Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 151 “Pelan-Pelan Saja”


__ADS_3

“Ingin rasanya aku menghentikan mesin waktu sebentar saja, agar aku bisa puas menatap bidadari dunia yang saat ini berada di depanku. Dan kembali ku nyatakan cinta, ana uhibbuka fillah untuknya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan mengulas senyum tipis setelah melihat bidadarinya berada di depan mata dengan kondisi baik-baik saja.


“Syukurlah! Neng baik-baik saja,” ucap Keenan.


“Kenapa Aa tadi bertindak bkdoh seperti itu? Coba kalau apinya membakar tubuh Aa bagaimana?”


“Kok bertindak bodoh sih, Neng. Coba jika orang lain yang berada di posisi Aa pasti orang itu akan melakukan hal sama untuk lindungi wanita yang dicintainya.”


“Iya, Neng tahu. Tapi kan... Aa jadi terluka seperti ini.” Binar mata Aletha seketika berubah, memancarkan kesedihan.


“Sebenarnya ... tidak apa jika Aa harus mengalami luka seperti ini. Asalkan... Neng yang menjadi Dokter dan perawatnya Aa ... rela.” Keenan kembali mengulas senyum.


Aletha berdesis, ia tidak menyangka jika Keenan bisa setenang itu. Bahkan janji yang pernah Keenan ucapkan berusaha untuk selalu ia tepati. Hal itu membuat Aletha semakin cinta dengan Keenan, bahkan Aletha membiarkan Keenan bergelayut manja saat Aletha mengusap pipi Keenan.


“Ehem... Serasa dunia milik berdua.” Garda berdehem saat melihat Keenan pengen dimanja sama Aletha.


Garda terkekeh geli melihat tingkah Keenan yang seperti anak kecil, tapi tidak bisa dipungkiri juga jika Keenan akan melakukan hal seperti itu. Garda terus mengingat betul bagaimana perjuangan Keenan untuk tetap mempertahankan cintanya kepada Aletha meskipun saat itu tahu jika Aletha hampir menikah.


Akan tetapi dengan setianya itu Keenan bisa memiliki Aletha dengan seutuhnya. Bahkan setelah menikah dengan Aletha saja masih banyak sekali ujian yang harus dihadapi. Sudah beberapa kali berpisah tetapi kembali mereka dipertemukan dalam cinta.


“Diam, kau Garda. Kamu tidak lihat apa, aku sedang sakit begini! Jika terlalu banyak komentar maka aku tidak segan memintamu untuk push up sekarang juga seratus kali.” Keenan berusaha untuk mengancam Garda.


“Hah, sudah tahu sakit begitu, masih saja mau mengancam dan bertindak tegas. Lakukan saja jika kamu berani, tuh lihat di depan ada Pak Bagas Kara.”


“Kamu tidak sedang bercanda, Garda? Kenapa bisa Pak Bagas Kara disini?”


Sontak Keenan terkejut mendengar nama Bagas Kara disebut oleh Garda. Terlihat dengan begitu jelas raut wajah Keenan yang berubah, ia merutuki kebodohannya yang berusaha mengancam Garda dengan hukuman push up.


Garda hanya terkekeh geli melihat perubahan wajah Keenan yang secara tiba-tiba.


“Al, tolong bilang sama laki-laki ini untuk tidak bertindak ceroboh. Dan oh iya, kalian itu... pasangan yang pas. Sama-sama... bikin orang jantungan.” Garda menatap Aletha dan Keenan secara bergantian.


Aletha dan Keenan saling melempar senyum setelah Garda pergi dari ruangan itu.


“Aa nanti jangan terlalu banyak gerak dulu, biarkan salep nya meresap.”


“Capek Neng kalau disuruh begini terus. Masa iya tidak boleh gerak?”


“Sudah Aa nurut saja. Lagian cuma beberapa menit saja sampai salep nya meresap. Setelah itu Neng akan bantu Aa untuk sedikit mengangkat brankarnya ke atas, supaya Aa bisa sedikit duduk.” Aletha mengusap lengan Keenan.


Keenan pun hanya mendesah, karena ia sudah merasa sangat bosan dengan posisi miring seperti itu.


Sabar saja Ke, demi kesehatan terus adu ranjang lagi sama Aletha. Wkwkwk...

