Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 14 Sepupu Reiva


__ADS_3

"Apa yang kau katakan Rei? Itu tidak benar! Masa lalu mu sama sekali tidak menyedihkan! Walaupun kau dibuang oleh orang tua mu tapi lihatlah kau yang sekarang! Tumbuh besar dengan penuh kasih sayang dari orang tua angkat mu, disayangi orang sekitar mu. Itu bukanlah hal yang menyedihkan bukan? Kau hebat Reiva! Tumbuh menjadi gadis yang tangguh.." melihat Reiva yang sedih, Arra berusaha menyemangati nya walau sekedar kata kata semangat.


"Aku.." Reiva hendak berkata namun Dea menyelanya.


"Hei hei sudahlah.. Kemana perginya gadis kuat dan tak kenal lelah itu? Rei, kau adalah teman terbaik yang pernah aku temui. Kau mampu melawan rasa putus asa mu dan membangkitkan dirimu. Itu benar benar keren! Ayolah kembali Rei Rei ku yang keren itu!!" Dea menggenggam tangan Reiva seraya meyakinkan nya.


"Terimakasih.. Aku.. Aku pasti tidak akan menyerah!" tak tahan lagi, Reiva memeluk sahabat sahabat nya sambil meneteskan air mata.


Selesai mengobrol lama di toilet, mereka pun segera balik ke kelas masing masing karena bel masuk berbunyi. Dari sini Arra mendapatkan banyak pengalaman juga pelajaran. Seperti, tidak semua orang yang terlihat tegar memiliki kenangan yang indah. Arra mulai menambah pengetahuannya tentang orang orang disekitar. Memulai dengan memahami lingkungan orang yang menyayangi nya. Arra bersyukur terlahir dalam kasih sayang dari orang terdekatnya.


* * * * * * * * *


"Arra, hari ini kamu tidak ada jadwal bukan? Kalau begitu kita bisa ke gerbang bersama" ujar Erika yang sudah mengemasi tas nya dan berdiri dihadapan Arra.


"Tentu saja" Arra menunjukan senyum manis nya lagi.


"Lalu, bagaimana dengan mu Rei?" Erika bertanya karena melihat Reiva yang mengepal kuat kedua tangannya diatas meja dengan raut wajah kesal.


"Maaf teman teman, sepertinya hari Ini aku tidak bisa pulang bersama kalian"


"Eh? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu Rei? Tumben sekali kamu tidak pulang bersama kami. Apa kau ada jadwal? Tapi kau bilang kau sudah mengundurkan diri dari atletik" tanya Arra.


"Aku memang sudah mengundurkan diri dari atletik, tapi ini bukan masalah itu. Aku ingin mencabik cabik seseorang!!" Arra dan Erika sedikit terkejut melihat ekspresi kejam Reiva yang seolah olah ingin membunuh seseorang.


"Hah? Apa.. yang terjadi? Kenapa kau ingin mencabik seseorang? Siapa orang yang ingin kau cabik?" Erika bertanya dengan sedikit takut.


"Aku ingin mencabik cabik Zhen Dicky!!" mata yang membara juga aura yang menyeramkan membuat Arra dan Erika sedikit takut.


"Tunggu tunggu.. Kak Zhen? Bukankah dia kakak sepupu mu? Kenapa ingin mencabik nya?" Arra kembali bertanya dengan serius.


"Justru karena dia adalah kakak sepupu ku, aku ingin sekali membunuhnya!! Apa kau tahu apa yang terjadi kemarin sebelum aku pulangg?!!" tatapan mengerikan Reiva muncul lagi.


"Kami.. Kami tidak tahu.." melihat tatapan Reiva, Erika menjadi gugup.


"Dia mengerjai ku kemarin!! Gara gara dia aku jadi pulang terlambat!! Aku tidak tahu kalau Zhen adalah sepupu ku. Pertama kali aku bertemu dengan nya adalah waktu aku berumur 3 tahun dan wajah nya juga samar samar tak ingat. Aku mana tahu kalau orang yang mengerjai ku adalah sepupu ku sendiri" geram Reiva.


