
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sandy berjalan dengan langkah tergesa-gesa memasuki koridor rumah sakit di ikuti oleh Choky, Ozawa dan Benedicto.
"Papa, Mommy kenapa Pa?" Tanya Gilbert dan Gerald kebetulan keluar.
"Mommy," kedua pria kecil itu menangis ketakutan melihat Rachel yang terpejam
"Son, sini sama Ayah," Choky menggendong tubuh Gilbert.
"Sini Son sama Grandfa," Ozawa menggendong Gerald. Kenapa kedua anak ini bisa keluar kamar?
Sementara Benedicto menatap dengan mata berkaca-kaca melihat kedua cucu kembarnya. Benar-benar mirip Ramos. Sangat mirip. Kedua anak kecil itu menggambarkan wajah kecil Ramos.
"Hiks hiks Mommy," tangis Gilbert pecah. "Ayah Mommy kenapa? Kenapa Mommy tidur seperti itu? Apa Mommy baik-baik saja Ayah?" Cecar Gilbert sambil menangis digendongan Choky.
"Stttt, Gilbert tidak boleh menangis yaaa. Mommy baik-baik saja," ucap Choky menenangkan. "Kita masuk keruangan Gerra ya?" Bujuk Choky.
"Tidak mau. Gilbert ingin melihat Mommy hiks hiks,"
"Stttt. Tidak boleh begitu. Mommy tidak suka kalau anaknya cenggeng. Biarkan Papa yang periksa Mommy ya. Kita menjaga adik saja," rayu Choky lagi.
"Tapi Ayah_"
"Gilbert sayang Mommy?" Pria kecil itu mengangguk. "Kalau Gilbert sayang Mommy, Gilbert harus menurut ya. Jangan membuat Mommy sedih," ucap Choky.
Gilbert mengangguk dan menurut. Choky dan Ozawa membawa kedua bocah itu masuk kedalam ruangan rawat inap Gerra. Sedangkan Benedicto menyusul Sandy.
"Astaga, Gilbert. Gerald. Kalian kemana saja? Aunty mengkhawatirkan kalian," ucap Chicha panik. Bisa ditelan hidup-hidup dia oleh Choky kalau sampai kedua bocah kembar ini hilang.
"Ck, Chicha kau kemana saja? Bagaimana kalau mereka berdua tersesat? Rumah sakit ini sangat besar?" Omel Choky.
"Maaf Kak, tadi aku ke toilet. Pas aku keluar mereka sudah tidak ada. Bukan salahku," ucap Chicha membela diri.
"Kau ini selalu saja bisa menjawab ucapan Kakak," gerutu Choky.
__ADS_1
Kakak adik ini memang seperti kucing dan anjing selalu berdebat dari hal-hal kecil sampai hal yang besar. Namun kedua nya tetap saling menyanyangi dan mengasihi satu sama lain.
Ozawa meletakkan Gerald. Tatapan matanya tertuju pada Gerra yang duduk diranjang sambil melihat kedua Kakak nya.
"Kakak kenapa?" Tanya gadis kecil itu. "Kenapa menangis Kak?" Tanyanya heran.
Gilbert dan Gerald berhambur naik keatas ranjang lalu memeluk adik mereka itu sambil menangis.
"Kakak kenapa?" Gerra terheran namun tetap membalas pelukan kedua kakaknya.
Keduanya tak menjawab malah masih menangis sambil memeluk adiknya. Tak mungkin mereka mengatakan bahwa Ibu mereka tertidur seperti orang pingsan.
Choky menghela nafas panjang. Kadang dia merasa kagum dengan anak-anak Rachel karena sudah dewasa sebelum waktunya. Namun kadang dia juga takut jika ketiga anak kembar itu tahu masalah orang dewasa yang malah membuat hati mereka terluka apalagi mengetahui hal yang tidak seharusnya mereka ketahui diusia dini seperti ini.
Ozawa menatap Gerra. Apa itu cucu perempuan nya? Apa itu putri dari putranya? Wajahnya sangat mirip dengan Rachel. Tapi kenapa kepalanya plontos? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja.
"Kakak," Gerra melepaskan pelukan kedua Kakak nya dan terheran-heran melihat kedua Kakak nya.
"Kakak kenapa?" Kening gadis itu berkerut heran sambil menatap wajah kedua Kakak nya secara bergantian.
"Son," Choky menghampiri ketiga bocah itu. "Sebaiknya kalian istirahat yaaa," ucap
"Tapi Ayah_"
"Ayo Son," paksa Choky. Jangan sampai Gilbert dan Gerald mengatakan kondisi Rachel pada Gerra. Bisa drop lagi gadis kecil itu.
Gerra menatap kearah Ozawa yang juga melihat nya. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya siapa pria paruh baya itu.
"Ayah dia siapa?" Tanya Gerra penasaran.
Mereka semua menoleh kearah Ozawa yang berdiri mematung ditempatnya sambil melihat Gerra.
"Girl, he is your Grandfa," jelas Choky.
"Seriously Ayah?" Tanya Gerra setengah tak percaya, "Apa dia Ayah nya Daddy Ramos?" Sambungnya.
__ADS_1
Choky mengangguk sambil tersenyum menandakan bahwa ucapan Gerra benar.
Ozawa mendekati ketiga cucunya. Dia tak bisa menahan haru melihat ketiga anak kembar itu. Bagaimana kalau istrinya yang melihat nya pasti sangat-sangat bahagia.
"Hai Glandfa," sapa Gerra melambaikan tangannya. "Aku Gella, anaknya Mommy Lahel dan Daddy Lamos," ucapnya tersenyum hangat kearah Ozawa.
"Hai Nak," Ozawa duduk dibibir ranjang. "Apa kabar?" Rasanya Ozawa ingin menangis melihat ketiga cucu nya.
"Gella baik Glandfa. Glanfa apa kabal juga?" Tanyanya dengan senyuman menggembang.
Ozawa terharu dengan pertanyaan cucu perempuan nya itu. Ingin dia menangis bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk melihat para cucu nya.
"Grandfa baik Nak," sahut Ozawa. "Boleh Grandfa peluk Gerra?" Pintanya penuh harap.
"Boleh Grandfa. Sini peluk Gella," gadis kecil itu merentangkan tangannya yang masih dipasang infuse.
Ozawa memeluk cucu perempuan nya dengan isak tangis bahagia. Rasanya dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan dengan kata-kata. Terlalu bahagia. Tak ingin ibi berlalu. Seandainya Ozawa bisa meminta kepada Tuhan agar merubah hati Rachel dan mau kembali bersama putranya Ramos. Pasti dia akan sangat-sangat bahagia, memiliki keluarga yang utuh seperti orang lain.
Berbeda dengan Gilbert yang memasang wajah datar dan tampak suka dia sama sekali tidak terharu dengan kedatangan Ozawa.
Gilbert turun dari ranjang Gerra dan duduk disoffa dengan tenang tanpa peduli dengan kedua adiknya yang sedang berpelukan dengan pria itu.
"Gilbert," tegur Choky.
"Ayah aku ingin menemui Mommy. Biarkan Gerald dan Gerra disini," ajak Gilbert.
Choky mengangguk setuju sebab Gilbert keinginan nya harus dipenuhi.
Choky dan Gilbert keluar dari ruangan Gerra. Keduanya berjalan menuju tempat Rachel diperiksa.
"Paman bagaimana keadaan Rachel?" Tanya Choky pada Benedicto yang duduk dikursi tunggu
"Sandy belum keluar dari ruangannya,"
Bersambung....
__ADS_1