
“Nothing is impossible, tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha yang di sertai doa. Memohon kepada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha menceritakan sedikit awal mula pertemuannya dengan Keenan hingga kini bertemu dalam satu ikatan yang akan mengikat keduanya untuk selamanya.
“Ini coklat, lambang cinta kami saat pertama kali bertemu.” Aletha memberikan sebatang coklat kepada Arga.
“Makanlah! Coklat bisa menenangkan suasana dalam hati kita.” Aletha tersenyum untuk. sekedar menghibur Arga yang tengah bersedih.
Satu gigitan...
Dua gigitan...
Arga mampu tersenyum kembali, tetapi saat senyum itu memgembang dengan sempurna ada hati yang merasa terhibur...?
Nyonya Maurisa tak lain adalah ibu dari Arga dan Cinta tengah mengembangkan senyum sempurna saat putra nya kembali tersenyum setelah beberapa waktu lalu murung dan bersedih. Meskipun Nyonya Maurisa masih merasakan kesedihan karena Cinta masih belum sadarkan diri pasca operasi besar.
‘Entah bagaimana cara dokter Aletha membuat mu tersenyum kembali Nak, tapi yang pasti Mommy ingin kamu terus seperti itu.’ Nyonya Maurisa bermonolog dalam hati.
“Katakan kepada putramu itu untuk tidak membuat orang tuanya gila hanya Dia tidak pulang.” Mr. Jastin menatap tajam Arga.
Setelah mengatakan hal itu Mr. Jastin kembali masuk ke ruangan Cinta dan menemani Cinta di sana, meskipun jelas saja Cinta belum sadar. Dan seakan Mr. Jastin menyimpan amarah yang besar terhadap Arga, putra keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kak... boleh Arga bertanya?” tanya Arga tanpa menoleh ke arah Aletha.
“Silahkan, tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui.”
“Apa ... kak Aletha tidak takut jika orang yang kak Aletha sayangi akan tiada suatu hari nanti?”
Pertanyaan Arga mebuat Aletha seketika menoleh ke arahnya. Lalu Aletha menyunggingkan senyum tipis.
“Awalnya kakak merasa takut, tapi yang namanya takdir tidak bisa kita rubah. Semua akan terjadi, dan setiap manusia pun juga pasti akan kembali kepada-Nya.”
Arga manggut-manggut, membenarkan apa yah dikatakan Aletha. Meskipun takut akan kehilangan tapi yang namanya takdir tidak bisa dirubah oleh siapapun. Dan setiap manusia itu pasti akan kembali kepada Allah jika sudah tiba waktunya. Sejauh apapun kita berlari dan sebesar apapun kita menolak hadirnya kematian, kita tidak bisa mengelak.
“Ya sudah, kakak harus kembali ke ruangan kakak dulu. Kakak tidak bisa berlama-lama di rumah sakit, karena kakak sudah menjadi seorang ibu. Mungkin... besok atau lusa kakak sudah bisa bekerja seperti biasa. Jika kamu membutuhkan bantuan kakak, kamu bisa temui kakak di rumah sakit.” Aletha menepuk pelan pundak Arga yang sempat melorot.
“Apa... kak Cinta bisa sembuh?”
“Nothing is impossible, tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha yang di sertai doa. Memohon kepada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. InsyaAllah, Kakak kamu bisa sembuh, mungkin... sebentar lagi jiga akan sadarkan diri.”
“Terimakasih, kak. Kak Aletha sudah berusaha yang terbaik untuk menolong kak Cinta.” Arga beranjak dari tempat duduknya.
Kedua ujung bibir Aletha tertarik, membentuk senyum yang sempurna untuk menguatkan hati Arga yang rapuh karena menghadapi masalah yang besar. Aletha tahu bagaimana jika seorang anak remaja mengalami kekangan dari kedua orang tuanya.
“Ya sudah, kakak pergi dulu! Jagan lupa dimakan lagi coklatnya, InsyaAllah akan mendamaikan hatimu yang risau. Dan lebih baik, berdoa meminta kepada Allah untuk mempermudah segala urusanmu.” Aletha tersenyum.
Arga hanya bisa menatap punggung Aletha yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya. Dan setelah Aletha tidak terlihat lagi, Arga menatap coklat batang dalam genggaman tangannya itu. Lalu ia duduk kembali, memakan sisa coklat batang yang hanya tinggal separuhnya saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kapten, bukannya itu ... tempat yang amat sangat bahaya?” tanya Brian setelah tahu bahwa Keenan dan Garda akan ditugaskan ke Papua, tepatnya Jayapura.
