
“Rasa syukur itu mampu diciptakan dari dalam diri kita. Jika kita mampu mengingat pemberian Allah SWT, maka... kita akan merasakan kenikmatan dalam bersyukur.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Baku tembak masih berlanjut dan sesekali granat kembali dilempar secara tiba-tiba. Membuat pasukan berani mati merasa bingung, bagaimana cara untuk melawan mereka. Sedangkan pasukan berani mati benar-benar merasa lelah. Bahkan peluru yang mangisi ke dalam pistol mereka masing-masing sudah habis.
“Argghh, sial!” umpat Bian. “Kenapa bisa habis disaat yang tidak tepat sih?”
Aletha yang melihat kekesalan Bian seketika ia berusaha untuk berteriak memanggil Bian dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dan dengan segera ia melemparkan pistol yang sudah diisi dengan peluru kepada Bian. Namun, saat Aletha berusaha untuk melempar pistol itu tiba-tiba saja peluru dari pistol Yohan meluncur begitu saja. Sehingga peluru itu mengenai lengan Aletha yang tertutupi gamis.
“Arrrggghh...” rintih Aletha.
Aletha segera bersembunyi lagi dibalik tembok, mencari tempat berlindung disaat baku tembak masih membabi buta. Dan Aletha yang sudah biasa menangani kasus seperti itu, ia berusaha untuk menghentikan darah yang mengucur deras dari lengannya dengan menutupi bagian yang tertembak.
“Kreeekkkk...”
Aletha tidak segan-segan untuk merobek gamisnya itu untuk menali lengannya yang terluka. Dan setelah itu ia mencari keberadaan Keenan dan pasukan berani mati lainnya yang masih bertempur.
“Aa... awas!” teriak Aletha saat melihat Keenan hendak terkena tembakan.
“Dorr...”
”Dorr...”
“Dorr...”
Aletha terus memicu pelurunya untuk menghantam peluru Yohan yang sengaja diluncurkan ke arah Keenan. Dengan begitu beraninya Aletha terus maju dan meluncurkan pelurunya itu sampai-sampai Yohan kewalahan untuk menghadapi Aletha. Dan detik kemudian Keenan ikut maju, sehingga peluru mereka tepat mengenai sasaran.
“Bruukk...” tubuh Yohan tumbang.
Yohan tidak mampu lagi bergerak, bisa dinyatakan ia sudah tiada di tempat setelah ketiga peluru masuk ke jantungnya. Namun, pertempuran itu masih berlanjut bahkan semakin membabi buta saja. Karena anak buah Yohan merasa tidak terima jika Yohan dibunuh begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nguuuung...”
Anggap saja suara helikopter. Wkwkwk...
Tiba-tiba pasukan loreng turun satu persatu dari helikopter yang mengudara di atas ketinggian. Setelah turun semua pasukan bersiap untuk melakukan aksi baku tembak agar semua musuh segera dilumpuhkan.
“Dorr...”
“Dorr...”
“Dorr...”
Satu persatu musuh mampu di lumpuhkan. Tubuh mereka tumbang dan mati di tempat. Dan pasukan berani mati seidkit merasa lega karena jumlah musuh sudah berkurang setelah mendapatkan bantuan di waktu yang tepat.
__ADS_1
Lima musuh itupun seketika mamou dilumpuhkan oleh Keenan, sang Kapten. Dan setelah pertempuran baku tembak yang membabi buta usai, kini mereka bisa berkumpul kembali.
“Neng, apa Neng terluka?” tanya Keenan khawatir.
“Neng...” Aletha menghentikan suaranya ke udara.
“Darah? Neng ... Neng terkena tembak?” Ujar Keenan bergetar.
”Neng tidak apa-apa kok, Aa. Neng bisa menahan sakitnya.”
“Tidak apa-apa bagaiamana, Neng. Sebentar, Aa cari kain lagi untuk membalut luka Neng. Darahnya sudah merembes itu.”
Keenan berusaha mencari kain yang bisa membalut luka tembak di lengan Aletha, agar darah berhenti untuk sementara waktu sampai tiba di rumah sakit.
Meskipun Keenan membiarkan Aletha sendiri, tetapi pandangannya masih tertuju ke arah Aletha berdiri. Dan saat Keenan menajamkan netra elangnya, ia mendapati pergerakan yang mencurigakan.
“Awasss Neng...” Teriak Keenan separuh berlari.
“Boom...”
Granat pun dilempar dan meledak di dekat Aletha. Akan tetapi Aletha masih baik-baik saja, hanya saja Keenan seketika limbung dan tumbang saat menyelamatkan Aletha dari ledakan granat.
“Aa... bangun!” Ujar Aletha lirih.
“Aa... Neng mohon bangun!” Suara Aletha terdengar bergetar.
“Neng, Neng tidak a... Apa-apa kan? Neng b... Baik-baik saja, kan?” tanya Keenan terputus-putus.
