
“Aku akan menjaganya sepenuh hatiku... sampai kamu kembali dengan keberhasilanmu. Rindu ini akan kupendam hingga tiba waktunya untuk bertemu. Akan aku tumpahkan dalam dekapanmu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pukul delapan Aletha membantu Keenan untuk menyiapkan apa saja yang diperlukan saat berada di luar kota. Karena sehabis subuh Keenan harus sudah berada di markas Taruna untuk melakukan absen. Jika tidak dipersiapkan malam hari maka akan tergesa-gesa di pagi harinya.
“Meskipun Aa' sedang bertugas di luar kota, Aa' minta kepada Neng untuk tetap bersinar terang seperti mentari. Menebar senyum seperti senyum pepsodent, biar gigi mengering pun jangan diperdulikan.”
Aletha seketika tertawa lepas, ia tidak bisa menahan tawanya saat Keenan meminta untuk terus senyum unjuk gigi. Yang ada malah di sangka gila, dokter yang tidak waras sudah nyasar di bagian dokter ahli bedah jantung.
“Emm... mau jalan-jalan atau tidak? Mumpung masih jam sembilan malam, besok sudah berpisah loh!” tawar Keenan.
“Memangnya Aa' tidak capek apa, besok kan sudah perjalanan jauh. Terus ada misi pula,”
“Neng, untuk menyenangkan hati seorang istri Aa' tidak akan pernah capek ataupun merasa lelah. Membahagiakan istri itu wajib, karena itu akan memperlancar segala urusan suami.”
“Kalau begitu ... bagaimana kalau kita ke Kota Tua? Neng tiba-tiba pengen kesana,”
“Baiklah, siap-siap sana gih!”
Tidak perlu menunggu lama lagi, Keenan langusng menekan pedal gas setelah Aletha siap. Karena Aletha tidak perlu berdandan secara berlebihan, cukup pakai gamis dan jilbab yang ia beli tadi dengan polesan make up sederhana.
Sepanjang perjalanan memang tidak ada obrolan di antara mereka, tetapi binar mata keduanya begitu kentara memperlihatkan kebahagiaan yang tiada tara. Dan Aletha terus melingkarkan tangannya ke lengan Keenan. Malam itu Aletha bergelatut manja, bagaikan pasangan remaja yang alay.
“Kita sudah sampai, Neng. Mau lanjut jalan-jalan atau duduk dulu, hmm?”
Aletha terdiam, tetapi pandangannya menyapu setiap pemandangan yang siap untuk ia jajaki malam itu. Dan sepasang mata Aletha menuju ke tempat penyewaan sepeda.
“Bagaimana kalau kita bersepeda saja Aa'? Lama sekali Neng tidak naik sepeda.”
Malam itu Keenan tidak ingin membuat Aletha bersedih sebelum cintanya di uji kembali dengan perpisahan. Dan Keenan selalu mengiyakan apa yang diinginkan Aletha malam itu, salah satunya bersepeda mengelilingi Kota Tua.
Keenan sengaja menyewa satu sepeda untuk dinaiki dua orang. Dan Keenan menikmati suasana romantis bersama Aletha, pujaan hatinya selama tujuh belas tahun.
“Masih mau lanjut, Neng?” tanya Keenan setelah mengayuh sepeda mengelilingi Museum Fatahillah.
Aletha mengangguk dengan senyum yang merekah, membuktikan bahwa Aletha benar-benar merasakan bahagia. Dan kembali Keenan mengayuh sepedanya mengelilingi Museum Wayang, lalu dilanjut Museum Keramik. Dan setelah mengelilingi ketiga Museum yang terkenal di Kota Tua, kini Keenan menghentikan sepedanya ke taman Fatahillah. Mereka duduk bersama di sana dan menikmati pemandangan taman Fatahillah di kala malam hari.
“Setelah bersepeda panjang Aa' jadi... lapar. Neng mau makan tidak?”
“Boleh, Aa'. Bagaimana kalau kita mencicipi kuliner yang ada disini?”
“Baiklah. Kalau begitu... ayo, Neng naik lagi ke sepeda dan Aa' siap mengayuh nya.”
Aletha terkekeh saat melihat keringat mengucur di pelipis Keenan. Dan dengan siap siaga Aletha mengusap lembut keringat itu. Hal kecil itulah yang selalu diharapkan Keenan saat Aletha masih jauh dalam dekapan.
Keenan mengembalikan sepeda yang di sewanya tadi. Karena Aletha ingin berjalan kaki saat menuju ke Cafe Batavia, sebagai pilihan dalam mencicipi kuliner di Kota Tua. Di mana di Cafe Batavia menyajikan beberapa kuliner barat dan Aletha memilih beef blackpepper untuk makan malamnya di sana, sedangkan Keenan lebih memilih makanan khas betawi yaitu, rendang. Karena Keenan ingin mencari makan yang aman saja, daripada salah makanan dari daging yang tidak halal atau udang yang akan membuatnya tepar.
