sedang berada di rumah sakit.


“Siapa yang membawaku kemari?”


“Ya jelas kita lah yang membawamu kemari, Kapten. Masa iya orang pingsan bisa jalan sendiri.” Brian nyengir.


“Bukan itu maksudku, bocah gendeng. Aku cuma mau tanya dimana handphone ku? Apa kalian memberitahu Aletha tentang hal ini? Atau... Aletha menghubungi ku?”


Garda, Brian, Bayu dan Naina seketika saling pandang, mereka benar-benar tidak tahu dimana handphone Keenan. Bahkan mereka juga tidak memberitahukan hal itu kepada Aletha.


“Sepertinya... handphone mu ada pada perawat itu.” Garda mencoba untuk memutar kembali memorinya saat tiba di rumah sakit.


“Lalu, bagaimana jika... Dokter Aletha menghubungi Kapten? Mungkinkah jika... Dokter Aletha akan cemburu?” sambung Naina.


Brian dan Bayu hanya menutup mulutnya untuk menahan tawa. Jika benar Aletha cemburu maka Keenan akan mendapatkan masalah besar. Bisa jadi perang dunia yang pertama. Wkwkwk


Ini permulaan ujian tentang menahan rasa cemburu dan meluluhkan hati satu sama lain dalam rumah tangga Aletha dengan Keenan. Mohon disimak ya gaes!


Keenan pun hanya menepuk jidat nya pelan. Setelah menyadari harus melakukan apa seketika Keenan turun dari atas brankar lalu berlari untuk mencari keberadaan perawat yang membawa handphone nya.


“Lihatlah Kapten kita kawan, Dia memang takut jika perang dunia dengan ... istri tercintanya.”


Garda, Bayu, Brian dan Naina menatap heran dengan tingkah Keenan saat antusiasnya begitu tinggi untuk mendapatkan segera handphone yang entah dimana keberadaannya.


“Bwahahaha...” Bayu, Brian dan Naina melepaskan tawanya yang mereka tahan sedari tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


‘Kemana sih Aa Keenan, kenapa wanita aneh yang menerima panggilan ku? Siapa juga wanita itu?’ Aletha bermonolog dalam hati.


Api cemburu masih tidak kunjung mereda, karena sampai saat itu Keenan tidak menghubunginya kembali untuk menjelaskan semuanya. Dan akhirnya Aletha memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari tempat yang bisa membuatnya meredakan dalam kobaran api cemburu walaupun hanya sesaat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah berlari kesana kemari dan hampir mengelilingi rumah sakit yang bangunannya cukup besar dan luas, kini Keenan kembali ke tempat awal ia mulai berlari. Di sana ke empat sahabatnya itu menatap nya dengan menahan tawa.


“Ternyata kalian di sini?”


Nafas Keenan terdengar menderu, jantungnya berdetak tak beraturan. Cukup hebat jika diikutkan dalam perlombaan lari, karena itulah yang membuat Keenan melewati setiap tahap hingga komandan memilihnya menjadi seorang Kapten.


“Lalu, kami harus apa? Bukannya tidak ada perintah untuk kami ikut mencari handphone mu itu, kan?” tanya Garda santai.


‘Sial, memang tidak ada perintah dariku. Dan bodohnya aku tidak tahu wajah suster yang membawa handphone ku itu.’ Keenan bermonolog dalam hati.


“Permisi, Pak. Maaf saya hanya ingin mengembalikan ponsel Kapten Keenan.” Seorang perawat menyerahkan handphone milik Keenan.


‘Akhirnya... selamat juga dari perang dunia.’ batin Keenan.

__ADS_1


“Tapi maaf jika saya lancang sudah menerima panggilan dari Lentera Cinta. Karena Dia marah-marah jadi saya tutup saja panggilannya. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Perawat itu mengulas seyum lalu pergi meninggalkan mereka.


Sedangkan Keenan kembali dikejutkan dengan panggilan dari Aletha yang tidak terjawab sampai sepuluh kali. Hingga membuatnya mengusap gusar wajahnya, sampai-sampai Keenan lupa jika tangannya pun diperban akibat gigitan ular berbisa saat pelatihan di hutan tadi.


Tidak perlu menunggu lama, Keenan dan rombongan pun segera ke rumah Bagas Kara, karena jelas saja jika Aletha pasti diminta untuk tinggal di sana pasca melahirkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Langit begitu indah sore ini, andai saja Aa ada di sini. Dan sebenarnya siapa pemilik suara itu?”


Aletha menatap senja di sore hari, menikmati waktu yang sudah pasti tidak akan bisa diulang kembali. Jika pun bisa dapat dipastikan waktu yang sudah berganti.


