
“Jangan sampai salah dalam melangkah, berpikir jernih terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu hal.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejenak Ilham dan Naina saling tatap saat kedua tangan mereka tanpa sengaja saling berpegangan. Bahkan tatapan mereka mengunci satu sama lain.
“Dia... manis, cantik dan membuat hatiku meleyot. Hingga aku jatuh hati pada pandangan pertama. Oh Tuhan, ijinkanlah aku memilikinya.”
Ilham mengakui jika ia merasakan debaran yang berbeda terhadap Naina pada pandangan pertama. Namun ia sadar diri jika dirinya merasa tidak pantas untuk mendapatkan Naina yang cantik, berjiwa muda dan juga menarik hati Ilham.
Dengan segera Ilham menepis rasa sukanya itu terhadap Naina. Hal sama juga dilakukan oleh Naina, sama-sama menepis rasa suka, tanpa ada yang tahu bagaimana betul perasaan mereka masing-masing.
“Aaaa...” Aletha menyuapkan nasi dan lauknya yang hanya tersisa satu sendok saja ke dalam mulut Keenan.
“Ye... anak pintar, sudah habis deh makannya,” pekik Aletha.
‘Aku baru tahu kalau Dia selucu ini, Ya Allah.’ Keenan bermonolog dalam hati.
“Neng, tidak ikut makan juga bersama mereka? Pasti belum sarapan, kan?”
Aletha menggelengkan kepalanya, memang benar jika Aletha belum sarapan karena ia berusaha siaga menunggu Keenan bangun. Dan tugasnya pun rangkap, menjadi istri sekaligus dokter.
“Ambil gih makanannya, nanti Aa yang suapin. Atau... Aa juga yang harus mengambilkan makanannya, hmm?”
“Tidak. Neng saja yang akan ambil, lagipula Neng juga bisa makan sendiri kok. Nih lihat, Neng baik-baik saja, sehat walafiat.” Aletha menunjukkan tubuhnya yang kentara sehat dengan memutar.
Keenan tersenyum, ia merasa beruntung mendapatkan Aletha. Allah telah berbaik hati mempertemukannya kembali sampai kesekian kalinya.
Aletha mengambil piring yang diisi nasi dan lauk ayam goreng. Dan sebelum menyuapkan nasinya ke dalam mulut Aletha menengadah kan tangannya dan berdoa. Satu suap pun masuk, Aletha mengunyah dengan penuh kenikmatan.
“Neng...” Panggil Keenan lirih.
Seketika Aletha menoleh ke arah Keenan. Lalu berjalan dan menghampiri Keenan yang masih merebahkan tubuh di atas brankar, tetapi brankar di bagian kepala dan punggung sedikit di naikkan ke atas agar posisi Keenan bisa sedikit duduk.
“Ada apa Aa panggil Neng, perlu sesutu begitu?” tanya Aletha memastikan.
Keenan menggeleng, lalu memberikan senyum pepsodent kepada Aletha. Membuat Aletha menautkan kedua alisnya karena tidak yakin dengan apa yang diinginkan oleh Keenan.
“Apa Aa?” tanya Aletha lagi.
“Aa... rindu. Neng makannya di sini saja duduk sama Aa.” Keenan menepuk brankar dan meminta Aletha duduk di sampingnya.
“Neng juga rindu sama Aa, banget malah. Tapi... mana muat jika dipakai duduk berdua Aa. Lagipula sebentar lagi Neng harus menjalankan operasi, setelah melakukan operasi Neng hantu melakukan visite terhadap pasien dan setelahnya jam makan siang, Neng harus pulang sebentar untuk menengok Alina. Kasihan Dia sudah Neng tinggal,” terang Aletha panjang lebar.
Keenan menghela nafasnya, ia harus sadar diri jika saat ini yang diprioritaskan bukanlah suami, melainkan anaknya yang masih kecil.
Dan selama Aletha sudah menerima pasien operasi di pagi hari ataupun saat dadakan Alina harus diberi susu formula sebagai pengganti susu asi.
“Neng mohon ijin ya Aa, mau kerja lagi.” Aletha menyalami tangan Keenan.
“Sini dulu Neng, Aa mau bacakan doa untuk Neng. Sudah lama pula kan, Aa tidak membacakan doa untuk Neng seperti ini.” Aletha mengangguk.