__ADS_1


Bagas Kara pun masuk bersama Mama Nina. Ucap syukur tidak hentinya mereka ucapkan, karena Keenan sudah kembali sadar. Membuat Aletha kembali tersenyum tanpa rasa sedih lagi.


“Pak!” pekik Keenan.


“Sudah, istirahat saja! Disini Papa dan Mama hanya ingin melihat kamu saja. Dan entah sudah berapa kali kalian berdua sukses membuat hati Papa dan Mama ini jantungan.”


“Papa... tidak baik bicara seperti itu. Ingat, mereka berdua itu terjebak dengan semua ini karena tugas dari Papa. Jika saja Papa tidak memerintahkan Keenan dan membiarkan mereka tetap honeymoon pasti tidak akan seperti ini.” Mama Nina mengerucut kan bibirnya, ia merasa tidak suka jika Aletha dan Keenan terus diganggu seperti itu oleh Bagas Kara.


“Ya sudah, kalau begitu kita keluar saja. Kita cari hotel untuk menginap di sini. Honeymoon yang ke...”


“Papa... ingat umur,” sela Mama Nina.


Bagas Kara, Keenan dan Aletha hanya terkekeh geli melihat Mama Nina yang mencubit Bagas Kara dengan manja.


Obrolan kembali dilanjutkan antara Keenan dan Aletha setelah Bagas Kara dan Mama Nina keluar dari ruangan.


“Aa... terimakasih karena Aa sudah menyelamatkan Neng.” Aletha menunduk, ia merasa bersalah membiarkan Keenan melindunginya.


“Neng, itu sudah tugas seorang suami untuk melindungi istrinya. Sudah, jangan bahas hal itu lagi. Bagaimana kalau ... kita lanjutkan honeymoon nya.”


Aletha membukatkan kedua bola matanya ke atas, memikirkan apa yang dimaksud Keenan, karena tidak mungkin jika akan melakukan hal semacam itu dengan Keenan saat Keenan masih harus memulihkan luka bakar di punggungnya.


“Sudah deh, Aa jangan macam-macam. Jangan punya pikiran yang terlalu mesum begitu,” tudung Aletha.


“Ya Allah Neng, siapa yang mesum sih. Maksud Aa itu, Neng usap lagi kepala Aa dengan pelan-pelan saja. Biar Aa bisa tidur dengan nyaman, entah kenapa Aa sudah mulai mengantuk lagi.” Keenan menguap sampai beberapa kali.


“Tapi... kalau Neng capek lebih baik Neng tidur saja.”


Keenan mengangguk, ia menurut saja dengan ucapan Aletha. Karena rasa kantuk dari obat tidur sudah mulai bereaksi, sehingga kantuk tidak bisa ditahan lagi oleh Keenan. Meskipun ingin sekali rasanya ia menatap Aletha dan mengobrol lama dengan istri tercintanya itu.


‘Ingin rasanya aku menghentikan mesin waktu sebentar saja, agar aku bisa puas menatap bidadari dunia yang saat ini berada di depanku. Dan kembali ku nyatakan cinta, ana uhibbuka fillah untuknya.’


Mata Keenan mulai terpejam setelah Aletha mengusap kepalanya secara pelan, sesuai dengan permintaan Keenan.


“Bu, bagaimana kondisi Lia dan Aditya?” tanya Aletha.


Aletha masuk ke ruangan Aditya dan Lia yang bersisihan. Di sana Bu Gita sedang menjaga kedua anaknya yang tertidur, tetapi keduanya masih setia ditemani dengan jarum infus. Karena mengingat kondisi shok yang dialami Aditya dan juga Lia yang mengalami sesak nafas.


“Alhamdulillah, tadi kata Dokter sudah cukup membaik, Dokter cantik.”


“Syukur Alhamdulillah, semoga saja besok mereka bisa segera pulang.” Aletha mengusap lengan Bu Gita untuk menguatkan Bu Gita.


“Tapi sayang, Dokter cantik. Kita... tidak memiliki banyak harta untuk membeli rumah ataupun membangun rumah lagi. Bahkan saat ini saya bingung, saya akan mengajak anak-anak saya tinggal dimana setelah keluar dari rumah sakit ini.” Terlihat mata Bu Gita mengembun, pelupuk matanya sudah dipenuhi dengan air mata yang sudah siap untuk tumpah.


Hati Aletha terketuk, ia merasa bersedih mengingat api itu membakar habis rumah Bu Gita tanpa sisa.