Aletha manggut-manggut, ia membenarkan ucapan Keenan. Dan dengan tenaga yang masih tersisa Keenan menyempatkan diri untuk menggerakkan tangannya, lalu meraba pipi Aletha dan perut Aletha yang masih rata.
”Jaga anak kita ya, Neng. Maaf jika... A... Aa tidak bisa menjaga kalian.”
“Ana uhibbuka...”
”Fillah.” Sambung Aletha.
Keenan tersenyum mendengar suara Aletha yang menyatakan cinta kepadanya.
Satu detik...
Dua detik...
“Aa...” Teriak Aletha setelah Keenan terpejam.
Keenan tidak bisa menahan sakitnya lagi. Ia memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Dengan senyuman ia merasa sudah berhasil menjaga Aletha sesuai dengan apa yang ia janjikan kala pertama bertemu dengan Aletha.
Tangis Aletha pecah, ia tidak bisa membendung lagi air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Aletha mendekap erat tubuh Keenan, ia menciumi pipi Keenan saat berada di pangkuannya.
__ADS_1
Dan semua kejadian itu membuat tubuh Aletha terguncang hebat, untuk yang kedua kalinya ia merasa lemah saat orang yang dicintai telah meninggalkannya secara tiba-tiba.
“Bruukk.”
Aletha tidak bisa menopang tubuhnya lagi, sehingga ia jatuh pingsan saat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nguuunnggg...”
Helikopter mengudara dan membawa pasukan berani mati sekaligus pasukan loreng lainnya kembali ke Jakarta. Sedangkan helikopter yang kedua membawa Keenan dan juga Aletha ke rumah sakit di Jakarta.
“Bertahanlah kalian, putri dan menantuku!” ujar Bagas Kara dengan lirih, sangat lirih.
Bagas Kara seketika merasa dadanya begitu sesak, begitu sulit untuk bernafas sedikit saja. Dan ia juga merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga Aletha dengan baik. Hingga tangis pun pecah begugu saja, untungnya di dalam helikopter itu tidak ada pasukan loreng yang lainnya, haya asistennya dan juga dokter yang sengaja ia bawa untuk memberikan penyelamatan pertama kepada Keenan dan juga Aletha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setiba di rumah sakit ternama di Jakarta Siloam Hospitals, Keenan dan juga Aletha segara di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan utama. Semua tim medis bekerja sama untuk menyelamatkan kedua nyawa yang mereka kagumi.
“Suster, siapakan ruang operasi untuk mengeluarkan peluru dari lengan Dokter Aletha.” Pinta Ilham.
“Baik, Dok.”
Dengan segera tim medis membawa Aletha ke ruang operasi setelah perlengkapan dan peralatan yang digunakan siap. Sedangkan Keenan masih berada di ruang UGD, karena detak jantung Keenan masih belum stabil. Sehingga dokter yang menangani beberapa kali melakukan kejut jantung untuk mengembalikan jantung Keenan yang beberapa detik lalu sempat hilang.
“Kita lakukan sekali lagi, Sus. Naikkan joulnya.”
“Baik, Dok.”
Dalam hitungan ketiga dokter kembali melakukan kejut jantung, hingga jantung Keenan akhirnya telah kembali berdetak. Meskipun sangat lirih, tetapi Allah sudah memberikan kesempatan yang kedua untuk Keenan bisa bernafas.
“Alhamdulillah...” Pekik tim medis setelah berusaha dengan semaksimal mungkin.
Setelah jantung Keenan kembali berdetak, tim medis kembali bekerja untuk membersihkan luka di punggung Keenan yang terkena ledakan granat. Dengan sangat hati-hati suster membersihkan luka bakar itu, lalu membalutnya dengan perban.
“Alhamdulillah, pak Keenan sudah melewati masa kritisnya. Sekarang... kita semua tinggal menunggu sadarnya saja.” Tutur Dokter kepada Bagas Kara.
Bagas Kara mengangguk. Lalu dokter pun pergi meninggalkan Bagas Kara.
Beberapa detik kemudian dokter kembali memberitahukan kepada Bagas Kara bahwa Aletha sudah melewati masa kritisnya. Dan peluru berhasil dikeluarkan, begitu halnya dengan bayi yang berada di dalam rahim Aletha dapat dinyatakan baik-baik saja.
“Begitulah... rasa syukur itu mampu diciptakan dari dalam diri kita. Jika kita mampu mengingat pemberian Allah SWT, maka... kita akan merasakan kenikmatan dalam bersyukur.” Ujar Brigjen Carlos seraya menepuk pelan pundak Bagas Kara yang sempat merosot.
“Sekarang kita diberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara, Bagas Kara. Anak-anak kita sudah diberikan kesempatan untuk bisa berkumpul kembali dengan kita. Dan ini hasil dari kita mengingat Allah, dengan bersyukur ... Allah membalas perbuatan kita.”
Bagas Kara memeluk Brigjen Carlos. Dan setelah mendapat kabar dari Garda dengan segera Brigjen Carlos meluncur ke Indonesia. Tidak lama kemudian keluarga tercinta Bagas Kara tiba di rumah sakit.
__ADS_1