
“Takdir dan jodoh tidak mungkin Allah salah dalam menentukannya. Karena takdir dan jodoh sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz sejak alam semesta belum tercipta.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua masalah teratasi dengan baik, dendam yang membara telah luntur. Hati Bagas telah meluruh, ia merasa bersalah dengan apa yang baru saja diperbuat. Kerusuhan yang membuat semua pengunjung rumah sakit merasa takut.
Dan setelah hati Bagas mereda barulah Aletha dan Arga mengantar Bagas menuju ke ruangan Cinta. Di sana terlihat Cinta tengah terbaring lemah tidak berdaya. Di sisi brankar Cinta ada Nyonya Mourisa yang duduk menemani Cinta.
“Dokter Aletha... bagaimana keadaan di luar sana? Apa ada yang terluka?” tanya Nyonya Mourisa menyambut datangnya Aletha.
“Alhamdulillah, tidak ada yang terluka kok, Bu. Dan... ada yang ingin bertemu dengan Bu Mourisa sekaligus Cinta.” Aletha menatap Cinta seraya menyunggingkan senyum.
“Siapa itu, Dok? Karena saya rasa... kerabat dekat tidak ada yang tahu jika Cinta sedang berada di rumah sakit.” Nyonya Mourisa merasa bingung, menerawang jauh siapa yang ingin bertemu dengannya.
“Pak Bagas, silahkan bicara dan katakan kepada mereka apa maksud kedatangan Anda.”
“Baik, Dok.” Bagas mengangguk, sedikit maju agar lebih dekat dengan Nyonya Mourisa dan Cinta.
Nyonya Mourisa dan Cinta menatap nanar Bagas yang berdiri di hadapan mereka, karena bagi mereka Bagas adalah orang asing yang memang tidak dikenal. Bahkan melihat wajahnya saja baru kali pertama itu, sehingga Nyonya Mourisa dan Cinta hanya saling tatap untuk mengingat siapa lelaki yang berdiri di depan mereka itu.
“Cinta tidak tahu, Mom.” Cinta hanya menggelengkan kepala tanpa suara.
“Anda siapa, Pak? Apa Anda mengenal kami?” taya Nyonya Mourisa mengawali percakapan.
Hening...
Bagas merasa ragu untuk mengucapkan kata maaf kepada Nyonya Mourisa dan Cinta, karena Bagas baru tahu jika kejahatan hanya Mr. Juan saja yang melakukan kejahatan keji, sedangkan istri dan kedua anaknya hatinya begitu lembut.
“Saya Bagas, Bu. Saya... tidak terlalu mengenal Anda, tetapi saya sangat mengenal suami Anda dan begitu juga dengan kejahatannya.”
“Deg...”
Nyonya Mourisa dan Cinta terkejut, mereka berpikir kejahatan apalagi yang sudah dilakukan Mr. Juan kepada Bagas atau dengan siapapun.
“Maaf sebelumnya, tapi... kejahatan apa yang sudah suami saya lakukan kepada Anda? Apa itu berhubungan dengan ... nyawa?” tanya Nyonya Mourisa memastikan.
Hening...
Bagas merasa lidahnya kelu dan kaku untuk mengatakan iya, di mana putri semata wayangnya sudah menjadi korban atas perbuatannya sendiri yang menjadi anggota anak buah rentenir dan juga pekerjaan lain di bawah naungan Mr. Juan.
“Katakanlah, Pak! Karena saya akui suami saya memiliki hati yang keji. Yang seharusnya sudah masuk ke penjara, tetapi keberuntungan selalu berpihak kepadanya. Hingga sampai detik ini polisi belum mengetahui keberadaannya.” Binar mata Nyonya Mourisa berubah menjadi sendu, terlihat di dalam sana ada kekecewaan yang amat dalam terhadap Mr. Juan.
“Pak Bagas salah satu anggota anak buah Daddy, Mom. Beberapa hari lalu pak Bagas meminjam uang kepada Daddy, tetapi... saat waktu yang ditentukan oleh Daddy untuk membayar Pak Bagas belum ada uang. Hingga amarah menyulup hati Daddy dan menembak putri pak Bagas sampai meninggal di tempat.” Arga merasa tidak tahan, hingga ia pun menjelaskan seberapa keji Mr. Juan terhadap orang lain.
