
“Suasana hati akan merasa tenang jika kita perbanyak berdzikir, mengingat betapa besarnya kuasa Tuhan tanpa kita ketahui. Karena kita sebagai manusia hanya bisa berserah kepada-Nya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Dor... Dor... Dor...”
Terdengar begitu jelas dari dalam posko yang dijadikan tempat istirahat oleh Keenan, Garda dan anggota polri yang melakukan patroli di siang itu. Seketika mereka terhenyak dari tempat yang membuat mereka nyaman untuk beristirahat, lalu keluar untuk memastikan.
“Tembakan itu sepertinya berpusat di... luar sana.” Keenan menajamkan telinganya.
“Kapten, kita harus bagaimana?” tanya salah satu anggota polri yang tidak ingin gegabah dalam bertindak.
“Kita selidiki dulu apa yang terjadi di sana. Jika mereka bukan dari anggota Ergianus atau pasukan KKB kita tidak perlu melaporkan semua itu ke anggota Nemangkawi.” Keenan menatap ke seluruh anggota.
“Siap, Kapten!” ucap semua anggota polri dan Garda secara serempak.
Semua bergegas dengan seragam lengkap dan dilindungi dengan pakaian anti peluru. Namun hanya Garda dan Keenan saja yang memakai rompi anti peluru, karena ke enam polisi itu tidak membawa rompi anti peluru mereka.
Saat berada di kabupaten Yahukimo terlihat di sana ada peperangan antar suku. Di mana suku Yali dengan suku Ngalik tengah melakukan aksi tidak terima mereka. Saling melempar batu ke arah satu sama lain, bahkan di sana ada pula pak Sowa yang ikut melalukan perang.
“Bisa dibilang ini peperangan antar suku. Lihatlah di sana ada juga pak Sowa, kita tidak bisa melapor ke anggota Nemangkawi. Kita pasti bisa mengatasinya.” Putus Keenan dalam melerai peperangan antara suku itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tring... Tring...”
Ponsel Aletha beedering begutu keras, untung saja tidak membuat Alina terbangun dari tidurnya. Dengan seketika Aletha menyambar ponselnya yang berada di atas nakas.
“Nomor siapa ini? Kenapa namanya tidak terdaftar di kontak ku?”
Entah siapa pemilik nomor itu yang membuat Aletha meragu untuk menerima panggilannya. Akan tetapi Aletha tidak bisa mengabaikan panggilan siapapun, karena Aletha takut jika saja itu panggilan darurat.
“Halo,” ucap Aletha dengan lirih.
Aletha tidak mau jika obrolannya melalui udara itu akan membuat Alina terbangun, sehingga ia memutuskan untuk sedikit menjauh dari Alina.
“Assalamu'alaikum, kak Aletha.” Terdengar dari seberang dengan nada begitu lirih.
“Wa'alaikumsalam, apa ini dengan... Arga?” tanya Aletha yang sedikit mengenal suara Arga.
“Iya, Kak. Arga butuh bantuan kak Aletha sekarang juga. Ada Daddy di rumah sakit, Mommy dan kak Cinta merasa ketakutan.” Terang Arga yang tengah khawatir.
“Apa?” pekik Aletha.
Aletha mendesah, merasa lelah menghadapi penjahat seperti Mr. Jastin. Karena Aletha sudah mengenali sikap Mr. Jastin yang mencurigakan, bisa dipastikan bahwa Mr. Jastin bukanlah pengedar dan mafia kelas rendah, karena Mr. Jastin tahu betul apa yang harus dilakukan untuk menyembunyikan jati dirinya dari pihak keamanan.
“Baiklah, Kakak akan segera kesana.” Putus Aletha yang merasa tidak tega dengan Cinta dan Nyonya Mourisa.
Di waktu yang tepat Alina terbangun dengan binar mata yang memancarkan cahaya penerang, bagaikan lampu lentera yang dimiliki Aletha dan Keenan lambang sebagai cinta mereka selain coklat batang.
“Putri Bunda sudah bangun ya! Assalamu'alaikum putri sholehah nya Ayah Bunda.” Aletha memainkan pipi Alina yang sudah mulai gembul.
Meskipun ada panggilan darurat Aletha tidak akan meninggalkan Alina dan lalai akan tugasnya sebagai seorang ibu.