__ADS_1
Keenan memegang puncak kepala Aletha yang tertutupi akan hijabnya.
“Alloohumma Bariklana Fii Asmaa’inaa wa abshoorinaa Wa quluubinaa wa azwaajina wa dzurriyyatinaa wa tub’alainaa innaka antattawwabur rohim.”
“Ya Allah, berkahilah kami dalam pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, dan anak keturunan kami, dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”
Keenan membacakan doa meminta keberkahan untuk istri kepada Allah SWT. Dan setiap doa yang dipanjatkan Keenan untuk Aletha, membuat Aletha merasakan bahwa ia dalam perlindungan Allah SWT dalam setiap waktu.
Setelah membacakan doa untuk Aletha, Keenan tidak lupa memberikan kecupan di keningnya. Hati Aletha merasa berbunga, seolah ia kembali menerima perlakuan cinta dari Keenan dalam setiap waktu.
“Terimakasih Aa, karena Aa sudah membacakan doa untuk Neng.” Aletha menyunggingkan senyum.
“Itu namanya kewajiban seorang suami, begitupula dengan kewajiban istri yang harus mendoakan suami saat suami akan kembali mencari nafkah. Karena ridho istri akan menjadi kelancaran dan keberkahan dari hasil pekerjaan suami.”
“Neng, jika waktu siang nanti Aa mau ikut pulang saja bagaimana? Aa bosan di sini.” Keenan merasa tidak betah saat bau obat yang menyengat harus tercium setiap waktu.
“Tapi Aa itu harus istirahat dulu di sini, palingan besok juga sudah boleh pulang.” Aletha membelai Keenan dengan lembut.
“Kelamaan kalau menunggu sampai besok, Neng. Nanti siang saja bareng smaa Neng pas pulang. Aa juga pengen mandi, pengen bertemu Alina dan juga... Ingin cinta dalam setiap momen,” bisik Keenan tetapi masih saja bisa didengar oleh mereka semua.
Aletha menunduk, ia menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu. Sedangkan yang lain hanya tertawa saja. Namun Keenan mengabaikan tawa mereka, bahkan Keenan menganggap jika dunia milik berdua dan yang lainnya hanya numpang saja.
Sadis amat sih Keenan,
“Sudah ah Aa, Neng harus kerja lagi. Lihat nanti saja ya! Kan, dokternya Neng dan yang menentukan ya Neng.”
Keenan melepas nafas panjang, ia tahu betul bagaimana Aletha jika sudah berkeinginan. Dan Keenan harus menerima itu meskipun ingin menolak.
“Pisau bedah,” pinta Aletha.
Perawat memberikan apa yang diminta Aletha sebagai dokter yang memimpin jalannya operasi jantung pagi itu. Sedangkan dokter anestesi juga fokus dengan mesin yang dihubungkan ke tubuh pak Lukman. Sedangkan Ilham, ia menjadi dokter asisten Aletha yang membantu Aletha dalam melakukan pembedahan.
“Jahit,” pinta Aletha kepada Ilham.
Ilham mengangguk, lalu menjahit jantung yang sudah selesai dilakukan operasi. Dan setelah sesi akhir dari sebuah operasi selesai, semua tim medis membersihkan tangan mereka, kecuali dia perawat, karena mereka harus memindahkan pasien ke ruang rawat.
“Al, aku mau bicara sama kamu.” Ilham masih fokus dengan tangannya yang diberi sabun, tetapi pelupuk matanya terpenuhi dengan bayangan Naina.
“Tanya apa? Tidak biasanya minta ijin dulu kalau mau bertanya.” Aletha mencebik.
Diam, itulah yang dilakukan Ilham sebelum memulai bertanya kepada Aletha.
Hening...
“Kak, kok malah diam saja. Katanya mau bertanya, tanya apa?”
Aletha menatap Ilham yang masih diam, tetapi tatapan Ilham memperlihatkan jika ia ragu ingin bertanya kepada Aletha, tetapi...
“Kamu tahu tidak wanita yang berseragam loreng yang menjadi anggota pasukan berani mati?”
Fiks, Ilham tidak bisa memendam rasa keingin tahuanya itu.
__ADS_1
“Oh... cuma mau tanya itu? Wanita itu namanya Naina, kenapa memangnya kak?”