“Benar. Aku dan Garda akan bergabung dengan Satgas Penegakan Hukum Nemangkawi yang dibentuk pemerintahan mereka di sana. Dan pasukan KKB di sana masih sangat meraja lela.”
“Dan... berapa lama Kapten Keenan dan Lettu Garda ditugaskan di sana?” sambung Naina.
“Kurang lebih tiga bulan, kalau tidak...” Garda menggantungkan ucapannya.
“Kita gugur,” sambung Keenan.
Brian, Naina dan Bayu seketika menoleh ke arah kedua sahabatnya itu. Rasanya tidak percaya saja jika Keenan dan Garda akan mengatakan hal seperti itu kepada mereka.
“Kenapa kalian berkata seperti itu? Kalian harus kembali, ingat ... ada anak dan istri kalian yang menunggu di sini.” Brian seakan tidak menerima apa yang dikatakan Keenan dan Garda.
“Benar apa yang dikatakan Brian, kalian harus kembali.” Bayu dan Naina membenarkan yang dikatakan Brian. Rasanya tidak terima jika mereka nanti akan kehilangan sosok sahabat yang menganggap mereka seperti saudara sendiri.
__ADS_1
Persahabatan yang begitu erat, yang sudah dijalin selama Keenan, Garda, Brian, Bayu dan Naina mulai masuk dalam anggota TNI Taruna. Bahkan setiap misi mereka selalu ditugaskan bersama hanya saja saat itu harus berpisah, karena hanya Keenan dan Garda saja yang ditugaskan ke Papua Barat, Jayapura, Kabupaten Yahukimo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kira-kira Aa Keenan nanti pulang jam berapa ya? Bisa jemput atau tidak ya?” tanya Aletha dalam hati saat mengingat mobilnya masih belum diperbaiki.
Aletha mencoba menghubungi ponsel Keenan untuk menanyakan tentang jam berapa Keenan akan pulang. Dan tidak lama kemudian panggilan yang hanya melalui udara telah tersambung, Keenan degan segera menuju ke rumah sakit setelah Aletha menjelaskan semua kepadanya termasuk, ban mobil Aletha yang mengalami bocor.
“Naina, aku pinjam motor kamu. Nanti aku akan kembali lagi setelah mengantarkan Aletha pulang.”
Naina melempar kunci motornya kepada Keenan. Dan Naina berusaha untuk mengerti bagaimana perasaan Keenan jika nanti akan berpisah dengan Aletha dan juga Alina, putrinya yang masih sangat kecil. Begitu halnya dengan Garda, ketiga sahabat nya itu ikut merasakan kesedihan dan juga kerisauan saat mereka nanti akan bertugas di Yahukimo.
“Kita doakan saja mereka selamat dalam misi kali ini.”
Brian, Bayu dan Naina masuk ke markas. Sedangkan Garda ijin pulang untuk bertemu dengan Laura dan Ravva.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum, Neng.”
“Wa'alaikumsalam, Aa sudah sampai ternyata,” balas Aletha.
Aletha seketika menyalami tangan Keenan yang baru saja datang di ruangannya.
“Ini, Aa bawakan... seblak ceker. Dan... bunga anggrek, tapi... maaf jika layu.” Keenan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Makasih Aa, lagian tak apa juga lagu bunga anggrek nya. Asalkan... cinta Aa ke Neng tidak layu.” Aletha menyandarkan kepalanya ke dada bidang Keenan.
”Tidak mungkin jika layu, Neng. Justru semakin bertambah segar dan berkembang. Semakin besar cinta Aa ke Neng Aletha.” Keenan mengecup kening Aletha.
Berhubung Keenan membawakan seblak ceker, sejenak Aletha meminta Keenan untuk menemaninya makan seblak ceker yang berlevel sedang, karena Keenan tidak mau jika Aletha ataupun Alina akan sakit kalau makan pedas. Sebungkus seblak ceker di makan berdua, membuat para pembaca merasa iri saja.
“Aa malu tidak makan sama Neng di rumah sakit seperti ini?”
“Kenapa juga harus malu, Neng? Aa justru senang membuat para pembaca iri dengan keromantisan kita di manapun berada.Hahaha...”
Keenan tertawa puas, ia berusaha menyembunyikan wajah dan pikirannya yang memikirkan tugas berat. Namun harus tetap dijalani sebagai prajurit sejati. Dan tidak akan lembek dalam menghadapi musuh meskipun jauh dari keluarga yang mereka sayangi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Laura? Perlukah aku menulis surat wasiat untuk Laura dan Ravva?”
