
“Cinta itu tidak mudah dimengerti. Terkadang membuat kita gila dan sesak di dalam dada karena tersakiti oleh cinta. Meski seperti itu... kita tetap ingin menikmatinya.”
*******
Aletha kembali fokus, kejutan terakhir ia lakukan untuk memastikan kerja jantung Presiden Ameer setelah dilakukan operasi.
“Deg... dug... deg... dug...”
Akhirnya jantung Presiden Ameer kembali bekerja meskipun masih terlihat begitu pelan. Rasa syukur seketika diucapkan oleh mereka semua. Dan Aletha segera menyelesaikan operasi yang terakhir, memberikan jahitan sebagai penutupnya.
“Alhamdulillah, Ya Allah... terimakasih untuk malam ini.” Seru Aletha usai menjahit jantung Presiden Ameer dengan rapi.
Brangker itupun di dorong oleh beberapa suster untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan Aletha adalah dokter yang paling terakhir keluar dari ruang operasi. Sesekali Aletha menatap jam dinding yang terus berdetak memutar waktu.
“Tak terasa ternyata sudah jam satu malam. Ke, apa kamu sudah berhasil dalam misi mu?”
Rasa khawatir kembali terbesit dalam hati Aletha. Ketika bayangan Keenan dan sahabatnya masih dalam ancaman.
“Selamat malam, Pak.”
“Selamat malam, Dokter Aletha. Bagaimana kondisi Presiden kami?”
“Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Dan setelahnya kita tidak tahu, kita akan selalu memantau perkembangan jantungnya. Karena penyakit yang diderita Presiden Ameer itu masih rentan. Saya harap, bisa segera pulih dengan cepat meskipun kerja jantungnya tidak kembali normal seperti sebelumnya.”
“Baiklah, saya mengerti maksud Anda, Dokter.”
“Tapi kami tidak bisa berlama disini. Kami akan membawa Presiden Ameer kembali ke Arab.”
“Kenapa seperti itu? Bagaimana saya bisa memantau jika dibawa kembali ke Arab, Pak?”
“Anda tidak perlu khawatir, jika seusai operasi kami sudah menyiapkan Dokter di sana. Kami hanya membutuhkan kinerja Anda sebagai ahli bedah jantung.”
“Baiklah, Pak. Semoga segera lekas pulih.”
Perpisahan telah terjadi pasca operasi itu. Presiden Ameer kembali dibawa ke Arab sedangkan Aletha harus beristirahat, karena hati sudah sangat malam. Apalagi setelah enam jam otak dan tenaganya terkuras di ruang operasi, membuat malam itu begitu melelahkan bagi Aletha.
“Ngantuk banget. Harus tidur, supaya besok bisa lanjut kerja lagi.”
Aletha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ketika menolehkan pandangannya ke sisi kanan, hati Aletha seketika terhenyak. Beberapa hari tempat tidur itu telah kosong tak berpenghuni. Aletha merindukan sosok Wilona yang saat ini tidak tahu bagaimana nasibnya.
“Na, aku rindu. Semoga saja kamu baik-baik saja dan Keenan bisa menyelamatkan kamu sekaligus menangkap orang itu.”
Rasa kantuk yang mendera seketika menghilang saat bayangan Laura tiba-tiba menari-nari dalam pelupuk mata Aletha. Dan segera ia melangkahkan kaki untuk menemui Laura yang berada di kamar sebelahnya.
“Ceklek.”
Gagang pintu telah dibuka pelan. Aletha melihat Laura sudah terlelap dalam tidurnya. Sehingga membuat hati Aletha merasa tenang, saat melihat Laura tidak memikirkan peperangan Keenan dan Garda, suaminya.
“Ke, kak Garda ... aku disini akan bertanggungjawab untuk menjaga Laura demi kalian. Kalian harus kembali dengan tubuh bernyawa.”
Aletha kembali masuk ke kamarnya. Kembali kantuk mendera dan kali ini benar-benar tidak bisa ia tahan. Sehingga Aletha kembali merebahkan tubuhnya lalu memejamkan kedua matanya.
************
Wilona masih menangis, merasa takut jika dirinya akan mati saat itu juga. Keenan juga tak bisa mengalihkan tatapan Jodie. Keenan merasa terhimpit oleh keadaan yang tidak bisa membuatnya maju atau mundur untuk mencari jalan lain. Karena di depannya masih ada Jodie yang menodongkan pistol di kepala Wilona. Dan jika ia mundur, maka peluru akan menembak kepalanya.
__ADS_1
“Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Jodie?”