__ADS_1
“Suka sama makanannya? Sampai lahap begitu.”
“Suka, Aa'. Begitu melumer di mulut Neng, membuat Neng pengen nambah. Boleh kan, jika nambah satu lagi?” Aletha nyengir.
Keenan selalu mengiyakan, meskipun ia sedikit merasa heran dengan porsi makanan Aletha yang banyak. Karena jarang sekali Aletha bisa makan dua piring sekaligus sampai habis pula. Belum tadi saat di rumah sudah makan seblak ceker satu mangkuk penuh.
‘Istri ku ternyata doyan makan juga.’
“Ramai ya Aa' disini, bagaimana kalau setelah dari sini lanjut ke ... Jembatan Kota Intan. Bagus tuh buat foto kenangan kita sebelum Aa' pergi bertugas selama tiga bulan.”
Langsung Keenan membonceng tangan Aletha dan berjalan kaki menuju ke Jembatan Kota Intan. Di sana Aletha membidik gambarnya bersama Keenan, dengan lampu-lampu menawan berwarna biru sebagai penghias di jembatan tersebut. Dan banyak pengunjung dari kalangan anak muda, turis asing terutama dari Eropa ataupun Amerika yang ikut serta mengabadikan momen mereka saat berada di Jembatan Kota Intan.
Setelah malam sudah cukup larut, Aletha dan Keenan memutuskan untuk kembali pulang. Karena mengingat esok harinya akan bertempur dengan tugas masing-masing.
“Alhamdulillah, akhirnya sudah sampai juga. Tapi... kenapa malah tidur, mana pulas begitu lagi. Tidak tega jadinya jika aku membangunkannya.” Keenan mengulas senyum.
Keenan membopong Aletha sampai ke kamar, dan sesampai di dalam kamar Keenan merebahkan tubuh Aletha di atas kasur. Dan Keenan membiarkan baju gamis membalut tubuh Aletha saat tidur dengan pulas, meskipun biasanya memakai baju tidur karena merasa bebas, tapi Keenan tidak ingin mengganggu tidur Aletha.
“Pasti kamu merasa lelah setelah mengelilingi Kota Tua. Selamat tidur, Neng nya Aa' Keenan.”
Keenan menyelimuti tubuh Aletha dengan selimut tebal yang selalu menempel di atas kasur. Dan sedangkan Keenan, ia kembali meneliti beberapa senjata yang harus di bawa selama menjalankan misi tiga bulan di luar kota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa kamu tidak tidur-tidur sedari tadi, sayang?” tanya Bagas Kara yang melihat mama Nina terus membolak-balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
“Mama memang tidak bisa tidur, Pa. Mama... memikirkan kejahatan yang sudah Papa perbuat.” Mama Nina pun merajuk.
“Bagaimana tidak jahat, Aletha baru saja merasakan bahagia setekah menikah. Lah ini, Papa malah menugaskan Keenan seenaknya saja ke luar kota, mana tiga bulan lamanya lagi.”
Bagas Kara terkekeh geli, begitu sayangnya mama Nina terhadap Aletha yang hanya anak sambung. Bahkan rasa sayang itu melebihi rasa sayang terhadap anak kandungnya saja.
“Sayang, Papa itu mengutus mereka demi menjaga Ibu Pertiwi. Lagipula nanti kamu pasti akan bahagia, ketika Keenan Papa tugas kan ke luar kota pasti Aletha akan kembali ke rumah ini. Dan kamu bisa main bareng sama Luna, Laura dan juga Aletha. Bahkan sama cucu-cucu kamu.”
Mama Nina terdiam, setelah menerawang kebersamaan itu akhirnya Mama Nina menyetujui penugasan Keenan ke luar kota selama tiga bulan. Dan Mama Nina tidak merajuk lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Selamat jalan Aa', hati-hati di sana. Jangan lupa telpon kalau sudah sampai.”
“Siap, Neng.” Keenan memberikan hormat kepada Aletha.
Aletha terkekeh geli melihat tingkah absurd Keenan. Namun Aletha selalu menyukai setiap perbuatan Keenan yang membuat tawanya mengembang sempurna. Dan sebelum Keenan naik ke helikopter Keenan memberikan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan begitu cantik. Membuat Aletha merasa penasaran dengan isi di dalam kotak itu.