Aletha pagi itu menyibukkan diri dengan Alina, memandikan, memakaikan baju yang begitu cantik untuk Alina dan tidak lupa memberi asupan gizi di pagi hari.
“Alina minum ASI dulu ya, Nak. Nanti ditinggal Bunda lagi kerja, Alina sama Nenek di rumah.” Aletha berceloteh panjang di hadapan Alina yang masih begitu polos, tetapi Alina merasakan nyaman berada dalam dekapan Aletha.
Aletha menuruni anak tangga dengan mendekap Alina dalam gendongannya. Setelah itu memberikan Alina kepada Bu Laila, karena Mama Nina masih sibuk menyiapkan keperluan Bagas Kara setiap pagi.
“Bu, Aletha titip lagi Alina kepada Ibu. Aletha harus kerja, karena Aletha ada panggilan darurat.” Binar mata Aletha memancarkan harapan kepada Bu Laila.
“Ibu tidak masalah jika diminta menjaga Alina, Nak. Tapi... Ibu merasa tidak enak hati jika tinggal terus menerus di rumah ini. Sedangkan Rania sekarang sudah tinggal di Batalyon.”
Aletha mengukir kan senyum di bibirnya, mengerti bagaimana rasanya tinggal di tempat yang asing dan baru bagi bu Laila. Sehingga ia memutuskan untuk mengajak Bu Laila tinggal di rumahnya yang lama. Rumah di dekat pantai seperti yang sudah di desain olehnya setelah meninggalnya Fajar.
__ADS_1
“Selamat pagi, permisi! Maaf Pak... Bu... saya akan melakukan visite terhadap Cinta.” Aletha sudah siap untuk menghadapi Mr. Jastin dengan taktik jinak-jinak merpati.
“Iya, Dokter, silahkan!”
Terlihat jelas dari raut wajah Nyonya Mourisa yang merasa sudah cukup lega setelah Aletha hadir di ruangan Cinta. Namun, tatapan Mr. Juan terus menajam dan memidai setiap gerakan Aletha.
“Permisi Cinta, saya periksa dulu ya! Tarik nafas, lalu hembuskan secara perlahan.” Aletha menyunggingkan senyum dan melakukan layaknya seorang dokter yang bertugas melakukan visite terhadap pasiennya.
“Baik, Dok.” Cinta mengangguk.
Mr. Jastin tidak mau lengah begitu saja, apalagi mengingat Aletha adalah wanita yang pernah dijadikan sandera oleh Agus.
“Alhamdulillah, kondisi kamu sudah mulai membaik. Jangan lupa terus jaga pola makan yang teratur, obatnya juga.”
Keadaan masih aman detik itu, tetapi tidak lagi setelah Arga masuk ke dalam ruangan. Karena Arga begutu acuh terhadap Mr. Jastin, rasa benci yang membuncah dadanya menutupi rasa kasihnya terhadap seorang ayah dan rasa itu telah hilang.
“Tidak ada sopan santunnya ya kamu!” teriak Mr. Jastin.
“Apa Arga tidak salah dengar? Bukannya Daddy yang mendidik Arga seperti ini? So... bukan salah Arga jika tidak menghormati Daddy sebagai ayah Arga.” Tunjuk Arga kepada Mr. Jastin.
Mr. Jastin begutu geran dengan perilaku Arga yang terus memebeikan perlawanan terhadapnya, tidak seperti istri dan anak perempuannya yang selalu menurut jika diperintah.
Mr. Jastin memasukkan tangannya ke dalam jas hitam yang dikenakan, seolah tengah merogoh sesuatu dari dalam sana. Dan ternyata benar saja, Mr. Jastin menodongkan pistol kepada Arga.
“Arga... Daddy, Mommy mohon jangan lakukan apapun terhadap anak-anak kita!” ucap Nyonya Mourisa dengan air mata yang menetes di pipi.
“Silahkan jika Daddy mau menembak Arga. Lebih baik Arga yang pergi daripada Mommy maupun kak Cinta.” Arga seolah tidak main-main dengan apa yang diucapkan olehnya.
‘Gila kamu Arga tadi minta bantuan. Malah Dia yang salah taktik, dasar anak... ABG.’ Aletha bermonolog dalam hati.
Aletha tidak ada pilihan lain selain melawan Mr. Jastin dengan pistolnya juga. Dan taktik jinak-jinak meepati telah gagal, sekarang dengan taktik keras.
