Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 106 “Khawatir Yang Berlebih”


__ADS_3

...“Janji? Untuk apa mengucapkan janji jika belum tentu bisa menepatinya? Biarkan waktu yang akan terus berjalan dengan sendirinya, jika dipertemukan kembali ya syukur... jika tidak cukup dikenang saja.” ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Semangat, Larisa” teriak Aletha.


Aletha mengangkat tangannya memberi semangat untuk Larisa. Dan saat Larisa melihat Aletha yang memberikan semangat untuknya seketika rasa nervous nya hilang. Kini Larisa bersiap untuk segera melompat ke air setelah hitungan ketiga.


Satu...


Dua...


Tiga...


“Byurrr...”


Larisa akhirnya terjun juga ke kolam renang dan seketika sorakan dari seluruh penonton terdengar riuh memekik telinga. Dan hal itu membuat Aletha mengenang masa remajanya dulu. Selalu memenangkan seluruh perlombaan terutama dalam lomba menembak jitu. Aletha selalu mendapatkan juara satu karena tatapan tajam dari kedua matanya mampu membuat peluru meluncur pada sasaran yang tepat.


“Larisa...” teriak Aletha dengan kehebohan.


Dengan segala usahanya Larisa terus berenang dengan dua ratus meter. Dalam putaran kedua Larisa sudah mulai kelelahan, tetapi ia terus berjuang untuk mendapatkan juara dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tuanya.


Peserta yang lain pun juga tidak mau dikalahkan begitu saja, mereka semua tetap berusaha untuk menjadi nomor satu.


“Arrggg...”


Tiba-tiba Larisa menghentikan gerakannya dan membiarkan semua peserta lain mendahuluinya begitu saja. Aletha yang melihat keponakannya hanya diam tanpa adanya pergerakan lagi seketika rasa khawatir memenuhi dirinya. Karena Aletha merasa yakin jika terjadi sesuatu dengan Larisa. Dan rasanya tidak cukup jika hanya melihat keadaan Larisa dari kursi penonton saja.


“Larisa... aunty harap kamu tidak apa-apa.” pekik Aletha sambil menuruni anak tangga.


Karena tidak ada pergerakan dari Larisa selama sepuluh menit, dewan juri pun meminta tim penolong untuk melihat kondisi Larisa dan memastikan apa yang terjadi dengan peserta dengan nomor induk 356.


“Larisa, ada apa? Kenapa kamu tidak melakukan pergerakan?” tanya guru pendamping Larisa.


“Kaki saya sepertinya kram, Pak. Sakit untuk digerakkan.” Binar mata Larisa memperlihatkan kekhawatiran.


‘Kenapa dengannya? Apa mungkin Dia ...’


“Peganglah tanganku untuk membawamu ke pinggir kolam. Jika tidak, kakimu tetap saja kram seperti itu.” Seorang lelaki remaja tengah mengulurkan tangannya untuk membantu Larisa.


Karena sudah merasa sangat sakit di kakinya, tanpa adanya penolakan Larisa mengikuti perintah lelaki itu. Hingga akhirnya Larisa mampu diberi pertolongan setelah lelaki itu membawa ke pinggir dan meminta Larisa untuk meluruskan kakinya sekitar dua puluh menit.


“Tunggu sampai tim medis mengangkat tubuhmu dengan tandu.” Lelaki itu pergi dan membiarkan Larisa menatapnya begitu saja.


Aletha terus berlari dan tidak mempedulikan lagi bagaimana jalan di area perlombaan itu. Dan saat dipinggir kolam Aletha terpeleset karena terlalu banyak percikan air dari peserta lomba yang membawa air itu dan membuat licin lantainya. Seketika Aletha merasa pusing setelah kepalanya terbentur dengan keras. Bahkan perlahan kedua mata Aletha terpejam, ia pun jatuh pingsan.


“Aunty...” teriak Larisa.


