
“Aku hanya ingin kamu tidak lupa dengan tempat di mana kita dipertemukan tanpa unsur kesengajaan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha membantu Keenan untuk melepaskan kancing bajunya. Setelah terlepas semua Aletha mengusap pelan seluruh tubuh Keenan dengan amat lembut. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ritual Keenan di dalam sana, cukup setengah jam saja.
“Neng, jika Aa ajak Neng berlibur ke Jembatan Faidherbe, bagaimana? Apa Neng mau?”
Keenan memberikan tawaran kepada Aletha saat Aletha memberikan obat oles untuk mengeringkan luka lebam di wajah Keenan dan juga di lengan Keenan yang terluka karena pisau lipat.
Aletha seketika menghentikan aktivitas nya, lalu menautkan kedua alisnya dan menatap Keenan dengan tatapan penuh tanya.
“Bagaimana, mau tidak? Setelah menikah kita tidak memiliki waktu honeymoon, jadi... kita honeymoon kesana,”
“Pasti akan mahal biayanya, Aa. Mana mungkin bisa kita pergi kesana? Uang gajian Neng juga sudah buat bangun tuh kolam renang dan taman.”
Keenan menggenggam jemari Aletha, lalu menatap Aletha dengan tatapan yang begitu dalam. Bahkan ada sejuta cinta di dalam tatapan mata teduh Keenan, membuat Aletha tudak bisa berkutik saat ditatap nya.
Seketika Aletha menunduk, menyimpan rasa malunya yang sukses membuat pipinya memerah bagaikan udang yang di rebus. Namun, apakah data Aletha jika keinginan Keenan sudah wajib untuk di penuhi.
Keenan mengangkat dagu Aletha ke atas sedikit dan tepat saat bibir Aletha di depan bibir Keenan kecupan pun telah dilakukan. Membuat desiran hebat menjalar ke seluruh tubuh keduanya. Dan ketika hendak memuaskan hasrat yang terpendam lagi-lagi hasrat itu harus disimpan.
“Oek... Nda... Oek... Nda...” Alina pun menangis dengan berseru menyebut Bunda.
‘Hah, gagal lagi.’
Hiks...
Keenan meraba dadanya, merutuki nasib yang tidak sesuai ekspektasi. Dan sebagai ayah yang baik Keenan segera menemui Alina, lalu Alina diberi minum susu formula dengan Keenan yang mengoceh tidak jelas di depan Alina. Sehingga membuat Alina tidak menangis lagi.
“Ayah dan Bunda nakal, ya! Sudah ninggalin Alina sendirian. Cup ya, Nak... kasih sayangnya hanya untuk Alina kok, sekarang diam dan jangan nangis. Nanti Ayah ajak jalan-jakan sore.”
Hanya binar kebahagiaan yang ditampakkan dari wajah Alina dengan tatapan yang menajam seolah ingin mengenali sosok ayah yang ada di depannya itu.
Aletha merasa lega melihat Keenan yang sukses membuat Alina diam dari tangisnya. Rasa syukur kembali Aletha ucapkan, meskipun Alina sudah lama tidak berada dalam gendongan Keenan tetapi Alina mampu mengenali sosok ayah hebatnya itu.
“Ting... Ting...” Sebuah pesan masuk ke ponsel Keenan.
Ketika Keenan sedang mengajak jalan-jalan sore Alina di sekitar rumah tiba-tiba ia mendapatkan pesan singkat dari Bian.
“Bian? Bukannya kita satu minggu ke depan ada cuti, kenapa Dia mengirim pesan kepadaku?”
Keenan menautkan alisnya, merasa penasaran dari pesan yang sudah dikirim Bian baru saja. Sehingga Keenan pun membuka pesan tersebut.
[Ke, boleh tidak jika aku, Bayu dan Naina menginap di rumahmu? Kami rasa rumahmu bagus dan pastinya akan menyenangkan jika kita bisa berlibur di dekat pantai.]
Keenan membelalakkan kedua matanya saat membaca pesan dari Bian, membuat Keenan menerawang jika akan gagal lagi rencananya yang ingin menghanyutkan Aletha dalam cinta yang dalam.