Garda kembali merasa bimbang, ragu untuk mengatakan tugasnya ke Jaya pura dan keberangkatannya pun sudah ditentukan, yaitu esok pagi sebelum subuh.
Laura tengah bersama Ravva sore itu, mengajarkan Ravva tentang hal sederhana, seperti menghafal doa sebelum makan, sesudah makan dan beberapa doa lainnya yang mudah dihafalkan juga oleh Ravva.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam Garda saat masuk ke kamar.
“Wa'alaikumsalam,” balas Laura dan Ravva bersamaan.
Ravva segera berlari setelah tahu Garda sudah pulang. Dan Garda melayangkan pelukannya untuk menyambut Ravva. Begitu juga dengan Laura, ia mendorong kursi roda nya lalu menyalami tangan Garda.
“Emm... nanti kita sambung lagi ceritanya ya sayang, sekarang biarkan Ayah mandi dulu.” Laura memberi pengertian kepada Ravva agar melerai pelukannya yang masih merindukan Ayah nya.
Ravva mengangguk, menuruti apa yang dikatakan Laura. Setelah itu Ravva bermain sendiri untuk. sementara waktu selama Laura menyiapkan pakaian Garda.
‘Rasanya aku tidak sanggup melihatnya sedih Ya Allah.‘ Garda menangis dalam hati.
Garda masih belum mengatakan tugasnya kepada Laura, sehingga ia membutuhkan waktu sebentar saja untuk mendamaikan dan menyatukan hati serta pikirannya yang bergejolak, penuh penentangan.
Dibawah kucuran air shower Garda mendinginkan pikirannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aa... ini motor siapa?”
“Motor Naina...”
Keenan tidak bisa menutupi bagaimana motornya yang tertinggal di jalan semalam saat menghadapi geng motor. Untung saja tadi pagi sudah dibawa ke bengkel setelah Keenan dan Garda kembali mengeceknya sesudah menjalankan hukuman.
__ADS_1
Kembali Keenan dan Aletha menikmati waktu berdua saja, seperti istilah dunia milik berdua dan yang lainnya hanya numpang. Sungguh, membuat pembaca jealous.
”Ada yang mau dibeli tidak Neng, hmm?”
“Emm... tidak saja Aa, takutnya nanti Alina menangis lagi.” Aletha meminta Keenan untuk terus melajukan motor matic nya.
Setiap momen yang tersisa Keenan betusaha untuk membuat Aletha bahagia, karena ia merasa takut jika saja ia tidak bisa menemani Aletha seperti saat itu. Keenan juga tidak akan pernah tahu bagaimana takdir akan membawanya. Tugas kali ini benar-benar mempertaruhkan nyawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah usai acara makan malam Keenan mengajak Aletha duduk di balkon, mengobrol berdua saja sekaligus meminta ijin kepada Aletha sebelum keberangkatan nya ke Yahukimo. Dan secara kebetulan Alina juga sudah tertidur, sehingga membuat Keenan bisa membuat Aletha mengerti tentang misi kali ini yang cukup berat.
“Aa ngapain ngajakin Neng duduk di sini?”
“Tidak ada maksud lain sih sebenarnya, cuma mau ngajakin Neng... lihat bintang.” Keenan menunjuj ke arah langit.
Seakan Allah mengerti apa yang tengah direncanakan Keenan, membuat langit malam dipenuhi dengan cahaya bintang yang saling ber gemerlap, menyinarkan cahayanya dan memperindah langit pada malam itu.
“Iya ya Aa, banyak banget bintangnya... indah.” Aletha melengkungkan bibirnya dengan sempurna.
“Tapi... jika salah satu bintang itu jatuh dan menghilang... apa yang Neng rasakan?”
“Neng akan sedih, karena cahayanya akan berkurang. Tapi Neng yakin, bintang akan kembali terang pada malam berikutnya. Bintang itu akan kembali menyinarkan cahayanya.”
“Neng tahu... kenapa Aa mengatakan itu. Neng bukan wanita bodoh, Aa. Neng putri dari seorang Brigjen, hafal dengan setiap gelagat prajurit yang hendak menjalankan misi pertempuran.” Aletha merengkuh jemari Keenan.
Keenan terpaku, ia merasa terkejut saat Aletha sudah mengetahui apa yang akan dikatakannya tentang yang sebenarnya. Mungkin benar apa yang dikatakan Aletha, tidak mudah dibohongi ataupun hal samacamnya. Karena sejak kecil ia juga pernah mengalami hal seperti saat ini, sering ditinggal pergi bertugas oleh Bagas Kara. Dan ketika kakaknya yang juga ikut terjun ke dunia militer pergi meninggalkan nya demi misi rahasia. Ketika kembali tubuh Kapten Kevin tidak bernyawa dan dinyatakan gugur dalam bertugas.
