
KANTIN
"Ra, sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Dea yang sedari tadi melihat Arra gelisah.
"Aku.. tidak apa-apa kok.." Arra hanya membalasnya dengan senyum kecil.
"Jangan membohongi kita Ra, kita kan sahabatmu!. Kita bisa membantumu jika kau dalam masalah. Apalah artinya sahabat jika salah satu diantaranya ada dalam masalah namun tidak satu pun ada yang membantunya" jelas Reiva.
"Terimakasih banyak teman teman.. aku tahu kalian pasti akan membantuku. Tapi.. masalah yang aku hadapi bukanlah masalah besar"
"Masalah kecil atau pun besar kita pasti akan membantumu" sahut Levy sembari menepuk pundak Arra.
"Kalian yakin tidak akan terkejut?" tanya Arra.
""Tidak akan tidak akan" Dea menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Arra dengan cepat karena penasaran.
Arra menghela nafas lalu menceritakan seluruh pokok masalah nya. Arra sebenarnya malu untuk mengatakannya namun karena rasa gelisah terus menghantuinya terpaksalah Arra harus menceritakan nya. Siapa tahu masalah selesai berkat bantuan sahabat-sahabat nya dan Arra tidak perlu khawatir lagi.
"Apaa?!!" Reiva dan Dea berteriak kaget mendengar semua keluh kesah Arra hingga membuat Levy, Erika dan Arra pun ikut kaget.
"Kau ditembak Ben? Dan kau masih belum membalas perasaannya karena kau kurang yakin dengan perasaanmu padanya?" teriak Reiva dengan keras sampai murid lain pun mendengarnya dan merasa terganggu.
"Sssttt... pelan kan suaramu Rei. Apa kau mau semua orang di sekolahan ini tahu?" ucap pelan Arra.
"Tentu saja Reiva berteriak keras seperti itu. Apa kau masih belum mengerti? Ben itu anak orang kaya, pewaris bagi keluarga Alva. Dia tampan, tinggi, cerdas, hebat dan berbakat meskipun sedikit menjengkelkan. Saat masih kecil Ben itu sudah bisa melakukan apapun sendiri. Oleh karena itu orang tuanya lebih menyukai Ben dari pada anak anaknya yang lain. Di usia nya yang ke 7 tahun Ben berhasil mengerti ilmu fisika. Dia sangat ahli loh dalam bidang fisika. Ben juga selalu ikut serta dalam kompetisi antar pelajar dan selalu menjadi juara diberbagai tempat. Olahraga-olahraga berat pun dapat Ben kuasai dan sangatlah mahir dalam melakukannya. Apalagi yang perlu di ragukan tentang Ben, Ra? Ben itu pria idaman bagi semua kalangan wanita. Tampan, kaya dan hebat, kenapa kau masih bimbang? Cepat terima! Katakan iya padanya!" Dea menjelaskan mengenai Ben pada Arra dengan raut wajah serius.
Semua termenung diam saat Dea menjelaskan secara detail tentang Ben. Mereka tidak menyangka kalau Dea bisa tahu semua tentang Ben.
"Tu-tunggu dulu De.. Kenapa kamu bisa tahu seluk beluk Ben? Maksudku kamu bahkan tahu saat Ben masih kecil?" tanya Erika dengan raut muka terheran heran.
"Ah itu.. Karena.. Aku kan gadis yang selalu penasaran dengan sesuatu, makanya aku tahu tentang Ben. Lagipula Ben kan cukup populer dan aku rasa tidak mengapa kalau mencari cari informasi detail nya lebih lanjut.. Hehe.." jawab Dea dengan senyum cerianya.
Reiva dan Levy hanya memandang Dea dengan ekspresi dingin dan kesal. Mereka tidak mengira dengan balasan Dea dan malah menepuk jidat masing-masing.
"Oke cukup! Arra perlu jawaban dan saran dari kita bukan nya hal lain!" tegas Levy sembari menggebrak meja dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa... Aku sudah cukup lega walau hanya bercerita pada kalian. Terimakasih.." senyum manis Arra membuat kegaduhan menjadi keheningan.
"Arra, menurutku daripada kamu terus menerus berfikir, gelisah, takut dan malah menjadi beban. Kenapa kamu tidak mengikuti kata hatimu yang paling dalam? Pikirkan matang-matang lalu cerna lah kedalam hatimu. Apa yang sebenarnya hatimu inginkan maka itulah jawaban nya. Tenang dan ikuti alurnya maka jawaban akan muncul perlahan-lahan. Jangan dibuat gelisah dan sulit karena semuanya akan baik-baik saja" suara lembut Erika membuat semua perkataannya masuk dengan tenang kedalam otak Arra.