“Jika ku tolak kasihan juga mereka tidak bisa menginap dan menikmati suasana pantai. Jika kuterima resiko besar harus aku terima.” Keenan pun merasa bimbang.
[Emm... begini saja, aku akan tanyakan dulu sama Aletha. Jika Dia setuju maka aku iya saja, jika tidak maka kalian jangan marah ya!] Pesan pun dikirim oleh Keenan sebagai balasan.
Tidak lama kemudian Bian kembali membalas dengan satu kata saja yaitu, ok. Yang menandakan jika Bian, Bayu dan Naina setuju dengan keputusan Keenan.
Keenan kembali mendorong kereta dorong Alina, hingga membuat Alina merasa nyaman saat menikmati suasana sore di sekitar pantai.
“Kapten!” teriak Rania.
Keenan seketika membalikkan tubuhnya, memastikan siapa pemilik suara yang sudah memanggil namanya itu.
__ADS_1
Rania yang kebetulan lari di sekitar pantai tidak sengaja melihat Keenan bersama Alina. Dan Rania pun memutuskan untuk menghampiri Keenan.
“Selamat sore, Kapten!” sapa Rania.
“Rania, panggil nya biasa saja. Kita tidak sedang bertugas, kamu bisa panggil aku dengan Kak saja. Anggap saja aku seperti kakakmu sendiri, seperti kamu menganggap Aletha sebagai kakakmu.”
Rania mengangguk, menyetujui permintaan Keenan. Dan mereka pun pulang bersama dengan obrolan ringan yang menemani mereka saat kembli menuju ke rumah.
Aletha yang melihat matahari terbenam dari atas balkon segera menuruni anak tangga setelah melihat Keenan dan Alina sudah kembali dari jalan-jalan sore.
Semua masuk rumah karena sebentar lagi waktu maghrib akan tiba. Dan tidak baik jika Alina masih berkeliaran di luar rumah saat itu juga.
Apa yang Aletha inginkan kini telah tercapai, berada satu shaf di belakang Keenan. Keenan dan Aletha menjalankan sholat maghrib bersama setelah itu tidak lupa pula melangitkan doa kepada Allah SWT atas apa yang sudah diberikan kepada mereka termasuk kebahagiaan saat itu juga.
Aletha membantu Bu Laila menata makanan di atas meja dan setelah makanan suadah siap Aletha memanggil Keenan dan Rania untuk. segera menggelar makan makan malam bersama.
Keenan mengambil duduk, lalu menengadahkan tangan untuk membaca doa dan Aletha selalu mengaminkan doa Keenan meskipun doa sebelum makan sekalipun.
“Tok... Tok...” Terdengar suara diketuk pelan.
‘Siapa yang bertamu? Sepertinya aku tadi belum bicara kepada Neng Aletha jika Bian, Bayu dan Naina akan menginap di sini.’ Keenan bermonolog dalam hati.
Aletha menghentikan makannya sejenak untuk membukakan pintu yang dirasa ada tamu.
Dan setelah Aletha membuka pintu ia dikejutkan dengan rombongan keluarga Bagas Kara. Tanpa ada pesan apapun Bagas Kara membawa rombongan ke rumah nya sehingga membuat rumah Aletha seketika ramai.
“Pa... Ma, kenapa kalian datang tanpa pesan?”
“Kejutan. Papa dan Mama mu ini ingin memberikan kejutan. Lagipula kami semua sudah lama tidak berlibur tipis-tipis, mengingat rumah kamu berada di dekat pantai maka... kami memutuskan untuk datang malam ini.”
Setelah mengatakan hal itu Bagas Kara langusng masuk dan menuju ke ruang keluarga. Suara Bagas Kara dan keramaian dari luar mengundang Keenan, Bu Laila dan Rania untuk keluar dan memastikan keributan apa yang sudah timbul di rumahnya.
Hati Keenan benar-benar merasa nelangsa, sudah lebih dari enam bukan dipisahkan dengan Aletha dan setelah dipertemukan kembali justru tidak bisa melepas rindu yang amat menyiksa.
“Papa... Mama... Dan kalian semua ada di sini.” Keenan berusaha menyapa dengan ramah dan menyalami Bagas Kara sekaligus Mama Nina.