“Jika Neng sudah tahu maksud dari setiap perkataan Aa, apa Neng akan mengijinkan Aa pergi?” tanya Keenan hanya ingin sekedar menguji Aletha.
“Meskipun Neng melarangnya Aa pasti akan memenuhi panggilan tugas itu. Menjalankan misi untuk menjaga dan melindungi Negara itu tugas Aa, Neng... hanya bisa mendoakan keberhasilan dalam misi yang akan Aa jalani.” Aletha mengusap dada bidang Keenan.
Air mata tidak kuasa untuk ditahan Keenan, hingga butiran bening pun jatuh membasahi tangan Aletha.
“Jangan menangis, A'! Neng akan selalu mendukung Aa. Dan Neng tahu, ini salah satu resiko yang harus Neng jalani. Bukankah Neng sudah megatakannya kemarin?”
Tangan Aletha bergerak menyeka butiran bening yang jatuh dan membasahi pipi Keenan. Baru kali pertama Keenan harus meninggalkan Aletha dan Alina bertugas dalam kurun waktu tinggal bulan lamanya. Dan selama bertugas pun tidak ada yang tahu bagaimana nasib Keenan dan Garda di sana, misi kali ini benar-benar mempertaruhkan nyawa.
“Emm... Aa di mana tugasnya? Terus... berangkatnya kapan?”
“Misi kali ini Aa ditugaskan di Jayapura, Kabupaten Yahukimo. Aa dan Garda akan berangkat besok sebelum subuh dengan helikopter militer.”
“Baiklah, kalau begitu Neng akan siapkan apa saja yang Aa perlukan nanti di sana.” Aletha mengambil ransel militer milik Keenan.
Seragam dan beberapa pakaian lainnya di masukkan ke dalam ransel besar itu, tidak lupa beberapa senjata juga di masukkan ke dalam ransel oleh Aletha termasuk, pistol. Dari yang sederhana hingga berkekuatan tinggi dimasukkan oleh Aletha.
“Ternyata Neng mengerti juga apa yang harus di bawa.” Keenan sedari tadi memperhatikan Aletha yang sibuk menyiapkan kebutuhannya.
“Iya dong, dulu Neng pernah lihat Papa seperti ini. Bahkan... dulu Neng juga hampir masuk dunia militer jika Papa berhasil memaksa Neng. Tapi... Neng tidak mau dipaksa, jadi ya... Neng memilih dunia kedokteran, tepatnya ahli bedah jantung kardiologi.”
“Kenapa tidak memilih yang lainnya saja?”
“Emm... bagi Neng itu pekerjaan yang sama-sama menguji adrenalin kita, meskipun tidak menjadi anggota militer dan mengikuti perang di lapangan tetapi Neng beraksi di ruang operasi.”
Keenan menghentikan tangan Aletha yang masih sibuk menata pistol dan pisau lipat ke dalam ranselnya. Setelah itu Keenan memberikan kalung prajurit sebagai tanda pengenal nya yang menjadi anggota berani mati kepada Aletha.
“Simpan dan jagalah kalung Aa, jika Aa berhasil kembali berikan kembali kalung itu kepada Aa. Jika tidak Aa....”
“Aa harus penuhi janji Aa kepada Neng seperti tujuh belas tahun lalu. Meskipun cobaan berkali-kali menghadang hubungan kita, kita harus mencoba untuk bangkit agar kembali menyatukan cinta yang jauh.” Aletha mengangguk pelan.
Keenan ikut mengangguk, kalung prajurit milik Keenan telah disimpan rapi oleh Aletha yang diletakkan dalam kotak kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Laura akan selalu mendoakan kak Garda. Kak Garda juga harus janji untuk kembali dengan keadaan tubuh yang masih bernyawa. Ini perintah dan tidak boleh dibantah.” Laura menatap lekat Garda yang duduk di hadapannya.
“InsyaAllah, kakak akan berusaha memenuhi janji itu untuk istri dan juga putra kakak.”
Malam semakin melarut, membuat Aletha dan Laura gelisah tidak menentu. Sedangkan Keenan dan Garda sudah tertidur setelah berhasil meyakinkan istri mereka dalam misi di Yahukimo.
__ADS_1
‘Aa... Neng hanya bisa berharap kita akan bertemu kembali seperti yang Aa ucapkan dulu.’
Bersambung...