"Sungguh? Kak Zhen mengerjai mu? Apa yang dia lakukan padamu?" Arra semakin terhanyut dalam cerita Reiva.


"Waktu itu dia menyuruhku untuk mengambilkan minuman untuk anggota Voly. Karena dia adalah kakak kelas jadi aku mengikuti perintahnya. Aku tidak menyadari kalau Zhen adalah sepupu ku. Dia menyuruhku untuk mengambil nya di ruang organisasi. Kau tahu kan kalau ruang itu berada paling ujung dan paling atas di sekolah? Aku tidak bisa menolak lagi jadi aku pun mengikuti perintahnya. Tak kusangka setelah sampai disana pintunya terkunci. Pengorbanan ku untuk ke ruang tersebut sangat lah sia sia..." Reiva menceritakan dengan aura aura menyeramkan.

__ADS_1


"Wah hebat!" ucap Arra.


"Eh apa?? Arra kau gila?? Dia menyuruhku pergi ke ruang organisasi padahal dia tahu kalau ruang tersebut sudah dikunci. Aku hampir saja pulang malam karena dia! Dan kau bilang itu hebattt???!!"


"Eh tunggu tunggu Rei.. Maksudku kak Zhen hebat. Dia mampu mengenalmu padahal kamu bilang hanya pernah bertemu sekali dan itupun waktu kau umur 3 tahun"


"Iya ya, benar juga... Bagaimana dia bisa mengingat ku? Ini pasti bibi yang memberitahu nya. Kalaupun begitu aku tetap ingin mencubit ginjal Zhen" api yang seolah olah ada di tubuh Reiva kini mulai melonjak membuat Arra dan Erika pasrah.


"Sudahlah Rei, ini masalah mu dengan kakak sepupu mu. Aku dan Erika tidak akan ikut campur. Kami akan pulang dulu, jumpa besok" Arra melambai pergi pada Reiva dan menggandeng pergi Erika.


"Baiklah kalau begitu. Jumpa besok juga.." balas Reiva.


Arra tidak menyangka pembicaraan mereka dengan Reiva selesai begitu lama. Arra khawatir jika mobil yang menjemput nya sudah menunggu terlalu lama. Dan ketika ia sampai di pintu gerbang, benar saja kalau mobilnya sudah menunggu disana. Arra bergegas masuk mobil dan melambai pergi pada Erika yang juga sudah dijemput oleh kakak nya.


* * * * * *


Reiva yang dari tadi masih didalam kelas pun akhirnya keluar untuk menemui Zhen, kakak sepupunya. Ia mencari cari di sekeliling sekolahan namun tidak menemukannya. Reiva sempat berpikir bahwa Zhen mungkin sudah pulang. Namun ketika ia berjalan menuju gerbang, ia melihat Zhen sedang berdiri disana. Tanpa basa basi Reiva pun segera menemuinya dan memarahinya.


"Zhen Dicky! Berhenti disana!!¹" teriakan Reiva membuat Zhen terkejut.


"Oh, hai junior. Ada apa memanggilku?" Zhen masih saja berpura pura tidak kenal.


"Jadi kau sudah tahu ya.. Sayang sekali. Padahal aku masih ingin mengerjaimu lagi"


"Zheenn!!"


"Eh, Reiva?" tanpa sengaja Ben mendengar suara Reiva yang berteriak di depan gerbang.


"Ben? Kenapa kau disini?" Reiva menoleh ke arah Ben.


"Aku hanya lewat, dan tidak sengaja mendengar mu berteriak. Jadi aku datang untuk melihat apa yang terjadi"


"Begitu ya, maaf jika kau terganggu Ben. Aku hanya ingin membunuh makhluk yang satu ini" tangan Reiva menunjuk ke arah Zhen.


"Siapa dia?" tanya Ben.