Aletha mengusap punggung Bu Gita saat ia melayangkan pelukannya. Merengkuh Bu Gita selayaknya Akstha merengkuh Bu Laila, memberikan sedikit kekuatan kepada Bu Gita untuk tidak patah semangat.

__ADS_1


“Bu Gita tenang saja, nanti saya akan mencoba memikirkan untuk membantu Ibu. Sekarang Bu Gita istirahat saja, sudah pukul 12.00 malam.”


“Baiklah! Dokter cantik. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kepada Dokter cantik karena sudah menyelamatkan nyawa kami semua.”


“Dan saya doakan Dokter cantik serta Pak tentara tadi selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.”


Aletha ikut mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh Bu Gita. Setelah itu Aletha kembali lagi ke ruangan Keenan. Di sana Aletha mengambil duduk di samping brankar Keenan. Setelah itu Aletha menyandarkan kepalanya di atas brankar, tepat di hadapan Keenan.


Dengan menggenggam tangan Keenan yang tidak terikat dengan jarum infus, Aletha mulai memejamkan kedua matanya. Rasa kantuk semakin kuat, Aletha tidak bisa menahannya lagi. Apalagi kedua matanya sudah lelah sehabis menangis berkepanjangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Syukurlah sudah selesai tugas malam ini!” pekik Bian.


Bian, Bayu dan Naina beristirahat di posko yang sudah disediakan. Mereka bersiap untuk merebahkan tubuh yang merasa lelah setelah bekerja seharian.


“Bayu dan Bian, kalian di sisi sana yan tidurnya! Aku paling tidak bisa tidur jika dekat dengan cahaya lampu yang terang begitu,” pinta Naina.


Bian dan Batu hanya menurut saja, karena bagi mereka persahabatan di atas segalanya. Dan mereka memberikan kenyamanan itu untuk Naina, satu-satunya wanita yang menjadi anggota berani mati.


Bian sempat tertidur sesaat, lalu ia kembali terbangun setelah mendengar suara dengkuran Bayu yang beguyu keras, karena tidurnya pun bersisihan dengannya.


”Ah sial sekali kamu, Bian. Tidur berada disamping Bayu sungguh membuat mataku sulit terpejam.” Bian mendesah, lalu ia beranjak keluar dari posko karena tidak bisa tertidur kembali.


Bian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tepat pukul 13.00 malam, Bian memutuskan untuk menunaikan sholat istikharah sebelum kembali melanjutkan usahanya untuk tidur. Kegigihan dan kesungguhannya membuat Bian tidak berhenti menunaikan sholat istikharah untuk mendapatkan petunjuk kepada Allah SWT tentang siapa jodohnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Neng... bangun! Sudah subuh,” ucap Keenan.


Keenan berusaha membangunkan Aletha setelah mendengar suara adzan subuh dikumandangkan. Meskipun jarak masjid dengan rumah sakit sedikit jauh, tetapi mampu di dengar oleh Keenan.


“Neng... bangun! Sudah subuh, loh.” Keenan mengusap pipi Aletha dengan lembut.


Setelah merasakan sentuhan lembut dari jemari Keenan perlahan Aletha mulai membuka matanya. Lalu ia berusaha untuk memulihkan kesadarannya.


“Oh, sudah subuh ya, Aa. Terimakasih ya sudah bangunin Neng.” Aletha masih menguap, tanda ia masih benar-benar mengantuk.


“Iya Neng, sama-sama.” Keenan tersenyum. “Tapi... Aa boleh minta bantuan Neng?”


“Aa mau minta bantuan Neng apa?”


“Bantu Aa ke kamar mandi. Aa mau mencuci muka, rasanya sudah lengket sekali wajah Aa ini karena keringat. Mungkin ini efek banyaknya keringat yang keluar.


Aletha mengangguk, lalu ia menuntun Keenan secara pelan ke kamar mandi.


“Pelan-pelan saja, Aa. Nanti kalau jatuh bagaimana?”

__ADS_1


Keenan terkekeh, mengingat ia tidak bisa jika diminta jalan secara pelan-pelan saja, karena itu bukan ciri khas seorang komandan pertempuran yang harus berjalan sangat lembek. Namun, Keenan juga merasa sedikit ngilu dan perih jika terlalu banyak gerak. Membuat luka bakar itu sedikit mengeluarkan darah di bagian tertentu.


Bersambung...


__ADS_2