Ingin rasanya Larisa berlari menghampiri Aletha yang tergeletak di depannya tetapi, kakinya masih belum bisa digerakkan. Hanya tagis pilu yang mampu mewakili rasa khawatirnya terhadap kondisi Aletha. Bahkan kedua mata Larisa terbelalak saat melihat darah segar mengalir di kaki Aletha.


“Tidak, jangan sampai Aunty Aletha mengalami keguguran.” Larisa berusaha untuk berdiri.


Semua orang turun dan mengerumuni Aletha, dengan segera Aletha dibawa ke rumah sakit untuk diberi pertolongan. Larisa pun ikut ke dalam mobil ambulans yang ditemani oleh Arga. Hanya mereka berdua lah yang menemani Aletha sampai rumah sakit Siloam Hospitals.


“Wiu... Wiu... Wiu...”


Anggap saja suara sirine ambulans seperti itu ya kawan! Wkwkwk


Setiba di rumah sakit perawat segera menyambut korban dengan membawa brangker. Lalu tubuh Aletha dipindahkan ke atas brangker itu dan dibawa ke ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan. Larisa dan Arga hanya bisa menunggu di depan ruang UGD.


“Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan aunty, Ya Allah? Tolong selamatkanlah aunty Aletha dan bayinya.” Larisa mondar-mandir di depan pintu UGD.


“Tolong duduklah! Jika kamu melakukan hal itu malah membuatmu merasa gelisah dan juga membuatku... jengah.” Arga menatap Larisa.


“Apa katamu, jengah? Lihatlah, aunty ku sedang berada di dalam sana dan aku tidak tahu dengan apa yang terjadi bahkan aku tidak tahu bagaimana saat ini kondisi aunty Aletha. Aku itu sedang khawatir.” Air mata Larisa luruh begitu saja.


Arga menghembuskan nafas beratnya, lalu ia berdiri tepat di depan Larisa. Arga sedikit menunduk dan tatapannya mengunci netra Larisa. Dan dua anak remaja itupun saling beradu tatap.


“Aku juga merasa khawatir dengan kondisi kak Aletha. Apa kamu tahu siapa aku?”

__ADS_1


Larisa menelisik wajah Arga sampai akhirnya ia pun mengenali siapa lelaki yang berada di hadapannya saat ini.


‘Dia... Arga.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa? Lalu bagaimana kondisi Aletha?”


“Aletha mengalami pendarahan hebat, sehingga janin yang ada di dalam kandungannya mengalami bahaya.” Terang Luna yang melalui udara.


“Papa akan segera datang tapi... sendiri.”


“Bagaimana dengan Keenan, Pa? Apa Dia sudah tahu?”


“Papa akan memberitahukan kepadanya nanti. Karena Dia sedang menjalani latihan di hutan dan dapat dipastikan di sana tidak ada sinyal.”


Luna manggut-manggut, mengingat kondisi Aletha yang membutuhkan banyak darah membuatnya memiliki rasa sesal yang amat menyesakkan dada. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Larisa atas kejadian ini setelah mengetahui kronologis kejadian dari cerita guru pendamping Larisa yang ikut mengantar Aletha.


“Bagaimana kondisi aunty, Bunda? Aunty Aletha tidak apa-apa, kan?”


“Maafkan Bunda, Bunda harus bertugas untuk menyelamatkan aunty mu dan bayinya. Kamu tunggu di sini saja, kakek akan segera datang.” Luna kembali bekerja.


Dan setelah mendengar bahwa Bagas Kara akan segera datang, Larisa semakin merasa bersalah dan takut. Bahkan rasanya begitu campur aduk, membuat pikirannya tidak tenang sama sekali.


“Jangan bersedih seperti itu, serahkan saja semuanya kepada Allah. Allah itu Maha dari segala Maha dan hanya Dia lah yang mampu membolak-balikan keadaan.” Arga mengulas senyum.


“Gantilah pakainmu dengan baju ini, takut masuk angin nanti.” Arga menyodorkan satu kantong plastik yang berisi pakaian kering.