"Wah Erika aku tidak mengira kalau kau ternyata begitu cerdas dalam hal ini!" kagum Reiva sembari tersenyum lebar pada Erika hingga membuat Erika malu-malu.
"Aku juga tidak menyangka, apalagi dia adalah sahabat ku" benak Arra sembari melontarkan senyum nya.
"Aku.. Aku.. Tidak sehebat itu. Kata-kata itu.. Hanya muncul tiba-tiba saja dari mulutku.. " muka memerah dan suara terbata-bata membuat teman-teman nya tertawa geli melihat tingkah lucu Erika.
"Jangan merendah begitu Erika, meskipun menurutmu hanya sebuah kata-kata tapi menurutku itu adalah sebuah kata mutiara pencerah untuk ku. Terimakasih.." Arra memeluk sayang Erika sebagai tanda terimakasih
Melihat Arra memeluk Erika dengan penuh cinta, Reiva, Dea dan Levy pun tidak tinggal diam menonton saja. Mereka pun memeluk satu sama lain dengan tawa dan senyum mengiringi kebersamaan mereka.
"Apa ini artinya Arra menerima cinta Ben?" ucap Dea dengan wajah polosnya.
Teman-teman nya hanya tertawa melihat sikap lugu dan polosnya Dea karena terlalu penasarannya.
* * * * * * *
Alunan musik menjadi pengiring keheningan disaat Arra sedang belajar. Sudah menjadi kebiasaan bagi Arra mendengarkan musik sembari mencari ilmu dan membaca buku. Salah satu lagu favorit nya adalah lagu milik Alan Walker yaitu Darkside.
**Take me through the night
Fall into the dark side
We don't need the light
We'll live on the dark side
I see it, let's feel it
While we're still young and fearless
Let go of the light
__ADS_1
Fall into the dark side
Fall into the dark side
Give into the dark side
Let go of the light
Fall into the dark side**
Arra menghentikan musik nya dan mulai berfikir. Ia teringat dengan perkataan Erika "Tenang dan ikuti alurnya maka jawaban akan muncul perlahan-lahan. Jangan dibuat gelisah dan sulit karena semuanya akan baik-baik saja".
Arra menghembuskan nafas lalu menutup kedua matanya, Ia mulai menenangkan dirinya. Sedikit demi sedikit matanya terbuka dan menatap ke arah langit atap rumah.
"Aku... Tidak tahu... Sebenarnya perasaan ku padanya itu seperti apa?.. Cinta..? Hmm aku hanya merasa nyaman saat di dekat nya. Humoris, cerdas, dewasa, walau kadang menyebalkan dan kekanak kanak an.. Haha dia terkadang membuat rasa sedih ku hilang dalam sekejap. Mmm.. Seminggu lagi aku harus memberikan jawaban ku tapi aku bingung harus bagaimana.." Arra bergumam pada dirinya sendiri sembari mengingat kejadian nya saat bersama dengan Ben.
"Mantapkan hatimu Arra.. Mantapkan.. Ayolah Arra.. Aku tahu kau pasti bisa merasakan perasaan mu sendiri.. " Arra berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Arra mengatur nafasnya lalu mulai bergumam..
"Ya.. Aku sudah menemukan jawaban nya.." tangan kanan nya mengepal kuat dan kakinya mulai ia tegak kan.
1 Minggu Kemudian
"Bagaimana jawaban mu?" tanya Ben dengan senyum mengiringi nya.
"Tunggu sebentar Arra.. Apa kau yakin dengan apa yang akan kau jawab nanti?"
"Ya.. Tentu saja" balas Arra dengan serius.
"Dengar baik-baik Arra.. Aku tidak memaksamu untuk menjawab pertanyaan ku. Aku hargai jika kau memang tidak menjawab pertanyaan konyol ku. Anggap saja itu sebuah candaan ku... Aku merasa tidak enak hati jika kata-kata ku menjadi beban untuk mu Ra.."
"Tidak apa-apa Ben.. Aku tidak merasa seperti itu kok.. Dan aku.. Sudah menemukan jawaban ku sendiri"
"Sungguh? Jadi... Jawaban mu..?"
__ADS_1
Arra menarik dalam nafas nya lalu mulai menjawab
"Jawaban ku.."