
“Masih ada sepercik harapan jika manusia itu sendiri tiada henti berdoa dan terus meminta kepada Allah SWT. Meyakini hati dengan penuh kemantapan, seperti kita meyakini arah kiblat yang tidak bisa dirubah oleh siapapun titik arahnya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Boom...”
Suara yang didengar dari bawah langit telah meyakini Buan, Naina dan Bayu bahwa menag benar berita yang mereka dapat. Kapten dan Lettu terbaik telah gugur dalam boom yang sudah meledak, bahkan bekas dan sisa boom itu masih berlanjut. Mustahil jika Keenan dan Garda akan selamat.
Dua helikopter telah mendarat di pinggir hutan. Beberapa pasukan loreng yang dikirimkan Bagas Kara telah menuruni anak tangga helikopter lalu menemui Kombes Faisal sebagai ketua anggota Nemangkawi.
“Lapor, Pak!” ucap Kombes Faisal dengan lantang.
Bian serasa yang dipilih oleh Bagas Kara untuk memimpin jalannya perang dan mencari keberadaan Keenan dan Garda seketika membalas Kombes Faisal yang memberikan hormat kepadanya.
“Maafkan kami, Pak. Kami belum bisa menemukan Kapten Keenan dan Lettu Garda. Tapi pasukan saya akan tetap mencari mereka.” Terang Kombes Faisal yang seolah merasakan bersalah.
“Berhenti untuk mengerahkan lasukanmu dalam mencari Kapten Keenan dan Lettu Garda. Tapi kerahkan pasukanmu untuk membantu kami menangkap anggota KKB dan anggota Egianus.” Bian pun memberikan perintah kepada Kombes Faisal.
“Baiklah, Pak! Siap, laksanakan perintah!” ucap Kombes Faisal dengan mantap.
Sesuai dengan intruksi dari Bian, Kombes Faisal mengerahkan pasukan polri di bawah naungannya untuk sebagian anggota berjaga di titik awal dan sebagian lagi berada di titik terakhir. Karena pada di titik awal akan memancing perbuatan anggota KKB maupun anggota Egianus untuk memulai langkah mengalahkan anggota polri yang menurut mereka akan mudah di basmi oleh mereka.
Dan ketika anggota polri yang berada di titik depan perlahan akan membawa anggita KKB maupun anggota Egianus masuk ke dalam hutan, barulah pasukan berani mati akan beraksi. Sedangkan sebagian anggota polri yang berada di titik akhir akan menangkap anggota KKB maupun anggota Egianus yang sudah dibekuk oleh pasukan berani mati dalam keadaan hidup atau mati.
“Semua sudah saya siapkan sesuai dengan perintah Anda, Pak Bian. Saya sudah mengerahkan anggita saya yang handal sesuai intruksi Anda.”
“Terimakasih atas kepercayaan Anda, Kombes Faisal. Sekarang saya dan anggota saya harus bertugas, karena kami tidak mau jika misi ini tidak berakhir dengan sempurna.”
Semua bersiap sesuai strategi yang sudah diatur. Bian, Naina dan Bayu sudah siap siaga berada di dalam hutan dan bersembunyi di titik tertentu. Begitupula dengan anggota penembak jitu yang sudah bersiap dengan peran mereka sebagai sniper handal.
Dengan alat komunikasi seperti BMS pasukan TNI AD yang terpilih di medan perang mampu memantau posisi dan kondisi di medan perang. Bahkan alat komunikasi seperti BMS bisa membantu mereka dalam menemukan anggota KKB maupun anggota Egianus dengan cepat.
Malam telah tiba, lebih tepatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tetapi semua masih saja bertugas untuk segera menuntaskan misi hingga berhasil dan menangkap penjahat itu sampai ke akar-akarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aletha, bagaimana kabar suamimu? Kapan Dia akan pulang?” tanya Bu Laila secara tiba-tiba.
“InsyaAllah satu bulan lagi, Bu. Dan jika misi nya selama tiga bulan sudah selesai maka Aa Keenan akan segera pulang, kok. Tapi... ada apa ya Bu Laila kenapa menanyakan suami Aletha?”
Bu Laila tersenyum, menatap Aletha dengan tatapan yang begitu dalam.
“Tidak apa-apa kok, Nak. Ibu hanya berharap saja bisa bertemu dengannya dan berterimakasih kepadanya karena sudah menjagamu sekaligus juga memberikan cucu untuk Ibu.”