"Aku Zhen Dicky, sepupu Reiva" ucapnya dengan dingin. Mata Zhen dan Ben saling bertukar pandang.


"Zhen Dicky? Ternyata seorang putra keluarga Dicky. Kalau tidak salah Arra juga pernah bilang bahwa ia bertemu dengan kakak pembimbing yang bernama Zhen. Apa itu dia?" benak Ben.

__ADS_1


"Kau masih berani bilang aku adalah sepupu mu atas apa yang terjadi kemarin??" Reiva benar benar marah dengan Zhen.


"Sudahlah Rei, tidak baik jika kau dan Zhen bertengkar disini. Bagaimana jika orang lain melihat kalian? Lebih baik selesaikan dirumah saja" ucap Ben seraya menghentikan perdebatan.


"Cepat kita pulang! Nanti malam aku masih ada urusan!" Zhen menarik paksa tangan Reiva.


"Nanti malam? Kau jadi pergi bersama Arra?" tanya Reiva.


"Tentu saja" Zhen dan Reiva pun masuk mobil lalu pulang ke rumahnya. Ben yang tidak sengaja mendengar nama Arra pun langsung terkejut.


"Eh Arra? Zhen akan pergi bersama Arra? Bagaimana ini bisa terjadi? Zhen!! Jika kau berani melakukan sesuatu pada Arra aku akan membunuhmu!" gumam Ben.


Tangan Ben mengepal erat dan memukul dinding sekolah. Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar Arra tidak pergi bersama Zhen malam ini. Ben terus terus an berpikir didepan gerbang tanpa sadar mobil jemputan nya sudah menunggu dari tadi. Dan pada akhirnya Ben pulang dengan pikiran kacau. Ia takut jika Zhen bertindak selangkah lebih awal. Ben memutuskan untuk mengikuti Arra dan Zhen pergi nanti malam.


_ _ _ _ _ _


Sampainya dirumah, Arra langsung masuk ke kamar dan bersih bersih. Ia sedikit terkejut karena kakak kelasnya mengajak dirinya pergi malam ini. Arra merasa sedikit gelisah karena pertama kalinya ia pergi bersama laki laki apalagi dia adalah seniornya. Entah apa yang akan terjadi jika penggemar Zhen mendengar bahkan melihat Arra jalan bersama Zhen.


"Boleh aku masuk?" suara Aria membuat Arra terkejut. Aria berdiri didepan pintu dengan ekspresi datar.


"Kau membuat ku kaget Aria.. Masuk saja, ada apa?" ucap Arra sambil membereskan dirinya.


"Kau kenapa Ra?"


"Ha? Memang nya aku kenapa?"


"Kau pulang dengan ekspresi gelisah dan langsung masuk kamar"


"Ah itu ya.. Mm.. Aku.. Cuma sedikit gugup. Sebab malam ini aku akan pergi dengan seniorku. Ini pertama kalinya aku pergi dengan seorang cowok"


"Kau suka dengan nya?"


"Hah? Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak tertarik padanya. Aku menerima ajakan nya hanya karena dia menolong ku tadi. Dan yang membuatku cemas adalah dia sangat populer disekolah! Ariaaa apa yang kulakukan?!" kegelisahan Arra semakin tinggi.


"Batalkan saja kalau begitu"


"Aria.. Kau sama sekali tidak membantu.. "


"Keputusan ada ditangan mu Ra. Seharusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak. Lagi pula kau hanya pergi jalan dengan nya bukan kencan. Jika kau merasa cemas dengan penggemar Zhen, abaikan saja mereka. Jangan peduli apa yang mereka katakan"

__ADS_1


Pikiran, kegelisahan, kecemasan, menjadi campur aduk. Arra ingin sekali membatalkan ajakan Zhen namun, ia sama sekali tidak berani. Ia takut malah membuat Zhen marah atau benci padanya. Dan pada akhirnya.. Arra tetap pergi bersama Zhen.


__ADS_2