Larisa mengangguk, tetapi ia semakin dibuat bingung dengan Arga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Pa, Aletha harus segera melakukan operasi caesar. Dan kita tidak bisa memutuskan hal itu sendiri, harus ada Keenan yang sebagai suami Aletha.”


“Papa akan berusaha untuk menghubunginya.”


Luna mengangguk, sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya. Dan Bagas Kara sibuk dengan ponselnya, ia berusaha untuk menghubungi nomor Keenan tetapi tidak terhubung. Hal itu semakin membuat Luna gelisah, karena jika Keenan tidak segera datang maka akan dipastikan kondisi Aletha dan janinnya bisa mengalami bahaya yang berujung kematian.


Kedua alis Keenan terpaut, tiba-tiba dadanya merasa sesak dan rasa khawatir singgah begitu saja. Membuat Keenan merasa tidak tenang melakukan segala aktivitasnya yang masih di pinggir hutan.


Dan Keenan segera menghubungi kembali Bagas Kara untuk memastikan apa yang terjadi. Bila saja ada tugas yang mendadak untuknya. Jalur telepon pun tersambung, tanpa basa-basi lagi Bagas Kara menjelaskan kondisi Aletha saat ini.


“Aletha, kenapa hal ini bisa terjadi?”


Keenan melajukan motor sport nya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit. Dan hati Keenan merasa resah saat ia harus memilih di antara dua pilihan yang sulit. Membuatnya ingin dikubur hidup-hidup agar tidak mengalami hal yang tidak diinginkan. Namun itu mustahil terjadi, karena ia adalah seorang tentara yang harus bisa menjalani semuanya dengan ketagaran. Hingga akhirnya ia pun memutuskan yang menjadi pilihannya.


“Bismillah, Keenan akan menandatangani suratnya. Dan kak Lina, Keenan akan serahkan semuanya kepada kak Luna. Jika ada harapan untuk menyelamatkan anak kami, tolong selamatkanlah!”


Luna pun mengangguk pelan, setelah itu ia mengumpulkan tim nya untuk segera melakukan operasi caesar. Dengan kelengkapan yang sudah disiapkan, tim medis pun mulai melakukan pembedahan di perut Aletha. Dan saat Luna mampu memperkirakan yang baik untuk Aletha dan bayinya, dengan sisa waktu yang ada dan kondisi Aletha akhirnya bayi itu dapat diselamatkan juga.


“Oek... Oek... Oek...”


Suara tangis haru seketika singgah dalam keluarga besar Bagas Kara setelah mendengar suara tangis bayi yang begitu melengking memenuhi seisi ruangan. Membuat Keenan ikut menangis saat anak pertamanya telah lahir dengan berat badan hanya tiga ons. Sangat kurang dari perkiraan dokter.


“Keenan, tolong adzan kan bayimu agar perawat segera membawanya ke ruang inkubator.” Luna memberikan bayi mungil itu ke dalam gendongan Keenan.


Keenan dengan segera menyerukan adzan di telinga kanan bagi mungilnya. Setelah itu Keenan kembali memberikan bayi itu ke dalam gendongan Luna.


“Keenan, siapa namanya?” tanya Luna.


“Namanya... Alina.” Keenan menyunggingkan senyum.


Alina Daena Mahendra adalah nama yang dipilih Keenan untuk putrinya. Yang memiliki arti sutra dari surga dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Dan dibelakang Keenan selipkan dengan namanya, Mahendra. Karena itu adalah buah hatinya yang diberikan Allah dan untuk mengenang perjuangannya bersama Aletha melawan penjahat Keenan memutuskan untuk menyelipkan namanya.


Dan setelah itu Luna kembali fokus dengan Aletha, rasa lega pun dapat dirasakan Luna setelah Aletha mampu melewati masa kritis yang sempat mengkhawatirkan. Berita baik itupun telah di dengar oleh seluruh rumah sakit dan berkat doa dari mereka Allah mengabulkan doa orang baik , sehingga Allah memberikan kesempatan kedua untuk Aletha menjalani kehidupan yang baru.