Aletha merasa terharu dengan apa yang diucapkan Bu Laila, sungguh menyayat hati Aletha saat mengingat putra Bu Laila meninggalkannya untuk selamanya, tak lain adalah Fajar. Dan untuk melepaskan rasa rindu Aletha berniat untuk mengajak Bu Laila berkunjung ke pantai dan menaburkan bunga di sana. Mengenang Fajar tidak ada salahnya kan, tetapi tidak akan berpaling dari seorang Keenan.
Malam semakin melarut dan semakin terasa sunyi bagi Aletha. Ingin Aletha segera memejamkan mata yang terasa lelah karena sudah melakukan operasi saat di rumah sakit, tetapi kedua matanya tidak bisa diajak kompromi. Bahkan sepasang mata kecoklatan milik Aletha masih terjaga, binar matanya memancarkan cahaya rembulan yang memantul.
“Malam ini langit begitu indah. Dan bintang yang paling terang itu... serasa spesial. Apa mungkin itu kamu... kak Fajar?”
Aletha menarik dua ujung bibirnya dan membentuk lengkungan yang sempurna. Terasa indah dan membuat para lelaki terpesona saat melihat senyuman itu.
“Aa... Sedang apa Aa di sana? Jika mesin waktu masih berhenti dan meminta kita untuk bersabar, maka tak apa. Karena Neng akan sabar menanti kepulanganmu, Aa.”
Aletha membuka kotak kecil yang disimpan di dalam laci lalu mengusap pelan liontin kalung milik Keenan yang bertuliskan nama Keenan itu sendiri. Rasa rindu semakin bergemuruh di dalam hati Aletha, seolah tidak bisa menahannya begitu saja. Namun, mesin waktu seakan memperlambat detaknya sehingga terasa begitu lama walaupun hanya tiga bulan saja.
__ADS_1
“Huaamm...”
Aletha menguap sampai beberapa kali, karena kantuk sudah menderanya dan membuat tubuh serta kedua matanya harus segera beristirahat.
Aletha mengambil posisi ternyamannya untuk terlelap di malam itu. Memeluk Alina adalah posisi yang tepat untuk ia segera tidur dan membangun mimpi indah di alam yang berbeda.
Setelah membaca doa sebelum tidur Aletha pun tertidur entah pada di jam berapa. Karena Aletha juga harus mempersiapkan tubuh yang sehat dan fisik serta mentalnya yang kuat untuk selalu menjaga serta menghadapi pekerjaannya dalam situasi menguji adrenalin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Selamat pagi, Mama Nina.” Laura menyapa Mama Nina tanpa mengurangi kesopanan.
“Selamat pagi juga, Laura. Di mana Ravva? Dia sudah bangun apa belum?” tanya Mama Nina memastikan apa yang dilihatnya.
“Ravva sudah bangun kok, Ma. Cuma Dia... masih bermain di kamar.” Terang Laura yang meninggalkan Ravva di kamar, karena tengah asik bermain sendirian.
Laura pun membantu Mama Nina di dapur hanya sebisanya saja. Karena jelas tidak mungkin jika Laura akan ikut masak ataupun mencuci piring, mengingat autoimun masih membuatnya tidak bisa berjalan dengan normal.
‘Sanggupkah aku jika mengatakan kejujuran tentang Garda kepada Laura? Bagaimana jika Dia dan Ravva akan bersedih?’ Bagas Kara bermonolog dalam hati.
Ada keraguan dalam hati Bagas Kara untuk mengatakan sebagaimana kondisi Keenan dan Garda yang dinyatakan gugur dalam bertugas. Karena jika itu dikatakan kepada Aletha dan Laura maka jelas jika mereka akan merasa sedih, mengingat Aletha maupun Laura sudah pernah ditinggalkan oleh orang yang berharga dalam hidupnya. Sehingga Bagas Kara akan menguringkan niatnya untuk berkata jujur, hanya bisa menanti waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.
Sarapan pagi sudah siap, bahkan sudah tersaji di atas meja makan. Hanya saja anggota keluarga Bagas Kara masih saja belum berkumpul secara lengkap, karena Luna dan Juan masih sibuk di kamar, sedangkan Larisa harus bersiap-siap terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Menyiapkan tugas kimia yang sudah dicatat dalam buku tulis dan juga buku yang lainnya.
Sebagai seorang murid yang teladan serta menjadi wakil ketua OSIS Larisa tidak mau image nya jelek di mata murid yang lainnya. Dan penampilan pun juga harus dijaga, meskipun pada akhirnya rok biru yang dikenakan saat sekolah hanya di bawah lutut sedikit, sedangkan baju putih juga tidak berlengan panjang.