“Astaghfirullah hal azim...”
Nyonya Mourisa dan Cinta seketika terkejut, entah sudah berapa kali Mr. Juan melakukan aksi pembunuhannya terhadap orang lain. Nyonya Mourisa menangis tergugu, rasanya ia tidak tahan tinggal dengan suaminya itu. Bahkan jika Nyonya Mourisa melakukan sedikit kesalahan saja seketika ia mendapatkan pukulan dari Mr. Juan. Arga yang melihatnya pun merasa tidak tega, beberapa kali mengajak Nyonya Mourisa dan Cinta untuk pergi dari rumah mewah Mr. Juan dan juga kehidupannya. Namun, keadaan yang tidak memihak mereka, karena penyakit yang diderita Cinta harus mengeluarkan biaya yang amat mahal. Dan mau tidak mau Nyonya Mourisa dan Cinta tetap tinggal di sana.
“Apa salahku Ya Allah? Kenapa Engkau takdirkan aku menjalani hidup seperti ini?” tanya Nyonya Mourisa dalam tangisnya.
“Bu Mourisa, Anda seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu. Takdir dan jodoh tidak mungkin Allah salah dalam menentukannya. Karena takdir dan jodoh sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz sejak alam semesta belum tercipta.”
“Dan Bu Mourisa harus ingat, Allah juga tidak pernah salah dalam menguji pundak umat-Nya yang dirasa itu amat kokoh. Saya yakin, dengan setianya Bu Mourisa di dekat Pak Juan, Allah akan mengubah pintu hatinya. Dan Bu Mourisa juga jangan kendor untuk selalu meminta Allah mengubah hati Pak Juan yang amat keji melalui jalur langit. InsyaAllah, Allah akan membolak-balikan hati Pak Juan untuk berpikir dengan otak yang dingin.” Aletha mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum.
Arga semakin merasa kagum dengan Aletha, karena jarang sekali dokter yang merangkap segala sesi. Bahkan aksi Aletha melumpuhkan dan meluluhkan hati Bagas saja Aletha bisa dengan mudah, jika itu orang lain mungkin hanya bisa memasang wajah takut dan berujung menangis.
Saat masih mengobrol ringan dengan Nyonya Mourisa, Bagas, Cinta dan Arga, tiba-tiba Aletha mendapatkan panggilan melalui jalur telepon.
“Tring... Tring...”
__ADS_1
Aletha segera memencet tombol terima setelah tahu nama siapa yang berada dibalik layar ponselnya.
“Assalamu'alaikum, Ma.”
“Wa'alaikumsalam, Nak. Mama mau kasih tahu ke kamu kalau Mama dan yang lainnya sedang berada di ruangan kerja kamu. Kamu di mana sekarang? Alina menangis sedari tadi, membuat Mama dan bu Laila menjadi takut saja.” Suara Mama Nina di penuhi dengan rasa kepanikan.
“Baiklah, Aletha akan segera pergi ke ruangan. mama tunggu saja, ya!”
Sambungan obrolan yang melalui udara telah di akhiri, setelah itu Aletha berpamitan dengan Nyonya Mourisa, Cinta, Bagas dan Arga. Dan tidak berlangsung lama Bagas ikut berpamitan, ia tidak mau mengganggu istirahat Cinta yang memang membutuhkan waktu untuk memejamkan mata walaupun hanya beberapa jam saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum,” ucap salam Aletha setelah masuk ruangan.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Mama Nina, bu Laila, dan Larisa hampir bersamaan.
Aletha seketika menyalami tangan Mama Nina dan bu Laila. Setelah itu beralih ke Alina yang direbahkan di atas kereta dorong nya.
Aletha menggendong Alina dan segera menyusuinya. Karena sudah hampir tiga jam lamanya Alina tidak minum ASI setelah Aletha memberikan ASI nya pada jam satu siang. Sebelum pergi Aletha memeras air susu ASI nya lalu diletakkan di dalam wadah dan setelah itu dimasukkan ke dalam kulkas, saat memberikan kepada Alina Mama Nina harus merebus kembali susu itu untuk dihangatkan.
