Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 93 ”Suara Tembak”


__ADS_3

“Jika ingin membunuhku, berikan aku sebatang coklat terlebih dahulu. Andai kalian tahu, aku merasa sangat lapar. Jadi... biarkan aku merasa kenyang sebelum kematian merenggut nyawaku.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ku berikan separuh nafasku untukmu bernafas. Tetaplah berjuang demi terciptanya kembali sebuah pertemuan. Aku tahu... kamu mendengar suara hatiku.”


“Tes...”


“Tes...”


Air mata meluruh begitu saja saat pelupuk mata tidak mampu membendung nya lagi ketika Aletha mendapati keadaan Keenan yang tidak sadarkan diri. Meskipun hanya melihat di gambar dari handphone tapi Aletha merasa perih, bahkan ia sadar betul tidak bisa membantu Keenan sedikitpun. Karena Aletha sendiri sedang diculik, kedua tangan dan kakinya diikat bahkan mulutnya dibungkam dengan sebuah plaster.


‘Aa... bertahanlah!’ batin Aletha.


”Diam kamu! Jangan menangis saja, be... ri... sikk.” Gertak Yohan.


Malam itu Aletha dibawa ke luar pulau oleh beberapa bawahan dari Yohan. Yohan sendiri tak lain adalah adik Bayu yang sudah ditangkap beberapa bulan lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ada laporan dari Lettu Garda, Kapten Keenan diculik oleh beberapa penjahat. Di duga penjahat itu dibawah naungan adik Bayu, yang ikut jadi pengedar serta penjualan organ yang kian meraja lela.”


Komandan pasukan berani mati melaporkan bagaimana kondisi pasukan berani mati saat melakukan misi. Kapten Keenan tertangkap dan diculik, sedangkan ke empat pasukan berani mati lainnya masih mencari titik di mana kapten Keenan berada. Namun yang mereka temukan justru Aletha. Sehingga membuat Garda merasa terkejut saat melihat Aletha tengah disekap di sebuah kamar.


“Bagaimana bisa kita menyelamatkan keduanya? Sedangkan mereka tidak sedang satu lokasi. Dan sampai saat ini pasukan berani mati belum menemukan Kapten mereka.” Bagas Kara merasa geram.


Bagas Kara tidak mau hanya tinggal diam saja. Rasa khawatir benar-benar menyelimuti hatinya dan pikirannya pun berkecamuk saat penjahat itu sudah memulai aksinya. Apalagi anak dan menantunya masih tertahan oleh penjahat itu, membuat Bagas Kara ingin terjun langsung dalam melakukan misi penyelamatan sandera.


“Aku perintahkan kamu mengumpulkan beberapa pasukan mu yang bisa melakukan perang handal dan penembak jitu dalam misi penyelamatan.” Perintah Bagas Kara kepada Komandan Rayhan.


“Siap, Pak! Saya akan melakukan perintah Bapak. Mohon ijin untuk melakukan tugas.” Komandan Rayhan memberikan hormat.


“Silahkan!”


Beberapa pasukan TNI yang sudah pernah ikut berperang dan pasukan penembak jitu sudah dikumpulkan dalam lapangan. Bagas Kara dan juga Komandan Rayhan melakukan breafing sebelum melakukan tugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Plakkk!” tanparan keras melayangke pipi Aletha.


Aletha merasa kesakitan, bahkan pipinya memerah bekas tamparan itu. Ujung bibirnya mengeluarkan bercak darah, membuat Keenan merasa murka saat kesadaran nya sudah penuh.


“Neng!” Teriak Keenan.


“Kenapa? Kamu mau menyelamatkan istrimu, Kapten? Oh tidak. Jangan sampai kamu menyelamatkannya, karena itu tidak seru dalam permainan ku. Kamu harus merasakan sakit... dan perlahan kamu akan mati karena tersiksa hati. Ha... ha... ha...”


Tawa itu menggema dan Keenan ingin sekali memberikan tinjuan ke bibir Yohan. Dan amarah begitu memuncak sampai ubun-ubun. Namun, Keenan tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Aletha. Karena kedua tangannya diikat ke atas. Bahkan beberapa pukulan di perut dan wajahnya membuat Keenan sedikit kehilangan tenaganya.


“Lihatlah Kapten, kamu saja tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu... bagaimana bisa kamu menyelamatkan istri tercintamu itu.”


“Dengar Kapten, ini akibat kamu sudah coba-coba mengusik kehidupanku. Aku... juga merasa tidak terima dengan perbuatan mu itu yang sudah menangkap Bayu. Dan kamu juga sudah membuat luka yang dalam kepada kakak perempuanku.” Yohan menatap tajam Keenan.