“Keenan, Bu Laila dan Rania... kita mohon ijin untuk menginap di sini sekalian berlibur tipis-tipis di pantai. Apa kalian keberatan?”
“Ah tidak kok, Ma. Kita pastinya tidak akan keberatan, tambah ramai juga tidak apa-apa. Tadinya... Bian, Bayu dan Naina juga minta ijin mau menginap di sini. Tapi Keenan belum bilang sama Aletha.” Keenan mengalihkan pandangannya ke arah Aletha.
“Tidak apa-apa kok, Aa. Bilang saja sama mereka kita sudah siap kalau mau camping bersama. Sekalian saja buat tenda.”
Keenan mengangguk sembari memperlihatkan senyum pepsodent kepada semua orang. Setelah itu ia mengambil ponselnya di kamar untuk mengubungi ketiga sahabatnya. Dan disusul pula oleh Aletha yang ingin menengok Alina di kamar.
Aletha melihat gurat wajah Keenan yang nampak kecewa karena tidak bisa leluasa berduaan dengannya, melepas rindu dan hasrat yang sudah lama terpendam.
Aletha sengaja memberikan pelukan kepada Keenan dari arah belakang. Karena Aletha ingin mencoba menghibur Keenan agar tidak merasa kecewa lagi dengan adanya kehadiran mereka.
“Neng, bikin Aa kaget saja.”
Aletha menempelkan kepalanya di punggung Keenan, membuat Keenan merasa jika dirinya di sayangi dan dibutuhkan oleh Aletha.
“Aa... jangan marah ataupun kecewa ya dengan kehadiran mereka semua,” ucap Aletha dengan amat pelan dan lembut.
Keenan pun melerai pelukan Aletha, lalu ia berbalik dan menatap Aletha begitu dalam. Hingga Aletha melihat mata teduh Keenan yang memiliki sejuta cinta untuknya.
“Aa... tidak marah kok, apapun yang membuat Neng merasa bahagia Aa akan lakukan. Dah, jangan berpikir yang aneh-aneh.” Keenan menangkup wajah Aletha.
Aletha mengangguk, setelah itu keduanya keluar dari kamar dan bergabung dengan mereka semua. Sedangkan Alina yang sudah tertidur akan dijaga Bu Laila, karena Bu Laila tidak merasa tertarik dengan acara yang akan dilangsungkan oleh anak muda.
__ADS_1
Tidak lama kemudian rombongan Bian pun datang, membuat keseruan dan keramaian memekik telinga. Bahkan tenda pun di pasang di bagian halaman depan rumah Aletha, tidak lupa pula api unggun dinyalakan di tengah-tengah untuk menghangatkan angin malam yang menerpa kala itu.
‘Ternyata berlibur tipis-tipis ala Om dan Aunty itu menyenangkan. Mungkin karena mereka lebih berpengalaman.’ Larisa bermonolog dalam hati.
Larisa tertawa saja saat melihat para om dan tantenya bermain gitar sembari bernyanyi. Sebagian lagi ada yang membakar jagung dan sosis untuk hidangan cemilan mereka seraya menikmati suasana malam yang kian melarut.
Malam yang tampak gelap, tetapi akan terang dengan api unggun yang sudah dinyalakan. Sedangkan bulan dan bintang malam itu tak nampak sekali, bahkan awan terlihat mendung yang menandakan malam akan turun hujan. Dan ternyata benar saja.
“Kricik... Kricik... Kricik...”
Gemercik air hujan telah turun secara tiba-tiba. Membuat semuanya seketika berlarian mencari tempat untuk berteduh dan meninggalkan acara yang masih berlanjut itu. Namun dipaksa berhenti karena hujan turun semakin deras.
”Hujannya tidak asik, turunnya di waktu yang tidak tepat.” Larisa mengumpat karena kesal.
“Larisa, hujan yang turun itu patut untuk disyukuri. Karena hujan adalah pemberian Allah SWT,” ucap Keenan.
“Iya juga ya, om Keenan. Tapi kan, karena hujan turun acaranya bubar, Om.” Larisa mengerucut kan bibirnya.