“Simpel, Kapten. Biarkan aku terbang dengan uangku dan juga dua Dokter cantik ini. Aku menginginkan tubuh mereka.” Jodie mengulas senyum smirik.
Keenan merasa geram atas jawaban yang diberikan Jodie. Ingin rasanya Keenan meluncytkan pelurunya begitu saja, tetapi ia masih harus bertanggungjawab menjaga nyawa mereka semua.
Posisi itu membuat Keenan tidak mudah bergerak, ia hanya bergeming di satu sisi.
**********
Suasana di luar maish terdengar baku tembak yang tak kunjung usai.
“Dor...”
“Dor...”
Satu... Dua...
Akhirnya musuh dapat dilumpuhkan. Tetapi secara tiba-tiba hadir lagi segerombolan anak buah Jodie dari sisi lain. Dan pistol yang dibawa ketiga pasukan berani mati sudah kehabisan peluru. Hanya milik kapten Leon yang tersisa.
“Kapten, biarkan kami yang akan menghadang mereka. Lebih baik Kapten masuk dan membantu Kapten Keenan.” Teriak Garda.
“Tapi ... bagaimana dengan senjata kalian? Jangan melawan dengan tangan kosong. Usahakan kalian bisa mengambil senjata anak buah Jodie yang sudah terbunuh untuk melawan.”
“Siap, Kapten.”
Leon masuk ke dalam markas dengan penuh kewaspadaan. Dan saat masuk satu langkah anak buah Jodie tiba-tiba menyerangnya, ada sepuluh orang yang menyerang. Leon seketika merasa terkepung, tetapi ia harus bisa bertanggungjawab akan posisi itu. Melumpuhkan sepuluh orang dengan strategi ala tentara.
************
Mentari pagi telah menyambut, memberikan kesilauan saat memantulkan cahayanya ke laut. Begitu indah saat melihatnya di anjungan kapal. Hal itupun dilakukan oleh Aletha, sekedar penglipur kesedihan saat belum ada kabar apapun tentang pasukan berani mati dan dua dokter cantik, sahabatnya.
Aletha mendesah, ia tidak tahu mau melakukan apa meskipun hatinya gelisah. Hanya bisa berdiam diri menanti sesuatu hal yang belum pasti.
“Al, kamu kenapa ada disini?”
“Aku sedang menikmati suasana pagi di anjungan kapal. Ya ... itung-itung bersantai sebelum bekerja. Ha... ha... ha...”
“Hmm... Al, aku bosan cuma diam saja. Apa ... tidak ada pekerjaan untukku? Karena setiap waktuku kosong aku selalu memikirkan kak Garda dan kak Keenan.”
Aletha menolehkan pandangannya, ia menatap betul-betul bagaimana kesedihan Laura yang terlihat dari raut wajahnya. Bahkan binar mata Laura terlihat sendu dan satu, jelas Laura habis menangis. Dan itu membuat Aletha semakin tidak tega dengannya.
“Tungkling... tungkling...”
Ponsel Aletha berdering...
Anggap saja itu bunyi dering ponsel milik Aletha ya, jangan dipermasalahkan. Wkwkwk...
“Nomor siapa ini?”
Nomor yang menelpon Aletha tidak terdaftar di dalam kontak Aletha. Sehingga Aletha merasa ragu untuk menerima panggilan telepon tersebut. Namun, karena tiada hentinya nomor itu terus melakukan panggilan akhirnya Aletha menerima panggilan itu juga.
“Halo!”
“Halo, Dokter cantik. Apa kabar?”
__ADS_1
“Alhamdulillah, saya baik. Bagaimana dengan kondisi Presiden Ameer?”
“Setelah operasi dilakukan, pukul empat pagi alhamdulillah beliau sudah sadarkan diri.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Semoga kesehatannya segera pulih dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.”
“Ini semua berkat Anda dan kerjasama tim Anda yang sudah Anda bangun dengan semaksimal mungkin. Dan Anda selalu bertanggungjawab atas kasus pasien Anda.”
“Sebagai hadiah, Presiden Ameer meminta saya untuk mengirimkan kartu chip kepada Anda dan Dokter Edbert. Pasti setelah ini Anda akan menerimanya dari Dokter Edbert. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.”
“Sama-sama, Pak.”
Obrolan melalui udara telah diakhiri. Dan kartu chip yang dimaksud Pak Gubernur itu tadi adalah sebuah kartu yang nanti bisa ditukar dengan sesuatu hal yang diinginkan. Hadiah itu diberikan khusus untuk perjuangan Aletha dan Edbert, di kala Keenan sudah berhasil nanti maka ia pun juga akan mendapatkannya. Karena di antara mereka saling mengenal dengan begitu baik.