Yohan kembali memberikan tinjuan di perut Keenan. Yang membuat Keenan seketika meraung kesakitan, tetapi lebih sakit saat melihat Aletha harus disiksa.


“Lepaskan Dia! Kamu hanya mengincar ku, jadi... lepaskan Dia sekarang juga.” Teriak Keenan dengan netra yang tajam.


“Tidak. Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan memberikanmu kejutan, Kapten Keenan.” Yohan tersenyum semirk.


“Ha... ha... ha... itulah akibatnya sudah mengusik kehidupanku. Dan aku sebagai ketua asli The black, ya... kamu perlu tahu Kapten, namaku The Black. Aku lah yang sudah menyelundupkan barang-barang terlarang itu ke Indonesia, dan akulah yang membunuh para wanita untuk kujadikan penghasilan ku.”


Keenan sukses dibuat geram dengan perbuatan Yohan. Tapi ia hanya bisa melihat dirinya dalam kebodohan, tidak bisa berbuat apapun untuk sekedar melepas tali yang mengikat kedua tangannya di sisi kanan dan juga kiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aww!” rintih Aletha saat mulutnya telah dibuka paksa dari penutupnya.


“Aku berikan sedikit kebebasan untuk kamu berbicara. Sekarang, kamu benar-benar tidak bisa menjadi jagoan seperti waktu penyelamatan sandera kala itu, Dokter Aletha yang cantik.” pekik Yohan.


Aletha merasa sedikit lega setelah mulutnya terbebas dari bungkaman. Namun, siksaan yang dilakukan anak buah Yohan tidak berhenti disitu saja, Aletha dipaksa untuk berjalan dengan langkah yang cepat. Lalu meminta Aletha untuk naik ke sebuah mobil yang cukup mewah, akan tetapi tidak tahu mobil itu akan membawa Aletha kemana.


‘Itu... seperti Lettu Garda...’ batin Aletha.


Garda dan dua pasukannya masih mencoba mengikuti anak buah Yohan yang akan membawa Aletha entah kemana. Dengan kendaraan yang ada Garda dan rekannya segera melakukan aksi diam-diam.

__ADS_1


“Lapor Komandan, kita sedang mengikuti kelompotan penjahat itu yang membawa Dokter Aletha.” Ucap Garda kepada Komandan pasukan.


“Laporan saya terima. Disini Brigjen Bagas Kara sedang membangun pasukan untuk membantu kalian. Dan nanti jika sudah ada kabar lagi segera melapor.”


“Siap, Komandan.”


Panggilan di akhiri, beberapa sepasang mata elang telah menajamkan pandangan mereka. Karena kali ini mereka harus menuntaskan akar dari dalang dibalik semua itu. Penjahat kelas kakap sekaligus bandar besar kali ini harus benar-benar mereka tangkap dengan tuntas. Agar tidak ada lagi lenyusuoan barang terlarang dari luar negeri ke dalam negeri.


“Bruummm... Bruummm...”


Motor trail milik Garda dan Brian berhenti di pinggir hutan.


“Mengapa mereka membawa Aletha masuk ke hutan? Apa...” Garda menggantungkan ucapannya ke udara.


“Pasti di tengah hutan ini Kapten di sandera. Kalau begitu kita berpencar,”


“Tunggu! Jangan berpencar terlebih dahulu, karena kita tidak tahu seberapa banyak pasukan mereka nanti. Kita membutuhkan bantuan untuk menghadapi mereka jika saja mereka menyiapkan pasukan yang lebih banyak daripada waktu itu.”


Brian dan Naina menyetujui apa yang diucapkan Garda. Dan kini mereka mengendap-endap untuk mengikuti pasukan penjahat itu yang membawa Aletha masuk ke hutan belantara. Hutan yang sangat menyeramkan jika manusia biasa yang tidak mengerti akan taktik pasti bisa mati di tempat. Karena di hutan Kalimantan terkenal akan ular berbisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kalau jalan cepat sedikit!” teriak salah satu penjahat itu.


“Aku lelah, tolong jangan paksa aku!” pinta Aletha dengan lirih.


Penjahat itu tidak peduli dengan permintaan Aletha, yang ada mereka semakin menarik lengan Aletha untuk berjalan lebih cepat. Bahkan Aletha sampai terseok-seok saat berjalan. Dan sesekali Aletha mengelus perutnya yang masih datar, merasa sedikit nyeri saat perjalanan ke tengah hutan.