‘Bagaimana pun juga Laura dan Aletha harus tahu apa yang terjadi dengan Keenan dan juga Garda saat bertugas. Karena pada dasarnya mereka berhak tahu semua itu.’
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bu, bagaimana jika pagi ini kita ke pesisir pantai sebentar,” ajak Aletha.
“Cuma sebentar saja kok, Bu. Tidak apa-apa juga kita bawa Alina, karena Aletha hanya ingin mengajak Ibu untuk menabur bunga. Aletha tahu, Ibu pasti merindukan kak Fajar,”
Bu Laila tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia karena detik itu Aletha masih mengingat tentang Fajar, meskipun mesin waktu telah berjalan tiada henti. Bahkan kejadian itu sudah hampir lima tahun lamanya.
“Bagaimana, Bu? Apa Ibu setuju?” tanya Aletha memastikan.
Bu Laila mengangguk dengan memancarkan binar mata bahagia yang menusuk hingga ke relung hatinya. Dengan bahagia yang membuncah dada membuat Bu Laila merasa semangat untuk menuju ke pesisir pantai dengan membawa beberapa jenis bunga yang akan ditaburkan di sana.
‘Assalamu'alaikum, anakku sayang. Ibu mengunjungimu saat ini bersama nak Aletha. Sekarang Dia sudah bahagia dan bahkan memiliki keluarga kecil yang lengkap setelah putrinya lahir.’ Bu Laila bermonolog dalam hati.
Bu Laila tidak ingin jika Aletha mendengar apa yang dikatakannya saat mencurahkan isi hatinya, yang seolah Fajar tahu betul bagaimana perasaannya saat itu.
‘Assalamu'alaikum, kak Fajar. Hari ini aku berkunjung ke sini, semoga kamu suka dengan kehadiran kami.’
Aletha dan Bu Laila terus menaburkan bunga di atas laut yang luas. Dan setelah sepuluh menit berada di sana Aletha mengajak Bu Laila untuk kembali pulang. Karena mengingat waktu yang tertua berdetak, dan jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
“Bu, Aletha sarapan di rumah sakit saja nanti. Aletha terburu-buru, soalnya ada pasien yang harus dilakukan visite pagi ini setelah menjalani operasi kemarin.”
Aletha Berpamitan kepada Bu Laila, lalu menyalami punggung tangan Bu Laila. Dan tidak lupa juga mengucapkan salam sebelum berangkat ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Setelah itu ia menuju ke ruangannya untuk melihat kembali data pasien yang harus dilakukan visite ulang.
__ADS_1
“Aku rasa akan di mulai saja dari... Pak Jaya.” Putus Aletha seletelah melihat kembali data pasiennya.
Aletha mengenakan snelinya dengan rapi, dan dengan diikuti asisten pribadinya Aletha mulai melakukan visite terhadap beberapa pasien. Namun, langkah itu terhenti saat seorang yang tengah mengenakan seragam loreng berdiri tepat di hadapannya.
“Anda siapa?” tanya Aletha memastikan.
Karena orang itu bukanlah orang yang dikenal Aletha. Hanya Bian, Naina, Bayu dan juga Garda yang dikenal oleh Aletha selain Keenan, suaminya. Sehingga kehadiran Jaka salah satu anggota TNI AD di rumah sakit Siloam Hospitals membuat Aletha terkejut, bahkan merasa heran.
“Maaf sebelumnya, Dokter Aletha. Saya datang ke sini karena saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda.” Jaka menyodorkan sebuah surat yang dilipat dengan begitu rapi bahkan begitu rapat. Sehingga tidak ada yang tahu bagaimana isi di dalam surat itu.
Dengan rasa ragu Aletha menerima surat itu, bahkan kedua bola matanya membulat dengan sempurna, merasa penasaran dengan isi di dalam surat itu.
“Maaf sebelumnya, Pak. Tapi... ini surat apa?”
“Sebelumnya saya minta maaf, Dokter Aletha. Karena saya membawa kabar untuk Anda. Dan kabar yang akan saya sampaikan saya rasa akan ... membuat Anda bersedih...”
“Pak, katakan saja apa tujuan Anda. Karena saya harus bekerja dan melakukan visite terhadap pasien saya.” Potong Aletha karena tidak sabar mendengar ucapan Jaka.
Sejenak Jaka menarik nafasnya yang terasa begitu berat, bahkan membuat tenggorokannya tercekat. Rasanya begitu membuat bibir Jaka seketika kelu, tidak sanggup mengatakan bahwa Kapten dan Lettu kebanggaan nya telah gugur. Namun, tidak ada pilihan lain selain mengatakan kejujuran itu.