“Huuuuuunngggggg”
Anggap saja deru helikopter seperti itu ya, kawan. Jangan diketawain, cukup kasih masukan di kolom komentar. Mbak penulis salalu menanti kehadiran para pembaca.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perpisahan itupun sudah berlalu selama satu minggu. Dan selama kepergian Keenan Aletha nampak murung, terlihat jelas dalam raut wajahnya. Dan yang paling parah pagi itu Aletha merasa mual bahkan muntah. Beberapa kali Aletha bolak-balik ke toilet dan bertahan di depan wastafel.
“Kenapa dengan perut dan tubuhku? Rasanya... tidak enak banget.” keluh Aletha saat duduk di bibir kasur.
Tidak lama kemudian ponsel Aletha berdering, ada panggilan telepon dari Keenan yang jauh diseberang. Ingin sekali Aletha menerima panggilan itu, karena rindu yang membuncah dadanya. Akan tetapi, Aletha juga tidak ingin Keenan merasa khawatir jika melihat kondisi kesehatan nya yang kurang baik.
Beberapa kali pagi itu Keenan terus melakukan panggilan ke ponsel Aletha. Hingga akhirnya Aletha pun mengalah dan menerima panggilan itu.
“Assalamu'alaikum, Neng. Kenapa lama sekali?”
“Wa'alaikumsalam, Aa'. Maaf, Neng lagi kurang sehat, tubuh Neng lemas rasanya. Pengennya cuma tidur...”
“Astagfirullah... Neng sakit? Sudah periksa ke dokter belum? Atau minum obat apa begitu? Dan ... Neng jangan kerja dulu, itu pasti kecapean.” Ujar Keenan dengan rasa khawatir.
“Belum Aa', palingan kalau tidur sebentar juga sembuh, lagian Neng juga tidak demam kok.”
“Ya sudah, kalau begitu Neng istirahat saja. Aa' mau lanjut tugas dulu.”
Obrolan yang hanya melalui udara itupun di akhiri. Dan Aletha merebahkan tibuhnya di atas ranjang, tidak lupa selimut tebal memenuhi tubuhnya. Akan tetapi, sebelum kedua matanya terpejam tiba-tiba ada pesan masuk.
[“Maafkan Aa' ya Neng, di saat Neng sakit justru Aa' malah tidak ada di samping Neng. Neng harus jaga kesehatan, jangan lupa makan tepat waktu. Dan Aa' akan selalu memberikan bunga anggrek dan coklat setiap harinya nanti. Aa' sayang Neng.”]
Aletha tersenyum sendiri setelah membaca pesan singkat dari Keenan. Dan selama satu minggu itu tidak lupa Keenan memberikan bunga anggrek dan sebatang coklat, yang di taruh di dalam kotak dengan hiasan cantik.
“Tok... tok...”
Aletha membuka pintu rumahnya meskipun rasanya ia tidak kuat untuk berjalan. Dan ternyata ada anggota keluarga Mama Nina yang berkunjung ke rumahnya. Bahkan semua anggota keluarga nya.
“Ya Allah, Al. Wajah kamu pucat begitu, coba kaka cek dulu.” Ujar Luna.
Luna meminta Aletha untuk berbaring dan memeriksa kesehatan Aletha. Dan setelah diperiksa ada rasa yang mengganjal di hati Luna.
“Kapan kamu terakhir datang bulan, Al?”
“Emmm... satu bulan yang lalu, Kak.” Aletha membulatkan matanya ke atas, setengah berpikir bahwa apa. yang diucapkan itu benar.
“Kamu hamil, Al.” Pekik Luna. ”Dan... apa baru kali ini kamu merasa mual?”
“Selama satu minggu Aletha memang merasakan mual, tapi tidak sampai muntah, Kak. Dan hari ini yang paling parah bagi Aletha.”
“Kamu hamil, selamat ya Al.”
“Apa benar itu, Kak? Aku akan menjadi seorang ibu?” tanya Aletha memastikan.
Luna mengangguk, ia melihat binar mata Aletha yang bahagia. Meskipun terlihat berkaca-kaca, tetapi Luna tahu bahwa itu tangis haru karena merasa bahagia. Di usia Aletha yang memasuki hampir kepala tiga, Aletha akhirnya mendapatkan kebahagiaan atas pernikahannya dengan Keenan. Buka hanya Aletha saja yang merasa terharu, melainkan seluruh anggota keluarga juga ikut menangis bahagia.
__ADS_1
Dan kali ini cinta Aletha kembali diuji, ia harus menahan rindu yang membuncah dada dan bahkan ia juga harus menggenggam rahasia kehamilannya itu demi memberikan kejutan untuk Keenan.
”Aku akan menjaganya sepenuh hatiku... sampai kamu kembali dengan keberhasilanmu. Rindu ini akan kupendam hingga tiba waktunya untuk bertemu. Akan aku tumpahkan dalam dekapanmu.”