
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Seorang pria tampan duduk dengan tatapan kosong. Ditangannya memegang sebuah figura yang berisi foto seorang wanita cantik. Dia memegang figura itu dan menatapnya dengan lelehan bening yang mengalir dipipinya.
Penampilan nya berantakkan dan gak terurus. Rambut acak-acakan. Mata panda dan tubuhnya juga terlihat kurus.
"Kau dimana? Aku rindu. Aku rindu masakkan mu. Mau dimana?" Sambil mengusap figura itu.
Dia meletakkan foto itu didadanya. Meresapi kejadian seseorang yang sudah menghilang beberapa bulan terakhir. Hilang. Pergi. Entah kemana?
"Yang kau katakan benar. Bahwa aku akan menyesal setelah kau pergi dan hilang. Tapi bolehkah aku menyesal telah menyia-nyiakan mu? Aku tidak mencintaimu. Tapi kenapa aku merasa hidupku hampa sejak kau pergi dari hidupku. Aku merasa hidupku benar-benar tak berarti." Lirih nya.
Dia kembali menatap kosong keluar jendela kamarnya. Fatamorgana keindahan bintang-bintang yang bertaburan dibintang malam. Bintang berjejer yang seolah mengejek dirinya yang tengah terluka saat ini.
"Bintang, aku adalah suami yang jahat pada istri yang baik. Bintang, sekarang aku menyesal telah menyakiti istriku. Kini dia benar-benar pergi dan membuktikan kata-kata nya tapi kenapa aku justru merasa separuh jiwaku pergi. Apakah aku sudah mulai mencintai istriku? Dan menyadari perasaan ku setelah dia hilang dan pergi meninggalkanku?"
Rindu yang tak menemukan titik temu. Perpisahan adalah bukti nyata bahwa tidak ada kebersamaan yang abadi didunia ini. Rindu adalah tentang rasa yang tak bisa menyatu dipisahkan oleh jarang ruang dan waktu. Lalu bagaimana jika merindukan seseorang yang keberadaan nya entah kemana? Yang keberadaan nya tersembunyi didalam perut bumi. Rasanya rindu itu begitu menyiksa.
Pria itu memejamkan matanya sejenak. Mengingat tangisan memohon istrinya malam itu kembali membuat hatinya seperti dihantam oleh ribuan ton batu hingga membuat hatinya hancur tak berbentuk. Jahat, sangat jahat itulah dirinya. Bahkan sekali pun dia melakukan banyak hal untuk istrinya takkan bisa menebus semua dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan.
"Aku merindukan mu. Sangat merindukanmu. Tuhan berikan aku satu kesempatan untuk menembus semua kesalahanku. Aku berjanji akan membahagiakan nya dan menjaganya seumur hidupku." Dia memegang dadanya menahan sesak yang mulai menyerang.
Dia sudah lelah menangis. Menangis sekuatnya pun takkan membuat yang pergi datang kembali yang hilang muncul lagi. Jika boleh menyesal iya dia sangat menyesal. Sangat. Sangat menyesal. Tapi apakah sekedar menyesal semua akan kembali seperti semula. Takkan bisa mengambil sesuatu yang hilang didalam genggaman.
Pria itu berdiri dari duduknya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berjalan kearah ranjang tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya lalu memeluk baju lusuh untuk mengobati segala kerinduannya.
"Huweekkk."
Pria itu segera berhambur kearah kamar mandi.
"Huweekkk."
"Huweekkk."
Dia beberapa kali muntah. Namun tidak ada yang keluar dari mulutnya selain cairan berwarna bening.
Pria itu terduduk dilantai kamar mandi. Nafasnya memburu dan badannya lemas.
__ADS_1
"Kenapa ini? Kenapa perutku serasa dikocok dan badanku lemas sekali?" Lirihnya pelan sambil duduk dan tak berdaya.
"Huweekkk."
"Huweekkk."
"Huweekkk."
Beberapa kali pria itu mengeluarkan apa yang ada didalam perut nya tetap saja yang keluar hanya cairan bening. Karena dia memang makan jarang, hanya sekali sehari itu pun di paksa.
"Astaga Tuan, anda kenapa?" Tanya sang Asisten panik sambil membantu pria itu berdiri.