“Alhamdulillah Ya Allah,” ucap Keenan.


Tak hentinya Keenan menyebutkan do'a di mushola rumah sakit, beribu doa ia langit kan agar Allah memberikan kehidupan yang baru untuk Aletha, dan hal itupun kini telah dikabulkan atas ketulusan cintanya. Dan tiada hentinya Keenan mengucapkan rasa syukur kepada Allah setelah mendapatkan kabar bahwa Aletha sudah melewati masa kritis.

__ADS_1


“Neng, Neng adalah wanita tangguh yang Aa kenal. Neng mampu melewati masa kritis, Aa sungguh berterima kasih kepada Neng yang sudah bertahan untuk Aa dan Alina.” Keenan mengecup kening Aletha.


Keenan hanya sendiri di ruang UGD itu karena semua orang dilarang masuk secara ber gerombolan. Dan pihak keluarga hanya meminta Keenan untuk masuk, karena bagi mereka Keenan lah sumber kekuatan Aletha untuk. segera sadar setelah melewati masa kritis.


“Tidak apa jika Neng belum bisa membuka mata untuk saat ini, Aa akan tetap menunggu.” Keenan merengkuh jemari Aletha.


Rasa nelangsa menyelimuti Keenan, ia tidak tahan melihat wanita yang dicintainya itu terbating lemah di atas brangker rumah sakit dengan beberapa alat yang menempel di tubuh Aletha. Namun tidak ada yang bisa Keenan lakukan selain tetap meminta kepada Allah dan meminta-Nya untuk menyadarkan Aletha segera.


“Makan dulu, Ke.” Bagas Kara menyodorkan sebungkus nasi uduk.


Bukan Bagas Kara tidak mampu membeli makanan mewah ataupun tidak menyayangi Keenan, tetapi seorang tentara harus siap makan apa saja dan itupun sudah termasuk makanan yang paling enak jika sedang bertugas. Mengingat Keenan dan pasukan berani mati. lainnya hanya makan ular saat bertugas di hutan.


“Nanti saja saya akan makan, Pak.” Keenan melangkahkan kaki.


Bagas Kara, Garda, Juan, Laura dan Luna hanya bisa menatap iba Keenan yang terlihat begitu nelangsa. Kesedihan yang begitu kentara membuat pasukan berani mati lainnya ikut bersedih, mengingat bagaiman perjuangan keduanya dalam melawan musuh. Dan Ilham setiap saat mendengar kalimat yang sering mereka ucapkan bersama. You jump i jump... itulah kalimat yang mengeratkan hubungan keduanya.


“Hiks... hiks... hiks...”


Keenan tidak bisa membendung air matanya lagi saat melihat Alina menggerakkan kaki dan tangannya. Bahkan sesekali bibirnya bergerak dengan smangat lucu.


“Apa Anda suami kak Aletha?”


Suara itu membuat Keenan seketika membalikkan tubuhnya. Wajahbyang begitu asing dari lelaki remaja yang kini berhadapan dengannya.


“Iya, tapi... siapa kamu?” tanya Keenan memastikan.


“Perkenalkan, saya Arga. Saya hanya seorang anak remaja yang pernah di tolong oleh kak Aletha. Sungguh, kak Aletha adalah wanita yang begitu tangguh dan pemberani. Saya bersyukur bisa mengenal kak Aletha. Dan... saya hanya ingin memberikan Anda ini.” Arga memberikan coklat batang kepada Keenan.


Hati Keenan kembali merasa pilu saat mengingat masa itu, masa yang indah dengan janji yang murni dari hati. Akan tetapi seringkali Keenan tidak bisa menepati janji itu, tidak bisa menjaga Aletha dengan baik seperti janjinya.