Larisa yang sudah merajuk hanya bisa dirayu oleh Juan seorang, karena sedari kecil Juan kah yang bisa membujuk Larisa di kala sedang marah atau ataupun sedih.
“Lihat Neng, Allah itu adil bukan. Allah menghadirkan hujan di malam ini dan membiarkan kita memiliki waktu berdua di kamar seperti ini. Dan juga... Aa mau mendengar jawaban Neng atas pertanyaan Aa tadi.”
Dengan datangnya hujan Bagas Kara memerintahkan mereka semua untuk tidur dan akan melanjutkan liburan tipis-tipis mereka esok hari. Dan itu adalah kesempatan bagus untuk Keenan dan Aletha bisa segera masuk ke kamar.
“Pertanyaan yang mana ya, Aa? Neng lupa.” Aletha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sejenak Keenan terdiam, mengatur nafas lalu memulai lagi mengajak Aletha untuk berlibur ke Jembatan Faidherbe. Pembaca tidak lupa dengan jembatan itu, kan?
“Kenapa Aa ingin mengajak Neng berlibur atau honeymoon di sana? Ya... Neng akui tempat itu bagus, apalagi jika berada di gurun sahara. Tapi kan... mahal, Aa.”
“Aa hanya ingin Neng tidak lupa dengan tempat di mana kita dipertemukan tanpa unsur kesengajaan.”
“Neng ingat tidak, satu tahun Aa sengaja menghindar dan memilih untuk sekolah di Washington, sedangkan Neng sendiri memilih untuk pergi ke Mauritania dan menjadi dokter sukarelawan di sana demi melupakan perasaan Neng ke Aa.”
Keduanya tersenyum kecut saat merutuki kebodohan yang amat disesali. Namun, dibalik semua itu Allah telah berkehendak lain. Cinta yang teetanak di hati telah melekat dan tidak bisa terpisahkan. Biarpun mereka sering dipisahkan karena Keenan harus bertugas tetapi lagi-lagi Allah kembali mempertemukan keduanya.
“Bagaimana Neng, apa Neng mau?”
“Neng juga ingin pergi kesana, Aa. Mengenang di mana kita dipertemukan kembali sampai kita berada di jenjang pernikahan dan sampai saat ini. Tapi di sisi lain kita tidak bisa meninggalkan Alina sendiri di sini, kita orang tuanya.”
“Hanya sebentar! Berikan Aa waktu untuk mengobati rindu yang sudah enam bulan Aa pendam.”
Keenan memepelihatkan kartu chip yang diberikan Presiden Arab saat berada di Mauritania setelah Presiden Arab diselamatkan oleh Aletha.
Aletha membelalakkan kedua matanya melihat kartu chip yang dalam tangan Keenan. Kartu chip yang pernah Aletha punya, tetapi ia tukarkan dengan helikopter untuk menghadiri pernikahan dokter Elbert dengan dokter Catrina yang kini sudah memiliki banyak anak, sesuai dengan keinginan mereka.
“Bagaimana Aa bisa mendapatkan kartu ini?” tanya Aletha memastikan.
“Aa tidak menodongkan pistol ke Presiden Arab itu, kan?” tuduh Aletha kemudian.
Keenan seketika tertawa, tidak pernah rasanya ia memiliki pemikiran jika Aletha akan menuduhnya dengan mengatakan hal semacam itu.
Keenan menyerahkan kartu itu kepada Aletha sembari menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkannya. Karena hal itu begitu mudah, kedekatan Presiden Arab dengan Keenan yang sebagai Kapten pasukan berani mati.
“Waw, ternyata... Aa itu hebat! Selain pintar petak umpet sama Neng, pintar tarik ulur, pintar membuat Neng cemburu, pintar memikat hati Neng, tapi juga pintar memikat hati Presiden Arab.” Aletha berdecak kagum, tidak sangka jika Keenan memiliki banyak kelebihan.
“Tapi jawab dulu, jika iya... Aa akan mengatur jadwalnya. Jika tidak mau... Aa tidak akan menggunakan kartu itu dengan sembarangan lagi.”
Aletha membulatkan kedua matanya ke atas, seolah tengah memikirkan jawaban yang akan diberikannya kepada Keenan.
__ADS_1
Bersambung...