"Heru, badanku_."
"Huweekkk."
"Huweekkk."
"Huweekkk."
Dia merasa badannya lemas dan kepalanya pusing bukan main.
"Pelan-pelan Tuan." Sambil membantu pria itu duduk diranjang.
"Heru, kenapa tubuhku lemas sekali dan perutku serasa dikocok-kocok? Kepalaku pusing Heru." Keluhnya memijit-mijit pelipisnya yang memang berdenyut-denyut sakit.
"Tunggu sebentar Tuan saya akan panggilkan dokter!"
Heru melenggang keluar dari kamar Tuan-nya untuk mencari dokter.
.
.
.
.
__ADS_1
"Rayana."
"Kau dimana Nak? Kau dimana Nak? Bunda merindukanmu! Maafkan Bunda. Bunda tidak bermaksud membuangmu. Bunda. Bunda terpaksa." Dia memeluk foto dua bayi kembar dengan pita berwarna merah dikepalanya.
Wanita paruh baya itu menyenderkan punggungnya dinding ranjangnya. Tubuhnya lelah. Setelah kepergian putri pertama nya dalam kecelakaan maut yang merenggut nyawa dan semua impiannya, dia tak punya gairah hidup. Putrinya yang hilang yang sudah dia cari selama puluhan tahun pun tak ada kabar. Seolah semua kabar itu telah ditutup oleh kenyataan yang memang tak ingin lagi mengembalikan lagi putrinya.
"Sekarang, kau pasti sudah besar. Kau pasti secantik Kakak mu. Bunda ingin memelukmu Nak. Sangat ingin." Dia memejamkan matanya. Meresapi segala rasa membuncah disana.
"Nirmala."
Sang suami duduk dibibir ranjang. Sebagai suami dia sangat prihatin dengan keadaan istrinya saat ini.
"Istirahat lah."
Wanita itu mengangguk. Dia memeluk foto itu dan berbaring. Sang suami menaikkan selimut sang istri dan menjaga wanita itu hingga terlelap dalam tidurnya.
'Aku berjanji akan menemukan putri kita Sayang. Dia pasti sekarang sudah tumbuh. Tenanglah, aku akan mencarinya kemana pun. Bahkan aku akan mencarinya hingga ke ujung dunia." Dia mengecup kening wanita itu lalu melenggang pergi dari kamar sang istri.
Dia menuju ruang kerjanya. Disana tempat dia berkreasi tentang pekerjaan saat dia tidak ingin ke kantor.
"Bagaimana?" Tanyanya duduk dikursi kebesaran nya.
Sang asisten menggeleng "Kami belum bisa melacak keberadaan Nona Tuan." Jawab sang asisten "Menurut informasi yang saya dapat, bahwa Tuan Agam sudah meninggal beberapa tahun yang lalu sedangkan Nyonya Irina juga baru meninggal beberapa bulan yang lalu. Setelah itu tidak ada lagi informasi yang bisa kita dapatkan Tuan." Jelasnya.
Pria paruh baya itu menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya sejenak. Berusaha untuk tenang dan tidak gegabah dalam mencari putrinya. Sudah puluhan tahun tapi tetap saja tak ada jejak yang menunjukkan dimana keberadaan putri nya itu.
"Baik terus cari keberadaan putri ku. Laporkan padaku jika kau sudah mendapat informasi." Tintahnya
"Baik Tuan. Saya permisi."
Pria paruh baya itu keluar dari ruangan nya dan masuk kedalam kamar mereka. Dia melihat sang istri yang tertidur lelap dengan nyaman
"Maafkan aku Sayang yang belum bisa menjadi suami terbaik untukmu. Aku ingin kau bahagia. Aku tak ingin kau menangis lagi. Mungkin dengan menemukan putri kita senyum mu bisa kembali lagi Sayang."
Dia menarik wanita paruh baya itu kedalam pelukannya. Menjadikan kepalanya sebagai bantal. Dia menatap lama wajah wanita yang sudah menemani nya hampir lebih dari tiga puluh tahun itu.
Tiga tahun setelah menikah mereka baru dikaruniai putri kembar. Namun sayang kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat dia harus melepaskan salah satu putri nya demi sebuah nama.
__ADS_1
Bersambung.......