Cukup lama Alina meminum ASI Bundanya, setelah itu ia pun bisa tertidur dengan pulas lagi. Mama Nina dan bu Laila bedak pergi keluar dari rumah sakit untuk sekedar membeli makanan yang pas menjadi santapan makan malam nanti. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dan senja pun telah menghilang, cahayanya yang terang sudah tak nampak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Malam ini kita harus bersiap-siap, Garda. Mintalah kepada warga untuk mengunci pintu rumah mereka.” Keenan memikirkan kembali strategi yang akan dilakukan malam itu saat berpatroli di Kabupaten Yahukimo, tempat awal mereka dalam bertugas.
Motor matic yang memiliki merk honda scoopy sudah dipanaskan mesinnya oleh Garda. Sedangkan Keenan menyiapkan senjata tajam yang harus dibawa saat berpatroli untuk berjaga-jaga saja. Dan setidaknya mereka membawa dua pistol dan satu pisau lipat.
Setelah mendapatkan kabar bahwa anggota polri sudah siap siaga di daerah Dekai, Kabupaten Yahukimo, Keenan dan Arga siap berangkat untuk menyusul kesana. Keenan berada di depan dan Garda berada di jok belakang, kursi bonceng.
“Garda, jangan lupa kamu pegang bajuku! Aku takut nanti kamu terjungkal ke belakang.” Keenan siap menekan pedal gas untuk melajukan motor scoopy nya dengan kecepatan tinggi.
Tuh kan, mulai lagi aksi kocaknya sang militer. Wkwkwk
Keenan dan Garda siap untuk melakukan patroli malam itu yang ditemani oleh beberapa anggota polri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ya Allah, aunty... jadi tadi ada aksi seperti itu di rumah sakit?” pekik Larisa.
Larisa menatap tajam layar ponselnya saat melihat video yang dikirimkan salah satu temannya tentang aksi Bagas tadi siang. Membuat kehebohan dan ketakutan seisi rumah sakit.
Larisa terkejut saat tahu Aletha dijadikan sandera oleh Bagas, tetapi Larisa berdecak kagum setelah melihat Aletha dan Arga melumpuhkan Bagas dalam aksi kejahayannya.
“Jangan bilang siapa-siapa akan hal itu, terutama Mama dan bu Laila. Jika mereka tahu, aunty takut mereka akan melarang aunty bekerja. Sedangkan aunty tidak mau itu terjadi.” Aletha menatap tajam Larisa.
“Siap, aunty! Tapi... Arga hebat juga ya!”
“Jaga ucapanmu itu, Sa. Masih kecil juga sudah mau nge bucin. Belajar yang benar baru pacaran.” Aletha mencebik.
“Iya... iya...”
Saat Aletha masih asik dengan boneka mungilnya yang hidup, tetapi tengah tertidur tiba-tiba seorang suster mengetuk pintu, lalu mengatakan bahwa ada pasien yang benar-benar emergency dan harus segera dilakukan operasi.
“Sa, aunty titip Alina dulu ya! Aunty mau operasi pasien dulu!”
“Ok, siap, aunty.” Larisa mengacungkan jempolnya.
Aletha segera melihat kondisi korban yang katanya mengalamai kecelakaan di ruang UGD. Dan setiba di ruang UGD Aletha terhenyak, ia mendapati Maya yang sudah berlumuran darah di bagian kepala dan Maya juga mengalami pendarahan hebat.
__ADS_1
“Kak Maya? Apa yang terjadi dengan kak Maya?” tanya Aletha dengan sedikit panik.
“Dokter Maya mengalami kecelakaan, Dok.” Suster memberikan keterangan kepada Aletha seraya memasangkan jarum infus ke punggung tangan Maya.
“Terus, di mana Dokter Ilham? Apa Dia tahu dengan apa yang terjadi kepada Dokter Maya?”
“Dokter Ilham... ditugaskan Pak Dimas ke desa Cempaka Putih, Dok. Dan pukul empat sore tadi baru berangkat bersama Dokter ortopedi.”
Aletha mendesah, ia merasa takut jika akan terjadi sesuatu terhadap Maya dan juga bayinya setelah mengingat pendarahan yang cukup hebat.
“Suster, tolong periksa denyut nadinya. Saya mau menghubungi Dokter kandungan terlebih dahulu.” Aletha bergerak cepat untuk menghubungi Luna.
