
“Aku tidak mau bisulan jika ku pendam rasa yang membuat debaran di jiwa hampir meledak ini. Lagipula ... Tidak baik juga jika menunda-nunda niat yang baik.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Cukup melelahkan untuk malam ini.” Keenan menghempaskan nafas beratnya.
Karena hari yang melelahkan membuat Keenan merebahkan tubuhnya di atas kasur, begitu halnya dengan Garda. Meskipun tubuh mereka merasa lelah tetapi pelupuk mereka dibenuhi akan bayang-bayang istri dan anak tercinta. Rasa rindu pun tidak dapat dibohongi.
“Apa kamu akan menghubungi Aletha?” tanya Garda memastikan.
“Tidak, tapi aku...”
Keenan menggantungkan ucapannya mengudara, lalu kembali fokus dengan layar ponselnya dan mengabaikan Garda yang masih berpikir sendirian. Selang lima menit kemudian panggilan Keenan yang ditujukan ke toko es langganan nya terhubung, untung saja pemilik tokonya ramah dan juga mengenal baik seorang Keenan.
“Assalamu'alaikum, Ke. What happen?” tanya dari seberang.
“Aku... butuh bantuan mu Sofia.” Terdengar suara Keenan yang tengah merayu Sofia.
“Why? Jangan bilang kalau kamu mau minta hal seperti biasa lalu dikirmkan ke Aletha malam ini juga.” Sofia menerka apa yang hendak Keenan pinta kepadanya.
“Itu benar. Hehehe...” Keenan nyengir.
“No, Ke. Lihat ini sudah pukul berapa? Sorry Ke, aku tidak akan melakukannya untukmu.”
“Aku tidak mau bisulan jika ku pendam rasa yang membuat debaran di jiwa hampir meledak ini. Lagipula ... Tidak baik juga jika menunda-nunda niat yang baik.” Kembali Keenan merayu Sofia, hingga akhirnya Sofia terjebak dalam rayuan Keenan.
“Ok, aku akan buatkan dan kirimkan ke Aletha malam ini juga. Jangan lupa. segera kirimkan memo mu seperti biasa.”
“Siap.”
Panggilan telepon telah diakhiri, Sofia yang tengah lembur di tempat jual es krim nya karena meneliti data keuangan seketika harus pergi ke dapur pembuatan es krim dan memulai membuat es krim yang biasa Keenan pesan.
“Punya sahabat kok meresahkan sekali, untung saja kamu Kapten idaman yang buat hati wanita suka meleyot walaupun hanya memandangmu saja, Ke. Jika kamu tidak berpangkat sedemikian, aku... ogah melakukan hal seperti ini.” Sofia mendesah, tetapi tetap saja membuatkan es krim yang bervariasi rasa lalu di atasnya di taburi full coklat batang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Hello, Kapten. Ini sudah pukul dua belas malam woiiiii... waktunya anak sama istri sudah tidur. Masa iya dikirimkan es krim tengah malam.” Garda yang mendengar percakapan Keenan dengan Sofia hanya bisa menepuk jidatnya saja.
“Seperti apa kata ku tadi, tidak baik menyimpan niat yang baik dan itu harus diselenggarakan daripada ... BI... SU... LAN Garda.” Keenan nyengir.
“Lagipula, kita itu sebagai seorang suami harus profesional. Mencintai wanitanya di setiap waktu, memberikan kebahagiaan kepadanya meskipun kita jauh dan... melangitkan doa untuknya dalam setiap sujud.”
__ADS_1
“Memang benar saat ini kita dituntut akan tugas yang membuat kita jauh dengan istri dan anak kita, bahkan kita harus bersikap profesional saat rindu tidak bisa ditahan, tetapi untuk mengobatinya kita bisa lakukan hal semacam tadi dan dengan hal sekecil itu istri kita akan tahu kalau kita disini memikirkan dirinya.”