Aletha melanjutkan pekerjaannya, di sela-sela kesibukannya saat memeriksa keadaan warga tiba-tiba Edbert memanggil namanya. Lalu, Edbert memberikan kartu chip yang sudah dikatakan oleh pak Gubernur Arab saat obrolan di pagi hari tadi.
“Al, apa kamu tidak mendapatkan kabar tentang Dokter Wilona dan Dokter Catrina? Aku ... mengkhawatirkan mereka.” Pandangan Edbert berubah sendu. “Aku ingin membuka hati untuk Catrina.”
Seketika Aletha mengunyah makan siangnya dengan sangat pelan. Lalu menatap Edbert yang berada di hadapannya. Kali ini Aletha makan di kapal, meskipun makanannya hanya itu-itu saja, suasana hati Aletha sedang tidak baik. Maka dari itu ia memilih makan di kapal.
“Maafkan aku, Edbert. Aku pun juga tidak tahu kabar merekamereka seperti apa dan bagaimana keadaan mereka.”
“Kita tunggu saja, sekarang kita harus kembali bekerja. Tuh lihat, Laura sudah begitu semangat ... tidak berhenti mengobrol dengan warga dan menanyakan keluhan mereka.”
Karena merasa Laura tengah bersedih, Aletha meminta Edbert memposisikan Laura di bagian daftar utama. Sehingga tidak begitu membuatnya terlalu lelah dan Laura juga tidak terlalu memikirkan Keenan dan Garda. Apalagi saat itu mereka kehilangan dua dokter yang berperan penting di sana.
Aletha dan Edbert kembali memeriksa kesehatan pasien di bagian daftar lain. Dan hampir seharian penuh mereka bekerja sama demi kesehatan warga yang berbondong-bondong datang ke kapal. Karena Mercy Ship memberikan pelayanan kesehatan secara sukarelawan, banyak obat-obatan yang disediakan untuk menunjang kesehatan warga yang membutuhkan.
Guienie, Ghana, Nigeria, Gabon, Anggola, Namibia, sudah ditelusuri oleh Mercy Ship. Banyak relawan yang bekerja dengan sangat keras dan dengan sukarela mengobati warga yang membutuhkan, seperti operasi pada jantung mereka yang memang perlu untuk segara dioperasi.
“Alhamdulillah,”
Laura mengucapkan syukur setelah pekerjaannya dirasa sudah selesai. Lalu ia mendorong kursi rodanya menuju ke pesisir pantai.
“Sudah hampir malam lagi, kenapa belum juga ada kabar dari kalian. Aku ... khawatir. Nak, doakan Ayah kamu dan Om kamu baik-baik saja di sana, ya...”
“Satu tetes...”
“Dua tetes...”
Air mata pun luruh dan jatuh membasahi pipi Laura. Tidak hentinya ia melangitkan doa, memohon keselamatan untuk Keenan dan Garda. Dan Laura juga sering mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit. Karena kandungannya sudah berusia lima bulan.
Hati begitu cepat berlalu, bahkan Aletha sudah tujuh bulan berlayar dan menjadi dokter sukarelawan.
“Laura, aku cari kemana-mana ternyata kamu ada disini.” Aletha menepuk pelan bahu Laura. “Kembali ke kapal yuk, tidak baik buat ibu hamil di jam sedini berada di pesisir pantai. Anginnya terlalu kencang, nanti kamu bisa sakit.”
Laura tidak bergeming, hanya isak tangis yang tersisa dan membuat tenggorokannya tersedat.
“Laura, kenapa kamu menangis?”
Tidak perlu diceritakan lagi, suara hati Aletha merasakan kesedihan yang dialami Laura. Karena ia pun juga merasakan hal yang sama dengan Laura.
‘Cinta itu tidak mudah dimengerti. Terkadang membuat kita gila dan sesak di dalam dada karena tersakiti oleh cinta. Meski seperti itu... kita tetap ingin menikmatinya.’
‘Seperti halnya saat ini, cinta mengeruak rasa rindu. Begitu terasa sesak tidak mendengar suaranya... begitu membuat otak ini memanas saat sehari tidak membayangkannya... membuat suasana menjadi hening, sunyi bahkan membuat nafsu makan pun menghilang dalam sekejap saat pertemuan belum memihak kita.’
__ADS_1
Aletha berusaha menenangkan Laura, meskipun ia sendiri juga butuh waktu untuk tenang. Hingga ia pun tidak sabar jika hanya menunggu saja.
‘Mungkin ini jalannya.’ batin Aletha.