”Aku... jatuh hati padanya, Al. Bagaimana kalau aku mengajukan khitbah untuknya saja?”
Aletha terdiam, ia masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Ilham baru saja. Dan Aletha merasa tidak yakin dengan keputusan Ilham.
“Jangan sampai salah dalam melangkah, berpikir jernih terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu hal.”
“Kak, aku mohon tunggu sebentar. Ingat, ada Adam, Sahira dan Mail, jangan sampai mereka diabaikan begitu saja karena keputusan kak Ilham ini.”
“Lagipula, Naina itu masih muda dan belum berpengalaman dalam ikatan rumah tangga. Apakah Naina mau menerima Adam, Sahira dan Mail sebagai anaknya? Sedangkan Naina adalah pasukan berani mati, siap melakukan pertempuran dalam misi negara ataupun misi rahasia.”
Ilham hanya diam mendengarkan secara seksama penuturan yang diberikan Aletha. Hatinya perih karena keputusannya merasa tidak didukung oleh Aletha, tetapi di sisi lain Ilham jiga membenarkan apa yang dikatakan Aletha. Ke egoisannya hampir menutupi kenyataan jika ia memiliki tiga anak dengan Maya.
Aletha melakukan visite terhadap pasien yang sudah dioperasi olehnya. Aletha tidak sendiri, ia selalu ditemani suster Sifa sebagai asistennya.
“Assalamu'alaikum, Rachel.” Aletha tahu jika Rachel memeluk agama Islam.
“Wa'alaikumsalam, Dok. Selamat siang!”
“Iya Rachel, selamat siang. Saya mau memeriksa keadaan Bagus terlebih dahulu.”
“Iya, Dok, silhakan!”
Aletha menempelkan stetoskop nya di atas dada Bagus.
Jam makan siang sudah tiba, perut Aletha sudah mulai meronta meminta jatah makan siang. Tetapi Aletha tidak membeli makan di kantin, tetapi ia justru ke ruangan Keenan. Di sana masih ada Garda dan Laura. Sedangkan yang lain sudah kembali bertugas dan Mama Nina harus mengajak Raja pulang, karena anak di usia enam tahun tidak boleh masuk ke rumah sakit.
“Assalamu'alaikum, Aa... kak Garda dan Laura.” Aletha pun masuk ke dalam ruangan.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Keenan, Garda dan Laura bersamaan.
Aletha langsung menyalami punggung tangan Keenan, setelah itu mengambil duduk di kursi dekat brankar. Senyum kembali terukir di bibir Aletha dan Keenan saat mereka saling tatap.
“Neng, berikan Aa vitamin itu.” Keenan mengarahkan telunjuknya di bibir Aletha.
“Dasar otak mesum. Ingat woiiii... masih ada kita di sini, sabar dikit napa.” Garda pun berteriak saat tahu apa yang dimaksud oleh Keenan.
“Tidak apa Garda, aku hanya... inginkan cinta dalam setiap momen. Karena setelah aku jauh darinya aku tidak bisa manja dan minta vitamin D setiap waktu.” Keenan benar-benar mengabaikan apa yang dikatakan Garda, bahkan Keenan tidak menganggap bahwa Garda dan Laura ada di sana.
Aletha menuruti saja apa yang dipinta oleh Keenan. Dan kecupan pun saling dilayangkan di bibir. Yang membuat itu pasangan satunya, Garda dan Laura.
“Wahh... ternyata kak Keenan bisa juga romantis seperti itu. Mereka memang pasangan yang romantis.” Laura berdecak kagum dan kedua matanya tidak berkedip saat memandang aksi itu.
“Biasa saja dek lihatnya, kita juga bisa melakukannya. Cinta dalam setiap momen. Ayo kita ikutan adegan Keenan dan Aletha, Dek!” ajak Garda.
Garda pun tergoda, ada hasrat yang sudah lama dipendam nya dan saat ini ingin dilepaskan walaupun hanya sekedar melakukan kecupan di bibir.
“Brak...”
Saat adegan itu masih berlanjut tiba-tiba pintu ruangan telah dibuka. Hingga membuat Aletha, Keenan, Garda dan Laura terkejut bahkan gelagapan.
__ADS_1
Bersambung...