
“Aku terhanyut dalam buaiannya, bahkan hatiku meleyot saat menatap netra elangnya yang tajam, seperti mau menerkam mangsanya dengan beringas saja. Tapi... aku menyukainya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam perjalanan tidak ada obrolan yang menemani Aletha dan Juan. Haya saja Juan berkata di dalam hatinya, ” Semoga saja Keenan sudah membereskan semuanya. Ular, kenapa bisa sih ngidam kok daging begituan.” Juan bergidik ngeri saat membayangkan ular yang masih hidup.
“Kenapa dengan kak Juan?”
“Tidak. Hanya saja tadi Kakak melihat ular yang melintas di depan. Untung saja tidak ke injak.” Juan membeei alasan.
“Mana ularnya kak? Aletha mau dong nangkap ularnya, Aletha... pengen makan daging ular. Pasti enak tuh jika dimasak.” Aletha celingukan mencari ular.
Dan Juan hanya bisa tepok jidat melihat tingkah Aletha yang memang sehati dengan Keenan. Merasa ngidam kok sama-sama makan ular, memangnya tidak geli apa, melihat bentuknya saja pembaca sudah takut gerangan. Mana satu pasangan ini ingin memakannya. Hadeh, lucu juga.
“Loh kak, kenapa kok mobilnya dilajukan sih? Ularnya kan belum ditangkap, nanti kalau anak aku ileran gimana, hayoo!”
‘Mana ada ileran, Al. Andai saja kamu tahu, bapaknya saja sudah makan banyak daging ularnya. Anak kamu pasti ikut puas, eh malah sekarang mak nya yang ikut ngidam sama.’ Batin Juan.
Juan tidak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan Aletha, ia tetap melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Karena pagi itu Juan harus mesmeriksa pasien yang sudah melakukan pendaftaran dengan asistennya kemaren.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi Aa.” Ujar Aletha dengan binar mata bahagia.
“Wa'alaikumsalam Neng nya Aa Keenan. Dan selamat pagi buat dede yang masih di dalam perut.”
Keenan menyambut kedatangan Aletha dengan senyuman yang merekah, dan tidak lupa mengusap lembut perut Aletha yang membuncit. Karena kandungan Aletha sudah memasuki lima bulan. Meskipun begitu, rasa ngidam masih dirasakan oleh Aletha ataupun Keenan itu sendiri.
“Aa kok sudah bangun? Dan mereka... kok bisa ada disini?”
Keenan sejenak terdiam, mengingat ketiga sahabatnya masih belum terbangun. Bahkan mata Keenan terbelalak lebar saat melihat beberapa senjata masih kentara di atas meja. Dengan segera Keenan membangunkan Gatda, Brian dan juga Naina. Lalu tangan Keenan pun menyambar senjata tajam yang berada di atas meja dan menyembunyikannya.
“Bangun woi! Sudah pagi.” Keenan menggoyang-goyangkan tubuh Garda, Brian dan Naina.
Seketika ketiganya terbangun, dan mata mereka menggeliat untuk menyempurnakan kesadaran mereka. Dan saat melihat Aletha seketika ketiganya beranjak dari sofa.
“Aletha, kamu... kok sudah disini?” tanya Garda.
“Iyalah, aku kan dokter, mana mungkin aku berangkat telat jika siftnya pagi. Lagipula... aku ada pasien tetap yang membutuhkan aku setiap pagi.” Aletha menatap Keenan yang berdiri di sampingnya.
“Hello, ini masih pagi. Jangan ngebucin deh, mana lakinya ngidam aneh lagi.” Brian bergidik ngeri mengingat pisau lipat nya menusuk ukar yang panjang.
Aletha membukatkan kedua matanya dengan sempurna, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan Brian. Akan tetapi hasilnya ihil, Aletha tidak mengerti tentang hal itu. Sehingga ia bertanya kepada Keenan secara langsung. Dan apalah daya Keenan, ia pun menjawab dengan jujur tentang makanan yang membuatnya ngidam.
”Aa... semalam minta mereka untuk menangkapkan ular lalu di masak disini, Neng. Dan hasilnya memuaskan, daging ularnya di panggang dan di goreng...” Keenan mengudarakan suaranya.
“Lalu, sekarang daging ularnya habis?” potong Aletha.
__ADS_1
“Memangnya kenapa, Neng? Neng mau buang daging ularnya jika masih begitu?” tanya Keenan memastikan.