Keenan memang benar, walaupun hanya dengan es krim yang ditaburi coklat serta memo kecil yang diletakkan di atas kotak es krim itu saja sudah membuat hati Aletha meleyot, meleleh seperti es krim setelah berada di dalam mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum, kak Ilham ada dimana sekarang?” tanya Aletha melalui udara.
“Wa'alaikumsalam, Al. Ada apa? Apa di rumah sakit ada masalah lagi? Maaf tadi aku tidak sempat menghampiri mu dan berpamitan, tugasnya begitu dadakan.”
“Tidak apa-apa kok, Kak. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Kak Ilham, tapi... tidak bisa dibicarakan hanya melalui ponsel saja. Aku sudah ada di... Desa Cempaka Putih.”
“Hal apa itu, Al? Memangnya kamu sedang ada di mana?”
“Cepat datang di... kantor kepala desa. Aku tidak punya banyak waktu lagi, Kak.”
Aletha menanti Ilham datang ke kantor kepala desa dan tidak sampai menunggu waktu lima belas menit Ilham telah tiba di kantor kepala desa. Dan seperti apa yang sudah didengar oleh Aletha melalui saluran sadap suara, di mana kondisi Maya semakin kritis. Sehingga tidak memiliki banyak waktu jika harus menjelaskan kondisi Maya terlebih dahulu.
“Al,” sapa Ilham dengan senyuman.
“Ikut denganku kembali ke rumah sakit Siloam Hospitals sekarang juga. Dan tugas kak Ilham di sini akan digantikan Dokter Hakim, percayakan semuanya kepadanya. Meskipun masih Dokter baru, Dokter Hakim akan berkerja secara profesional.” Aletha membuat Ilham nampak bingung, karena sebelumnya Aletha tidak menjelaskan apapun kepadanya.
“Tapi, Al...” Ilham melepaskan tangan Aletha.
Sebelum helikopter terbang mengudara, sejenak Aletha menatap ke arah Hakim lalu mengangguk. Begitupula dengan Hakim, berusaha menjadi dokter yang profesional saat menjalankan tugas menggantikan Ilham di Desa Cempaka Putih.
Aletha dan Ilham pun sudah sampai di rumah sakit, karena mengendarai helikopter tidak harus menunggu sampai berjam-jam untuk sampai di sana. Dan setiba di rumah sakit Aletha bersama Ilham sedikit berlari menuju ke ruang UGD.
“Lakukanlah sesuatu untuk keselamatan Maya, Al. Aku mohon!” ucap Ilham dengan tatapan sendu.
“Kak, sabar. Kita akan segera melakukan operasi jika... kak Ilham menandatangani persetujuan operasinya.” Aletha menyodorkan data Maya yang memang harus segera menjalani operasi kepada Ilham.
Ilham pun menatap Aletha, dan Aletha mengerjapkan mata kepada Ilham untuk meyakinkan Ilham. Dengan perasaan yang sudah campur aduk Ilham berusaha meyakinkan hatinya bahwa Aletha dan tim dokter lainnya bisa menyelamatkan Maya. Berat hati Ilham pun membubuhi kertas itu untuk menyetujui operasi yang akan dijalankan Maya.
“Kak, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Jangan lupa berdo'a kepada Allah, serahkan semua kepada Allah.” Aletha mengangguk.
“Al, aku mau ikut melakukan operasinya.”
“Jangan kak, anggota keluarga dilarang keras untuk ikut menjalankan operasi. Aku mohon, tolong kerjasama.” Aletha tersenyum tipis.
Ilham mengangguk, membiarkan Aletha melakukan tugasnya di dalam ruang UGD. Dan setelah masuk ke dalam Aletha mulai melakukan langkah pertamanya yaitu, menjalankan operasi pembedahan caesar untuk mengeluarkan bayi Maya yang sudah cukup umur, karena kandungannya sudah memasuki usia delapan bulan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tring... Tring...”
Ponsel Aletha berdering, menandakan ada panggilan masuk. Dan setelah nama pemilik nomor dari seberang dikenal Aletha, seketika memutar bola matanya dengan sempurna.
“Sofia? Kenapa Dia menelpon ku di malam hari? Ada apa, ya?”