”Tolong jangan perlakuan saya seperti ini! Saya sedang hamil muda, kasihani saya!” Ujar Aletha sedikit bergetar.


“Diam! Lebih baik ikuti saja kami, masuk ke dalam!” teriak penjahat itu sambil mendorong tubuh Aletha masuk ke sebuah rumah yang sengaja dibangun di tengah hutan. Bahkan rumah itu di desain dengan sangat indah, membuat diri berdecak kagum saat melihat isi di dalamnya. Seperti kata mbak penulis, rumah itu di penuhi properti yang unik, dijamin harganya mahal.


“Bruukk!”


Tubuh Aletha tersungkur ke lantai dan tepat di hadapan Keenan.


“Neng!”


Aletha segera berdiri, sepasang matanya tidak bisa menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Ingin rasanya Aletha segera menenggelamkam kepalanya ke dalam dekapan Keenan. Namun, belum sempat Aletha menyentuh wajah Keenan, justru penjahat itu menarik kembali tubuh Aletha.


“Yohan! Hadapi aku, jangan siksa Aletha.” Keenan geram.


“Oh, Kapten. Tidak, aku tidak akan menyiksa istrimu ini. Karena yang harus aku siksa itu kamu. Ha... ha... ha...”


Tawa itu kembali menggema, memenuhi seisi ruangan itu. Dan membuat Keenan semakin merasa geram saat pisau yang tajam telah melukai pipi Aletha, sehingga membentuk goresan dan bahkan darah segar telah mengucur di pipinya.


“Aww...” rintih Aletha.


Hati Keenan semakin tersiksa, seakan pisau tajam itu telah menciptakan luka yang begitu dalam dan menghunus dengan tajam.


“Neng...” teriak Keenan.


Keenan menangis, karena ia merasa tidak bisa menjaga Aletha dengan baik. Dan janji yang dulu pernah diucapkannya tiba-tiba memutar kembali dalam pikirannya.


“Aa harus kuat... dan Neng yakin, Aa bisa menjaga Neng dari mereka. Disini ada kita yang selalu bersama dengan Aa.”


“Kita? Maksud Neng?”


Aletha tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan pergerakan tangan yang memegang perutnya. Dan ketika Keenan bertanya untuk memastikan melalui gerakan, Aletha kembali menjawab dengan anggukan.


‘Alhamdulillah Ya Allah, semoga Engkau selalu menjaga mereka. Dan berikanlah hamba kekuatan untuk melawan mereka.’


“Jika ingin membunuhku, berikan aku sepuluh batang coklat terlebih dahulu. Andai kalian tahu, aku merasa sangat lapar. Jadi... biarkan aku merasa kenyang sebelum kematian merenggut nyawaku.” Ujar Keenan dengan nada datar.


“Ngomong apa kamu ini, Kapten? Ngomong kok tidak jelas.”


“Heh, kuping kamu budeg apa. Aku sudah bilang kan, aku minta sepuluh batang Co... Klat.”


Yohan meminta anak buahnya untuk mencari sepuluh batang coklat, sesuai yang diminta oleh Keenan. Dan tidak lama kemudian anak buah Yohan kembali dengan membawa sepuluh batang coklat. Setelah itu Yohan memberikan sepuluh batang coklat itu kepada Keenan.


“Bodoh! Apa kamu tidak bisa melihat tanganku kamu ikat, hah? Cepat lepaskan dulu ikatannya, setelah itu aku bisa makan.” Pinta Keenan dengan nada datar.


”Kapten, jangan coba-coba membodohi kami. Mengerti!” gertak Yohan.

__ADS_1


Keenan sama sekali tidak merasa takut dengan gertakan Yohan, bahkan Keenan begitu santai. Tidak seperti tadi, saat jauh dengan Aletha dan hanya bisa melihat melalui video call saja.


”Yang mau menipu kamu itu siapa, atau... kamu mau menguapiku makan coklat itu? Jika tidak mau, maka lepaskan ikatannya.”


“Dan oh iya, aku mau... buang air kecil. Boleh numpang ke toilet tidak? Pasti ada kan, toilet di rumah segede ini?”


Yohan geram dengan permintaan Keenan, tetapi Keenan tetap bersikap biasa saja. Entah taktik apa yang sedang dimainkan Keenan untuk mengelabui musuhnya. Yang pasti netra elang Keenan tidak hentinya memberikan tatapan penuh cinta kepada Aletha.