Aletha tidak menemukan satu orang pun di dalam rumahnya, semua sedang menjalani aktivitas masing-masing dengan anak mereka, sedangkan Mama Nina dapat dipastikan sedang berkumpul dengan ibu-ibu komplek yang mengadakan jamaah yasin secara bergilir. Dan acara tersebut diadakan pada waktu sore, karena jika malam pasti kebanyakan akan sibuk berkumpul dengan keluarga masing-masing.


“Di sini sepi, di mana-mana juga sepi.” Aletha mendengus kesal saat hari-harinya merasa kesepian.


“Syakartum la adzidannakum, apabila kamu bersyukur maka akan aku tambah nikmat untukmu.”


Tiba-tiba Aletha dikejutkan dengan suara yang begitu mendamaikan. Yang membuat Aletha seketika menoleh ke sisi kanan di mana lelaki itu berdiri.


“Begitulah bunyi sabda Rosulullah yang membuat diri kita sebagai manusia wajib untuk memiliki rasa syukur dan ikhlas. Jika kita bisa memiliki rasa syukur, maka Allah akan melimpahkan nikmat yang berkali-kali lipat.”


“Contohnya hari ini, Allah menciptakan rasa apapun yang ada di dalam diri kita saat memandang langit yang berwarna senja, salah satunya rasa syukur karena mata kita bisa terbuka, menikmati waktu yang begitu singkat. Karena sebentar lagi matahari akan tenggelam, jadi Neng harus masuk ke dalam rumah dan tidak boleh berkeliaran di luar.” Keenan menarik lengan Aletha hingga keduanya masuk rumah.


Rasa cemburu yang sempat singgah seketika luntur dengan seiringnya waktu. Dan saat hendak mandi Keenan merasa kesulitan untuk membuka baju. Hingga mengundang Aletha untuk membantunya membuka setiap kancing yang ada di seragam lorengnya.


“Tangan Aa kenapa?” tanya Aletha dengan gurat wajah khawatir.


“Tidak apa-apa kok, hanya digigit ular tadi saat latihan. Meskipun sempat dibawa ke rumah sakit, tapi sekarang sudah jauh lebih baik.” Keenan melihat perban yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Terus...”


“Wanita tadi adalah perawat rumah sakit, tidak sengaja Dia membawa handphone Aa saat Aa tiba di rumah sakit.” Keenan menatap Aletha dengan tatapan yang menghunus hingga ke jantung Aletha.


Aletha manggut-manggut, mempercayai apa yang dikatakan Keenan setelah mendengar cerita dari orang yang berbeda. Dan tidak lain orang itu adalah Garda, saat makan malam akan dilangsungkan Aletha bertanya kepada Garda untuk memastikan.


“Jangan cemburu begitu ah, Al. Tidak baik loh bagi rumah tangga mu. Ingat, sabar adalah kunci utama mendapatkan kebahagiaan.” Laura terus mengingatkan hal baik kepada Aletha.


“Baiklah, InsyaAllah aku tidak akan bersikap sedemikian rupa. Kecuali jika itu terulang kembali.” Aletha nyengir.


Makan malam pun dilangsungkan dengan rasa syukur hingga menciptakan rasa khidmat dalam setiap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut. Keenan pun ikut makan bersama, untung saja yang terluka pergelangan tangan kiri, sehingga ia bisa makan sendiri tanpa meminta bantuan Aletha untuk menyuapi nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Neng, sepertinya... Aa tidak bisa mengajak Neng untuk sholat isya' berjamaah. Aa mau patroli malam dulu, tak apa kan jika ditinggal lagi?” tanya Keenan memastikan.


Keenan itu ya tidak peka banget kalau Aletha minta ingin dtemani setelah keluar dari rumah sakit. Dan Aletha sempat berpikir sama saja tinggal di rumah Bagas Kara, begitupun dengan Keenan yang tetap saja menjalankan tugas negara yang tidak bisa diganti lain hari dan waktunya. Dan mau tidak mau Aletha juga harus tetap mengiyakan permohonan ijin Keenan kepadanya.


“Benar nih tak apa jika Aa pergi?”


“Benar kok Aa, karena Neng sedang belajar menciptakan rasa syukur dalam diri Neng. Di mana Neng wajib untuk bersyukur mendapatkan seorang lelaki yang sholeh menjadi suami Neng.” Aletha menyolek hidung mancung Keenan.


Merasa gemas dan tidak terima Keenan mendorong Aletha hingga tubuhnya menempel di sisi tembok. Bahkan Aletha tidak bisa beringsut dari cengkraman Keenan, kedua mata tajam Keenan pun siap untuk melakukan aksi nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2