Aletha merasa penasaran dengan tujuan Sofia yang menelpon nya di tengah malam. Sehingga Aletha memutuskan untuk menerima panggilan Sofia.
“Assalamu'alaikum. Halo Sofia, ada apa kamu menelpon ku di tengah malam seperti ini?” tanya Aletha to the point.
“Maafkan aku jika sudah mengganggumu tengah malam seperti ini, Al. Tapi... aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Kamu... dimana sekarang?"
“Aku ada di rumah sakit. Ada pasien yang darurat yang harus segera dioperasi. Jika mau bertemu kamu datang saja ke sini, karena Mama Nina, Bu Laila, Larisa dan yang lainnya ada di sini juga.”
Obrolan itupun telah diakhiri setelah Sofia memutuskan untuk menemui Aletha di rumah sakit. Sofia juga langsung tancap gas ke rumah sakit dan segera memberikan es krim yang sudah dipesan oleh Keenan sebelum es krim itu meleleh saat di jalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha bersiap masuk ke ruang operasi setelah mengganti pakaiannya. Dan sebelum memulai jalannya operasi tidak lupa Aletha selalu meminta timnya untuk berdoa kepada Allah SWT, karena sekeraa apapunerwka berjuang jika tidak ada ridho dan kuasa Allah operasi itu tidak akan berjalan dengan lancar
“Siapkan pisau bedah! Dokter anestasi, terus pantau detak jantungnya.” Aletha mulai melakukan pembedahan di daerah dada.
Jantung Maya yang terbentur dan mengalami. kebocoran segara dilakukan tindakan agar tidak lagi terus mengeluarkan darah yang nanti bisa saja akan menyumbat jalannya peredaran darah.
Tiga jam telah berlalu dan jalannya operasi bisa dinyatakan berhasil, hanya tinggal sesi terakhir yaitu menjahit bagian jantung. Setelah itu Aletha dan tim lainnya bisa bernafas lega karena operasi yang mereka lakukan sudah berhasil.
“Alhamdulillah, akhirnya kita berhasil juga. Jantungnya juga sudah bereaksi meskipun detaknya masih sangat pelan. Dan sekarang, panggil tim operasi caesar untuk melakukan tugasnya.”
Sesuai dengan apa yang dikatakan Aletha, perawat pun keluar dan memberitahukan kepadapiha keluarga yang menunggu di sana bahwa jantung Maya sudah berhasil dioeprasi. Setelah itu seorang perawat beralih ke Luna.
Tim operasi caesar segara melakukan tugasnya secara profesional. Kinerja mereka pun telah dikuras sampai hampir dua jam lamanya. Dan tidak lama kemudian...
“Oek... Oek... Oek...”
Suara tangis bayi itupun terdengar dari luar dan memekik telinga seorang Ilham. Tubuhnya meuluruh, ia tidak kuasa melihat bayinya yang hantu di keluarkan secara paksa karena jika tidak maka bayi itu akan kehilangan nyawa.
“Dokter Ilham, Anda bisa langsung menjalankan tugas Anda. Ikutlah dengan saya!” pinta salah seorang perawat bayi.
“Baiklah, Sus.” Ilham berjalan mengekori perawat yang membawa bayinya ke ruangan inkubator.
__ADS_1
Tidak lupa Ilham melakukan tugasnya, menggendong bayi mungilnya yang memiliki berat badan hanya dua kilo tiga ons itu untuk melantunkan adzan di dekat telinga bayi itu. Setelah itu Ilham mencium pipi bayinya sebelum bayi itu di kembali masuk ke ruang inkubator untuk dihangatkan dengan cahaya lampu khusus.
Di saat Ilham merasa bahwa batinyansudah aman berada di dalam inkubator, Ilham kembali menunggu di depan ruang operasi. Pelupuk mata Ilham tidak dapat membendung air matanya lagi, hatinya begitu rapuh melihat belahan jiwanya tengah terkapar tak berdaya dengan mata yang terpejam rapat.