Keenan menyembunyikan tubuhnya yang bergetar saat melihat tatapan Aletha menyelidik. Keenan merasa takut jika Aletha akan marah terhadapnya setelah tahu sudah makan daging ular tanpa ijinnya. Namun ternyata salah.
“Emm... tidak, Aa. Neng mau... memakannya kalau masih. He... he... he...” Aletha nyengir.
Seketika netra Keenan, Garda, Brian dan Naina membukat dengan sempurna. Mereka terkejut, bahkan berbanding balik dengan rasa takut yang mereka simpan. Sedangkan kenyataannya Aletha justru ingin ikut makan daging ular yang sudah dicincang bahkan dibakar dan dipanggang. Dan itu membuat mereka melongo saat mengingat ngidam yang berkelanjutan.
‘Yah, ngidam daging ularnya lanjut ke emaknya.’ batin Garda sambil mengelus dada.
“Aa... daging ularnya masih atau sudah habis?” tanya Aletha dengan hasrat yang ingin segera memakan daging ular itu.
“Pasangan aneh ini mah namanya. Masa ngidam kok daging ular. Mana berkelanjutan lagi ngidamnya, pertama bapaknya dan yang kedua emaknya. Biasanya juga kalau wanita ngidam itu buah mangga muda, atau semacamnya. Ini... ular, sssss...” Ujar Brian sambil melet menirukan lidah ular.
Seketika Brian menutup mulutnya saat setelah Keenan dan Aletha menataptajam ke arahnya. Sedangkan Garda dan Naina hanya terkekeh geli melihat Brian yang tengah melakukan hukuman pushup atas perintah dari Kapten, tak lain Keenan itu sendiri.
“Enak, Neng?” tanya Keenan.
Aletha mengangguk, lalu melanjutkan makan ular. Dan Keenan hanya tersenyum melihat Aletha saat begitu menikmati daging ular yang sudah dipanggang sisa semalam. Keena tidak pernah menyangka jika apa yang diinginkannya jiga diinginkan oleh Aletha, daging ular bakar sebagai tanda ngidam yang berlanjut setelah memakan bersama saat penyanderaan kalau itu. Dan keinginan Keenan menular ke Aletha, seperti senyumnya saat ini. Menular begitu saja yang membuat dia ujung bibir Aletha melengkung sempurna.
“Makasih ya Aa, ularnya .... lezat. Neng jadi merasa kenyang sekarang.” Aletha nyengir.
”Iya, Neng. Neng mau makan apa lagi setelah ini, hmm?” tanya Keenan memastikan.
“Emm... es krim. Aa... Neng mau es krim seperti yang pernah Aa kirim dulu. Tapi belinya nanti saja Neng mau kerja dulu, nanti takutnya meleleh kalau beli sekarang. Dan saat jam istirahat nanti es krim nya harus ada ya Aa.” Aletha menggoyang-goyangkan lengan Keenan.
Aletha meraih tangan Keenan lalu diciumnya. Setelah itu Aletha pergi untuk melanjutkan tugas di sift pagi. Dan hari itu Aletha ada jadwal operasi pada jam sembilan pagi. Sehingga ia harus segera pergi ke ruangannya untuk bertemu asisten nya setelah merasa kenyang sehabis makan daging ular panggang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bagaimana ini? Mana semuanya sudah pergi lagi.” Keenan mengusap wajahnya gusar.
Garda, Brian dan Naina kebetulan sudah pergi dari rumah sakit untuk bertugas. Karena mulai hari itu jadwal libur sudah berakhir, dan mereka harus kali bertugas menjadi prajurit sejati. Sedangkan Keenan, ia masih dalam fase cuti. Karena punggungnya yang terkena luka bakar belum mengering.
“Coba saja aku cari nomor pemilik toko es krim nya. Siapa tahu saja aku menyimpannya.” Keenan berusaha mengutak-atik handphonenya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bagaimana dengan jantung pasien?” tanya Aletha kepada asistennya.
“Jantung pasien masih bisa berdetak, Dok. Tapi sangat lemah, jika tidak segera dilakukan operasi makan akan semakin memburuk.” Terang asisten Aletha melalui elektrokardiogram.
“Baiklah, kalau begitu aku mau temui keluarganya sebentar. Toh saat ini masih jam sembilan kurang, belum genap jam sembilan tepat.” Aletha manggut-manggut.