Aletha tidak mau jika orang yang menurutnya baik akan menjadi korban. Sehingga ia ingin sekali melindungi keluarga Arga dari ancaman bahaya seperti di dekat Mr. Jastin. Dan Aletha sungguh tidak mau bertele-tele dalam hal persenjataan, tetapi ia jiga tidak mau gegabah.
“Diam! Jika tidak, maka peluru ini yang justru membunuhmu. Ini urusanku dengan anakku, jangan ikut campur!” gertak Mr. Jastin.
Aletha mendesah, tetapi hanya di dalam hati. Dan hatinya sudah merasa kesal, amarah sudah berada di puncak kesabarannya.
“Anda meminta saya diam? Tapi maaf, jika saya juga akan bertindak.” Aletha menodongkan pistol ke arah Mr. Jastin yang berada di hadapannya.
Sontak aksi Aletha yang tidak diketahui Mr. Jastin membuatnya terkejut, bahkan Mr. Jastin terhenyak dengan nafas menderu karena amarah yang tidak bisa ditahan.
Aletha tersenyum smirk saat tatapannya menajam ke arah Mr. Jastin. Membuat Mr. Jastin tidak mau kalah begitu saja, tetapi Mr. Jastin ternyata salah dalam memprediksi seorang Aletha Bagas Kara..
“Dor...”
Satu peluru mengenai kaki Mr. Jastin. Namun, Mr. Jastin masih mampu berdiri tetapi tidak setelah tadi, meskipun ia merintih kesakitan.
“Kenapa, Pak? Apa Anda terkejut?” tanya Aletha dengan tersenyum.
‘Sialan! Dia menyerang tanpa aba-aba. Siapa Dia sebenarnya?’
Mr. Jastin sih tidak mengenal siapa Aletha. Tuh kena kan peluru Aletha yang tepat sasaran pertamanya. Wkwkwk
“Aku tidak akan mudah dikalahkan begitu saja,” ucap Mr. Jastin.
“Silahkan melawan! Karena saya akan melawan lebih dulu.”
“Dor...”
Kembali peluru Aletha yang kedua mengenai kaki Mr. Jastin, sehingga Mr Jastin seketika berjongkok, karena tidak mampu berdiri dengan dua kaki yang sudah terkena luka tembak.
“Arrrggghhh...” rintih Mr. Jastin.
“Kenapa, Pak? Apa terasa... sakit? Perlu Pak Jastin tahu siapa saya, atau... anggap saja saya Dokter yang merawat Cinta, putri Anda.”
__ADS_1
Sungguh Aletha tidak mau berada di posisi yang membuatnya beradu tembak dengan Mr. Jastin. Namun keadaan masih memaksanya.
Perasaan tadi Aletha saja yang menembak, kok adu tembak sih Aalll...
Tidak lama kemudian beberapa anggota polri datang dan masuk ke ruangan Cinta setelah mendapatkan ijin dari pihak rumah sakit. Dengan suara tegap dari salah satu mereka membuat Mr. Jastin tidak bisa berkutik lagi. Hanya bisa pasrah setelah dua kakinya tidak bisa berjalan dengan normal. Bahkan berdiri saja tidak bisa apalagi berlari.
Mungkin bagi pembaca mudah sekali bagi Aletha dalam membekuk penjahat kelas kakap. Namun tidak seperti kenyataan, Aletha harus siap mental jika saja peluru musuh akan mengenai tubuhnya. Namanya juga anak seorang tentara, paling tidak mengerti bagaimana cara pegang pistol. Wkwkwk
Anggota polri itu membawa Mr. Jastin ke kantor polisi, tetapi sebelumnya mereka meminta salah satu dokter untuk melakukan pembedahan pada kakinya yang sudah terkena tembak.
“Kak, terimakasih! Kalian pahlawan untuk kami.”
“Kalian? Maksudnya?”
Aletha membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Karena tidak mengerti secara pasti apa yang dimaksud Arga dalam ucapannya.
“Kak Aletha dan Kak Keenan.” Arga melukiskan senyum samar.
Arga menjelaskan kepada Aletha jika Keenan sebelumnya sudah tahu bagaimana kejahatan Mr. Jastin dilakukan kepada Arga. Bahkan Keenan sempat ingin melaporkan tindakan Mr. Jastin ke pihak yang berwajib. Namun, Keenan tidak bisa melakukan tindakan lebih lanjut tanpa bukti yang akurat. Dan ketika handak menyelidiki tindakan kekerasan Mr. Jastin tetapi justru ia di tugaskan ke Yahukimo.