“Aku disini, you jump I jump.” Ujar Aletha tanpa suara.


Keenan hanya memberikan anggukan untuk meyakinkan Aletha.


“Jangan menangis dan jangan takut, aku disini untuk melindungi kalian.” Ujar Keenan tanpa suara.


Aletha membalas dengan anggukan penuh kemantapan.


Tidak ada pilihan lain, Yohan pun meminta anak buahnya untuk membuka tali yang mengikat kedua tangan Keenan dengan posisi terlentang, daripada Keenan akan buang air kecil di depannya.


Setelah kedua tangannya terlepas dari jeratan tali itu, Keenan memunguti sepuluh batang coklat yang berserakan di lantai, lalu Keenan meminta petunjuk untuk menuju ke toilet. Dan Yohan yang tidak ingin dibodohi oleh Keenan meminta anak buahnya untuk mengikuti Keenan kemana Keenan melangkah.


“Ini kemana?”


Anak buah Yohan hanya mengarahkan telunjuknya untuk memberi titah kepada Keenan.


”Eh tunggu dulu, aku mau makan satu batang coklat sebelum buang air kecil.” Pinta Keenan yang membuat anak buah Yohan berdecak kesal.


“Cepat sedikit makannya!” Gertak anak buah Yohan.


Keenan tidak memperdulikan apa yang dipikirkan anak buah Yohan, ia tetap menikmati coklat yang melumer saat masuk ke dalam mulutnya. Dan satu batang coklat telah habis juga.


‘Kenapa tidak ada lubang cahaya sedikitpun di dalam toilet ini? Membuat pengap saja.’


Keenan menyapu pandangannya, mencari lubang cahaya yang ada di dalam toilet itu. Dan akhirnya menemukan sebuah lubang yang cukup untuknya memberikan tanda kepada pasukan berani mati lainnya. Jika saja mereka berhasil mengikuti Aletha sampai ke tempat itu.


‘Semoga berhasil.’


Keenan menarik gagang pintu untuk membukanya dan di luar sana anak buah Yohan masih dengan setia menunggu Keenan keluar. Dan setelah itu Keenan diminta kembali masuk kendalam ruangan penyekapan.


“Akhirnya kamu kembali juga, Kapten. Dan aku akan kembali melakukan permainan ku yang tengah berhenti karenamu.”


“Kamu mau apa? Tunggu!”


Keenan mencegah Yohan saat pisau yang tajam hampir menorehkan luka di pipi Aletha lagi. Dan entah apalagi yang akan dilakukan Keenan untuk melindungi Aletha.


“Bukan seperti itu cara memegang pisau lipat. Sini... aku akan ajarkan kamu cara bermain yang tepat.”


Dengan bodohnya Yohan memberikan pisau itu kepada Keenan. Dan dengan gerakan cepat Keenan menorehkan luka di pipi Yohan dengan gerakan menyilang. Seketika itu pula Yohan meraung kesakitan, darah segar pun mengucur di pipinya.


“Kamu... berani sekali membodohiku, Kaptan Keenan.” Teriak Yohan dengan geram.


Yohan mengerutkan rahangnya, api kemarahan telah berkobar dalam jiwanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita lihat dari posisi samping, karena kita tidak bisa langsung masuk begitu saja. Akan lebih berbahaya untuk kita dan juga Kapten seeta Aletha. Karena jika mereka tahu keberadaan kita... bisa saja mereka akan semakin jauh membawa Kapten dan Aletha.”


Ujar Garda yang dinggguki oleh Brian dan Naina. Dan ketiga pasukan berani mati kembali berjalan mengendap-endap melalui sisi samping kanan rumah itu.


“Kresek!”


Garda tidak sengaja menginjak sesuatu yang menimbulkan bunyi. Dan dengan segera ketiga pasukan berani mati bersembunyi sebelum keberadaan mereka diketahui oleh Yohan dan anak buahnya.


“Apa ini? Hanya bungkus coklat batang. Apa mereka tidak ada makanan lain selain coklat. Seperti anak kecil saja.” Pekik Brian.


“Tunggu... sampah bungkus coklat batang ini bukan sampah sembarangan.” Ujar Garda setelah melihat sisi balik dari sampah itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ikat tangannya kembali! Jangan sampai Kapten ini membodohi kita.”


“Dorr...”


Saat anak buah Yohan bergerak dan hampir mengikat kembali tangan Keenan, tiba-tiba saja suara tembak yang mengudara telah terdengar. Dan anak buah Yohan pergi dari tempat itu untuk memastikan siapa yang berada di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2