Sebelum beringsut keluar dan bertemu dengan keluarga pasien yang hendak di operasi Aletha sejenak mengudarakan suara dan memerintahkan tim medis untuk bersiap menjalankan tugas yang menegangkan.
__ADS_1
“Dokter Ilham, siapkan operasinya. Karena lima belas menit lagi kita akan mulai melakukan operasinya. Dan suster tolong siapkan jantung untuk pencakokan jantungnya.” Pinta Aletha yang di balas dengan anggukan penuh kemantapan.
Aletha keluar dan menemui keluarga pasien dan terlihat di ruang tunggu ada seorang wanita dengan anak kecil yang berusia kurang lebih delapan tahun.
“Ya Allah, lancarkan!” do'a Aletha dalam hati.
Aletha menebar senyum ramah sebelum bertemu secara langsung dengan wanita itu yang diperkirakan istri dari pasien lelaki yang bernama Nurdin.
“Selamat pagi, Ibu!”
“Selamat pagi, Dok. Ada apa, Dok? Apa terjadi sesuatu dengan kondisi suami saya? Hiks... hiks... hiks...” Maina terus bertanya kepada Aletha dengan rasa khawatir yang membuncah dada.
“Iya, Dok. Apakah ayah saya bisa selamat?” sambung Aura.
Aura memegang jemari Aletha, membuat Aletha tersenyum saat melihat wajah anak itu yang begitu lucu. Namun memiliki sisi dewasa saat tidak merengek ingin pulang.
“Sayang, Bu Dokter minta do'a nya ya untuk Ayah. Semoga operasinya Ayah lancar, dan Ayah bisa segera sembuh.” Aletha mengulas senyum.
Setelah lima belas menit berlalu, kini Aletha berada di ruang ganti. Ia mulai mengganti baju yang di khususkan untuk menjalankan operasi, lalu mengucir rambutnya di ikan satu ke belakang. Dan selanjutnya Aletha memakai sarung tangan latek dan juga topi biru.
“Siapkan diri kalian untuk operasi penyelamatan nyawa pasien kali ini. Pantau terus pergerakan layar elektrokardiogram nya. Lalu suster Ani, tolong suntikkan obat bius ke separuh tubuhnya.”
Semua mengangguk, mengiyakan dengan segera tugas yang sudah diperintahkan oleh Aletha. Dan setelah itu untuk mengawali operasi pagi itu tak lupa Aletha membaca basmalah.
“Berikan aku pisau bedah.” Tangan Aletha menengadah.
Sekitar pukul setengah dua belas Aletha hampir usai dalam melakukan operasinya. Dan ketajaman matanya membuat Aletha merasa netranya sudah panas. Tapi ingin bersikap profesional saja, dan Aletha segera melalukan tugasnya yang terakhir yaitu, menjahit bagian tubuh yang tergores karena pisau bedah tadi.
“Alhamdulillah,” pekik Aletha.
Aletha dan tim medis lainnya telah bernafas lega setelah operasi sudah usai dan jantung pasien telah dinyatakan normal dalam setiap detaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bagaimana Aa, es krim nya sudah ada?” tanya Aletha.
“Ada dong, sesuai dengan yang Neng harapkan.” Keenan mengambil sekotak es krim yang di pesannya melalui Naina.
Aletha membuka kotak es krim itu dengan sangat pelan, dan sukses kedua netranya membulat sempurna saat melihat beberapa variasi rasa es krim dalam kotak tersebut. Dan Aletha menemukan selembar kertas yang berisi tentang untaian kata.
[Assalamu'alaikum, Neng nya Aa Keenan. Sekotak es krim ini sebagai perwakilan rasa yang Aa miliki untuk Neng. Makanlah jika menyukainya, dapat dijamin akan melumer di hati Neng. Apalagi dengan perpaduan coklat batang di atasnya, mampu menciptakan rasa yang berbeda. Seperti saat pertama kali Aa dan Neng berjumpa. Ya sudah selamat makan ya, Neng.]
Aletha memasukkan kata-kata yang ditulis Ahtar di dalam tasnya. Lalu, ia menikmati sesendok es krim yang melumer. Dan sesekali tatapan keduanya bertemu bahkan saling mengunci. Membuat Aletha merasa tersipu malu saat tatapan Keenan begitu memiliki makna.
“Aku terhanyut dalam buaiannya, bahkan hatiku meleyot saat menatap netra elangnya yang tajam, seperti mau menerkam mangsanya dengan beringas saja. Tapi... aku menyukainya.”
__ADS_1
Bersambung...