Karena kesibukan dalam bidang masing-masing Luna tidak tahu jika ada telepon dari Aletha. Sift di malam hari membuat Luna begitu sibuk dengan pasien yang dijadwalkan operasi caesar. Sekitar lima orang yang harus di operasi malam itu, sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
“Kemana sih kamu, kak? Tahu tidak jika keadaannya sangat emergency.” Aletha mendengus kesal, Luna tetap saja tidak menerima panggilannya.
“Suster, tolong panggilkan Dokter kandungan sekarang juga, karena kita harus berdiskusi dengan ahlinya tentang masalah ini. Dan katakan kepada Dokter kandungan jika ini sangat darurat, tidak bisa ditunda.”
Suster mengangguk lalu sedikit berlari menuju ke ruangan dokter kandungan. Sedangkan Aletha, ia mulai membersihkan darah yang mengalir di kepala Maya sembari menunggu dokter kandungan dan dokter saraf tiba di ruang UGD.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan, Garda dan lima anggota polri mulai melakukan patroli di kabupaten Yahukimo. Saat berada di daerah Dekai mereka menemukan seseorang telah mengalami kecelakaan motor secara tunggal. Dan dengan segera mereka mendekat untuk memastikan korban kecelakaan itu masih bernyawa atau tidak.
“Pak, Anda bisa mencatat tugas Anda. Saya mencoba untuk mengecek keadaan korban.”
Kelima anggota polri itu membantu Keenan sesuai intruksi dari Keenan. Dan tugas pun telah selesai setelah mereka menyatakan korban kecelakaan telah meninggal dunia di tempat kejadian. Korban tersebut bernama Sega, di duga kecelakaan terjadi karena Sega yang masih berusia remaja itu belum mengenal betul tentang motor yang ditungganginya. Karena bisa dibilang Sega baru belajar motor dengan motor yang baru saja di belinya itu.
“Kita bawa saja ke rumah sakit untuk melakukan otopsi. Dan saya akan mencoba melacak nomor orang tuanya melalui ponsel ini.” Keenan mencari salah satu nomor anggota keluarga terdekat Sega.
Tidak lama kemudian mobil ambulans pun telah datang, dengan sangat hati-hati Sega di pindahkan ke atas brankar rumah sakit. Lalu di gotong untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulans khususnya mobil jenazah.
Keenan dan Garda kembali berboncengan untuk menuju ke tempat tinggal Sega dan menjelaskan kecelakaan berujung maut yang di alami Sega kepada kedua orang tua Sega. Tempat tinggal Sega pun tidak jauh dari jalan Dekai, sehingga mempermudah Keenan dan Garda mencari rumah Sega.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam Keenan dan Garda bersamaan.
Setelah menunggangi motor scoopy selama dua puluh menit akhirnya Keenan dan Garda menemukan tempat tinggal Sega.
“Wa'alaikumsalam.” Terdengar suara seorang lelaki yang menjawab salam Keenan dan Garda dari dalam rumah tersebut.
“Maaf, siapa kalian?” tanya seorang lelaki paru baya setelah membuka pintu rumahnya.
“Permisi, Pak. Kami anggota TNI yang ditugaskan untuk berpatroli di Kabupaten Yahukimo. Dan pada saat kami bertugas kami menemukan sekiranya itu putra Bapak, Sega tengah mengalami kecelakaan di jalan Dekai. Dan korban dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Sekarang sedang dilakukan otopsi di rumah sakit.”
“Apa?”
Nampak pak Sowa benar-benar merasa terkejut. Bahkan tubuhnya pun merosot ke bawah dan hal itu mengundang seluruh keluarga keluar dari rumah.
“Bapak, ada apa, Pak?” tanya seorang wanita paru baya yang diduga itu istri dari pak Sowa.
“Buk... Sega Buk...” Pak Sowa menggantungkan ucapannya ke udara.
“Iya, Pak. Sega kenapa? Ada apa dengan anak lelaki kita?”
“Sega... Sega kecelakaan dan meninggal buk.” Pak Sowa tertutup, air mata tidak mampu dibendung lagi oleh Pak Sowa.
Istri pak Sowa seketika terkejut dan jatuh pingsan.
Bersambung...
__ADS_1