“Bolehkah jika saya ikut memanggil Anda sebagai Kakak seperti Arga?”
“Tentu.” Aletha mengangguk.
Dengan seiring waktu Aletha mulai akrab dengan Cinta dan Nyonya Mourisa. Bahkan mereka meneruskan kembali obrolan yang sempat terhenti saat Aletha harus bekerja sebagai seorang dokter. Melakukan visite terhadap pasien dan melakukan operasi satu kali.
“Kak Aletha, aku merasa tenang jika kak Aletha ada di sini. Terimakasih karena sudah mencegah Daddy melepas pelurunya ke arah Arga. Arga itu... adik saya satu-satunya yang mengerti bagaimana saya. Tetapi... setelah tahu pekerjaan apa yang digeluti Daddy, Arga memutuskan keluar dari rumah.”
“Saya ikut sedih akan hal itu. Tapi kamu salah memprediksi saya, Cinta.”
“Karena... Suasana hati akan merasa tenang jika kita perbanyak berdzikir, mengingat betapa besarnya kuasa Tuhan tanpa kita ketahui. Karena kita sebagai manusia hanya bisa berserah kepada-Nya.”
“Arga akan mengajarkanmu apa yang wajib dan apa yang tidak. Karena saya yakin Arga tahu banyak hal yang lebih dalam tentang Islam daripada saya.”
Nyonya Mourisa dan Cinta memang belum memeluk agama Islam dan masih memeluk Kriste, berbeda dengan Arga. Setelah tahu dan keluar dari rumah besar dan megah membuat Arga mengenal Islam melalui kajian dan ceramah yang pernah diikutinya di salah satu masjid dan juga melalui youtube. Sehingga hati Arga merasa yakin untuk berpindah memeluk agama Islam.
“Saya harus pulang saat ini, karena sudah waktunya saya harus kembali ke rumah.”
Mengingat jam sudah menunjukkan pukul empat sore Aletha harus kembali pulang lebih cepat, karena sudah janji mengajak bu Laila tinggal di rumah lamanya. Dan tidak mungkin juga jika Aletha akan membiarkan bu Laila tinggal sendiri di sana.
“Assalamu'alaikum, Rania.”
“Wa'alaikumsalam, kak Aletha. Ada apa kak Aletha menelpon?” tanya Rania yang merasa heran.
“Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya saja... kak Aletha dan Ibu kamu akan pindah ke rumah lamanya Kakak. Jika kamu ada waktu atau pas libur bisa langsung ke sana.” Papar Aletha memberitahu Rania yang masih sibuk bertugas di batalyon.
“Iya, Kak. InsyaAllah minggu depan Rania libur. Oh iya... boleh tidak jika Rania minta sesuatu?”
“Minta apa kamu? Kalau jodoh... Kakak tidak bisa, Kakak bukan Tuhan.” Aletha terkekeh.
“Bukanlah, Kak. Rania mau... kita ke pantai.”
“Boleh saja, kan dekat dengan pantai. Tapi ingat... jangan terlalu lama karena Kakak punya baby, tidak baik jika ditinggalkan terlalu lama setelah kerja.”
Obrolan telah diakhiri setelah Aletha dan Rania saling menyetujui rencana mereka. Dan saat ini Aletha siap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun di dasar hatinya ingin sekali segera sampai rumah dan bertemu dengan Alina, pengobat rindunya terhadap Keenan.
“Apa Bu Laila sudah siap jika kita pindah sekarang?” tanya Aletha kepada bu Laila yang masih asik dengan Alina.
“Tapi, Nak... bagaimana jika nanti kedua orang tua kamu marah jika kamu dan Alina ikut dengan Ibu?”
“InsyaAllah tidak akan, toh di sini masih sangat ramai dengan Ravva, Larisa dan... Atalaric. Jadi, Bu Laila tenang saja,” jawab Aletha.
Bu Laila pun mengangguk untuk menyetujui rencana Aletha. Dan Aletha pun mendapatkan ijin dari Bagas Kara dan Mama Nina. Meskipun sebenarnya sangat berat untuk merelakan perpindahan Aletha dan Alina.
Bersambung...
__ADS_1