”Di dalam surat itu ada pemberitahuan tentang... Kapten Keenan. Di mana Kapten Keenan dinyatakan telah gugur saat menjalankan tugas.” Akhirnya Jaka mengatakan kejujuran itu.
“Apa?” pekik Aletha.
Separuh nyawa Aletha terasa hilang seketika setelah mendengar apa yang dikatakan Jaka. Tetapi Aletha tidak mempercayai semua itu dengan mudah, karena mengingat misi Keenan berlangsung selama tiga bulan, sedangkan ini masih dua bulan.
“Tidak. Tidak mungkin kan, jika Aa Keenan dinyatakan gugur? Bohong, berita yang Anda ucapkan itu bohong, kan? Saya tidak mudah percaya dengan itu semua, maaf. Saya rasa saya harus melanjutkan pekerjaan saya, permisi!”
Aletha sengaja meninggalkan Jaka yang masih berdiri di depan ruangannya, karena Aletha tidak ingin mudah percaya. Akan tetapi ada rasa khawatir yang membuat hatinya merasa gelisah. Namun, ia harus bersikap secara profesional mengingat profesinya yang sudah membuat rumah sakit itu semakin membesar dan mendunia saja.
“Permisi, selamat pagi! Saya akan melakukan pemeriksa perkembangan kesehatan Bapak ya!” ucap Aletha.
Aletha sengaja tidak mengucapkan salam saat masuk ke setiap ruang pasiennya. Karena tidak semua pasiennya memeluk agama Islam.
“Baik, Dok, silahkan!”
Aletha meletakkan stetoskop nya di atas dada pak Toni. Aletha selalu bersikap profesional, tidak ingin mencampur aduk urusan pribadi dan pekerjaan. Karena hal itu akan membuat pikirannya terkecai.
“Baik Pak, alhamdulillah hasilnya sudah jauh membaik. Semuanya sudah hampir normal, tinggal sedikit lagi. Jaga pola makan dan jangan lupa minum obat secara teratur ya, Pak.” Aletha memaparkan kondisi kesehatan pak Toni dengan sangat baik dan mudah dipahami oleh pihak keluarga.
Setelah itu saatnya Aletha melakukan visite terhadap pasien berikutnya sampai selesai. Dan saat Aletha menelusuri lorong rumah sakit, ada sepasang mata yang terus memidai dalam setiap pergerakannya.
‘Dokter Aletha memang Dokter yang berjiwa tangguh, ia tidak memikirkan sedikitpun tentang surat pemberitahuan itu. Bahkan Dokter Aletha bersikap secara profesional, mampu bersikap baik di hadapan pasiennya.’ Jaka berdecak kagum dalam hati.
Setelah menyampaikan dan melihat bahwa Aletha mampu setegar itu, Jaka pun memutuskan untuk kembali ke batalyon dan menjalankan tugasnya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam makan siang telah tiba, Aletha memutuskan untuk membuka surat pemberitahuan itu dan juga surat yang dilipat secara unik. Di mana kertas itu dibentuk bak hati yang utuh.
“Astaghfirullah hal azim, Aa. Ini tidak mungkin kan, terjadi? Neng tidak percaya dengan apa yang dinyatakan dalam surat ini.” Aletha menggelengkan kepalanya karena tidak mempercayai surat yang sudah dibacanya, tak lain surat pemberitahuan itu dari Bagas Kara.
Aletha benar-benar tidak mempercayai surat itu. Dan itu juga membuatnya merasa enggan untuk membaca surat yang diberikan Jaka secara khusus. Bahkan membukanya saja begitu enggan, hanya tersimpan saja di dalam saku snelinya.
“Masih ada sepercik harapan jika manusia itu sendiri tiada henti berdoa dan terus meminta kepada Allah SWT. Meyakini hati dengan penuh kemantapan, seperti kita meyakini arah kiblat yang tidak bisa dirubah oleh siapapun di mana arahnya.”
__ADS_1
Sebelum meminta penjelasan dari Bagas Kara, Aletha mencari mushola dan memutuskan untuk menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu. Karena ia jiga ingin melahirkan doa dan terus melangitkan doa sampai Allah benar-benar memberikan jawaban kepadanya sebagai titik kejelasan keberadaan Keenan. Karena Aletha tidak mau menganggap benar bahwa Kewnan telah gugur, mengingat saat Keenan dulu juga mengalami hal sama.
Bersambung...