Satu gigitan masuk dan melumer di dalam mulut, Keenan menikmatinya. Lalu gigitan kedua, ketiga dan sampai habis. Keenan merasakan kerinduan terhadap Aletha dalam setiap gigitan coklat batang itu. Dan saat menikmati coklat batang pemberian Arga, obrolan ringan telah menemani mereka dan terpaksa terhenti ketika Larisa datang meng hampiri.


“Om Keenan... Arga...” panggil lirih Larisa.


“Ada apa Larisa? Apa terjadi sesuatu dengan Aletha?”


”Tidak kok, Om.” Larisa menggeleng. “Larisa hanya... mau minta maaf kepada Om Keenan karena hal ini sudah terjadi karena Larisa.”


“Tidak Larisa, ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir Tuhan yang memang harus terjadi. Sudah, jangan bahas hal ini lagi,”


Larisa mengangguk, rasa khawatir dan takut yang tadi sempat beradu menjadi satu dalam diri Larisa kini sedikit menghilang. Karena tidak ada sikap amarah dan menyalahkan dari dalam diri Keenan, bahkan Larisa mengakui bahwa Keenan adalah lelaki yang sholeh dan pas menjadi suami Aletha yang penyabar.


“Dan Terima kasih untuk kamu, Arga. Karena sebelum membantu aunty Aletha kamu mau membantuku. Sungguh... pertemuan ini adalah pertemuan yang indah. Maaf jika aku lancang, tapi... maukah kamu berjanji denganku?”


“Apa?”


“Janji untuk kita bertemu lagi.” Larisa mengangkat jari kelingking nya.


Arga hanya tersenyum tipis saat melihat Larisa mengangkat jari kelingking nya, yang seakan ingin mengikat janji dengannya. Namun, Arga tidak ikut mengangkat jari kelingking nya dan mengikat janji dengan Larisa. Bahkan Arga meninggalkan Larisa begutu saja. Hal itu membuat Larisa bedecak kesal. Yang awalnya memuji Arga kini justru membenci dan mengatainya dengan kata yang amat buruk.


“Dasar lelaki sombong. Tadinya aku kira aku akan mendapatkan seorang sahabat, tapi nyatanya... tidak. Dan aku sadar bahwa kamu tidak pantas menjadi sahabat ku, Arga.” Umpat Larisa.


Arga seketika menghentikan langkahnya setelah Larisa berteriak dengan kemarahannya, dan setiap kata yang diucapkan Larisa mampu ditangkap telinga Arga dengan sangat jelas. Begitu juga dengan Keenan yang mendengarnya seketika keluar dan berdiri di depan pintu ruangan Aletha untuk memastikan apa yang terjadi. Namun Keenan diam dan hanya melihat Arga sedang bersama Larisa.


Satu langkah...


Dua langkah...


Dan tepat di langkah ketiga barulah Arga mengudarakan suaranya.


“Janji? Untuk apa mengucapkan janji jika belum tentu bisa menepatinya? Biarkan waktu yang akan terus berjalan dengan sendirinya, jika dipertemukan kembali ya syukur... jika tidak cukup dikenang saja.”


“Dan kamu harus tahu... kita perlu sombong sebagai manusia, terutama kamu... wanita. Lagipula kita masih kecil, lalu untuk apa kita mengikat janji yang bisa saja kita lupa. Sedangkan janji suci orang dewasa saja bisa dilupakan dengan mudah, apalagi janji kita.”


Arga menggelengkan kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah tanpa menghiraukan lagi Larisa.


Larisa hanya terpaku, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Arga. Dan Keenan yang masih berdiri di belakang Larisa hanya menatap punggung Arga yang kian menghilang dan tidak terlihat lagi dalam pandangan Keenan.


‘Ku kira akan sama dengan apa yang aku alami dulu. Tetapi... ternyata berbeda. Dan itu mengundangku ingin mengenal siapa Arga.’ Rasa penasaran telah membuncah dada Keenan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2